
"Aku tidak mengira Lisa bisa senekat itu diacara kita," ucap Bagas. Dia menyeduh kopi untuk dirinya. Bagas baru tiba dari kantor polisi. Dia melaporkan perbuatan Lisa hari ini.
"Kacau. Benar - benar kacau," ucap Bagas lagi.
Hari ini harusnya adalah hari paling bahagia buat kami. Ya, seandainya Lisa tidak datang untuk merusak semua.
"Tenanglah, Bagas. Semua sudah aman, yang paling penting adalah kita semua selamat," ujarku menenangkan Bagas. Bagas meneguk kopi yang dibuatnya. Perasaan Bagas tidak baik. Bisa dikatakan buruk. Seandainya Lisa tidak datang, pernikahan ini pasti berjalan lancar.
"Kamu benar, Vo," Bagas menatapku. Lalu dia menghampiriku yang duduk di sofa. Gaun pernikahan sudah diganti dengan baju biasa.
"Bagaimana keadaan dia? Siapa namanya?"
"Bastian, Gas."
"Ya, Bastian. Bagaimana keadaan laki-laki itu? Sial, aku harus berhutang budi padanya," kesal Bagas. Aku yakin sekali Bagas masih menaruh cemburu dengan Bastian.
"Sudah sadarkan diri dia. Besok kita harus menjenguknya."
"Apakah harus? Bukankah dia sudah sadar? Untuk apa?" tanya Bagas.
"Mengucapkan terima kasih. Kalau tidak ada dia, mungkin aku yang akan mati, Gas."
"Sst. Jangan berkata seperti itu," ucap Bagas. Dia memelukku. Tubuh Bagas bergetar. Ya, Bagas sama sepertiku, kami takut dengan kejadian hari ini. Seandainya Bastian tidak menolongku, mungkin aku tidak dapat bersama dengan dirinya.
"Maafkan aku, Vo. Aku tidak tahu kejadiannya akan seperti ini," ucap Bagas masih memelukku.
"Bukan salahmu, Bagas. Ini diluar keinginan kita."
Bagas melepas pelukannya. Dia memandang diriku. Ada tatapan sedih terlihat jelas diwajahnya.
"Kenapa?"
"Apa yang salah dengan semua ini, Vo? Mengapa banyak yang tidak setuju dengan hubungan kita?" Bagas frustasi.
"Tidak ada yang salah, Gas. Ini takdir yang harus kita jalani."
Ya, takdir yang harus kita jalani. Kita tidak tahu takdir akan membawa kami ke mana. Apa takdir menuliskan kami bersama? atau kami hanya ditakdirkan berjumpa sampai disini? Hanya waktu yang dapat menjawab.
"Selamat siang, Mbak Meli, Bastian," sapaku pada mereka.
Siang ini, aku dan Bagas datang ke rumah sakit menjenguk Bastian. Mbak Meli sedang memberi Bastian makan.
"Hai, Vo, Pak Bagas. Ayo masuk," ucap Mbak Meli. Dia menyiapkan bangku untuk Bagas dan aku. Sebenarnya hanya untuk Bagas, bos kesayangan Mbak Meli.
"Terima kasih. Tidak perlu repot, kami tidak akan lama di sini," ujar Bagas membuat aku mempelototinya. Masa iya, kami langsung pulang. Dasar Bagas yang tidak bisa basa-basi.
"Bagaimana keadaanmu, Bas?" tanyaku.
"Puji Tuhan, aku sudah semakin membaik," ucap Bastian. Mbak Meli mengambilkan gelas, lalu Bastian meminumnya.
"Bagas mau bicara sesuatu padamu."
"Apa? Aku? Apa yang harus aku bicarakan?" tanya Bagas keki. Bastian dan Mbak Meli hanya tersenyum melihat tingkah Bagas yang seperti itu. Bastian tahu, Bagas tidak menyukai dirinya sejak di pesta pernikahan Dina. Bagi Bagas, Bastian merupakan musuhnya.
"Apa aku harus bicara untuk kedua kalinya, Bagas?" tanyaku agak nyolot. Bagas harus terbiasa dengan semua ini. Bastian sudah menolongku dari maut. Sebagai calon suami yang baik harusnya Bagas mengucapkan terima kasih, bukan malah gengsi untuk bicara.
"Well, thanks, Bas," ucap Bagas singkat, padat, dan jelas. Kami bertiga tertawa melihat tingkahnya.
"Kenapa kalian tertawa? Apa yang lucu?" tanya dia salah tingkah.
"Kamu tidak salah, tapi kamu lucu, Gas," aku menjawab.
"Sama - sama Pak Bagas. Saya harap kalian segera menggelar ulang acara pernikahan kalian," ucap Bastian.
"Itu pasti," jawab Bagas.
"Satu lagi, Pak Bagas, mengenai ciuman saat di pernikahan Dina, maafkan saya. Saya senang melihat kalian bahagia."
"Memang sudah sewajarnya. Kami memang pantas mendapatkan kebahagian, jadi kamu jangan merusaknya," ujar Bagas sengit.
"Cukup, Bagas. Sudah jangan banyak bicara. Bas, maafkan Bagas. Dia pencemburu," ucapku membuat Bagas tambah sewot.
"Cemburu tanda cinta, Vo. Tenang saja, aku mengerti itu," Bastian tersenyum.