
Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
*****
"Halo, Indra! Ini aku Evo," ucapku padanya.
"Ada apa. Vo?" tanyaku.
"Aku mau bekerja di tempatmu."
"Apa kamu serius?" tanya Indra begitu bahagia.
"Ya, tadi Bagas sudah mengizinkan aku untuk bekerja di tempatmu," ceritaku.
"Baiklah, aku akan menjemputmu, aku baru saja mau berangkat kerja."
"Eh, tidak, tidak usah!" cegahku. Aku tidak mau merepotkan Indra. Lagi pula aku sudah tahu kantornya.
"Kenapa tidak mau? Aku baru berangkat. Aku akan tiba lima belas menit lagi di rumahmu. Bersiaplah," perintah Indra kemudian menutup teleponnya.
"Aduh, Indra. Akukan belum mandi. Maksudku aku baru mau kerja besok," rungutku kemudian aku pergi bersiap-siap.
*****
Kantor Keluarga Pratama.
"Apa nanti malam kita jadi pergi?" tanya Dina yang mampir di ruangan Maureen.
"Jadi. Aku sudah menghubungi Evo Nanti malam kita pesta!!" ucap Maureen,
"Benar sekali. Sudah lama kita tidak jalan bareng."
"Tapi apa kamu kuat dengan kondisi hamil tua seperti itu?" tanya Maureen sedikit khawatir.
"Hahaha, kamu tenang saja, Maureen. Anakku ini ngidamnya jalan - jalan terus. Jadi kalau tidak jalan malah dia akan meronta- ronta dan membuat Mamanya pusing," Dina menjelaskan.
"Memang ciri khas kamu sekali ya. Apa kamu sudah tahu jenis kelamin anakmu?" tanya Maureen lagi.
"Aku dan Rafael sepakat untuk tidak mencari tahu. Biar menjadi kejutan buat kami," ucap Dina.
Maureen memegang perut Dina, "Adik bayi, kalau nanti kamu seorang perempuan, Tante harap kamu jangan seperti Mamamu ya sifatnya."
"Maureen, kamu jahat!" maki Dina.
"Hahaha, becanda Dina."
"Ren." Tiba - tiba Dina mengingat sesuatu. Itu tentang Bagas dan Evo.
"Apa?"
"Menurut pendapat kamu, apa Bagas dan Evo akan bersatu ya?" tanya Dina penasaran.
"Kenapa kamu bisa bertanya seperti itu?"
"Kalau memang mereka tidak bagus untuk bersatu, kenapa mereka harus mempertahankan cinta mereka? Bukankah cinta tidak harus memiliki? Maksudku, cinta Bagas dan Evo banyak yang tidak merestui."
"Apa termasuk kamu juga tidak menyetujui hubungan mereka?" tanya Maureen memandang Dina sahabatnya itu dengan lekat.
"Mungkin."
"Kenapa mungkin?" Maureen bertanya dengan heran.
"Kalau aku jadi Evo, bila kisah cinta kami membuat orang disekitar kami tidak bahagia, aku tidak ingin meneruskannya."
"Jangan sampai Evo mendengar ucapanmu ini, Dina. Dia pasti akan merasa sedih mendengarnya. Evo selalu mendukung setiap keputusan kita. Sebaiknya kitapun harus demikian. Evo cuma punya kita, Din. Tidak ada yang lain," Maureen mengingatkan.
"Tapi kadang seorang sahabat harus mengingatkan temannya agar dia tidak terjerumus dalam lembah kesedihan. Aku merasa Bagas tidak akan membuat Evo bahagia," pendapat Dina.
Maureen berpikir sejenak ucapan Dina. Perkataan Dina ada benarnya juga. Semoga Evo dan Bagas mendapat restu dari Tuhan.
*****
Kantor Keluarga Hermawan.
"Jadi Charlotte datang berkunjung ke rumahmu ya?" tanya Dea.
Hari ini Dea diminta oleh Pak Hermawan untuk membantu Bagas lagi. Mereka sedang mengobrol di ruangan Bagas.
"Iya, maaf aku jadi datang terlambat. Aku tidak tega meninggalkan Charlotte," jelas Bagas.
"Tidak masalah. Kaukan bos di sini, tapi jangan terlampau sering nanti akan ada kecemburuan sosial," nasehat Dea.
Setelah mendengar ucapan Dea, Bagas kembali memeriksa beberapa dokumen. Banyak hal yang harus dipelajari oleh Bagas. Untung saja Dea mau membantunya.
"Jadi setelah surat ini selesai di buat, apakah aku harus menyuruh orang meminta tanda tangan Om Hermawan?" tanya Bagas.
"Benar sekali, Bagas. Papa sekarang sudah memberikan aturan yang lebih ketat untuk keluar masuknya uang. Makanya Papa menyuruh kamu menjabat dibagian ini."
Bagas menganggukan kepala kemudian berkonsentrasi.
"Gas."
"Apa?" tanya Bagas.
"Boleh aku bertanya satu hal padamu?"
Bagas menghentikan sejenak pekerjaannya, "Apa?"
*****
Rumah kontrakan.
Tok, tok, tok.
Bunyi pintu di ketuk.
Aku berlari menuju pintu, lalu membukanya.
"Halo, Indra. Maafkan aku, aku belum selesai merapikan diri. Ayo masuk dulu," aku mempersilahkan Indra untuk masuk.
"Terima kasih. Aku sangat senang sekali ketika kamu menerima tawaranku," ucap Indra lalu masuk ke dalam. Dia duduk di sofa tamu.
"Sebenarnya aku hanya ingin menyampaikan saja bukan hari ini aku mau bekerja."
"Lebih cepat lebih baik, Evo," kata Indra dengan tersenyum *Ya, semakin cepat pula aku akan mendapatkan kamu,Vo, *batin Indra.
"Baiklah. Aku akan mengambil tasku, lalu kita akan berangkat. Lain kali aku tidak mau kamu menjemputku. Aku takut Bagas akan marah dan cemburu padaku," ujarku mengingatkan Indra.
"Tentu saja. Kita adalah sahabat."
Aku mengambil tasku ke dalam kamar. Setelah mendapatkan apa yang aku perlukan aku keluar dari kamar.
"Ayo kita berangkat," ajakku pada Indra. Indra bangkit berdiri. Lalu berjalan mendahuluiku.
Aku melangkah ke luar rumah, tanpa aku sadari ada air di lantai. Aku terjatuh, "AGHH!"
Indra yang siaga menangkap tubuhku, malah ikut terjatuh. Badan aku di atas badan Indra.
"Apa kamu baik - baik saja?" tanya Indra.
Ceklek.
Pintu rumah terbuka.
"EVOLET REBECCA!"
*****
Kampus Charlotte.
"Aku berangkat ke kantor dulu ya. Nanti siang aku akan menjemputmu di kampus. Aku mencintaimu" pamit Evan.
"Aku mencintaimu juga," ucap Charlotte.
"Wah, wah, pasangan yang romantis."
"Pak Dirly?" Charlotte terkejut.
"Selamat pagi, Charlotte," sapa Pak Dirly.
"Selamat pagi, Pak," sapa Charlotte kikuk.
"Apakah kamu sudah sarapan? Sepertinya hari ini kamu bisa menemani saya sarapan pagi," pinta Charlotte.
"Sa ..., saya...."
"Ayo temani saya sarapan dulu," ajak Pak Dirly menarik tangan Charlotte. Pak Dirly mengajak Charlotte ke ruangannya.
"Loh, Pak? Bukannya tadi kita mau sarapan ya?" tanya Charlotte. Charlotte bingung kenapa dia diajak ke sini? Padahal kalau sarapankan ya ke kantin atau ke kafe.
"Ada beberapa hal yang mau bapak bicarakan padamu." ucap Pak Dirly, "Silahkan kamu duduk dulu."
Charlotte menatap tajam ke arah Pak Dirly. Dia merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan dosennya ini. Charlotte mulai was - was.
"Bagaimana perkembangan skripsi kamu? Apa kamu sudah mendaftar ujian?" tanya Pak Dirly.
"Sudah, Pak. Ada beberapa bagian dari persyaratan yang harus saya kasih hari ini."
Pak Dirly berdiri dari tempat dudukya, lalu dia menghampiri Charlotte. Sudah lama aku menunggu untuk berduaan dengan kamu, Char, ujar Pak Dirly dalam hati.
Pak Dirly menarik kursi Charlotte, lalu dia berlutut di hadapan wanita itu.
"Bapak? Bapak mau apa?" tanya Charlotte mulai takut.
"Sudah lama aku ingin mengatakan ini semua padamu. Aku sudah lama memendam perasaan ini padamu, aku sangat mencintai kamu."
"A...apa maksud Pak Dirly?" tanya Charlotte mulai pucat. Sepertinya Pak Dirly sudah mulai gila.
"Aku sangat mencintai kamu, Char. Sekali saja, aku ingin merasakan dirimu. Aku ingin mencium bibir merahmu. Menyentuh lembut kulit tubuhmu," ucap Pak Dirly sambil menyentuh dengan perlahan tubuh Charlotte.
*****
Hai kamu, iya kamu! Terima kasih sudah membaca kisah Evo. Tetap setia ya membacanya. Evo tunggu kalian di episode selanjutnya. Jangan lupa gabung juga di group chat aku.
NEWS!!
Ada cerita baruku judulnya : CINTAI AKU, MR. KANEBO.
Silahkan dibaca, like, komment, bintang 5 dan share sebanyak - banyaknya. Terima kasih.
❤❤❤