
Di kantor.
" Bagaimana rasanya makan siang bareng keluarga Pratama?" tanya Maureen setelah aku sampai di kantor. Aku menengok kanan-kiri, melihat situasi apakah aman untuk bergosip.
" Kalau boleh memilih, Ren lebih baik aku ngga usah ikut makan sama mereka. Horor pokoknya."
jawabku.
Maureen mengangguk. Dia juga setuju dengan ucapanku," Pak Bagas sayang banget sama kamu ya, sampai dia berani ngajak kamu dan menentang Pak Freddy."
"Kamu salah, Maureen. Pak Bagas tidak mencintaiku," ungkapku jujur.
" Percaya sama aku, Pak Bagas itu cinta padamu. Hmm, sama siapa itu, Pak Rafael. Kelihatan
sekali kalau dia cinta sama kamu."
" Apa benar?" tanyaku pura-pura, padahal perkataan Maureen benar. Rafael pernah
melamarku.
" Kenapa tidak kamu pilih saja salah satu dari mereka, Vo? Jangan bilang kamu masih menantikan cinta pertamamu itu ya. Siapa itu namanya?"
" Karel, Ren. Beberapa hari yang lalu aku memimpikan dia lagi loh. Nyata banget."
Maureen memegang dahiku, kemudian dia berkata," Haduh, aku khawatir dengan kejiwaanmu."
" Apa maksudmu, Maureen?" Aku melepaskan tangan Maureen.
" Jangan kelamaan nunggu Karel ya. Ada dua pria yang sedang menunggumu. Jangan sampai karena kamu menunggu orang yang tidak pasti, kamu melepaskan satu orang yang berharga. Kenyataan itu memang pahit, tapi akan berbuah manis kalau kamu mampu melewati dengan keputusan yang bijaksana," Maureen menasehatiku.
Berulang kali Maureen terus menasehatiku. Sebenarnya, akupun ingin melepaskan kenangan itu, tapi entah kenapa mimpi itu selalu ada. Aduh, Tuhan betapa rumitnya hidupku.
Drrtt.
Bunyi pesan masuk. Aku mengambil telepon genggamku.
Rafael : Besok ada acara**meet and greetpenulis baru di Mal xxx. Kamu bisa datangkan**?
Haduh, masalah baru lagi. Bagas paling tidak suka aku pergi dengan laki-laki lain. Bagaimana ya caranya biar bisa pergi? Aku berpikir keras mencari ide apa yang harus aku katakan pada Bagas. Ya, Tuhan, semoga ada jalan keluar.
Jam menunjukkan pukul 17.00, sudah saatnya karyawan PT Pratama untuk pulang, begitu pula aku dan
Maureen. Kami bersiap-siap untuk pulang.
" Evolet! Evo!" panggil Lisa ketika aku bersiap mau pulang.
" Iya, Bu?"
" Maaf, ini aku baru dapat info. Tolong kamu edit artikel ini ya. Besok pagi harus diterbitkan,"
Lisa memberikan pekerjaan.
" Loh, Bu, inikan artikel buat minggu depan?" jawab Mbak Meli.
" Jadinya besok harus diterbitkan. Tolong ya, Evo," perintah Lisa kemudian dia pergi
meninggalkan kami.
" Aneh sekali tingkahnya. Jelas-jelas artikel itu untuk minggu depan. Aku yang tahu jadwalnya," Mbak Meli ngomel.
" Sudah, mbak, biar aku kerjain aja. Cuma beberapa artikel saja kok, pasti Cuma sebentar saya
kerjakan".
“ Tidak usah, lagi pula kamu sudah dijemput sama pacarmu kan. Kasihan nanti nunggu terlalu lama.”
Akhirnya tinggal aku sendiri di ruangan. Tumben Bagas tidak mengajak pulang bareng. Aku pun segera menyelesaikan tugas dari Bu Lisa.
“ Evolet Rebecca!” panggil seseorang.
“ Bagas? Belum pulang?”
“ Bagaimana mau pulang? Kan nyonya yang punya apartemen masih di sini,” jawab Bagas. Lalu dia mengeluarkan sesuatu dari kantong plastik hitamnya.
“ Tumben kamu tidak memberiku kabar untuk pulang bareng. Terus kamu bawa apa?” tanyaku penasaran. Bagas membuka sebuah kardus, lalu memperlihatkan makanan padaku.
“ Aku lapar, tadi siang makannya tidak enak. Aku tadi beli ini di resto depan kantor. Telepon genggamku mati, lupa di charger semalam.”
“ Terus kamu tahu dari mana aku masih di sini? Kenapa belum balik? Beli makanan apa?”
“ Banyak sekali pertanyaanmu seperti polisi, aku lapar. Jangan membuat selera makanku berantakan seperti tadi siang. Mau ikutan makan atau tidak?” Bagas menghardik galak. Aku tersenyum menanggapinya. Sudah terbiasa aku dengan tingkahnya yang ngebossy. Tidak bisa dibantah. Akhirnya aku pun ikut makan.
Bagas membeli makanan kesukaanku, nasi goreng. Tadi siang, aku tidak makan. Ada aja ulah Lisa membuatku tidak makan.
“ Makan belepotan kaya anak kecil," Bagas membersihkan makanan yang
ada di bibirku. DHEG. Kok jantungku berdetak dengan kencang ya.
" Vo...," Bagas masih memegang bibirku. Dia menatapku lama.
" Apa?"
" Boleh cium?"
"Tumben minta izin," tanyaku aneh. Biasanya Bagas langsung seenaknya menggunakan tubuhku tanpa meminta izin.
"Jadi boleh cium kamu nggak?" tanyanya lagi dengan genit. Aku cuma mengangguk. Bagaspun melakukannya.
Apartemen Bagas.
Kami tiba di apartemen pukul 10 malam. Aku merapikan diri, begitu juga Bagas. Aku harus minta izin dengan Bagas untuk pergi besok.
" Bagas," panggilku ketika dia mau masuk kamar mandi,
" Kenapa? Apa mau ikutan mandii?" tanya Bagas mesum.
" Besok bolehkah aku pergi? Aku mau bertemu dengan teman-teman SMPku. Reunian." Aku memutar otak. Haduh, aku malah berbohong.
" Jam berapa?"
" Mulainya dari jam 2."
Bagas nampak berpikir. Aku berdoa dalam hati. Semoga Bagas mau ya, Tuhan.
"Tapi aku tidak bisa mengantarmu. Bisa sendiri?"
" Bisa, bisa," Aku menjawab semangat.
" Oke, kalau pulang kemaleman, kau telpon aku saja, biar aku jemput."
Aku berlari, kemudian memeluk Bagas yang setengah telanjang. "Terima Kasih."
" Mulai nakal ya sekarang, peluk tiba-tiba seperti ini," Bagas senyum nakal. "Kalau tidak dilepas, jangan salahkan aku , kalau aku berbuat nekat."
Akupun segera melepaskan pelukannya. Entah mengapa aku merasa Bagas berubah, atau perasaanku yang berubah?