MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Kebenaran yang Terungkap



  Tanpa berpikir panjang, Evo pamit dengan pelayan rumah Bagas. Ia lari menuju ke mobil Bastia di luar rumah.


  “Tidak kusangka pacarku ini jago menyamar. Aku bangga padamu, Vo,”puji Bastian ketika Evo sudah masuk ke dalam mobil.


  “Hahaha, mungkin karena aku terlalu banyak menonton film, jadi bisa mengikutinya, tapi jujur tadi aku sangat takut mereka akan mengenaliku,” cerita Evo.


Bastian mengelus kepala Evo dengan lembut. Sentuhan tangan Bastian membuat hari Evo sangat senang.


Charlotte menyaksikan kemesraan Evo dan Bastian dengan perasaan bahagia. Dia tidak pernah melihat Evo sebahagia ini sebelumnya. Bersama Bagas, Evo selalu dihantui rasa takut. Bayang – baying kedua orang tua mereka membuat Evo menderita.


  “Hai, Mbak,” sapa Charlotte.


  Hampir saja Evo lupa kalau Charlotte dan Evan ada di dalam mobil yang sama. Evo membalikkan badannya. Evo merasa senang Charlotte bisa lepas dari rumahnya.


  “Bagaimana keadaanmu?” tanya Evo.


  “Aku baik, Mbak. Terima kasih telah membantu Evan hari ini,” ucap Charlotte.


  “Jangan sungkan, Sayang. Kamu dan Evan sudah kuanggap adikku sendiri,” kata Evo dengan tulus.


  Mata Charlotte berbinar – binar mendengar ucapan Evo. Dia tidak menyangka kalau dirinya dianggap adik oleh Evo. Ia dibuat Evo layaknya menjadi keluarga sendiri, tapi orang tua Charlotte menganggap Evo sebagai musuh mereka.


  Evan mengamati mata Charlotte, dia tahu Charlotte sedang berjuang untuk tidak menangis. Evan menggegam tangan Charlotte, memberikan kekuatan padanya. Charlotte menatap Evan dengan tersenyum.


  “Ke mana kami akan mengantar kalian?” tanya Evo lagi.


  “Aku minta tolong untuk terakhir kalinya, Mbak. Antarkan kami ke pemberkatan nikah Mas Bagas dan Kakak Dea, aku ingin menghentikan pernikahan itu,”ujar Charlotte. Charlotte melihat jam yang ada di dalam mobil. Setengah jam lagi acara tersebut akan dimulai.


  “Waktu kita hanya setengah jam lagi, Mbak, kalau kami turun dan menunggu taksi, aku takut tidak akan keburu,”jelas Charlotte.


  Kata – kata Charlotte barusan membuat Evo terkejut, begitu juga dengan Bastian, tapi kali ini Evo tidak mau ikut campur karena itu bukan urusannya lagi.


  “Bas?”


  Bastian melihat ke arah Evo, kemudian dia mengangguk untuk menyetujui permintaan Evo.


  “Terima kasih, Sayang,” ucap Evo. Wanita itu tersenyum untuk kesekian kalinya. Semenjak bersama Bastian, tak pernah sekali pun Bastian membuatnya kecewa. Bastian merupakan pria yang sangat baik.


  “Mbak,” panggil Evo.


  Evo membalikkan badannya lagi, kemudian berkata,”Kenapa sayang?”


  “Kenapa kau tidak bertanya padaku alasan aku ingin membatalkan pernikahan Mas Bagas dengan Kakak Dea?” tanya Charlotte penasaran.


   Evo membalikkan badannya lagi, dia melirik ke arah Bastian. Alasannya dia tidak ingin tahu karena prioritasnya saat ini adalah Bastian. Dia hanya ingin membahagiakan Bastian


  “Ah, maaf, maaf atas kelancanganku memberikan pertanyaan seperti itu padamu. Padahal saat ini kamu sudah punya pacar,” kata Charlotte sambil menunduk.


  “Tidak, itu bukan masalah besar. Apa pun yang kamu lakukan untuk Bagas, pasti hal yang terbaik, buat apa aku harus bertanya?” terang Evo. “Lagi pula aku dan Bagas hanya masa lalu. Masa depanku bersama Bastian.


  Bastian melihat ke arah Evo, dia sangat senang atas ungkapan Evo barusan. Ternyata masa depan Evo bersama dengan dirinya.


*****


Setengah jam kemudian.


  Charlotte, Evan, Evo, dan Bastian tiba tepat waktu di acara pernikahan Bagas. Charlotte dan Evan turun ke dari mobil Bastian.


  “Terima kasih, Mbak, Mas telah mengantarkan aku tepat waktu,” ucap Charlotte.


  “Tenang saja, cepatlah pergi. Bagas sedang menunggu kamu!”kata Evo.


  “Ayo, cepat!” ajak Evan. Charlotte dan Evan pun berlari memasuki gedung tersebut.


  Evo menghela napas lega, dia sudah membantu Charlotte sampai ke tujuan.


  “Kenapa tidak ikut Charlotte?” goda Bastian.


  “Bukankah kekasihku akan mengajakku makan malam hari ini? Kenapa aku harus melupakan hal itu?” ucap Evo membuat Bastian kembali bahagia.


  “Tentu.”


*****


  Di dalam ruangan.


  “Apakah ada yang tidak setuju dengan pernikahan ini?”


  Charlotte membuka pintu tersebut, lalu dia berkata dengan lantang,”Saya! Saya tidak setuju dengan pernikahan ini!”


“Apakah ada yang tidak setuju dengan pernikahan ini?”


  Charlotte membuka pintu tersebut, lalu dia berkata dengan lantang,”Saya! Saya tidak setuju dengan pernikahan ini!”


  Para undangan langsung mencari orang yang bersuara tidak setuju dengan pernikahan Bagas dan Dea, termasuk calon pasangan suami istri itu.


  “Charlotte?” ujar Bagas dan Dea berbarengan.


  Charlotte segera maju dan menghampiri Bagas. Bu Lina yang melihat Charlotte, langsung menghadang anak perempuannya itu.


  “Apa – apaan kamu ini?” tanya Bu Lina sedikit membentak.


  “Pernikahan ini tidak seharusnya terjadi, Mam. Harusnya Mama tahu itu. Mas Bagas tidak mencintai Kak Dea. Kau tahu itu,” keluh Charlotte.


  Bu Lina menarik Charlotte untuk menyingkir dari tempat itu.


  “Tidak! Aku tidak ingin pergi dari sini! Mas! Mas Bagas!” teriak Charlotte.


  “Tutup mulutmu, Charlotte! Kau mempermalukan keluargamu!” bentak Bu Lina.


  Bagas hendak menghampiri mereka berdua, tapi dicegah oleh Dea. “Jangan pergi, kita belum selesai pemberkatan.”


  “Ini bisa kita lanjutkan nanti, adikku sedang membutuhkan diriku,” tolak Bagas. Dia menghampiri Mama dan adiknya yang sedang cekcok satu sama lain.


  “Ada apa, Char?” tanya Bagas panik. “Dari mana saja kamu? Sejak pagi aku mencarimu.”


  “Aku ingin menceritakan sesuatu padamu. Aku mohon jangan menikah dengan Kak Dea, aku tidak mau kamu tidak bahagia,” pinta Charlotte.


“Apa maksud kamu?” Bagas berusaha menanyakan lagi. Dia bingung, kenapa Charlotte tidak seperti biasanya?


  “Sudah, jangan kamu dengarkan adikmu. Aku rasa dia telah dihasut oleh Evo,” ucap Bu Lina pada Bagas.


  Pak Freddy juga menghampiri ketiganya. Dia merasa malu karena ada keributan di sini.


  “Tidak, Mas! Mbak Evo sama sekali tidak menghasutku! Papa dan Mama sengaja berbuat jahat pada Mbak Evo agar kalian berpisah.”


  Bagas sontak kaget mendengar ucapan adiknya itu.


  “Apa?”


  “Jangan dengarkan adikmu! Dia sudah tidak waras,” elak Bu Lina.


  Charlotte memegang tangan Bagas, dia menatap Bagas dengan serius, “Percaya padaku, Mas. Aku mendengarnya sendiri. Beberapa hari yang lalu Kak Dea datang ke rumah, Kak Dea dan Mama bersatu memisahkan Mas dan Mbak Evo.”


   Bagas menyimak setiap kata yang dikeluarkan dari mulut adik perempuannya itu.


  “Bohong! Adikmu pembohong!”


  “Mama, dan Papa menyebarkan fitnah tentang Mbak Evo di kamar hotel itu. Mereka menuduh Mbak Evo berselingkuh dengan Mas Indra, padahal Mbak Evo tidak melakukan hal itu.”


  Semua menyaksikan drama yang dipertontonkan keluarga Pratama itu. Mereka tidak percaya bahwa keluarga Pratama melakukan hal serendah itu pada seseorang.


  “Dia,” tujuk Charlotte pada Dea, “Dia juga membantu kejahatan Papa dan Mama! Dia bekerja sama dengan Indra, membuat drama bahwa Indra dan Mbak Evo bermesraan di hotel itu!”


  “A…apa?” tanya Bagas tidak percaya.