
" Dunia sempit sekali ya, Rafa. Tidak menyangka kalau kalian pernah ada hubungan," kataku.
" Masa lalu, Vo. Kapan-kapan aku cerita padamu. Sekarang kita pulang yuk, sudah malam," ajak Rafael. Aku mengangguk setuju karena sekarang sudah larut malam.
.
.
.
.
Hari Senin pun datang.Pekerjaan semakin banyak karena sebentar lagi pembukaan perusahaan Bagas di Malaysia. Tambah lagi dengan bergabung dengan perusahaan Rafael.
" Haduh, kerjaan banyak banget ya, Vo,"gerutu Maureen.
" SEMANGAT!" ucapku memberi semangat.
" Apa Lisa tahu ya, Vo kemu kemarin dilamar Pak Bagas?" Maureen penasaran, kemudian dia mengetik beberapa kata sambil menunggu komentatku balik. Aku menggelengkan kepala. Tanda tidak tahu, juga tidak peduli.
" Siapa yang melakukan lamaran?" tanya Lisa yang baru aja datang. Sepertinya dia mendengar curi percakapan kami.
" Saya mbak yang mau dilamar sama pacar saya," n
jawab Maureen dengan tenang. Maureen sudah hafal tabiat bos barunya itu. Datang suka terlambat. Setelah ini, dia akan memberi pekerjaan yang banyak sama Evo.
" Evo, ini ada beberapa pekerjaan yang harus kamu selesaikan hari ini juga," ujar Lisa sesuai dugaan Maureen.
" Siap Bu," jawabku singkat. Hampir setiap hari beban pekerjaan diberikan padaku, tetapi karena kebaikan dua sahabatku yang membantu, pekerjaan itu selesai juga tepat waktu.
" Aku makin lama tambah kesal ya sama Lisa itu," ucap Maureen emosi.
" Sudah ngga bisa kerja, sukanya perintah-perintah. Bikin kesal sekali!" iesal Maureen lagi.
Siangpun telah datang. Aku, Maureen dan Mbak Meli bersiap untuk makan siang.
" Mbak Meli ikut kita makan siang di kantin yuk," ajak aku.
" Siang ini aku tidak bisa, mau ketemu seseorang." Jawab Mbak Meli. Mantan bosku masih jomblo, tapi sepertinya ada gosip bahwa sekarang dia sedang dideketin sama anak devisi lain. Semoga saja sampai ke pelaminan.
Aku dan Maureen pun ke kantin. Duduk di tempat biasa bersama Dina yang sudah menunggu kami.
" Lesu amat kamu." Maureen berkomentar, lalu duduk di samping Dina.
" Banyak pikiran," jawab Dina.
" Kenapa? Tumben kamu mikir, apa kamu punya otak?" canda Maureen lagi. Dina hanya diam saja. Aku yang tahu apa yang dipikirkan wanita itu.
" Sepertinya ada masalah serius." Maureen berkata lagi.
" Kemarin, Dina ketemu mantannya,"aku membuka rahasianya. Dina hanya diam mendengarkan. Dia mengaduk- aduk makanan yang ada di depan dirinya.
" Serius, Din? Kapan? Siapa orangnya? Di mana bertemu?" tanya Maureen bertubi-tubi seperti polisi. Dina mengangkat bahu, seakan malas membicarakan orang tersebut.
" Rafael, Ren," aku yang menjawab.
" APA?!" kaget Maureen tidak percaya.
" Dunia sempit banget ya," aku mengangguk setuju dengan pernyataan Maureen.
" Makan yang benar, Din. Nanti kamu sakit," aku menasehati. Dina dengan perasaan ogah-ogahan memasukan makanan. Kami yang menyaksikan Dina seperti itu menjadi sedih. Biasanya Dina selalu bersemangat dan heboh. Dia membawakan berita yang baru, membuat kami tidak pernah ketinggaln gosip seputar kantor.
" Kenapa kamu jadi begitu sedih melihat Rafael kemarin, Din? Coba ceritakan pada kami, siapa tahu kami bisa membantumu."
" Tiga tahun yang lalu...."