
Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
*****
Rumah kontrakan.
“Terima kasih sekali lagi untuk bantuan kalian berdua,” kataku lagi setelah Evan mengantar aku ke rumah.
“Sama – sama, Mbak Evo. Aku senang telah membantu.”
“Apa aku boleh minta nomor telepon kamu?” tanyaku.
“Oh, tentu saja, Mbak. Nomor aku ….”
“Aku butuh nomor kamu untuk menanyakan kabar Bagas. Aku harap kamu tidak keberatan kalau aku nanti akan menghubungimu lagi,” jelasku.
Evan mengangguk mengerti. Kemudian dia izin untuk pulang, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.
“Hati – hati,” ujarku.
Evanpun melajukan mobilnya untuk pulang. Aku menatap ke atas, memandang ke langit. Awan menutup bintang. Aku tidak dapat melihat bintang malam ini.
Aku menarik napas, dan menghempaskannya. Aku masuk ke rumah. Semoga besok menjadi hari yang lebih baik lagi.
*****
Keesokan paginya di rumah keluarga Pratama.
Charlotte menuju ke kamar Bagas. Dia ingin melihat kondisi Bagas saat ini. Tadi malam Bagas belum juga sadarkan diri.
Ceklek.
Charlotte membuka pintu kamar kakaknya. Bagas masih seperti kemarin. Ternyata pertemuan Evo dan Bagas tadi malam tidak berhasil membuat Bagas terbangun.
“Bagaimana keadaan Mas kamu?” tanya Bu Lina yang baru masuk ke kamar.
“Mas Bagas belum bangun juga, Ma. Apa sebaiknya kita bawa saja ke rumah sakit?” Charlotte memberikan pendapatnya.
“Tidak usah. Kita akan menyewa saja dokter untuk memantau kesehatan Bagas.”
“Tapi, Ma….”
“Sudah kamu jangan membantah!”
Charlotte diam tidak membantah mamanya.
“Ini semua karena wanita terkutuk itu! Dia akan membayar mahal untuk ini semua,” sumpah Bu Lina.
“Kenapa Mama selalu menyalahkan Mbak Evo? Dia tidak salah. Ini semua salah Mama dan Papa. Kalian yang membuat Mas Bagas seperti ini!” marah Charlotte. Dia sudah jenuh mendengar Bu Lina mengeluh bahwa keadaan Bagas adalah kesalahan Evo. Mereka tidak sadar kalau kejadian ini adalah buah dari perbuatan mereka yang memisahkan sepasang kekasih.
“Salah Mama? Apa otak kamu itu sudah tidak waras? Hah?” Bu Lina terpancing emosi. Dia terkejut untuk kedua kalinya Charlotte berani memarahinya.
“Seandainya Mama dan Papa tidak memisahkan Mas Bagas dan Mbak Evo pasti Mas Bagas tidak akan berbaring seperti ini!”
PAK!
Bu Lina menampar Charlotte.
“Apa kata kamu barusan? Mama yang menyebabkan Bagas begini? Evo yang telah berselingkuh. Dia mencampakkan kakak kamu! Kenapa kamu menyalahkan saya?”
Charlotte memegang pipinya. Rasa sakit di pipi tidak sebanding dengan rasa sakit yang ada di hatinya. Dia tahu kalau Bu Lina telah berbohong, tapi apa daya Charlotte tidak memiliki bukti yang cukup untuk membongkar semuanya.
“Saya heran kenapa semua orang membela wanita itu? Apa hebatnya dia sampai kedua anak saya mendukung dia dan melawan saya?”
“Karena Mbak Evo benar dan Mama salah. Mama memang tidak pantas untuk di bela,” ucap Charlotte lalu pergi meninggalkan Bu Lina.
“Charlotte! Charlotte!” panggil Bu Lina dengan perasaan kesal.
Charlotte membanting pintu kamar Bagas. Dia sangat kecewa dengan mamanya.
“Ini tidak bisa dibiarkan!”
Bu Lina mengambil telepon genggamnya, kemudian menghubungi seseorang, “Hancurkan sekarang! Saya sudah muak dengan wanita bernama Evolet!”
*****
Rumah kontrakan.
Aku membuka mataku. Ternyata semua ini bukanlah mimpi buruk. Bagas tidak lagi di samping aku.
Bagaimana keadaan Bagas sekarang? Apakah dia sudah sadar?
Tok, tok, tok.
Pintu rumahku di ketok. Siapa geranga yang datang ke rumah aku? Aku melangkah menuju ke pintu rumahku.
Ceklek.
Aku membuka pintu rumahku.
“Maaf, anda siapa?” tanyaku.
“Pagi, Bu. Maaf apakah anda yang menyewa rumah ini?” katanya.
“Iya betul. Ada apa? “
“Saya anak dari pemilik rumah ini. Saya minta Ibu keluar dari rumah ini,” ucapnya.
“Apa maksud kamu? Saya menyewa rumah ini selama sepuluh tahun. Kenapa tiba – tiba saya disuruh pergi? Inikan belum sepuluh tahun,” kataku bingung.
“Betul sekali, tetapi ada orang yang sudah membeli rumah ini dengan harga mahal. Uang sewa yang belum masa berlakunya akan saya kembalikan,” jelasnya.
“Tidak. Saya tidak setuju! Kamu melanggar perjanjian!” ujarku kesal.
“Maaf, Bu tapi Ibu harus segera angkat kaki dari sini. Keluarga kami sudah menjual rumah ini. Kami berikan waktu dua jam untuk membereskan barang anda. Lalu ini cek sisa sewaan rumah,” katanya lalu memberikan cek kepadaku.
“Tunggu. Ada yang mau aku tanyakan. Siapa yang membeli rumah ini?” tanya aku heran. Kenapa begitu mendadak ada yang mau membeli rumah ini?
“Maaf saya tidak bisa memberitahu. Jadi mohon segera keluar dari rumah ini.”
Aku menghela napas panjang. Masalah demi masalah datang padaku. Kenapa berat banget menjadi seorang Evo?
Aku segera merapikan barang – barangku. Aku sudah tidak bisa tinggal di sini lagi. Di mana aku bisa mendapatkan tempat tinggal? Teman dekatku masih marah padaku. Mereka membenciku karena kejadian dua hari yang lalu.
Semenjak Papa dan Mama meninggal tidak ada seorang keluargapun yang menghubungiku. Kejam sekali dunia ini padaku.
Satu jam aku mengepak barang. Hanya beberapa barang berharga yang aku bawa untuk pindah. Aku membuka pintu. Pemilik rumah masih menungguku untuk memberikan kuncinya.
“Apa hanya itu yang akan Ibu bawa?” tanya pemilik rumah.
“Bagaimana menurut kamu? Apakah dengan waktu dua jam aku bisa membawa semua barangku?” tanyaku kesal lalu memberikan kunci rumah tersebut.
“Terima kasih atas kerja samanya, Bu. Maafkan saya,” ucapnya.
Selamat tinggal rumah kenangan. Aku akan selalu mengingat masa – masa bersama denganmu dan Bagas.
Masalah selanjutnya adalah mencari tempat untuk aku tinggal.
*****
Salah satu kafe di Jakarta.
“Aku sangat kesal dengan Mama! Kesal!” teriak Charlotte.
Setelah keluar dari kamar Bagas, Charlotte menghubungi Evan agar menjemput dirinya. Dia tidak menyangka Bu Lina akan menamparnya.
“Sabar sayang. Mana yang sakit? Sini aku sembuhkan,” ucap Evan kemudian mencium pipi Charlotte.
“Ya, ampun, Evan! Ini tempat umum.”
“Makanya, berhenti marah ya? Kalau tidak berhenti nanti aku akan cium kamu lagi. Ayo senyum,” pinta Evan.
Charlottepun tersenyum. Evan memang selalu mampu membuat dirinya kembali ceria.
"Van...," panggil Charlotte.
"Kenapa?" tanya Evan.
"Aku khawatir dengan Mas Bagas. Mama tidak mau membawa Mas Bagas ke rumah sakit."
"Sambil kita mencari jalan keluar, kamu awasi saja kondisi Mas Bagas," nasehat Evan.
"Semoga kita tidak terlambat ya, Van," kata Charlotte.
Ya, semoga Bagas bisa sadar dan menyelamatkan Evo.
*****
Hai semua! Terima kasih telah membaca cerita Evo. Tetap setia ya dengan MOY. Jangan lupa Senin, 20 April 2020 – 26 April 2020 akan diberikan hadiah 50 koin untuk 2 orang pemenang yang memberikan vote terbanyak diceritaku ini.
NEWS!!
Ada cerita baruku judulnya : CINTAI AKU, MR. KANEBO!
***Silahkan dibaca\, like\, komment\, bintang 5 dan share sebanyak - banyaknya. Terima kasih.
❤❤❤***