MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Masa Lalu



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


*****


   Sekolah Dasar Harapan Mulia.


   Bastian keluar dari dalam mobilnya, dia menyebutkan nama sekolah tersebut, “Sekolah Dasar harapan Mulia.”


   Sudah 15 tahun lebih Bastian tidak datang ke sekolah ini. Dia menuju ke lobby sekolah. Dia pandangi setiap area sekolah. Sudah banyak perubahan yang terjadi di sekolah ini.


  Sekolah masih tampak ramai dengan anak – anak dan para orang tua. Bastian melirik jam tangannya. Sudah pukul setengah 1. Sepertinya jam mereka pulang sekolah.


   Bastian menuju lantai atas tepatnya lantai 3. Dia rindu dengan kelasnya yaitu kelas 6C. Setelah menaiki beberapa tangga akhirnya tiba juga lelaki itu di kelasnya. Tampak seorang guru masih ada di dalam kelas tersebut.


  Tok, tok, tok.


  Bastian mengetuk pintu kelasnya. Dia merasa tidak asing dengan guru yang ada di dalam kelas tersebut. Sang guru yang sedang ada di dalam keluar dan melihat siapa gerangan yang mengetuk pintu kelasnya.


  “Selamat siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” tanya guru tersebut. Bastian tersenyum diberikan sapaan yang begitu ramah. Dia tidak ragu sama sekali bahwa guru yang ada di depannya adalah guru yang dulu mengajar dirinya. Sosok laki – laki yang raut mukanya tidak begitu banyak perubahan. Hanya kerutan- kerutan diwajahnya bertambah karena beliau sudah tua.


   “Pak Petrus?” tanya Bastian.


   Lelaki yang bernama Pak Petrus itu mengangguk, dia membenarkan bahwa dirinya adalah Petrus.


  Bastian memegang erat tangan Pak Petrus kemudian dia mencium tangan mantan gurunya itu penuh dengan hormat. Pak Petrus yang diperlakukan seperti itu pada Bastian sangat bingung.


  “Maaf, bapak siapa ya?” tanya Pak Petrus sopan. Pak Petrus takut kalau Bastian merupakan salah satu orang tua didiknya.


  “Saya Bastian, Pak! Anak murid Bapak dulu,” jelas Bastian.


  Pak Petrus mencoba mengingat semua muridnya yang pernah dia ajar, tapi diingatannya tidak ada nama Bastian.


  Bastian yang bisa membaca pikiran Pak Petrus, kemudian memberikan informasi lagi padanya. “Saya anak murid yang Bapak ajar 15 tahun yang lalu. Nama saya Bastian Karel, Pak. Dulu Bapak manggil saya Karel.”


  Pak Petrus menepuk jidatnya. Akhirnya dia mengingat nama tersebut. Ya, benar Karel adalah salah satu anak muridnya yang pandai waktu itu.


  “Wah, wah! Tidak Bapak sangka kamu akan ke sini. Ayo masuk ruangan kelas dulu. Biar kita mengobrol,” tawar Pak Petrus.


  Bastian menerima tawaran dari Pak Petrus. Dia masuk ke dalam ruangan kelas 6 C. Di kelas ini banyak perubahan yang terjadi, kecuali jumlah murid yang sama seperti 15 tahun yang lalu.


  “Dari dulu sampai sekarang ketampanan kamu tidak berubah ya,” puji Pak Petrus, “ayo silahkan duduk.”


  Mendengar pujian Pak Petrus, Bastian tersenyum. Merekapun segera duduk. Pak Petrus duduk di kursi guru, Bastian tepat duduk di depan beliau.


  “Untung saja kamu menyebutkan nama lengkap kamu. Bapak akan berpikir kalau kamu adalah orang tua murid yang ingin bertemu dengan saya,” jujur beliau.


  “Bagaima kabar, Bapak?” tanya Bastian dengan hormat. Dia tidak menyangka akan menampakkan dirinya lagi di sekolah ini.


  “Bapak baik, Karel. Hanya saja sudah semakin tua.”


  Bastian setuju dengan ucapan Pak Petrus. Raut muka Pak Petrus sekarang banyak keriput, dan rambutnya mulai memutih. Terlihat sekali umurnya tidak muda lagi.


  “Bagaimana dengan kamu? Sepertinya kamu sudah sukses sekarang,” ucap Pak Petrus melihat penampilan Bagas yang begitu elegan seperti seorang boss.


  “Pak Petrus bisa saja. Saya hanya karyawan biasa Pak.”


  “Wah, wah, karyawan biasa yang sukses ya. Bapak senang kamu datang ke sini,” ungkap mantan gurunya tersebut, “sudah berapa banyak anak kamu?”


  Bastian tersenyum mendengar pertanyaan dari Pak Petrus. Dengan tersipu dia menjawab,”saya belum menikah, Pak.”


   “Wah, wah kamu mengejutkan Bapak! Seumuran kamu dulu Bapak sudah menikah loh! Ayo jangan milih- milih pasangan!” saran Pak Petrus.


   “Belum ada yang mau sama saya, Pak,” kata Bastian bercanda.


   “Bisa saja kamu merendahkan diri. Sudah tampan, kaya, sopan. Mana ada wanita yang tidak mau sama kamu.”


   “Ada apa? Apa ada yang bisa saya bantu?”


  Bastian menggelengkan kepala, dan berkata, “saya hanya rindu tempat ini aja, Pak. Tidak lebih.”


  Pak Petrus teringat satu hal, lalu dia menggoda mantan muridnya tersebut, “Apa jangan – jangan kamu juga datang ke sini karena mau mencari seseorang juga?”


  “Siapa maksud Bapak?” tanya Bastian bingung.


  “Itu teman kamu yang selalu menempel sama kamu dulu. Wah, ternyata kamu lupa. Padahal dia ingat kamu terus.”


  “Siapa namanya Pak? Siapa tahu saya bisa mengingat nama orang yang Bapak maksud,” desak Bastian. Laki – laki itu tidak menyangka akan ada yang mencarinya terus menerus.


  “Namaya Evo. Evolet Rebecca.”


  Dheg! Jantung Bastian berdetak kencang. Dia terkejut mendengar nama Evo di sebut dari mulut mantan gurunya itu.


  “Evo?” tanya Bastian memastikan pendengarannya.


  “Ya, Evo. Dulu hampir setiap hari dia bertanya tentang keberadaan kamu,” terang Pak Petrus.


  “Lalu apakah sampai sekarang dia masih mencari saya?”


  “Beberapa bulan terakhir ini dia tidak muncul ke sekolah. Bapak juga bingung dia di mana sekarang?”


  Untuk kesekian kalinya Bagas terkejut mendengar cerita dari Pak Petrus. Ternyata Evo selalu menunggu dan mencarinya di sekolah ini.


  “Apa kamu sudah pernah bertemu dengannya?” tanya Pak Petrus.


  “Belum, Pak. Sejak 15 tahun yang lalu saya tidak pernah bertemu lagi dengan dia,” dusta Bastian.


  Entah kenapa hati Bastian begitu nyaman mendengar cerita dari Pak Petrus. Bastian sudah tak mampu mendeskripsikan isi hatinya ini, yang dia tahu dia sangat bahagia.


  “Sayang sekali ya kamu tidak bertemu dengan Evo. Dia tumbuh dewasa dan sangat cantik. Kalai dia tahu kau datang ke sini pasti dia akan senang. Sayang Bapak lupa meminta nomornya waktu itu.”


  Bastian tidak mampu berkata apa – apa lagi karena bahagia. Evo sudah menepati janjinya untuk menerbitkan novel. Evo juga menunggu Bastian, tapi sayangnya Evo telah mencintai lelaki lain. Bastian datang terlambat.


  “Boleh Bapak minta nomor telepon kamu? Siapa tahu Evo datang mengunjungi Bapak,” pinta Pak Petrus.


  Pak Petrus mengambil telepon genggamnya, kemudian memberikan ponsel tersebut pada Bastian. Bastian menerimanya dan mengetik nomor telepon dan menyimpannya pada ponsel Pak Petrus.


Drt, Drt.


  Telepon genggam Bastian berbunyi. “Maaf, Pak saya menerima telepon dulu.” Pak Petrus mengangguk tanda mengizinkan Bastian.


  “Halo,” sapa Bastian.


  “Bas…, Bas…,” kata Mbak meli dengan suara cemas. Bastian merasakan firasat buruk.


  “Kenapa, Mbak? Kenapa nadamu seperti cemas begitu?” tanya Bastian.


  “Evo, Bas! Dia dibawa kabur oleh Indra.”


  “Apa?”


*****


NEWS!!


Ada cerita baruku judulnya : CINTAI AKU, MR. KANEBO!


Silahkan dibaca, like, komment, bintang 5 dan share sebanyak - banyaknya. Terima kasih.


❤❤❤