
Hai, semua para pembaca setia, MOY! Selamat hari Idul Fitri ya. Mohon maaf lahir batin. Terima kasih telah membaca kisah Evo.
*****
Rumah Sakit.
Hari ini Dina menjalankan kemoterapinya yang pertama. Dina dan Rafael berjanji akan sama – sama berjuang untuk melawan penyakit Dina. Dina yang mulai menerima sakit yang diderita menyerahkan segalanya pada Dokter Dion.
“Akan ada efek samping pada kemoterapi ini, Dina akan merasakan sakit dalam tubuhnya, muntah – muntah dan kemudian rambut yang rontok. Saya harap kita harus memotivasi Dina untuk kuat dalam proses penyembuhannya ini,” saran Dokter Dion pada Rafael.
Rafael menerima segala saran dari Dokter Dion, tapi Rafael tidak menceritakan efek samping itu pada Dina. Dia takut Dina akan menjadi cemas, dan membuat dia depresi. Kalau Dina depresi, imun dalam tubuhnya akan berkurang sehingga dapat mengakibatkan proses penyembuhannya terhambat.
“Fa,” panggil Dina.
Dina dan Rafael sedang berduaan di ruang perawatan Dina, Rafael selalu menjaga Dina. Pekerjaan Rafael sedikit terhambat karena menjaga Dina, tapi tidak masalah bagi Rafael. Rafael mengerjakan pekerjaannya di rumah sakit. Dia sadar kalau ada hal yang mesti dia korbankan saat ini.
“Kenapa sayang?” tanya Rafael. Lelaki itu menghentikan pekerjaannya sejenak, dia menghampiri Dina, kemudian duduk di sampingnya.
“Aku rindu Mike dan Nay. Mereka sedang apa ya?”
“Bagaimana kalau kita video call mereka?” usul Rafael.
Dina tersenyum senang, dia setuju dengan usulan suaminya itu. Sudah beberapa hari Dina tidak bertemu dengan anak kembarnya itu. Mike dan Nay di jaga oleh Mama Dina dan sepupunya. Dina tidak terlampau khawatir, hanya saja Dina sangat rindu pada anaknya.
“Halo, Dina! Wah Dina! Mama rindu padamu!” kata Mama Dina yang mengangkat video call dari Dina dan Rafael.
“Halo, Ma! Dina juga rindu sama Mama. Kapan ke sini?” tanya Dina dengan mata berkaca- kaca.
“Mama ingin sekali, Nak, tapi nanti Mike dan Nay tidak ada yang merawat. Bagaimana keadaan kamu sekarang?”
“Sudah berkurang, Ma, rasa sakitnya. Hari ini kemoterapi pertama Dina. Doakan ya, Ma biar lancar,” pinta Dina.
Keluarga besar Rafael dan Dina sudah diberitahu perihal penyakit yang diderita oleh Dina. Mereka bahu membahu memberikan semangat pada Dina.
“Mama selalu mendoakan kamu sayang. Mama bangga sama Dina. Kamu anak yang hebat. Kamu harus kuat ya, Nak. Mama menunggu kamu di rumah ini,” ucap Mama Dina. Perempuan tua itu meneteskan air matanya. Dia tidak kuat melihat penderitaan anaknya menjalani takdir yang dia dapatkan.
Melihat Mamanya menangis, Dina yang sejak tadi menahan diri untuk tidak menangis, air matanya pun meluncur begitu saja.
“Jangan lupa berdoa sama Tuhan. Mama yakin kamu pasti sembuh, Nak,” nasehat Mama Dina. Dina mengangguk sambil berurai air mata. Rafael sedih melihat keadaan ini.
“Ma, Dina ingin melihat Mike dan Nay. Bolehkah, Ma?” tanya Dina.
Mama Dina mengangguk, lalu dia menghampiri tempat tidur kedua anak Dina dan Rafael. Tampak sekali kalau Mike dan Nay sedang tertidur pulas.
“Mereka baru selesai minum susu, kemudian terlelap.”
Tangis Dina semakin pecah, rasa rindunya sangat dalam untuk anak kembarnya itu.
“Mama sebentar lagi akan pulang ya, sayang. Kalian baik – baik sama Nenek dulu. Mama sayang kalian,” ucap Dina walau kedua anaknya tertidur.
Kamera handphone Mama Dina kembali ke wajahnya. Air mata Mamanya pun masih mengalir mendengar setiap ucapan dari mulut anak perempuannya itu.
“Mama menyayangimu, Nak. Lekas sembuh agar kita berjumpa lagi.”
“Ya, Mama. Dina pasti berjuang.”
Rafael pun menutup teleponnya. Dia memeluk Dina dam mencium dahi istrinya itu. Rafael harus kuat demi Dina dan kedua anaknya.
*****
Besoknya, rumah kediaman Hermawan.
Hari ini tepat hari Sabtu, Dea dan keluarga sedang bersiap – siap ke gedung pernikahan untuk memastikan hasil akhir untuk acaranya minggu depan.
Tidak terasa pernikahan Dea dan Bagas akan segera digelar minggu depan. Segala persiapan telah dilakukan oleh kedua keluarga besar itu.
“Apa kamu sudah menghubungi Bagas?” tanya pak Hermawan.
Pak Hermawan lega karena menurut cerita Dea beberapa hari ini Bagas sakit, sehingga tidak dapat menemani Dea untuk menyelesaikan beberapa hal untuk pernikahan mereka.
“Semoga sakitnya tidak saat pernikahan kamu,” cemas Bu Heni.
“Iya, Ma. Aku sudah bilang sama Bagas untuk menjaga kesehatan apalagi dengan pancaroba saat ini dapat menyebabkan tubuh menjadi lemah. Harus diasupi makanan bergizi,” ujar Dea.
Setelah selesai dengan beberapa barang, keluarga itu pergi ke gedung pernikahan.
*****
Drt, Drt.
Telepon genggam Evo berbunyi. Perempuan itu mengambilnya, lalu melihat nama di layar teleponnya. Bagas. Tanpa ragu Evo menolak menerima panggilan itu.
Hari ini hari Sabtu, Evo dan Bastian sedang menikmati hari libur di ruang tamu. Mereka sedang menonton film yang disiarkan di televisinya. Bastian yang melihat Evo menutup teleponnya, merasa curiga dengan yang menelepon Evo.
“Siapa yang menelepon kamu?” tanya Bastian penasaran.
“Orang tidak penting,” jawab Evo.
Wanita itu sudah tidak menganggap penting Bagas lagi. Evo mengubah topik pembicaraan mereka,”Mbak Meli betah sekali di Paris. Apakah ada kekasihnya di sana?”
Bastian mengangkat kedua bahunya, menandakan dia tidak tahu.
“Bagaimana kalau kita telepon dia?” usul Evo.
“Aku kok cemburu ya sama Mbak Meli,” ucap Bastian.
“Kenapa cemburu?” tanya Evo bingung.
“Kamu selalu mencari dia dan merindukan dia, tapi padaku tidak pernah,” ujar Bastian sambil cemberut.
Evo melirik ke arah Bastian, dia tersenyum. Ternyata umur yang sudah matang tidak menjamin sifat kekanakan orang tersebut memudar.
“Kenapa malah tersenyum?” tanya Bastian jengkel.
“Untuk apa aku mencari dan merindukan kamu? Kamukan selalu ada di sisiku. Berjanjilah padaku untuk tidak pergi jauh dariku,” pinta Evo sambil mengelus pipi Bastian.
Evo dan Bastian sudah semakin akrab setelah kejadian malam itu. Bastian yang mau menerima apa adanya Evo, membuat Evo menyadari cintanya pada Bastian belum luntur.
“Bagaimana kalau aku pergi?” goda Bastian.
“Aku akan mencari kamu. Aku akan mengikat kamu dan memenjarakan kamu, karena hati ini sudah tertanam nama kamu,” ucap Evo.
Bastian tersenyum, dia mengecup dahi Evo dengan penuh kasih sayang. Evo menutup matanya merasakan kasih sayang yang diberikan oleh Bastian padanya.
“Bas.”
“Ya?” kata Bastian.
“Malam itu, kenapa kamu bisa tahu aku berada di apartemen Bagas? Padahal, aku belum sempat memberitahu padamu.”
“Itu namanya radar cinta. Ke manapun kamu pergi, aku pasti menemukan kamu. Jadi jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku. Aku pasti akan menemukanmu,” gombal Bastian pada Evo.
Evo tertegun sekaligus senang mendengarnya. Dia memeluk tubuh Bastian dengan erat. Sekali lagi dia bersyukur karena Tuhan mempertemukan mereka kembali.
*****
Jalan - jalan pergi ke kota Italy, jangan lupa membeli oleh - olehnya, kalau kamu sudah membaca MOY, jangan lupa tekan likenya.
Salam sayang dari aku untuk kalian.
❤❤❤