MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Pak Hermawan



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


*****


Keesokan harinya, rumah keluarga Dea.


Setelah seharian Dea mengurung diri dari kamar, pagi ini Dea keluar dari kamarnya. Pak Hermawan dan Bu Heni yang melihat tersebut senang menyambut anak gadisnya.


"Apa anak gadis Papa sudah tidak marah lagi sama Papa?" tanya Pak Hermawan kepada Dea. Dea menghampiri kedua orang tuanya yang sedang asyik sarapan pagi.


"Selamat pagi, Papa. Selamat pagi, Mama," sapa Dea.


"Selamat pagi sayang," sapa Pak Hermawan balik.


"Ayo, kamu ikut sarapan. Ada bubur Manado kesukaan kamu," bujuk Bu Heni. Dea yang tergiur dengan makanan kesukaannya itu, langsung duduk dan ikut sarapan.


"Bagaimana perasaan kamu pagi ini?" tanya Bu Heni.


"Apa kamu masih marah pada Papa?" tanya Pak Hermawan lagi.


"Aku sudah tidak marah pada Papa. Aku hanya butuh waktu untuk penolakan Bagas," jelas Dea. Walau dahulu kami pernah putus, tapi Bagas masih tetap baik padanya. Apa yang diminta oleh Dea selalu diberikan oleh Bagas.


"Papa mengerti perasaan Dea, tapi Papa mohon jangan memaksakan cinta Dea pada Bagas ya. Dea kan tahu kalau Bagas sudah punya tunangan," ucap Pak Hermawan lembut.


"Tapi Papa tidak tahu kalau tunangan Bagas bukan wanita yang baik!" tegas Dea.


Pak Hermawan menarik napas panjang. Sepertinya anak gadismya sangat mencintai Bagas.


"Sudah, sudah. Jangan dibahas lagi tentang perjodohan ini," pinta Bu Heni. Dia menuangkan susu vanilla di gelas Dea. Pak Hermawan dan Dea melanjutkan sarapan mereka.


"Bagaimana keadaan Bagas sekarang?" tanya Bu Heni membuka topik dan menghancurkan keheningan di ruang makan tersebut.


"Om Freddy memecat Bagas dari kantor. Bu Heni mengusir dia dari apartemennya sendiri," cerita Dea.


"Hukuman yang berat. Kenapa Freddy dan Lina setega itu pada anak kandungnya sendiri?" ucap Pak Hermawan tidak mengerti.


"Itu hukuman yang benar, Papa. Hukuman seperti itu bagus untuk menyadarkan Bagas atas kesalahannya," kata Bu Heni setuju dengan keputusan Pak Freddy dan Bu Lina.


"Lalu di mana Bagas tinggal?" tanya Pak Hermawan.


"Aku tidak tahu, Papa. Tante Lina tidak cerita padaku," kata Dea.


"Apa sebaiknya Papa menolong Bagas saja?" usul Pak Hermawan pada Dea dan Bu Lina.


"Apa maksud Papa?" tanya Dea tidak mengerti.


"Bagaimana cara Papa menolong Bagas?" Bu Heni penasaran.


"Papa mau menyuruh Bagas untuk kerja di kantor kita. Kebetulan ada tempat yang kosong di kantor kita," jelas Pak Hermawan.


"Apa maksud Papa lowongannya adalah menjadi kepala divisi bagian keuangan yang tempo hari Papa pecat orangnya karena korupsi?" tanya Dea.


"Iya, betul. Papa yakin Bagas pasti bisa menjalankan jabatan ini," kata Pak Hermawan. Pak Hemawan mengambil gelas yang berisi air lalu meminumnya.


"Dea setuju, Pa! Dea pasti bantu Papa untuk bujuk Bagas. Semoga Bagas mau ya, Pa," ucap Dea penuh semangat.


"Papa senang melihat Dea semangat lagi, pasti karena Papa bantu Bagas ya?" goda Pak Hermawan pada putrinya tersebut. Muka Dea memerah karena malu.


"Sebaiknya Papa telepon Bagas terlebih dahulu. Ajak Bagas untuk bertemu lalu membicarakan ini semua pada Bagas," Bu Lina berpendapat.


"Benar kata Mama, Pa," setuju Dea.


"Tolong ambilkan ponsel Papa di kamar," pinta Pak Hermawan pada anak gadisnya. Dea pun segera mengambil apa yang diperintahkan Pak Hermawan padanya.


Setelah mengambil ponsel tersebut, Dea kemudian memberikan kepada Pak Hermawan. Pak Hermawan kemudian mencari kontak nama Bagas lalu meneleponnya.


"Halo," sapa Bagas.


"Nak Bagas, ini Om Hermawan," sapa Pak Hermawan padanya.


"Iya, Om. Bagas simpan nomor Om. Ada apa, Om? Ada yang bisa Bagas bantu?" tanya Bagas.


"Apa kabarmu, Nak?" tanya Pak Hermawan.


"Kabar Bagas baik, Om. Bagaimana dengan Om dan Dea?" tanya Bagas. Bagas sedikit khawatir dengan Dea. Walau Bagas menolak perjodohan tersebut, Bagas tidak mau membuat Dea sakit hati. Bagi Bagas Dea sudah dianggap saudaranya sendiri.


"Dea?" Pak Hermawan melirik Dea.


"Aku? Kenapa dengan aku?" tanya Dea bingung.


"Kabar Dea baik. Kamu tidak usah khawatir, Nak Bagas," ucap Pak Hermawan. Mendengar ucapan Pak Hermawan hati Dea sedikit bahagia. Bagas masih mengkhawatirkan dirinya, Dea tidak menyangka hal tersebut.


"Syukurlah, Om. Bagas senang dengarnya. Ada apa Om menelepon saya?" tanya Bagas kembali.


"Om mau bertemu dengan kamu. Kapan kamu bisa meluangkan waktu ketemu dengan Om?" Pak Hermawan langsung bertanya pada Bagas.


"Mungkin nanti sore Bagas bisa bertemu dengan, Om. Setelah pekerjaan Bagas selesai ya, Om," janji Bagas.


"Baiklah. Kamu datanglah ke rumah. Ada beberapa hal yang harus Om bicarakan padamu," perintah Pak Freddy pada Bagas.


"Baik, Om. Bagas akan datang. Terima kasih untuk undangannya," ucap Bagas lagi.


"Sampai ketemu di rumah," kata Pak Hermawan kemudian menutup teleponnya.


"Bagaimana, Pah? Apa kata Bagas? Bagas tadi nanya kabar aku?" tanya Dea .


"Wah, Bagas memang anak yang baik ya," ucap Bu Heni.


"Semoga Bagas mau mendengar omongan Papa dan bekerja di kantor kita. Terima kasih ya, Papa telah membantu Bagas," ucap Dea. Sebenarnya Dea tidak rela dengan keputusan Tante Lina dan Om Freddy.


*****


Rumah Keluarga Pratama.


"Bagaimana rencana kita selanjutnya, Pah?" tanya Bu Lina pada istrinya.


"Kita tunggu saja Bagas akan datang kembali kepada kita. Kita harus sabar untuk semua proses rencana kita," ucap Pak Freddy.


Drt... Drt...


Bunyi telepon genggam Bu Lina. Bu Lina mengambil teleponnya yang ada di kantongnya. Dia menilik siapakah geranga yang meneleponnya pagi ini. Ternyata yang menelepon Dea.


"Halo, Dea sayang, selamat pagi," kata Bu Lina menyapa Dea.


"Selamat pagi, Tan. Dea ada kabar baik untuk Tante," ucap Dea. Sekarang Dea ada di kamarnya. Baru saja Dea selesai sarapan dengan kedua orangtuanya. Dea mau mandi tapi teringat untuk menyampaikan berita baik ini untuk Bu Lina.


"Kabar apa sayang? Kelihatannya kamu begitu senang."


"Iya, Tan. Dea sangat senang. Tadi pagi Papa menawarkan kerja pada Bagas. Itu artinya Dea bisa mendekati Bagas lagi," jelas Dea.


"Wah, berita yang baik sekali, Tante senang mendengarnya. Lalu apakah Bagas sudah menerima tawaran tersebut?" tanya Bu Lina.


"Papa dan Bagas baru bertemu nanti sore di rumah. Tante doakan ya biar Bagas menerima pekerjaan ini. Biar rencana Dea semakin berhasil," pinta Dea pada Bu Lina.


"Tante pasti akan doakan. Kabarkan Tante nanti keputusan Bagas."


"Baik, Tante. Dea mandi dulu, mau siap - siap ke kantor," pamit Dea.


"Semoga hari kamu indah sayang," ucap Bu Lina.


Setelah Bu Lina menutup teleponnya, Pak Freddy bertanya,"Siapa?"


"Dea, Pa," jawab Bu Lina.


"Ada apa Dea menelepon?" tanya Pak Freddy lagi.


"Dia cerita bahwa Hermawan menawarkan pekerjaan untuk Bagas," cerita Bu Lina.


"Apa? Kalau begini rencana kita akan gagal. Bagas tidak akan cepat pulang ke sini," ujar Pak Freddy khawatir.


"Malah itu rencana yang bagus, Pa. Dea akan mendekati Bagas dan Bagas akan kembali mencintai Dea. Itu rencana yang sempurna," jelas Bu Lina.


*****


Rumah Kontrakan


"Siapa yang menelepon kamu?" tanya aku pada Bagas.


"Om Hermawan, Papa Dea," jawab Bagas.


"Ada apa dia menelepon kamu?" tanya aku lagi. Aku memberikan sarapan roti dan segelas susu untuk Bagas.


"Om Hermawan menyuruh aku untuk ke rumahnya nanti sore," terang Bagas. Bagas menerima roti dan segelas susu.


"Kenapa kamu harus ke rumahnya?" ujar aku. Kemarin bukankah Pak Hermawan menolak membantu Bagas karena Bagas juga tidak mau menerima syarat tersebut?


"Aku tidak tahu. Om cuma bilang padaku untuk datang karena ada hal yang ingin dibicarakan," cerita Bagas lagi. Bagas pun mulai sarapan. Dia makan roti yang aku berikan padanya. Bagas memang luar biasa dia bisa beradaptasi dengan lingkungannya.


"Gas, bolehkah aku menerima tawaran pekerjaan dari Rafael?" tanya aku padanya.


"Boleh saja, asal kamu tidak lelah dengan dua pekerjaanmu itu," ucap Bagas.


"Dua pekerjaanku? Apa saja dua pekerjaanku?" tanya aku bingung.


"Menulis novel. Kamu kan seorang penulis. Apa kamu sudah lupa dengan semua itu?" tanya Bagas. Bagas meneguk susu yang diberikan olehku.


Aku tersenyum mendengar ucapannya. Ternyata selama ini dia memperhatikan aku. Tidak pernah sedikit pun Bagas bertanya tentang pekerjaan aku yang menulis ini.


"Baiklah, aku akan memikirkan lagi," kataku.


"Kalau pun kamu mau bekerja, ada baiknya kamu bekerja di tempat yang bukan tempat kamu terbitkan kerja," saran Bagas.


Aku bertanya pada Bagas,"Kenapa begitu?"


"Ya, dikiranya nanti kamu ada main dengan Rafael," jelas Bagas.


"Benar juga kata kamu," kataku.


"Apa kamh mau ikut ke rumah Om Hermawan?" tanya Bagas.


Aku menggelengkan kepala, lalu berkata padanya, "Beliau hanya mengundangmu, bukan mengundang aku. Sebaiknya aku di rumah menyelesaikan rumah kita ini."


"Baiklah, aku setuju dengan kamu," kata Bagas. Pria itu mengerti perasaanku, jadi dia tidak memaksaku untuk ikuti kemauanya.


Aku dan Bagas telah selesai sarapan. Kami melanjutkan kegiatan kami masing - masing.


****


Hai semua, terima kasih telah membaca ceritaku. Semoga kalian tidak bosan ya. Tetap semangat.