MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Di Usir



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


*****


Keesokan harinya.


 


 


   “Di mana kamu?”


 


 


   Evan mengibaskan pandangan ke seluruh sudut ruangan kafe ketika ia sedang mencari kekasihnya, Charlotte. Hari ini mereka berjanji bertemu di luar.


 


 


  Waktu sudah menunjukkan jam makan siang, pantas saja kafe ramai sampai dua kali lipat dari biasanya hingga Evan sulit mencari Charlotte.


 


 


  “Evan!”


 


 


Sebuah teriakan dari Charlotte mengundang perhartian dariku. Evan segera menghampiri kekasihnya itu.


 


 


  “Maaf sayang, aku datang terlambat,” ucap Evan meminta maaf.


 


 


  Charlotte tersenyum melihat pangeran pujaan hatinya sudah datang. “Tidak apa – apa sayang. Aku juga baru datang.”


  Evan memanggil pelayan kafe. Lalu dia memesan minuman dan makanan untuk dirinya. “Apa ada yang mau kamu pesan lagi sayang?”


 


 


  Charlotte menggeleng kepala. Dia merasa sudah cukup dengan makanan yang dia pesan. Setelah memastikan jawaban dari Charlotte, Evan kembali dengan pelayan kafe.


 


 


  “Bagaimana keadaan Mas Bagas?” tanya Evan setelah selesai memesan.


 


 


  Charlotte menghela napas panjang. Dia sangat lelah memikirkan kakaknya yang tidak kunjung sadarkan diri. “Masih seperti kemarin.”


 


 


  Evan menggenggam tangan kekasihnya untuk memberikan semangat. Terlihat kantung di mata Charlotte. Evan yakin Charlotte jarang tidur karena memikirkan kakaknya.


 


 


  “Tadi malam keluarga Dea datang ke rumah,” cerita Charlotte, “Aku mendengar Mas Bagas akan dijodohkan dengan Kak Dea.”


 


 


  Evan menatap Charlotte. Mata Charlotte tampak sedih, keputusan kedua keluarga tersebut tidak bijaksana untuk saat ini.


 


 


  Tiba – tiba Charlotte mengingat cerita Bu Lina di kamar Bagas tadi malam, kemudian dia ceritakan kembali pada Evan,” Mama dan Papa bertemu dengan Mbak Evo.”


 


 


   “Apa? Lalu bagaimana keadaan Mbak Evo? Apakah dia mendapatkan masalah dari Papa dan Mamamu?”  Evan sontak kaget mendengar ucapan Charlotte. Dia sangat khawatir kalau Evo akan dijebloskan ke penjara oleh orang tua pacarnya itu.


  Charlotte menggelengkan kepala, dia mencoba mengingat kembali cerita orang tuanya yang dia curi dengar semalam. “Mbak Evo akan menjadi pemimpin di perusahaan kami.”


 


 


   “Apa? Kenapa bisa?” Lagi – lagi Evan terkejut.


 


 


   “Aku juga tidak mengerti, Van. Hanya sepintas saja aku mendengar cerita tersebut,” jelas Charlotte.


 


 


  “Permisi,” ucap pelayan membawa pesanan. Pelayan itu menaruh pesanan Evan ke meja mereka.


 


 


  “Terima kasih,” ujar Evan pada pelayan tersebut.


 


 


  Evan kembali fokus pada Charlotte, kemudian dia berkata, “Apa rencana kamu sekarang?”


 


 


  “Kita harus bertemu dengan Mbak Evo, Van. Kita harus mempertemukan mereka berdua lagi. Aku merasa pertemuan kedua ini akan membuat Mas Bagas bertemu.”


 


 


   “Tapi apa Mbak Evo mau? Setelah Mama kamu ingin menjebloskan dia ke dalam penjara, aku ragu untuk itu.”


 


 


   Charlotte tampak berpikir keras. Perkataan Evan ada benarnya juga. Evo banyak mendapatkan masalah dari keluarganya, kemungkinan besar pasti Evo akan menolaknya.


 


 


   “Ada baiknya kita mencoba, sayang. Semoga Tuhan mau membuka hati Mbak Evo untuk mau bertemu dengan Mas Bagas.”


 


 


  “Semoga.”


 


 


*****


Kantor keluarga Pratama.


 


 


  Pak Freddy baru tiba di kantor pukul 1 siang. Dia menuju ke ruangannya bersama dengan istrinya. Betapa terkejutnya dia, ada aku dan Bastian di dalam ruangannya.


 


 


  “Kenapa kalian bisa di sini?” kaget Pak Freddy.


 


 


   Bastian yang sedang asyik memeriksan beberapa dokumen perusahaan Pratama memberikan senyuman untuk kedua orang tersebut.


 


 


  “Apa sekretaris Bapak tidak memberitahu? Ruangan ini sekarang milik saya dan pacar saya,” ujar Bastian santai.


 


 


   “Ini tidak mungkin! Kamu keluar dari ruangan suami saya!” teriak Bu Lina.


 


 


   “Maaf Nyonya Pratama anda tidak berhak mengusir saya dari tempat ini. Seharusnya kalian tahu bahwa sayalah pemilik dari perusahaan anda sekarang.”


 


 


 


 


    Mendengar makian dari Ayah Bagas, aku sudah terbiasa. Dulu ketika mereka menghinaku, aku akan merasa sakit hati, tapi sekarang aku sudah kebal.


 


 


  “Maaf, Pak Freddy. Bisakah anda bicara yang sopan terhadap saya? Apa kalian lupa kalau saya sekarang adalah pacar pemilik perusahaan ini?” ucapku lantang.


 


 


  Bastian tersenyum melihat keberanian yang muncul dari diriku. Sekarang aku  mampu mengikuti permainan Bastian. Aku tidak mau ditindas seperti dulu.


 


 


   “Keluar kalian dari sini! Satpam! Satpam!” teriak Pak Freddy melalui pintu yang telah dia buka.


 


 


  Satpam datang mendengar teriakan Pak Freddy.  Satpam yang datang berjumlah dua orang. Postur tubuh mereka besar dan kekar. Orang yang melihat satpam ini pasti takut dibuatnya.


 


 


  “Usir mereka dari ruangan saya!” perintah Pak Freddy.


 


 


  Bukannya melaksanakan perintah, tapi kedua satpam itu malah diam. Ternyata mereka sudah tahu bahwa Bastianlah pemilik perusahaan untuk saat ini.


 


 


  “Kenapa kalian malah diam? HAH? Apa kalian mau dipecat oleh kami?” teriak Bu Lina.


 


 


  “Maaf Nyonya. Bukannya kami tidak mau, tapi….”


 


 


  Bastian kembali tersenyum. Dia masih menunggu ulah apa lagi yang akan dilakukan oleh kedua orang tua ini. Dia mengambil teh manis yang dibuat olehku, lalu meminumnya.


 


 


   “Tante, Om, sudahlah terima saja. Kalian bukan pemilik perusahaan ini, melainkan Bastian,” aku memperjelas.


 


 


   Mereka menatap aku dengan tatapan ingin membunuh. Bu Lina yang kehilangan kendali menghampiriku dan menamparku.


 


 


PAK!


 


 


   “Evo!” ucap Bastian terkejut. Dia tidak menyangka kalau wanita tua ini masih berani menyakiti Evo. “Apa kamu baik – baik saja?”


 


 


   Aku menganggukan kepala.


 


 


   “Jangan sombong kamu!” ucap Bu Lina.


 


 


   “Pergi!” usir Bastian.


 


 


   “Kalian yang harus pergi! Ini adalah perusahaan saya!” pekik Pak Freddy.


 


 


   “Tadinya saya pikir saya harus menghormati kalian karena kalian lebih tua dari pada saya, tapi sepertinya itu suatu kesalahan,” kata Bastian.


 


 


   “Bas, jangan. Kendalikan dirimu,” pinta diriku.


 


 


   “Satpam, usir mereka dari sini!” perintah Bastian.


 


 


   “Baik, Pak!” ujar mereka.


 


 


   Kedua satpam itu menarik Pak Freddy dan Bu Lina keluar dari ruangan tersebut. Bu Lina meronta- ronta tidak ingin pergi dari sini.


 


 


   “Saya akan mengingat ini semua! Saya akan membalas kalian berdua!!” sumpah Pak Freddy. Bastian menutup pintu ruangannya. Dia sangat marah melihat kelakuan mereka terhadap diriku.


 


 


   “Apa kamu tidak keterlaluan dengan mereka? Mereka sudah tua, Bas.”


 


 


   Bastian menghela napas, dia berkata,”Untuk apa kamu memikirkan mereka? Apa selama ini mereka pernah berpikir bahwa perlakuan mereka terhadap kamu lebih keterlaluan?”


 


 


   Aku tidak menanggapi ucapan Bastian. Kata – kata Bastian benar. Keluarga Bagas tidak pernah sekalipun memperlakukan dia dengan baik. Hanya Bagas dan Charlotte yang baik padanya.


 


 


  Bastian mengelup kepalaku, dan berkata,”Kamu tenang saja, aku tidak akan sekejam itu pada calon mertuamu.”


 


 


  “Ih, Bastian! Apa sih kamu?” kataku sambil tersipu malu. Sebenarnya perasaan sayang aku pada Bagas tidak luntur sama sekali, tetapi semua orang tidak merestui hubungan kami.


 


 


  “Bukannya kamu cinta mati ya sama Bagas? Berarti benar donk perkataanku kalau mereka berdua adalah calon mertua kamu,” goda Bastian.


 


 


   “Bu… bukan… itu…”


 


 


   “Atau jangan – jangan kamu berubah pikiran karena jatuh cinta sama aku ya?” ledek Bastian.


    Ucapannya itu membuat sengatan yang hebat di jantungku. Kenapa perkataan Bastian membuat jantungku bergetar sesaat tadi?