MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Charlote



Sebelum kalian membaca, mohon ditekan ya jempol dibawah dan vote. Like dan vote kalian membuat saya semangat berkarya. Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


***********


Perusahaan Keluarga Pratama


"Mama baru saja memberikan pesan padaku, nanti malam kita akan mengadakan jamuan makan malam dengan keluarga Dea. Kamu wajib ikut." tegas Bagas.


"Aku? Kenapa aku harus ikut? Aku tidak mau," bantah aku.


"Keluarga Dea itu sudah kami anggap keluarga kami sendiri. Kamu itu calon istriku, jadi kamu harus diperkenalkan dengan mereka juga," ucap Bagas lagi tidak mau bantah.


"Yes, Sir!" ucapku. Bagas tertawa melihat tingkahku.


**************


Malamnya di rumah keluarga Pratama.


"Akhirnya kamu datang juga Bagas. Kami sudah lama menunggumu," ujar Bu Lina melihat kehadiran kami.


"Maafkan kami datang terlambat. Tadi kami ke apartemen dulu mengganti pakaian sebelum ke sini," jelas Bagas. Ya, penjelasan Bagas benar. Hari ini di rumah Bagas diadakan perjamuan makan malam dengan keluarga Hermawan, keluarga Dea. Kami datang terlambat karena harus mengganti pakaian.


Pak Freddy yang mendengar kedatangan anaknya, langsung keluar dari kamarnya. Beliau sudah lebih membaik kesehatannya, sehingga dia dapat ikut perjamuan ini.


"Halo, Tante. Maafkan aku datang terlambat," ucap Bagas mengampiri Bu Heni - Mama Dea. Bagas menjabar tangan wanita paruh baya itu. Lalu mencium pipinya. Walau sudah tua, muka Bu Heni terlihat awet muda.


"Apa kabar kamu, sayang? Tante lihat kamu tambah tampan," puji Bu Heni. Bagas duduk di kursi, Aku mengikuti Bagas duduk di sampingnya.


"Terima kasih untuk pujiannya, Tan. Aku senang melihat Tante yang dari dulu sampai sekarang selalu cantik."


"Kamu bisa saja," jawab Bu Heni sambil tersipu malu.


"Kenapa kecantikan Tante tidak menurun pada Dea ya? Aku sedih melihat kenyataan pahit ini, De," ledek Bagas membuat semua orang di ruangan ini tertawa.


"What? Kamu jahat Bagas," gerutu Dea. Mereka tambah tertawa.


"Mas Bagas tidak boleh seperti itu sama Mbak Dea. Mbak Dea juga cantik kok tidak kalah dengan Tante Heni," bela Charlote.


"Dengarkan omongan adikmu," kata Dea memeluk Charlote yang di sebelahnya. "Besok Mbak belikan telepon genggam yang baru ya, sayang."


Mendengar ucapan Dea, menambah bahan tawaan kami di ruangan ini.


Bu Heni memandangku, kemudian berkata, "Siapa dia? Kenapa pembantu ikut makan malam dengan kita?"


"Hush! Mama jangan asal bicara. Dia namanya Evo, Ma. Tunangan Bagas," tegur Dea.


Pembantu? Apa? Aku dikira pembantu? Apa aku serendah itu di mata keluarga ini? Rasanya sakit mendengar perkataan Bu Heni. Ini ya namanya terluka tapi tidak berdarah. Aku menghela napas panjang.


"Aduh, Evo maafkan kelancangan Tante ya. Tante tidak tahu kalau kamu tunangan Bagas. Maklum dari kecil selera wanita Bagas seperti model semua, ternyata tipenya sudah berubah," Bu Heni meminta maaf. Jadi sebenarnya wanita ini minta maaf atau menghina ya? Aku menarik napas panjang. Sabar, Evo. Sabar.


"Bukan kamu yang salah Heni. Seharusnya anak ini yang memperkenalkan diri pada kalian. Itu tata krama yang benar." komentar Bu Lina.


Bagas memegang erat tanganku. Dia berkata pada Bu Heni, "Benar perkataan Dea, Tan. Ini Evolet Rebecca, cinta dan pelabuhan terakhir Bagas. Tante doakan kami agar segera menikah."


"Tentu saja doa terbaik untuk kalian."


"Apakah kita sudah dapat melakukan perjamuan makan ini?" tanya Pak Freddy.


"Sudah siap, sayang, " Bu Lina yang menjawab. Sebagai tuan rumah Bu Lina mempersiapkan hidangan yang begitu mewah. Semua sudah dirancang sedemikian rupa.


"Bagaimana perkembangan perusahaanmu, Bagas? Om dengar kamu sudah mengembangkan bisnismu di luar negeri. Selamat," puji Om Hermawan.


"Terima kasih, Om. Ini berkat Papa yang membimbingku, juga bantuan Om selama ini sama perusahaan kami."


"Anakmu ini ya, Freddy selalu bisa membuat saya senang dengan ucapannya," puji Om Hermawan.


"Hahaha, itu pujian tulus dari dia, Hermawan," Pak Freddy tertawa.


"Om ingin gabung dengan perusahaanmu jadinya. Apa bisa?" tanya Om Hermawan.


Bagas tertawa, dia berkata lagi, "Om ini bisa saja, perusahaanku masih belum pantas bersanding dengan perusahaan Om."


"Papa setuju dengan usulan Hermawan, Bagas. Perusahaan kita akan lebih kuat lagi nantinya," ujar Pak Freddy senang mendengar permintaan Hermawan. Dari dulu Hermawan dan Freddy selalu saling bantu. Perusahaan Hermawan lebih besar dari perusaah Freddy. Bila Freddy mengalami penurunan aset pasti Hermawan membantu. Perusahaan Hermawan tidak ada di Indonesia, dia membuka perusahaan di luar negeri. Makanya sampai saat ini mereka belum bergabung.


"Akan Bagas pertimbangkan, Pa." jawab Bagas.


"Sayangnya kamu sudah mau menikah ya, Bagas. Coba kamu belum menikah, pasti Om akan menjodohkan Dea dengan kamu," canda Om Hermawan.


"Mami setuju dengan ucapan Papi."


Mendengar percakapan mereka hatiku semakin sedih. Aku tidak mengerti topik pembicaraan mereka. Mereka pun tidak mengajakku bicara.


Aku paham satu hal dari makan malam ini, sebenarnya keluarga Dea dan keluarga Bagas ingin menyatukan Bagas dan Dea diikatan pernikahan. Pasti dulu mereka punya hubungan yang tidak aku ketahui.


🌹🌹🌹


Selesai makan malam, aku menuju ke dapur. Aku membantu mengambil makanan penutup.


"Mbak mau sampai kapan terluka menerima sindiran dari Mama dan Tante Heni?" tanya Charlote yang diam - diam mengikutiku.


"Charlote?" ucapku kaget.


"Sudahlah, Mbak. Berhenti memaksakan hubungan kalian. Aku tidak mau kamu terluka terlalu dalam. Dari semua wanita yang menjadi kekasih Mas Bagas, aku paling tidak mau kamu terluka," Charlote menasehati.


Aku memeluk Charlote. Rupanya calon adik iparnya itu mau melindungiku. "Terima kasih, Charlote telah menyayangiku."


Charlote melepaskan pelukannya, kemudian berkata lagi, "Mbak, tolong ya dengarkan aku. Aku mohon ya. Mama dan Papa itu sangat berbahaya. Kamu tidak akan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Saat itu terjadi, aku tidak bisa menolongmu, Mbak."


"Aku mencintai Bagas, Char. Dia adalah satu - satunya harta yang aku punya sekarang. Apapun yang terjadi nanti, biarlah aku yang menerima resikonya."


Charlote menatap diriku dengan wajah sedih. Rasanya dia ingin memaki Evo. Kenapa susah sekali Evo diberi saran?


"Mbak...." kata - kata Charlote terpotong karena kehadiran Dea.


"Hai, kalian berdua sedang apa di sini? Ayo kita angkat makan penutup kita," ajak Dea. Aku pun mengambil makanan penutup itu. Charlote dan Dea membantunya.


🌹🌹🌹


Apartemen Bagas.


Sesampainya di apartemen, Bagas langsung mandi. Aku menunggu giliran Bagas untuk mandi.


Drrt.


Bunyi telepon masuk di telepon genggamku. Aku melirik, telepon dari Maureen. Buru -buru aku mengangkatnya.


"Halo," sapaku.


"Hai, Evo," balas Maureen.


"Maureen sayang, apa kabarmu?" tanyaku senang di telepon dia.


"Aku sangat baik dan bahagia. Terima kasih selama ini kamu telah menjagaku dan menolongku," ucapnya lagi. Maureen terdengar riang. Apa hari ini Indra datang ke rumah sakit? Apa mereka jadian lagi?


"Syukurlah, aku senang mendengarnya."


"Hari ini Indra datang. Kami sudah baikan. Maksudku walau kami tidak jadi pasangan, Indra bilang bersedia menjadi temanku. Dia pun juga akan mempertimbangkan hubungan kami. Terima kasih Evo. Indra juga berkata kalau kamu yang memberitahu aku sedang di rumah sakit," cerita Maureen panjang lebar. Akhirnya aku menemukan Maureen yang dulu. Maureen yang ceria dan begitu optimis.


"Sesama sahabat harus saling membantu. Aku tidak mau lihat kamu seperti ini lagi," tegasku.


"Maafkan aku ya, Vo. Jujur aku akui benar kata Mama aku terlalu egois. Aku hanya mementingkan kebahagianku tanpa memikirkan orang lain."


"Syukurlah, akhirnya Maureenku telah kembali seperti semula."


Sehebat itukah kedatangan Indra? Hari ini dia datang membuat perubahan yang besar buat Maureen. Maureen benar - benar mencintai Indra melebihi dia mencintai orang tuanya.


"Besok aku akan pulang dari rumah sakit. Indra akan menjemputku. Apa kamh akan datang melihatku?"


Tentu. Mungkin aku akan langsung ke rumahmu," ucapku membuat Maureen tambah bahagia. Tak terasa setengah jam pembicaraan aku dengan Maureen. Dia menutup telepon. Bagas sudah selesai mandi.


"Siapa malam - malam meneleponmu?" tanya Bagas.


"Maureen sayang. Dia mengabarkan akan pulang besok dari rumah sakit."


"Benarkah? Senang aku mendengarnya. Pekerjaan bagian editor sedikit terhambat karena Maureen tidak ada," jelas lelaki itu.


Lagi - lagi Bagas tidak kuberitahu, bahwa kesembuhan Maureen karena ada campur tanganku. Bagas menuju ke dapur mengambil segelas minuman. Buru - buru aku mengetik pesan untuk Indra.


Aku : Terima kasih telah menolong hidup Maureen. Dia sudah kembali ceria.


Drrt.


Pesan masuk di telepon genggamku.


Indra : Apapun aku lakukan untuk kebahagianmu, Evo. Aku mencintaimu.


Setelah membaca pesan tersebut aku segera menghapusnya. Aku tidak mau Bagas membacanya. Bahaya sampai Bagas tahu.