MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Bertunangan



Bu Lina pergi meninggalkanku begitu saja. Aku bingung harus berbuat apa. Apakah aku tetap pergi atau aku harus menuruti kemauan orang tua Bagas. Aku tidak ingin meninggalkan Bagas begitu saja. Saat Bagas sudah berubah, tapi orang tua mereka tidak menyetujui hubungan kami. Aku mengejar Bu Lina.


" Bu Lina!" panggilku dengan baju yang tersobek. Wanita yang sudah berumur itu memandang ke arahku.


" Apa kamu ridak mengerti dengan ucapanku?" tanya Bu Lina.


" Biarkan aku bertemu dengan Bagas untuk terakhir kali hari ini, " aku memohon.


" Tidak...," Bu Lina menghentikan kata-katanya. Dia berpikir sesuatu. Aku menunggunya.


" Saya mohon, Bu," ucapku lagi.


" Baiklah, hari ini kamu boleh pergi ke pesta. Aku akan mengumumkan perjodohanmu dengan Bagas, tapi setelah itu kau pergi dari kehidupan Bagas."


" Terima kasih, Bu."


" Pelayan ambilkan baju buat wanita ini. Saya harap kamu menepati janjimu. Masa depan Bagas dan teman-temanmu ada di tanganmu."


Akhirnya aku pergi bertemu dengan Bagas. Menggunakan gaun yang diberikan oleh Bu Lina. Setibanya di tempat acara, Bagas menungguku di depan pintu. Dari raut mukanya, Bagas begitu cemas.


" Tadi mama ke tempat kita?" tanya Bagas.


" Dari mana kamu tahu?" tanyaku.


" Tidak penting dari mana aku tahu, jawab pertanyaanku. Apa mama menyakitimu?" Bagas mengulangi pertanyaan. "Kenapa kamu pakai baju ini? Aku kan sudah menyiapkan baju tadi."


" Hey, Bagas. Pertanyaan mana yang mesti aku jawab terlebih dahulu?" tanyaku menyadarkan dia.


" Maaf, aku khawatir padamu,"ungkap Bagas jujur. Dia memegang tanganku erat.


" Bu Lina hanya memberikan gaun ini untuk calon menantunya," jawabku singkat.


" Benarkah mama cuma datang untuk hal itu?" tanya Bagas tidak percaya. Aku mengangguk mantap. Lelaki itu menyerah bertanya padaku.


Acara kegiatan pembukaan perusahaan barupun dimulai. Acara pertama dibuka oleh tari-tarian. Lalu kata sambutan dari Pak Freddy.


" Terima kasih para hadirin telah datang di pembukaan perusahaan kami yang baru. Saya harap kerja sama ini terus kita bangun untuk kepentingan bersama," katanya lalu semua bertepuk tangan.


"Hari ini pula saya amat berbangga dengan anak saya Bagas Pratama, karena dia perusahaan ini tidak akan berdiri di sini. Mari anakku majulah ke sini."


Tepuk tangan meriah diberikan lagi. Bagas menghampiri Pak Freddy, kemudian Pak Freddy memeluk anak kebanggannya itu.


" Terima kasih, Papa," Bagas membalas pelukan Ayahnya.


" Hari ini pula, saya mau meresmikan, perjodohan anak saya dengan wanita pilihannya, Evolet Rebecca."


Semua orang terkejut mendengar itu semua. Sebelumnya perjodohan terjadi dengan Lisa. Mereka berbisik-bisik. Ada yang terkesima dengan perjodohan ini. Ada pula yang tidak setuju.


" Silahkan, Nak Evo," Pak Freddy menyuruhku untuk naik ke panggung. Wajah Bagas begitu bahagia. Di depan khalayak, kami bertukar cincin. Kami resmi bertunangan. Bagas memelukku erat. Kemudian dia menciumku di depan para undangan. Mereka pun bertepuk tangan. Tanpa aku sadari, air mata jatuh ke pipi.


" Hei, kenapa kamu menangis?" tanya Bagas.


" Aku bahagia," kataku berdusta pada dia.


Acarapun selesai. Semua undangan memberi selamat pada kami. Bu Lina menghampiriku lalu menarikku ke pinggir agar tidak terlihat oleh Bagas.


" Ingat janjimu, nona Evo. Batas waktumu tiga hari, jangan salahkan aku bila sahabat-sahabatmu terjadi hal yang diluar dugaanmu," Bu Lina mengancam.


" Baik, Bu. Aku tidak akan melupakan janjiku padamu."


Setelah aku berkata seperti itu, Bagas menghampir kami.


" Terima kasih, Mam. Gaun yang dipakai Evo sangat cantik sekali," Bagas memeluk ibunya.


Akhirnya selesai juga serangkaian acara. Semua orang pulang dengan penuh kebahagian, kecuali aku. Bagas dan aku pulang ke kamar. Selama diperjalanan, Bagas terus mengucapkan kata bahagia. Dia tidak menyangka bahwa orang tuanya akan luluh juga.


Sesampainya di hotel, Bagas membuka pintu kamar kami. Dia menggendongku dari lobby hingga ke kamar. Padahal aku sudah meronta-ronta agar diturunkan, tapi Bagas tidak mau.


" Bagas aku malu," potesku padanya.


" Diamlah, kalau kamu ribut lagi, nanti aku akan menciummu," ancam Bagas. Akhirnya aku nurut juga.


Di kamar, Bagas menurunkanku di sofa. Lalu dia berlutut,"Terima kasih Evo, kamu telah menerima cintaku."


Aku menatap mata Bagas. Perkataannya begitu tulus padaku, dan lagi aku menangis karenanya.


" Hey, kenapa kamu menangis lagi?"


" Maaf dan terima kasih telah mencintaiku, Bagas."


" Sampai kapanpun aku mencintaimu, Vo. Apapun yang kamu minta, semua akan kuwujudkan."


" Apapun?"


" Ya, apapun, Vo. Aku berjanji padamu. Aku akan menuruti setiap keinginanmu."


Bagas memelukku erat. Diapun menunjukkan rasa cintanya padaku. Kami tenggelam dalam mabuk asmara.


Bagas, maafkan aku, aku harus pergi meninggalkanmu. Aku tidak bisa menghancurkan masa depanmu dan teman-temanku. Kamu dan mereka adalah hartaku yang paling berharga. Aku mencintaimu Bagas. Semoga kepergianku ini tidak membuatmu rapuh.


Malampun berlalu. Bulan telah berganti matahari. Bagas sedang mandi. Aku minum obat setiap kami melakukan hal itu. Aku mencegah agar aku tidak hamil. Bagas tidak tahu akan hal ini. Kalau Bagas tahu, dia pasti marah padaku.


" Kamu sakit?" tanya Bagas mengagetkanku.


" Eh, ngga, ini, aku sedang minum vitamin," aku berbohong.


" Syukurlah, aku pikir kamu kecapean," ucap Bagas. Pria itu belum menggunakan baju, dia hanya menggunakan handuk untuk menutupi tubuhnya.


" Bagas, cepat pakai bajumu!" perintahku. Walau aku sering melihat dia tanpa pakaian, tapi tetap saja, aku malu.


" Bukannya aku sexy, sayang? Apa kamu begitu bergairah melihatku," ungkap Bagas genit.


"Bagas, mesum!" jeritku. Bagas menghampiriku, lalu gelombang cinta itu dimulai lagi.


Setelah badai itu selesai, akupun mandi. Bagas bersiap-siap untuk bekerja. Bagas memakai baju terbaiknya untuk datang ke kantor. Kemudian Bagas melihat sesuatu, obat yang aku minum barusan.


Drrtt.


Bunyi telpon masuk dari ponsel Bagas. Dia menerima telepon tersebut. Salah satu manager menelpon Bagas, ada sesuatu mendesak. Dia menutup telpon, mengambil obat tersebut, dan pergi.


" Vo, aku pergi. Sampai nanti malam," Bagas pamitan.


Di kantor baru Bagas.


Bagas duduk diruangannya. Lalu dia menelpon seseorang. Kemudian orang tersebut datang ke ruangan Bagas.Orang itu adalah Meli


" Kamu tahu, ini obat apa, Mel?" tanya Bagas. Dia memberikan obat itu pada Meli.


Meli mengambil dari tangan Bagas.


" Ini obat untuk tidak hamil, Pak," ucap Meli. Walau Meli bukan perawat tapi dia masih ingat macam obat karena pernah ikut kegiatan pelatihan menjadi pmr saat kuliah.


Raut muka Bagas berubah. "Baiklah, kamu boleh pergi."


Meli pergi dari ruangan Bagas. Dia pun merasa bingung dengan kejadian hari ini. Bagas marah, sangat marah. Kenapa Evo harus minum obat seperti ini? Apakah Evo tidak ingin melahirkan anak kami?