
Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
*****
Keesokan harinya.
Bastian dan aku sudah tiba di kantor pukul 8. Sebenarnya Bastian tidak mengizinkan aku untuk pergi bekerja, tapi aku memaksa. Aku jenuh di rumah.
“Aku tidak mau kamu melakukan apapun di sini. Oke?” pinta Bastian.
Aku mengangguk setuju. Biasanya aku akan membantu Bastian untuk memeriksa sedikit dokumen perusahaan Bagas, tapi karena aku baru sembuh dari sakit traumaku, dia tidak mengizinkannya.
“Lalu apa yang harus aku lakukan? Masa aku hanya memandangimu di sini?” tanyaku sambil cemberut.
Bastian melirikku, dia berpikir sejenak. Dia mulai menggodaku lagi, “Bukankah kamu menyukai wajahku? Mumpung saat ini gratis untuk memandangiku.”
“Kamu terlalu percaya diri. Siapa bilang aku suka memandangi wajah kamu?” kesalku.
Ceklek.
Ruangan Bastian terbuka. Dea, Bagas, Bu Linda dan Pak Freddy masuk ke ruangan tersebut tanpa mengetuk terlebih dahulu.
Bagas? Ya Tuhan, itu Bagas! Syukurlah dia sudah sehat. Aku memandang Bagas dengan mata berkaca- kaca. Sebelumnya diriku melihat Bagas ditempat tidur, sekarang dia sudah berada di depanku.
“Lebih baik kalian berdua segera pergi dari tempat ini!” perintah Bu Lina dengan nada tinggi.
“Nyonya Pratama bukankah sudah saya bilang kalau pemilik perusahaan saat ini adalah saya. Anda adalah pemilik yang kedua, silahkan anda keluar dari sini dan mencari ruangan yang lain,” ucap Bastian dengan sopan.
“Saya tidak mau! Ini adalah tempat anak saya Bagas, kamu yang harus keluar dari tempat ini!” ujar Bu Lina masih dalam pendiriannya.
“Kalian itu pencuri! Seharusnya Bagaslah yang ada di tempat ini bukan kalian!” bela Dea. Bagas yang ikut dengan mereka hanya diam saja.
“Evo, harusnya kamu tahu diri! Mengapa kamu malah merebut perusahaan Bagas? Kenapa?” fitnah Bu Lina. “Untung saja anak saya sudah sadarkan diri dan akan merebut semuanya dari kalian.”
“Wanita mana yang bisa setega ini dengan kekasihnya? Selingkuh lalu mengambil perusahaan pacarnya,” kata Pak Freddy.
Bagas memandang diriku dengan tatapan rindu. Dia sangat rindu ingin memeluk Evo, tapi mendengar ucapan Bu Lina, Pak Freddy dan Dea membuat rindu itu berubah menjadi benci.
“Tidak kusangka kamu berbuat sekejam itu padaku,” ucapnya.
“Bagas, kamu salah, aku…,” kataku sambil meraih lengannya, tapi tanganku ditepis dengan kasar oleh Bagas hingga membuat keseimbanganku goyah. Untungnya Bastian menolongku agar tidak terjatuh.
“Jangan kasar dengan wanita!” ucap Bastian menatap Bagas dengan tajam. Bagas membalas menatap Bastian.
“Siapa kamu yang berani memerintahku?” tanya Bagas.
Bastian memegang tanganku, kemudian mencium tanganku, “Dia kekasihku. Jadi aku berhak untuk melindungi dia.”
“Lihatka, Gas? Wanita macam apa yang tega punya pacar lagi padahal kamu baru sadarkan diri. Untung saja kamu belum menikah dengan dia,” cela Dea.
“Hanya orang bodoh yang tidak dapat melihat berlian dari dalam diri Evo,” bela Bastian lagi.
Bagas mengepal tangannya, dia menahan marah. Entah mengapa bara di hatinya menyala? Antara cemburu melihat Evo bersama dengan laki – laki lain atau ucapan kedua orangtuanya. Bagas cuma tahu dia kesal dan ingin memukul orang.
“Kalau ingin menghina Evo, lebih baik kalian pergi dari sini. Tapi bila ingin membicarakan perusahaan, silahkan bicara dengan pengacara kami,” tanya Bastian.
“Orang tuaku masih memiliki saham sebesar 40% di sini. Jadi aku masih berhak untuk mengetahui perusahaan ini,” ucap Bagas.
“Silahkan, Pak Bagas. Saya senang kalau kamu mau bergabung di sini. Banyak laporan yang harus kamu sendiri yang mempelajari. Kamu boleh cari ruangan yang kamu suka untuk kamu tempati,” kata Bastian dengan santai.
“Saya tidak setuju! Tempat ini harusnya punya Bagas bukan kamu!” ucap Pak Freddy tidak terima dengan keputusan Bastian.
“Keputusan ada di tangan kamu, Pak Bagas.”
“Kamu!” marah Pak Freddy. Dia kesal dengan kesombongan yang diperlihatkan Bastian pada keluarga Pratama.
“Tapi Bagas, seharusnya kamu….”
Bagas memotong ucapan Dea,”Cukup, Dea! Seharusnya kita berterima kasih pada Pak Bastian karena memberi kesempatan pada kita untuk bergabung, Dea.”
Dea memanyunkan mulutnya. Dea tidak senang karena tidak bisa memprovokatori lelaki itu.
“Ayo, Pa, Ma. Kita cari ruangan untuk kita,” ajak Bagas.
“Bagas, tunggu…,” ucapku menahan kepergian Bagas.
“Maaf Bu Evo, sebaiknya mulai sekarang kita jaga jarak, aku takut kalau pacar kamu akan salah paham padaku.”
Mendengar ucapan Bagas yang pedas, aku mundur satu langkah. Sekarang Bagas sungguh membenciku.
Bagas, Dea, dan kedua orang tuanya keluar dari ruangan Bastian. Aku memandangi kepergian Bagas dengan mata berkaca – kaca. Aku mengigit bibirku untuk menahan tangis. Jangan sampai aku menangis di depan Bastian.
Bastian melihat ke arah Evo. Dia tahu pasti kalau Evo sedang bersedih dengan segala ucapan Bagas dan kedua orang tuanya. Bastian mengelus kepala Evo penuh kasih sayang.
“Aku tidak apa – apa, Bas,” kataku.
“Aku tahu itu. Kamu memang wanita yang sangat kuat, Vo. Aku bangga padamu,” ucap Bastian membesarkan hatiku.
Aku menengok ke atas, dan menatap mata Bastian. Tatapan Bastian membuat perasaan sedihku sirna. Pandangan Bastian seperti seorang ayah ke anak perempuannya, begitu lembut dan ingin melindungi.
*****
Ruangan Bagas.
“Kenapa kau setuju menggunakan ruangan ini? Seharusnya kamu bertahan untuk mendapatkan ruangan tersebut,” kesal Bu Lina. Dia tidak mengira anaknya begitu lemah melawan Evo beserta Bastian.
“Tenanglah, Tante. Aku yakin Bagas mempunyai rencana yang bagus untuk merebut semuanya kembali. Betulkan, Bagas?”
Bagas tidak menanggapi. Pikirannya bukan masalah memperebutkan perusahaan tapi dia memikirkan Evo.
Tunggu dulu, sejak kapan Evo dan Bastian berpacaran? Apa mereka berdua bermain di belakangku? Bukankah Bastian adalah adik Meli? Bagas mencoba mengingat. Ternyata ingatannya tidak salah. Bastian adalah adik Meli. Dulu juga Bastian dan Evo datang ke pesta pernikahan Dina dan Rafael.
Apa jangan - jangan mereka berpacaran sejak dipernikahan Dina dan Rafael? Sial, aku benar - benar ditipu oleh mereka.
“Bagas! Benarkan Bagas?” Dea mengulang pertanyaannya.
“Eh, apa?” tanya Bagas yang bingung. Dia tidak fokus dengan pembicaraan mereka.
“Aku bilang pada Tante kalau kamu pasti punya rencana untuk merebut hak kamu kan, Gas?” kata Dea lagi.
“Papa dan Mama tidak perlu khawatir. Perusahaan ini pasti akan kembali ke tangan kita. Kita akan membeli kembali saham – saham yang mereka dapatkan.”
“Inilah anak laki – laki saya. Papa sangat bangga pada kamu, Gas,” puji Pak Freddy yang melihat kesungguhan dari mata Bagas.
“Mama tidak rela kalau perusahaan kita jatuh ke tangan Evo. Dia telah menghancurkan hati Mama karena dia mengkhianati kamu, Gas,” kata Bu Lina. Air mata Bu Lina menetes di pipinya.
Bagas menghampiri Bu Lina, lalu menghapus air mata mamanya. “Mama tidak usah menangis lagi, Bagas berjanji akan membahagiakan Mama dan Papa.”
Bu Lina terkesima dengan ucapan anaknya, lalu dia mengambil kesempatan berbicara pada Bagas agar mau menerima Dea untuk menjadi istrinya.
“Berarti kamu setuju untuk menikah dengan Dea?” tanya Bu Lina penuh harapan.
“Apapun itu, Ma. Bagas akan setuju. Bagas ingin melihat Papa dan Mama Bahagia,” ucap Bagas. Lelaki itu sudah tidak punya harapan apapun tentang hidupnya. Kebahagiannya sudah terhempas karena pengkhianatan kekasihnya, Evo. Satu – satunya yang bisa dia lakukan adalah membuat keluarganya bahagia, walau itu akan melukai hatinya.
*****
Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya.
❤❤❤