
Hari Sabtupun tiba. Aku terbangun ketika Bagas bersiap berangkat.
"Selamat, Pagi," sapa Bagas melihat aku sudah bangun.
"Pagi." Aku membalas sapaannya. Aku melihat jam, sudah pukul 08.00 pagi. Biasa kalau weekend, Bagas tidak bangun sepagi ini.
"Maaf, aku tidak bisa mengantarkanmu hari ini. Aku ada rapat dengan pemegang saham." Semenjak ingin buka cabang baru, Bagas sering rapat dengan petinggi. Apalah aku ini yang cuma karyawan biasa.
" Ngga masalah," ujarku sambil melipat selimut. "Mau aku bikin sarapan?" tanyaku.
"Nanti di sana saja aku sarapan. Aku pergi, telepon aku kalau kamu pulang terlalu larut malam," Aku mengangguk. Bagaspun berangkat.
Setelah Bagas pergi, aku mengerjakan pekerjaan rumah. Menyapu, mengepel, dan mencuci piring. Lalu mau mencuci baju. Aku lebih suka mencuci pakaianku daripada menaruh di laundry. Apartemen ini sebenarnya punya fasilitas, tapi aku tidak ingin menggunakan. Walau merepotkan, tapi pakaian lebih bersih dibanding menaruhnya dilaundry.
Drrtt.
Pesan masuk. Aku membuka. Rafael.
1 jam lagi pertemuan kita. Jangan terlambat Vo.
Aku melihat jam. Astaga, sudah jam 1 siang. Tak terasa pekerjaan rumah menyita waktuku. Akupun bersiap untuk berangkat, dan menyempatkan diri membalas pesan Rafael.
Tibalah, aku di mall. Rafael menyambutku. "Sudah siap bertemu dengan para fansmu?"
Jujur aja aku gugup sekali. Ini untuk pertama kalinya aku mengikuti kegiatan seperti ini. Akupun tidak menyangka kalau akan diadakan acara seperti ini. "I'm really nervous, Fa."
Rafa tersenyum menampakkan sederetan giginya yang putih dan rapi. Hari ini Rafael begitu menawan. Memakai kemeja biru dengan celana hitam yang dipadukan, ganteng. Sayang sebenarnya aku menolak cinta dari Rafa. Seandainya Bagas tidak merenggut hal itu, pasti aku bahagia.
"Ayo, itu tempat duduknya. Siapkan hatimu. Kamu harus menceritakan isi novelmu. Nantipun akan ada sesi tanya jawab seputar novelmu." Rafael menjelaskan. Dia memegang tanganku.
"Jangan khawatir, aku ada di sini untuk membantumu.
"Terima kasih, Rafa."
Acarapun dimulai. MC membuka kegiatan tersebut. Setiap penulis menjelaskan isi cerita novel mereka masing-masing seperti penjelasan Rafa padaku. Nantipun ada sesi tanya jawab antara penulis dengan para pembaca.
"Nah, setelah tadi mbak Reni sang penulis horor andalan kita menceritakan kisah novelnya, giliran kita ke cerita romantis,"ucap MC setelah salah seorang penulis selesai tanya jawab dengan para pembaca.
"Kita sambut, dari sudut kiri saya, Mbak Evo! Beri tepuk tangan!!"
Para hadirin yang datang memberikan tepuk tangan begitu meriah. Aku semakin gugup. Rafael yang tetap di sebelahku memberikan semangat,"Semangat!"
"Hai, Mbak Evo, boleh dijelaskan, novel mbak berisi tentang apa?"
"Hai, juga. Selamat sore semua."
"Sore!" balas mereka.
" Judul novelku Cinta pertama. Novel ini bercerita tentang seorang wanita yang mencari cinta pertamanya. Dulu, saat mereka masih kecil, mereka berjanji akan bertemu lagi. Tapi sayangnya ditengah pencarian tersebut, wanita ini dijodohkan oleh orang tuanya."
"Wooww, menarik. Jadi wanita ini punya janji dengan teman kecilnya untuk bertemu lagi. Keren-keren." kata MC memberi pendapat.
"Betul. Wanita ini percaya bahwa suatu hari nanti cinta pertamanyalah yang akan menjadi pasangan hidup dia."
Ya, seperti aku, masih percaya suatu hari nanti, aku akan bertemu dengan Karel. Semoga buku ini sampai ke tanganmu, Rel. Kalau pun kita tidak akan menjadi pasangan karena aku sudah cacat, paling tidak, aku ingin bertemu denganmu sekali lagi.
"Sepertinya cerita ini kisah nyatadari penulisnya ya?" ledek MC. Aku tertawa dan semua ikut riuh mendengar perkataan tersebut. Sesi tanya jawabpun dimulai. Beberapa pertanyaan seputar isi novel. Ada berapa pemain, apakah happy ending, dan sebagainya. Hingga tiba acara terakhir yaitu acara tanda tangan bagi yang membeli novel pada acara hari ini. Ternyata banyak juga yang membeli novelku.
Sesi terakhirpun selesai. Satu persatu para pembaca pulang. Tinggal para penulis yang masih bertahan. Kami saling berkenalan satu sama lain. Waktu menunjukkan pukul 7 malam. Aku harus pulang sebelum Bagas sampai di rumah.
" Mau pulang?" ucap Rafael ketika melihat aku merapikan diri. Aku mengangguk menjawab pertanyaan Rafael.
"Makan dulu ya," ajak Rafael.
"Hmm, tapi aku, aku, aku masih ada urusan," Aku mencoba mencari alasan, tapi tak ada ide untuk membohongi Rafael. Aku juga lapar.
"Sebentar aja, ngga akan lama. Aku janji deh," bujuk Rafael. Akhirnya aku setuju, secara aku juga lapar.
"Ayo, pesan," Rafael memberikan menu makanan restoran ini. Kayanya aku kenal restoran ini. Ya, ampun ini kan restoran Lisa.
"Fa, bisa tidak kita pindah aja ke tempat ini?" pintaku pada dia.
"Kenapa memang? restoran ini paling terkenal di daerah ini. Makanannya pun enak-enak."
"Mahal, Fa. Aku tidak sanggup bayar." Aku mencari-cari alasan. Padahal jujur dari lubuk hatiku paling dalam, aku ngga mau ketemu sama pemilik restorannya, Lisa.
"Aku yang traktir. Sudah tidak ada masalah lagikan?" Aku diam mendengar kata pamungkas dari Rafael. Kalau aku masih ngotot, akan membuat suasana menjadi kurang baik. Kemudian kamipun memesan makanan.
" Semoga setelah acara ini, novelmu semakin laris ya, Vo."
"Aku tidak pernah memikirkan novelku terkenal atau tidak, aku hanya ingin para pembaca senang dengan karyaku. Uang bukan segalanya, Fa. Ketika para pembaca, membaca karyaku, mereka bahagia, itu harta yang paling berharga."
"Kamu memang berbeda. Tidak salah kalau aku jatuh cinta padamu." Rafael memegang tanganku. Dia menatapku penuh dengan cinta.
"Jangan mencintaiku, Fa. Aku tidak pantas untukmu," Aku melepaskan tangan dia, tetapi Rafael mengambil kembali tanganku. Dia memegangnya dengan erat.
"Sampai kapanpun, aku akan menunggumu, Vo. Aku tidak akan menyerah, karena cintaku selalu pulang untukmu," ucap Rafael lalu mencium tanganku. Aku menatap Rafael lagi. Tuhan, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?
"SEDANG APA KAU DISINI?" tanya seseorang mengagetkanku.
"BAGAS!" Aku terkejut dia ada di sini. Buru-buru aku melepaskan genggaman tangan Rafael.
"Selamat malam, Pak Bagas," sapa Rafael sopan.
" Kamu? Siapa kamu?"
" Pak Bagas, ini 'Pak' Rafael dari perusahaan penerbit KATA DIA." Aku memanggil Rafael dengan menambahkan kata Pak. Bisa gawat kalau Bagas emosi di sini.
Bagas terdiam.
"Senang rasanya bisa berjumpa dengan Pak Bagas di sini," ujar Rafael masih ramah.
"Tapi saya tidak. Ayo, pulang," ajak Bagas menarik tanganku.
"Eh, tapi aku, aku".
Rafael kemudian menarik tanganku yang satunya. "Maaf, Pak, kami sedang makan. Mohon bapak tidak memaksa Evo untuk ikut dengan Bapak."
Bagas mulai marah. Dia menggertakkan giginya. "Tidak ada urusannya denganmu. Dia anak buah saya. Jadi mau saya apakan dia, anda tidak usah ikut campur!?! Mengerti? Lepaskan tangan Evo. Dia harus pulang sekarang."
Rafael tidak terbawa emosi. Kenapa dengan Bagas? Kenapa dia begitu emosi melihat aku dengan Evo?
" Ada apa ini ribut-ribut?" Datang Pak Freddy dan Lisa. Mereka memandangi kami bertiga. Kedua lelaki itu masih erat memegang tanganku. Bagas menarik tanganku semakin keras. Membuat tanganku sakit.
"Pak Bagas, tolong lepaskan tanganku," pintaku. Bagas tidak menghiraukan pintaku. Aku menatap Rafael. Rafael mengerti, lalu melepaskan tanganku.
"Kenapa begitu berisik?" tanya Pak Freddy lagi.
" Haduh, Vo, kamu itu ya benar-benar. Bisanya cuma bikin keributan. Bikin malu aja. Untung aja rapat sudah selesai. Dasar cewek kampung," Lisa berkomentar pedas. Aku hanya menelan ludah mendengar kata-kata wanita itu.
"Pulang!" perintah Bagas, lalu menarikku dengan kasar. Rafael yang tak tega melihatku diperlakukan seperti itu ingin mencegah, tetapi aku memberikan kode untuk dia tidak ikut campur.
"Bagas, acara kita belum selesai!" Pak Freddy teriak.
"Kembali ke sini!" Bagas tidak berhenti, dia tetap pergi.
"Om, wanita itu menyebalkan!"
"Kamu yang menyebalkan," Rafael yang kesal dengan Lisa karena memaki Evo, membalas Lisa. Rafael pun pergi.
"HEI? APA MAKSUDMU?"
"Sudah, sudah. Biarkan dia pergi. Kita harus menyingkirkan wanita itu," Pak Freddy makin tidak suka dengan Evo.