MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Bertemu Maureen



" Bagas, kenapa kamu tidak percaya padaku? Pak Freddy dan Bu Lina tidak setuju dengan perjodohan kita! Mamamu menjualku, Gas."


" Menjualmu? Papa dan Mama, Vo yang membantuku mencarimu. Di setiap sudut kota Malaysia. Mereka yang membuat di koran kamu hilang. Kamu masih menuduh mereka?"


Ya, Tuhan, apa yang aku harus lakukan? Begitu hebatnya orang tua Bagas bersandiwara. Kalau aku bertahan dengan Bagas, bagaimana masa depan sahabat- sahabatku?


" Tapi itu kenyataan yang sebenarnya, Bagas!" aku tetap dengan pendirianku. Bagas harus tahu betapa kejamnya kedua orang tua dia.


Bagas berjalan menuju tempat tidurnya. Dia duduk di pinggir ranjang. Air mata Bagas menetes di pipi. Aku menyusul Bagas, lalu berlutut. Aku menghapus air mata dia.


" Bagaimana cara aku membuktikan bahwa aku benar mencintaimu, Vo?" tanya Bagas. Dia benar-benar frustasi. Dia tidak percaya dengan ucapanku. Pria yang begitu kuat, hari ini dia menangis.


" Bagas. Aku tidak mengarang cerita. Tolong percaya padaku. Aku mohon," aku benar-benar tidak kuat melihat Bagas seperti ini. Aku mencintai lelaki ini, tetapi disisi lain, aku tidak bisa mengorbankan teman-temanku.


" Baik, baik. Aku percaya padamu, tapi aku mohon jangan tinggalkan aku, Vo. Kamu menghilang seperti waktu itu, aku seperti kehilangan separuh jiwaku," Bagas mengangkat wajahnya. Dia memandangku dengan penuh cinta.


" Iya, Bas. Aku pun sayang padamu."


Bagas mendirikanku, lalu menyuruhku duduk di sebelahnya. Bagas mengungkapkan kembali cintanya padaku. Ya, gejolak itu terulang lagi untuk kesekian kalinya.


❣❣❣


Keesokan harinya. Bagas masih tidur di sisiku. Aku membuka ponselku. Banyak pesan masuk dari Bastian. Aku pun membalas pesan tersebut.


Aku : Bas, aku baik-baik saja. Terima kasih untuk hari-hari yang kita lewati bersama.


Bagas bangun dari tempat tidurnya. Aku buru-buru mematikan teleponku. Bagas seorang laki-laki pencemburu, kalo dia tahu aku menghubungi laki-laki lain dia pasti marah. Aku lagi malas untuk bertengkar dengannya.


" Selamat pagi, wanita cantik di hatiku," Bagas memelukku dengan erat.


" Pagi, Bagas," sapaku juga.


Bagas mencium dahiku, kemudian mendarat dibibirku.


" Evo, aku mau mengurus pernikahan kita. Aku mau kita segera menikah."


" Tapi, Gas aku...."


" Aku tidak mau bertengkar denganmu pagi ini. Semua akan baik-baik saja. Aku janji padamu," ucap Bagas. Aku menarik nafas. Semoga Bagas benar-benar menepati janjinya.


" Vo, aku lapar. Sarapan apa kita?" tanya Bagas. Aku mau bangkit berdiri, tapi dihalangi Bagas.


" Jangan pergi, ujar Bagas manja.


" Lalu siapa yang akan membuat sarapan untuk tuan muda yang sedang kelaparan ini?" tanya aku sambil tersenyum.


" Aku tadi bertanya sarapan apa kita, bukan berarti kamu yang masak sayang," Bagas mencubit hidungku. Dia gemas karena aku telah salah paham. Aku tertawa mendengar ucapannya.


" Kita pesan makanan saja, kamu ngga boleh pergi ya. Kamu harus tetap di sini," Bagas mengeratkan pelukannya.


" Lalu siapa yang akan memesan makanannya?" tanyaku. " Tak ada satupun dari kita yang beranjak dari tempat tidur ini."


Bagas tertawa, lalu dia berkata padaku, "Kamu benar, sayang."


Kami berdua beranjak dari tempat tidur. Bagas yang pesan makanan.


" Aku mandi dulu ya," aku melangkah ke dalam kamar mandi.


" Aku diajak ya sayang." Bagas mengikuti aku. Buru-buru aku lari, dan segera menutup pintu.


" Evo, kenapa kamu mengunci kamar mandinya."


" Biar. Lagi pula tadi malam, kita sudah melakukannya," kataku dari dalam kamar mandi. Bagas benar-benar otak mesum. Kami belum menikah tapi dia selalu meminta mulu. Bagaimana nanti aku hamil?


" Kamu jahat ya. Kalau ngga dibuka, lihat saja nanti saat kamu keluar," ancam Bagas. Kali ini aku tidak peduli. Dasar cowok mesum.


❣❣❣


" Hari ini kita ke rumahku ya, bertemu dengan orang tuaku," ajak Bagas yang sudah siap pergi ke kantor. Bagas memutuskan untuk memegang perusahan di Indonesia.


" Buat apa?"


" Aku mau pernikahan kita segera dilaksana, Vo. Nanti malam aku akan menjemputmu," Bagas mengambil tas, dan kunci mobilnya. Hari ini supir yang kepercayaan Bagas cuti.


" Baiklah. Cepat ganti pakaianmu."


Akupun pergi bersama Bagas ke kantor. Aku sudah rindu dengan kedua sahabatku. Mereka pasti merindukan aku juga.


Sesampainya di kantor Pratama, aku langsung menuju ke bagian editor. Masuk ke lift bersama Bagas. Aku turun duluan.


" Evolet, kamu melupakan sesuatu," kata Bagas mencegah aku keluar. Aku mencoba mengingat, apa yang aku lupakan. Bagas lalu mencium dahiku.


" Itu yang kamu lupa. Sampai ketemu nanti malam. Bersenang-senanglah dengan temanmu, unar Bagas. Mukaku merah padam karena malu. Perlakukan Bagas memang selalu tak terduga. Dia berani mengungkapkan kasihnya di depan orang banyak, tapi mana ada yang berani menegur Bagas? Dia yang punya perusahaaan ini.


Aku segera ke ruangan Maureen, tetapi dia tidak ada di tempat.


" Maaf, mbak, mau nanya Mbak Maureen di mana ya?" tanyaku pada seorang gadis yang duduk di meja Maureen. Jangan-jangan Maureen pindah kerja, tapi ngga mungkin. Bagas ngga cerita apa-apa padaku.


" Oh, Ibu Maureen, dia ada di ruang sana, Mbak," tunjuk gadis itu. Kayanya gadis itu anak baru. Dia lebih muda dari aku.


Aku pun menuju ke ruangan Maureen. Ternyata Maureen sudah naik pangkat.


Tok, tok, tok.


Aku mengetuk pintu.


" Silahkan masuk," kata orang yang di dalam. Akupun masuk.


" Selamat pagi Ibu Maureen," sapaku sambil tersenyum. Maureen terkejut melihat kehadiranku.


" Ya, Tuhan, Evolet!"


Maureen menghampiriku, lalu segera memelukku.


Dia menangis bahagia melihat kehadiranku.


" Aku sangat merindukanmu, Vo."


" Aku juga, Ren," balasku. Kami saling melepas rindu. Maureen melepas pelukannya, lalu dia mengajakku duduk di sofa ruangannya.


" Seharusnya yang duduk di sini kamu, Vo


Bukan aku," katanya. "Kamu kemana saja?"


Aku menceritakan semua pada Maureen. Ibu Linda yang mencoba untuk menjualku, hingga aku bertemu dengan Bastian.


" Jadi kamu ketemu Karel?"


" Aku belum tahu pasti itu Karel atau bukan, tapi dia benar-benar mirip Ren."


" Untung kamu diselamatkan olehnya. Lalu kamu kenapa bisa ke kantor ini? Nanti kalau mereka menemukanmu di sini bagaimana," ujar Maureen panik.


" Tenang, tenang. Kemarin saat pernikahan Dina, aku bertemu dengan Bagas. Dia berjanji akan melindungku."


Maureen menghela nafas panjang, dia lega mendengar ucapanku.


" Jadi kemarin kamu datang ke pesta pernikaha Dina dan Rafa?"


Aku mengangguk, lalu aku berkata, "Kenapa aku tidak ketemu kamu?"


" Aku pulang lebih cepat, Bagas cemburu dengan Bastian. Bagas melihatku dicium oleh Bastian."


" Wow. Jadi ada kisah cinta diantara Bastian dan Evo?" kata Maureen tak percaya.


" Aku pun kaget dengan kelakuan Bastian," ucapku jujur.


" Seandainya Bastian itu Karel, apakah kamu akan berpaling pada Karel, Vo?" tanya Maureen.


Pertanyaan Maureen mengagetkanku. Aku sama sekali tidak terpikir untuk mendapatkan pertanyaa seperti itu. Maureen benar-benar selalu bisa memberikan pertanyaan yang tidak bisa aku jawab. Dia menunggu responku.


" Sudahlah, tidak usah ambil pusing dengan pertanyaanku. Hari ini kita bersenang-senang. Kita harus pergi untuk merayakan kedatanganmu," ajak Maureen.


" Loh, kan kamu lagi kerja."


" Kamu lupa? Sekarangkan aku bos di sini," ucap Maureen membuat kami tertawa.