
" Siapa namamu?" tanyaku padanya.
" Bastian. Karel Bastian," ucap lelaki itu.
Apa? Karel? Aku ngga salah dengarkan? Dia Karel yang aku cari? Lelaki yang aku cari selama lima belas tahun ini.
" Karel? Namamu beneran Karel?" tanyaku lagi tak percaya.
" Ya, itu namaku. Tapi jarang sih orang memanggil namaku Karel. Biasanya Bastian," jelas dia. Aku menatap dia tak percaya. Apakah Tuhan benar-benar mempertemukan aku dengan dia?
Ting, tong.
Bel kamar berbunyi. Bastian membuka pintu. Pesanan makanan sudah datang.
" Makanlah dulu. Kamu pasti sudah lapar."
" Tapi, tunggu, aku...," aku berusaha ingin bertanya padanya apakah benar dia adalah Karel? Karel cinta pertamaku.
" Ada apa lagi?" Tanya Bastian bingung.
" Dulu kamu SD di mana?"
Bastian tertawa. "Apa pentingnya SD ku di mana? Makanlah dahulu, baru kita bicara, setuju?"
Aku pun menuruti Bastian, perutku sudah lapar. Aku makan dengan lahap, hingga aku tersendak.
" Hei, pelan-pelan." Bastian menepuk bahuku. Dia memberikan minuman padaku.
" Terima kasih."
Setengah jam kemudian, kami selesai makan. Bastian membereskan sisa makanan kami. Dia membuang sisa makanan kami ke tempat sampah.
" Bas, terima kasih sekali lagi aku ucapkan karena kamu telah menolongku, terima kasih telah memberiku makan," ucapku tulus padanya.
" Tenang saja. Aku tulus membantumu. Siapa namamu?" tanya Bastian yang lupa menanyakan namaku sejak awal pertemuan.
" Evo, Evolet Rebecca. Kamu panggil saja Evo."
Tiba-tiba Bastian merasakan sakit di kepalanya. " Agh?!" Keluhnya.
" Apa yang terjadi padamu Bas?" tanyaku.
" Tolong ambilkan obat di laci itu, Vo," pinta dia padaku. Aku segera mengambil obat tersebut, dan minum untuknya. Lalu Bastian meminum obat tersebut.
" Ada apa denganmu?"
" Tidak, aku tidak apa-apa, Vo," Bastian menenangkan hatiku. " Istirahatlah di kamarku ini. Aku akan menggunakan kamar sebelah. Besok pagi, aku harus berangkat kerja, aku harus istirahat."
" Ya, Bastian. Terima kasih."
Benarkah? Benarkah itu Karel? Benarkah itu kamu? Orang yang selama ini aku cari. 15 tahun waktu yang tak lama untuk menunggunya.
Kenapa baru sekarang Tuhan?
Kenapa pada akhirnya kita dipertemukan kembali?
Kenapa harus sekarang Tuhan ketika cintaku telah aku labuhkan pada Bagas?
Apakah perasaan Karel masih seperti dulu?
Apakah janji itu masih ada diingatan Karel?
Aku tidak mungkin salah, dia pasti Karel. Mata yang sama, caranya memperlakukan wanita, cara bicaranya yang cadel.
❣❣❣
Aku membuka mata. Matahari sudah terbit, aku membuka jendela kamar Bastian. Terdengar suara kicauan burung yanh merdu. Sinar matahari menyapa kulitku, begitu hangat.
Tok, tok, tok.
Bunyi ketokan pintu kamar Bastian. Aku membuka pintu.
" Selamat pagi, Vo. Ini aku antarkan makanan untukmu," Bastian memberikan sepotong roti, dan segelas susu.
" Terima kasih, Bastian."
" Sepertinya dikamus kata-katamu hanya ada dua kata terima dan kasih ya." Bastian tersenyum lagi. Akupun ikut tersenyum. Begitu baiknya lelaki ini.
" Pagi ini aku ada rapat yang tidak bisa ditinggal. Nanti siang, aku akan kembali." Bastian memberikan sebuah ponsel padaku. " Kalau kamu butuh aku, segera tekan angka satu, itu otomatis langsung menghubungiku."
" Ter...." Aku menggigit bibirku, jangan sampai aku mengucapkan kata terima kasih padanya.
" Kalau mau pesan makanan, telpon saja ke restoran yang ada di bawah, biarkan mereka yang mengantarkan ke kamar ini." Wejangan-wejangan diberikan Bastian padaku. Aku tersenyum melihatnya. Bastian benar - benar mirip dengan Karel.
" Baiklah, aku berangkat dulu."
Aku menarik tangan Bastian, "Bastian...."
Dia menengok ke arahku, "Ya?"
" Kenapa kau begitu baik padaku? Padahal kita baru saja bertemu."
Bastian seperti sedang berpikir, "Aku juga tidak mengerti, tapi aku merasa ini bukan pertemuan pertama kita, aku merasa kita sudah lama berjumpa."
❣❣❣
Hai, semua terima kasih kalian telah setia membaca karyaku ini. Mohon izin untuk.disebarkan, like, vote, masuk group chatku dan berikan komentar. Tanpa kalian aku hanya butiran debu. Kalian para pembaca adalah penyemangat bagiku. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih. Saksikan terus kisah Evo, Bagas, dan Karel.