MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Pekerjaan Baru Evo



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


*****


Keesokan harinya, kantor Indra.


"Hai, Evo! Aku pikir kamu tidak datang hari ini," ucap Indra senang melihat kehadiranku di ruangannya. Ternyata Indra merupakan salah satu pimpinan di sini. Hampir saja aku tidak bisa bertemu dengannya, untung saja aku langsung menelepon Indra.


"Untung aku bisa meneleponmu, hampir saja aku tidak bisa masuk. Kata mereka aku harus buat janji dulu padamu. Ternyata kamu hebat sekali ya di sini," cerita aku padanya.


"Hahha, kamu terlalu memujiku. Aku tidak seperti itu. Bagaimana? Apakah kamu sudah siap bekerja?" tanya Indra.


"Tentu saja. Apa tugas aku hari ini?" tanya aku penuh semangat.


"Mudah. Kamu cukup disampingku saja," kata Indra.


"Apa?"


"Maksud aku, pekerjaan kamu adalah menjadi sekretaris aku," pinta Indra.


"Aku belum pernah menjadi sekretaris loh, Ndra! Apa kamu yakin aku bisa menjadi sekretaris?" tanya aku tidak percaya.


"Sebenarnya mudah untuk menjadi sekretaris. Kamu hanya membuat jadwal pertemuan dengan para klienku, dan mengikuti aku setiap rapat."


"Hmm, aku ...."


"Tenang saja, aku pasti membantu kamu. Aku akan kesulitan kalau kamu menolak. Sudah beberapa hari ini sekretarisku mengundurkan diri. Aku bingung mencari penggantinya," jelas Indra.


"Baiklah, Pak Indra. Apa yang harus aku kerjakan hari ini? Mohon bimbingannya," kataku menyetujui permintaan Indra. Indra tersenyum senang. Perlahan namun pasti Indra pasti merebut cinta Evo.


"Pagi ini aku belum sarapan jadi kita sarapan dulu kemudian siangnya kita akan ada rapat di Hotel Mulia bersama klienku. Sorenya baru kita bahas untuk pekerjaan kita besok. Bagaimana Bu sekretaris? Apa kamu paham?" tanya Indra setelah selesai menjelaskan.


"Siap, bosku," jawab aku dengan penuh semangat.


Aku dan Indrapun menuju ke kantin untuk sarapan pagi.


"Apa yang mau kamu pesan?"


"Ini kantin apa restoran? Besar sekali. Beda banget sama kantin di kantorku dulu," kataku.


"Iya, Vo. Kantor sengaja mendesign kantin ini sedemikian rupa agar para karyawan betah di kantin dan istirahat di sini. Jadi ketika mereka istirahat mereka tidak perlu jauh - jauh beli makanan hingga membuang waktu istirahat mereka," terang Indra.


"Pemikiran yang bagus, aku setuju dengan konsepnya."


Indra memesan makanan. Aku menunggu Indra yang sedang memesan makanan. Setelah sekian lama aku bekerja lagi. Jujur saja aku bosan di rumah. Untung saja aku punya hobi menulis yang mengisi hari - hariku. Sebenarnya Bagas mengizinkan aku dari dulu kembali ke kantornya, tapi aku menolak karena tidak ingin bertemu dengan Bu Lina dan Pak Freddy.


"Kenapa kamu tidak makan?" tanya Indra bingung melihar meja yang masih tidak ada makanan.


"Aku sudah sarapan dengan Bagas tadi," jelasku.


*Bagas terus Bagas terus, *kesal Indra dalam hatinya.


"Nanti siang kita akan bertemu dengan klien kita. Dia klien yang sudah diincar oleh perusahaan ini. Jadi sebelum kita bertemu dengan klien ini, aku mau membelikan kamu pakaian," ucap Indra.


"Loh, ada apa dengan pakaianku?" tanya aku bingung.


"Maaf klienku hari ini sangat menjaga penampilan. Bukannya aku menghina pakaianmu, tapi dia sangat suka melihat wanita yang berpakaian cantik. Aku mohon kamu mengerti ya," pinta Indra.


"Baiklah tapi uang bajunya aku akan ganti ya setelah gajian."


"Setuju!"


*****


Kantor keluarga Hermawan.


"Jadi hari ini Evo telah kerja. Di mana dia bekerja?" tanya Dea.


"Kerja di perusahaan Indra. Aku sangat senang karena dia punya kegiatan yang positif di luar. Tadinya aku khawatir dia jadi stress."


"Baguslah, aku juga senang mendengar kabar ini," ucap Dea. Dea memberikan beberapa dokumen pada Bagas. Bagas mengambil dokumen tersebut.


"Apa ini?" tanya Bagas.


"Besok kita akan ada rapat dengan perusahaan Maju. Kata Papa kamu saja yang menghadiri rapat tersebut. Ini proyek yang lumayan besar. Sekalian belajar katanya," jelas Dea.


Bagas membuka dokumen tersebut lalu membacanya. Kemudian dia berkata pada Dea, "Apa kamu akan menemaniku?"


"Tentu saja kalau kamu mengajakku," ucap Dea.


"Iya, aku sangat membutuhkanmu. Apalagi ini proyek yang sangat besar."


Dea mengangguk setuju permintaan Bagas. Bagas membaca setiap detail tulisan yang ada di mapnya itu. Melihat Bagas begitu serius, membuat Dea semakin jatuh hati padanya. Dia bekerja sepenuh hati.


"Aku akan buatkan kamu minum. Apa kamu mau minum kopi?" tanya Dea.


"Boleh. Terima kasih Dea," kata Bagas.


"Tanpa gula sama sekali ya?" tanya Dea lagi.


Bagas mengangguk kepalanya. "Ternyata kamu masih ingat dengan kesukaanku."


"Dari kecil kita sudah berteman Bagas. Tidak mungkin aku mudah melupakan apa yang kamu suka taupun tidak kamu suka," kata Dea kemudian keluar dari ruangan tersebut.


*****


Kampus Charlotte.


"Apa kamu yakin rencana kita akan berhasil?" tanya Charlotte ragu. Dia benar - benar takut dengan ide gila yang dilakukan oleh Siska.


"Tenang aja, rencana ini udah lama aku rencanakan dengan teman - temanku. Sesekali kita kerjain dia," ucap Siska yang udah siap dengan kamera video.


"Tidak usah aja, Sis. Aku takut," cegah Charlotte.


"Apa kamu mau nanti perbuatan Pak Dirly terulang dengan mahasiswi lainnya?" tanya Siska geram. Charlotte menggeleng kepala.


"Kalau tidak mau, bantu aku. Tenang saja, aku akan menjamin keamanan kamu. Kalau aku yang memancing dia itu tidak mungkin. Dia tidak menyukaiku," jelas Siska.


"Sekarang ini kamu yang diincar olehnya. Jadi kamu yang harus bantu kita untuk menangkap dia,"lanjut Siska.


Akhirnya Charlotte setuju. Charlotte menarik napas panjang. Sekarang ini dia butuh kekuataan untuk bisa menyelesaikan semua misi ini. Benar kata Siska, Pak Dirly harus segera diberi pelajaran agar tidak membahayakan mahasiswi lainnya.


Tok, tok, tok.


Charlotte mengetuk pintu ruangan Pak Dirly.


"Silahkan masuk," izin Pak Dirly.


Charlotte masuk dengan penuh kecemasan. Dia sangat berharap rencana ini bakal berhasil.


"Halo, sayang! Ternyata kamu datang juga menemui aku. Apa pesan Pak Dirly sampai padamu?" ucap Dirly. Dia menghampiri Charlotte. Dia mendorong Charlotte hingga terpojok. Pak Dirly menutup dan mengunci pintunya.


"Pak, aku mohon jangan mempersulit saja dalam ujian. Ini cita - cita saya untuk lulus dalam wisuda," pinta Charlotte.


"Kalau begitu, hari ini kamu harus melayaniku," ucap Pak Dirly.


"Tunggu, Pak! Jangan!"


"Kalau kamu membantah, aku akan memastikan kalau kamu tidak akan lulus ujian," ancam Pak Dirly.


Charlotte menendang Pak Dirly, tapi malah mereka terjatuh. Tubuh Pak Dirly malah menimpa tubuh Charlotte. Pak Dirly tersenyum senang lalu berkata, "Sudah lama aku ingin menyentuh dirimu. Nikmati saja sayang. Ini akan terasa amat sangat menyenangkan."


BRAAK!!


Pintu ditendang dari luar.


Pak Dirly kaget pintu dirusak dari luar. Siska masuk ke dalam ruangan Pak Dirly. Dia menolong Charlotte yang sudah setengah telanjang.


"Apa - apaan ini?" tanya Siska geram.


"Saya yang harus tanya pada kamu, apa yang kamu lakukan dengan pintu ruangan saya?" marah Pak Dirly.


"Saya yang harusnya marah pada Bapak. Apa yang bapak lakukan kepada Charlotte?" tanya Siska. Charlotte langsung memeluk oleh Siska.


"Benar!" bela salah satu dayang - dayang Siska.


"Jangan sembarangan bicara! Kamu tidak ada bukti sama sekali!" geram Pak dirly. "Kalian berdua akan menyesal karena telah memfitnah saya."


Siska tersenyum dengan ucapan Pak Dirly, lalu dia berkata, "Bapak yang akan menyesal dengan kami. Pak Dirly salah besar karena melawan kami."


Siska menyalakan video yang baru saja dia rekam. Pak Dirly terkejut dengan apa yang dia lihat. Muka Pak Dirly berubah merah karena marah dan malu.


"Ba... bagaimana kalian bisa?" tanya Pak Dirly tidak percaya.


"Sepertinya Bapak lupa kedudukan kami di sini. Kami berdua adalah anak dari orang yang menyumbang terbesar di kampus ini. Apa saja bisa kami dapatkan dengan mudah termasuk kunci ruangan Bapak." jelas Siska.


"Jadi lebih baik Bapak tidak mengulangi perbuatan Bapak pada siapapun atau video ini akan tersebar dan membuat reputasi Bapak hancur," ancam Charlotte.


Pak Dirly berlutut lemas. Dia sangat terpukul dengan ucapan Charlotte dan Siska. Keempat mahasiswi tersebut ke luar dari ruangan Pak Dirly dengan penuh kepuasaan.


"Terima kasih, Siska! Kamu memang luar bisa," puji Charlotte.


"Santai. Sudah lama sekali kita tidak melakukan hal yang berbahaya seperti ini," kata Siska.


Charlotte setuju dengan ucapan Siska. Mereka selalu berbuat yang mereka suka. Mereka tidak takut apapun karena mereka tahu orang tua mereka akan menolong mereka.


"Apa Evan tahu dengan kejadian ini?" tanya Siska.


"Tidak. Evan tidak tahu. Kalau Evan tahu, Pak Dirly pasti akan dihantam olehnya."


"Benar sekali katamu. Ayolah kita makan, aku sudah lapar. Hari ini kamu yang traktri ya? Akukan sudah menolongmu dua kali," pinta Siska.


"Tentu saja. Ayo kita makan sepuasnya!!" ajak Charlotte.


"Ayo!!!" Teriak yang lainnya.


*****


Siangnya di Hotel Mulia.


"Sempurna. Kamu cantik banget, Vo," puji Indra.


"Tidak usah memuji seperti itu. Baju ini masih belum aku bayar," kataku.


"Tidak usah dibayar. Biarkan nanti aku minta ganti sama perusahaan. Inikan demi kelancaraan bisnis kita," tolak Indra ketika aku meminta untuk menggantikan uang pembelian baju tersebut. Dia tidak tahu kalau akan diajak rapat. Bertemu dengan klien ternyata harus menggunakan strategi ya. Aku jadi mengerti perasaan Bagas. Dia selalu menggunakan pakaian yang rapi ternyata tujuannya seperti ini.


Indra dan aku masuk ke dalam hotel. Lalu mencari restoran yang ada di dalam hotel tersebut.


"Halo, Mr. Indra! Apa kabar?" ucap seseorang ketika kamu sudah memasuki ke area restoran. Kami menuju ke orang tersebut. Indra menjabat tangannya. Demikian juga dengan aku, setelah itu kami duduk.


"Kabar baik, Albert. Bagaimana dengan kamu?" tanya Indra baik.


"Sangat bauk. Cantik sekali wanita kamu," puji Alex.


"Eh, aku...," aku hendak menjelaskan tapi Indra menyikut tanganku.


"Terima kasih, Albert. Jadi apakah kita sudah bisa memulai rapat kali ini?" tanya Indra lagi.


"Tentu saja. Kita harus bekerja sama," ucap Albert dengan senang.


*****


Kantor keluarga Hermawan.


"Bagas, kamu dipanggil Papa," ucap Dea.


"Oke," jawab Bagas. Dia menghentikan pekerjaannya kemudian pergi menuju ke ruangan Pak Hermawan diikuti dengan Dea.


Dea membuka ruangan Pak Hermawan, kemudian dia menyapa papanya, "Hai, Papa!"


"Silahkan kalian masuk," ucap Pak Hermawan.


Dea berdiri di samping Pak Hermawan, dan Bagas duduk di depan Pak Hermawan.


"Bagaimana pekerjaan kamu? Apa ada kesulitan?" tanya Pak Hermawan.


"Berkat bantuan Dea semua lancar, Om," ucap Bagas memuji Dea.


"Syukurlah kalau begitu. Om harap kamu betah bekerja di sini," harap Pak Hermawan.


"Bagas senang bekerja dengan Om dan Dea. Bagas betah bekerja di sini," kata Bagas lagi.


"Apa lagi ada Dea. Benarkan Bagas?" tanya Dea. Bagas mengangguk kepala sambil tertawa. Banyak bantuan yang Bagas terima dari Dea.


"Om Hermawan mau minta satu bantuan lagi padamu. Apa kamu bisa bantu?" tanya Pak Hermawan berharap banyak pada Bagas.


"Apa itu Om?" tanya Bagas.


"Ada proyek di Inggris yang harus Om periksa, tapi Om belum ada waktu untuk memeriksa. Bisakah kamu membantu Om untuk mengerjakan proyek ini?"


"Inggris? Apa Om yakin?"


Pak Hermawan mengangguk sangat yakin. Pak Hermawan sangat percaya dengan Bagas. Bagas pasti bisa mengerjakan ini dengan baik.


"Tapi saya agak ragu ya, Om."


"Dea akan menemani kamu ke sana. Anak perempuanku ini sudah sedikit paham dengan situasi di Inggris." jelas Pak Freddy.


"Berapa hari saya harus mengerjakan proyek ini?"


"Paling lama dua minggu. Kecepatan selesainya tugas kamu yang menentukannya." Pak Freddy menerangkan lagi.


"Kapan kita akan berangkat?" Bagas bertanya.


"Minggu depan kita akan berangkat, Gas. Perusahaan akan menyiapkan visa terlebih dahulu untuk kita. Setelah visa sudah terbit baru kita akan berangkat ke sana," Dea yang menjelaskan.


"Jadi bagaimana Bagas? Apa Bagas sanggup membantu Om Hermawan?" tanya Pak Hermawan lagi.


"Baik, Om. Bagas akan pergi ke Inggris bersama Dea," Bagas menyanggupi. Ada waktu untuk berbicara dan membujuk Evo buat minta izin padanya. Semoga Evo tidak marah dengan keputusanku ini.


*****


Hai kamu, iya kamu! Terima kasih sudah membaca kisah Evo. Tetap setia ya membacanya. Evo tunggu kalian di episode selanjutnya. Jangan lupa gabung juga di group chat aku.


NEWS!!


Ada cerita baruku judulnya : CINTAI AKU, MR. KANEBO!


Silahkan dibaca, like, komment, bintang 5 dan share sebanyak - banyaknya. Terima kasih.


❤❤❤