
Wah, senangnya sudah sampai episode ini. Terima kasih untuk kalian yang telah membaca kisah MOY sampai episode ini. Apa kalian tertarik dibikin season kedua? Di tunggu komentarnya ya.
*****
“Vo, Apa yang kamu akan lakukan kalau kamu bertemu dengan Karel?” tanya Bastian.
Mendengar pertanyaan Bastian, Evo menjadi diam. Dia berusaha memutar otaknya. Benar kata Bastian apa yang akan dilakukan Evo kalau dia bertemu dengan karel?
“Kenapa kamu tidak menjawabnya?”
Bastian menunggu jawaban dari Evo, tapi wanita itu tak kunjung bicara. Akhirnya lelaki itu memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
“Bas,” panggil Evo lagi.
“Sudah malam, Vo. Besok kita harus kembali bekerja,”ujar Bastian.
Hati Bastian sedih tidak dapat mengatakan yang sebenarnya, tapi Evo tidak menjawab pertanyaan Bastian barusan. Seandainya dia memberitahu kebenaran itu, apakah Evo akan kembali padanya?
*****
Keesokan harinya.
Evo membuka mata, tadi malam dia tidak bisa tidur. Evo masih kepikiran dengan kejadian tadi malam. Evo merasa kalau Bastian adalah Karelnya, tapi pertanyaan Bastian membuat Evo tidak berkutik. Dia tidak tahu harus bagaimana kalau bertemu dengan Karel?
Jam menunjukkan pukul 08 pagi, biasanya Bastian dan Evo sudah siap untuk berangkat ke kantor, tapi hari ini Evo bangun terlambat. Dia bangkit dari tempat tidurnya, lalu bergegas mandi.
Saat Evo menuju ke kamar mandi, pintu kamarnya diketuk. Evo segera membuka pintu tersebut. Dia masih menggunakan baju tidur ketika membuka pintu kamarnya.
“Hai, Bas,” sapa Evo sambil nyengir.
Bastian sedikit terkejut melihat penampilan Evo yang belum siap pergi ke kantor. Rambutnya berantakan, baju yang dikenakan baju tidur.
“Tumben. Apa hari ini kamu tidak ingin pergi ke kantor?”
Evo menggaruk kepala, dia tampak bingung menjelaskan kepada Bastian. Tidak mungkin dia bercerita, kalau tadi malam Evo tidak bisa tidur karena memikirkan Bastian.
“Ada apa?” tanya Bastian.
“A- aku lagi, itu, eh, maksudku, aku lagi kurang enak badan, Bas,” dusta Evo.
Bastian memegang dahi Evo, dia mengecek suhu badan Evo, tapi suhunya normal.
“Badanku, tidak panas, tapi perutku sakit, Bas,”ucapku berbohong lagi padanya.
Bastian mengerti, mungkin Evo sedang kedatangan tamu sehingga dia bangun terlambat.
“Apa kamu mau ikut kerja atau menyusul?” tanya Bastian lagi.
“Aku akan menyusul saja, Bas. Sebelum ke kantor aku mau mampir ke rumah sakit menjenguk Dina.”
“Baiklah, Vo. Aku berangkat kerja, kalau ada apa – apa hubungi aku. Misalkan kamu butuh sesuatu minta pelayan untuk menyiapkannya,” usul Bastian.
Evo menganggukkan kepala. Dia merasa kalau Bastian seperti ayah yang memberi saran kepada anak perempuannya.
Seandainya kamu Karel, apa kamu akan menerimaku yang telah rusak ini, Bas?
“Hati – hati, Bas,”ucap Evo.
Bastian pun pergi meninggalkan kamar Evo. Setelah kepergian Bastian, Evo segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setengah jam berlalu.
Evo sudah selesai mandi, kemudian tiba – tiba dia berpikir sesuatu. Seandainya Bastian adalah Karel, pasti Bastian yang mengambil kotak besi yang mereka simpen waktu itu.
Evo bergegas menggunakan pakaiannya, lalu dia menuju ke kamar Bastian. Ketika Evo ingin membuka kamar tersebut, salah satu pelayan rumah Bastian menyapa dirinya.
“Wah, Nona Evo terlambat bangun ya. Tuan Muda sudah berangkat dari tadi,” kata pelayan tersebut.
“Ah, iya! Terima kasih infonya,” ujar Evo.
Wanita itu menjadi ragu masuk ke kamar Bastian karena pelayan tersebut. Evo takut kalau pelayan tersebut mengira kalau dirinya ingin mencuri.
Setelah pelayan pergi dari Evo, Evo mencoba masuk ke kamar Bastian.
Untuk kedua kalinya Evo mengendap – endap seperti pencuri ke kamar Bastian. Waktu yang pertama juga karena dia mencari tahu apakah Bastian itu Karel atau bukan?
Evo mencari ke setiap sudut ruangan yang ada di kamar Bastian. Dia membuka lemari baju Bastian tapi kotak itu tidak kunjung dia temukan.
“Apa aku salah ya? Aku tidak mungkin salah! Pasti Bastian adalah Karel. Tanda itu mirip sekali dengan Karelnya,” ucap Evo masih sambil mencari.
Dia mencari ke kolong tempat tidur milik Bastian, tak tampak sebuah kotak tersebut. Evo tidak pantang menyerah, dia mencari dan terus mencari kotak tersebut karena kepercayaan yang ada di hatinya.
“Ini yang lemari yang terakhir, semoga kotak besi itu ada di sini,” harap Evo.
Evo membuka lemari tersebut, sayangnya kotak besi itu tidak ada di dalamnya. Raut muka Evo menjadi kecewa. Sekali lagi dia gagal menemukan Karelnya.
“Apa kamu mencari ini?” tanya seseorang.
Mendengar suara itu, Evo membalikkan badannya. Mata Evo terbelalak, mulutnya ternganga. Dia sangat terkejut karena Bastian kembali ke rumah.
“Bastian?”
Evo semakin kaget karena Bastian membawa kotak yang dia cari.
“Ke … kena … pa ko… tak tersebut ada bersamamu?” gagap Evo.
Bastian tersenyum melihat wajah Evo yang sangat terkejut. Tadinya Bastian tidak ingin memberitahu kebenaran ini pada wanita itu, tapi rasanya tidak adil kalau Evo tidak diberitahu. Evo sudah dua belas tahun menunggu bertemu dengan Bastian. Wanita itu sudah menepati janjinya menerbitkan novel untuk bertemu dengan Karel.
“Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku?” tanya Evo yang sudah bisa mengendalikan perasaannya.
Bastian memegang tangan Evo, lalu menuntun dia duduk di ranjang milik Bastian. Dia membuka kotak tersebut di depan wanita itu.
“Apa kamu ingat, dulu kita menyimpan barang kesayangan kita di kotak ini?” tanya Bastian. Dia mengeluarkan semua barang yang ada di dalam kotak tersebut.
Evo masih terkesima, dia tidak bisa berkata apa – apa. Perasaan bingung, senang, dan sedih bercampur di dalam hatinya. Bingung karena Bastian punya kotak tersebut, senang karena pada akhirnya menemukan kotak tersebut, dan sedih karena Evo tidak bisa berbicara apa – apa.
“Ini mobil – mobilan kesayanganku, lalu ini….”
Evo merebut boneka Barbie kesayangannya dari tangan Bastian. Boneka Barbie itu masih seperti dulu.
Bastian masih mengeluarkan barang miliknya dan Evo dari dalam kotak besi itu. Sebenarnya Bastian baru mengambil kotak besi tersebut beberapa minggu yang lalu, tapi baru beberapa hari yang lalu dia menyempatkan diri membersihkan bagian luar. Bastian belum sempat membongkar dalamnya.
Barang terakhir adalah surat yang di tulis oleh mereka berdua. Buru – buru Evo mengambil surat tersebut dari tangan Bastian. Evo tidak mau Bastian membaca surat yang ditulis olehnya.
“Kenapa langsung merebutnya? Apa yang kamu tulis di sana?” tanya Bastian.
“Bukan urusanmu,” ketusku.
Bastian tersenyum lagi, dia mengacak – acak rambut Evo karena gemas melihat tingkah Evo barusan.
“Hentikan, Bas! Aku bukan anak kecil lagi.”
Bastian tertawa mendengar ucapan Evo. Bagi Bastian Evo adalah seorang gadis kecil yang akan selalu dilindungi olehnya.
“Bas?”
“Ya?”
“Kenapa kamu menyembunyikan identitasmu padaku? Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu adalah Karel?”
*****
Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya. Kira - kira Evo jadinya sama siapa ya?
❤❤❤