
Episode ini mungkin akan membuat kalian sedikit BAPER ya. Jadi siapin hati kalian untuk membaca kisah Evo kali ini. Jangan lupa ya koment sebanyak – banyaknya. Aku sangat senang dengan komen kalian.
*****
Bastian menghentikan mobilnya di sebuah restoran jepang. Bastian memarkirkan mobilnya di depan restoran tersebut. Bastianlah yang memilih restoran ini, dia pesankan restoran tersebut beberapa hari yang lalu.
“Wah, bagus sekali restoran ini,” kata Evo takjub melihat kemewahan dari depan restoran tersebut.
Bastian tahu betul kalau Evo sangat menyukai berbagai hal tentang negara jepang, jadi Bastian memutuskan untuk melamar Evo di sini.
Bastian mengambil penutup mata yang dia siapkan dari rumahnya. Dia tutup mata Evo dengan segera.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Evo.
“Apa yang aku lakukan, kamu akan mengetahuinya nanti.”
Bastian dengan lembut mengeluarkan Evo dari dalam mobil. Dia menuntun Evo ke dalam restoran tersebut.
“Kenapa mataku harus kamu tutup, Bas?” tanya Evo lagi. Pikiran Evo melayang ke mana – mana. Dia heran dengan kelakuan Bastian padanya. Padahal menurut pengakuan Bastian, mereka hanya makan malam saja hari ini.
Debaran jantung Evo terdengar jelas sekali. Dia merasa Bastian akan melakukan hal yang begitu romantis padanya. Untung saja Evo memakai pakaian terbaik untuk acara malam ini.
“Bas, kamu membuat aku gugup,” ucap Evo jujur.
Bastian tidak menjawab, Bastian menuntun Evo duduk di kursi. Kemudian dengan perlahan Bastian membuka penutup mata Evo.
“Bukalah, matamu, Vo,” perintah
Perlahan, Evo membuka matanya. Evo kaget melihat tulisan yang ada di dinding restoran tersebut.
Aishiteru, Evo – Chan (Aku mencintaimu, Evo)
Evo menutup mulutnya. Mata Evo berbinar – binar, dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
“Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin kamu….” Evo sudah tidak bisa berkata apa – apa lagi. Dia merasa beruntung berada di tempat ini sekarang, sangat beruntung apalagi bersama Bastian.
“Tunggu di sini,” pinta Bastian sambil tersenyum. Bastian bersumpah dalam hatinya akan membuat Evo hari ini menjadi wanita yang paling bahagia di muka bumi ini.
“Bas? Kamu mau ke mana?”
Bastian mengambil sebuah gitar, lalu duduk di depan. Sudah beberapa hari dia menciptakan lagu untuk melamar Evo.
“Lagu ini aku persembahkan untuk kamu yang selama dua belas tahun menantiku. Dua belas tahun menungguku, dan dua belas tahun tetap memelihara cinta kita. Ini untukmu, Evolet Rebecca, My Only You.”
Cinta pertama takkan pernah kulupakan
Kenangan yang terindah, di dalam hidupku
Akhirnya kita, dipertemukan kembali.
Saat dirimu telah, tak lagi sendiri.
Namun kurasa masih seperti yang dulu.
Saat pertama kali, kita berdua bertemu.
Jika Tuhan memberi sebuah rencana,
Atas pertemuan kita saat ini.
Aku berjanji, aku berjanji, akan menyatakan rasa
Yang sempat tertunda.
Jika Tuhan memberi rasa yang sama,
Saat dahulu diriku memilihmu,
Aku bahagia, aku bahagia karena hatiku telah…
Jika Tuhan memberi sebuah rencana,
Atas pertemuan kita saat ini,
Aku berjanji, aku berjanji akan menyatakan rasa…
Aku mencintamu, Evo.
Air mata Evo kembali keluar, kali ini bukan tangis kesedihan melainkan tangis kebahagian. Saat ini dia sangat bahagia.
“Aku sangat mencintaimu, Vo. Maaf karena telah membuatmu terlalu menunggu.”
Evo berlari ke sisi Bastian, dia mendekap erat Bastian. “Aku juga sangat mencintaimu, Bas.”
Balasan cinta yang diberikan Evo pada Bastian, membuat Bastian mendapat jawaban dari setiap rasa yang dia tanyakan dalam hatinya. Akhirnya dia sudah menemukan apa yang dia cari selama ini, dia menemukan cinta sejatinya. Cinta sejati yang dia dapatkan dari Evo, cinta pertamanya.
Bastian melepaskan pelukan mereka berdua. Dia mengambil sebuah kotak kecil dari dalam kantongnya. Dia berlutut lalu membuka kotak tersebut di hadapan Evo.
“Kekkon shite kudasai?” (Maukah kamu menikah denganku?)
Untuk kesekian kalinya Bastian membuat Evo terkejut. Bastian melamarnya dengan menggunakan bahasa Jepang. Dia terharu dan sangat bahagia. Evo tidak mampu berkata – kata lagi. Air matanya terus mengalir tanpa henti. Bastian benar – benar membuatnya mati bahagia.
“Apakah aku harus menjawab pertanyaanmu dengan menggunakan bahasa Jepang juga?” tanya Evo ketika dia sudah mampu mengendalikan dirinya.
Evo tersenyum merespon perkataan Bastian, dia merusak keromantisan yang dia berikan sebelumnya,”Bodoh.”
“Jadi?” tanya Bastian harap – harap cemas.
“Aku mau menikah dengamu, Bas. Aku mau!” teriak Evo.
Setelah mendengar jawaban dari Evo, Bastian segera memasukkan cincin ke jari manis Evo, kemudian Bastian memeluk Evo dan mencium bibirnya. Untung saja Bastian menyewa tempat khusus untuk mereka berdua, sehingga tidak ada yang melihat kemesraan yang dilakukan keduanya.
“Terima kasih, Vo, telah menerimaku. Kau membuatku menjadi pria yang paling bahagia di dunia!” ucap Bastian.
“Salah, kamu salah. Kamu yang membuat aku menjadi wanita yang paling bahagia di dunia. Terima kasih, Bas. Terima kasih.”
Akhirnya penantian Evo menunggu cinta pertamanya, terjawab sudah. Perjuangan demi perjuangan yang dia tempuh untuk bertemu dengan Bastian tidak sia – sia. Evo ingat sebuah kejadian bersama dengan Bastian dulu.
Flash Back.
“Aku janji, kalau nanti novelmu terbit aku jemput kamu di sini. Kita ke luar negeri bersama. Bagaimana?”
“Apa? Apa kamu pikir menerbitkan novel itu mudah?” sewot Evo langsung berdiri. Bel selesai istirahat sudah berbunyi.
“Kalau kamu berusaha pasti bisalah! Pokoknya kita sepakat! Oke?” Karel menarik tangan Evo lalu menjabat tangannya.
“Aku belum setuju! Aku belum bilang iya, Karel!” kataku kesal.
Karel selalu begitu. Dia selalu memaksakan kehendaknya. Karel memberikan senyum menanggapi perkataan Evo. Beberapa saat Evo bingung dengan kelakuan Karel padanya. Dia memutar otaknya, apakah harapan Karel pada dia akan terkabul? Apakah dirinya akan bisa menerbitkan novel?
"Hai Evolet Rebecca, kenapa kamu bengong?" Karel berkata lagi. Karel memainkan rambut panjang milik Evo.
" Tidak, aku tidak bengong! Aku hanya sedang berpikir! Bagaimana mungkin aku bisa menerbitkan novel? Itu hal yang mustahil,” ungkap Evo. Umurnya sekarang masih kecil. Dia masih kelas 6 SD sekarang.
“Kita harus bertemu, karena beberapa tahun lagi kita...," Karel berbisik ditelinga Evo.
“Apa? Kamu bilang apa, Rel?” tanya Evo. Dia tidak bisa mendengar ucapan Karel, karena suara Karel begitu pelan.
“Karena aku akan melamar kamu jadi istriku,” ucap Karel kemudian pergi meninggalkan Evo.
Evo tercengang dengan ucapan Karel padanya. Mereka masih berumur belia, tapi Karel sudah berani melamarnya.
*****
Janji Bastian kepadanya dua belas tahun yang lalu telah ditepatinya, begitu juga janji Evo kepada Bastian. Semoga hubungan mereka terus awet hingga maut memisahkan mereka.
Terima kasih Tuhan telah memberikan aku kesempatan untuk bertemu dengan Bastian. Aku sangat bahagia.
*****
Malam harinya di rumah Bastian.
Jam menunjukkan pukul 10 malam ketika mereka berdua sampai di rumah. Evo dan Bastian sangat bahagia hari ini. Hari yang mereka tunggu – tunggu tiba juga.
“Selamat malam, Sayang. Mimpi yang indah,” ucap Bastian lalu mengecup dahi Evo.
“Kamu juga, Bas,” kata Evo.
Ketika Evo ingin masuk kepalanya terasa sakit, dan mual. Rasanya Evo ingin muntah.
“Evo? Kenapa kamu?” tanya Bastian yang masih di depan kamar Evo.
*****
Apa yang terjadi dengan Evo? Apakah dia ...... Saksikan episode selanjutnya. Di tunggu Vote, like, dan komentnya. Terima kasih.