MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Mencari Kamu



Hai, hai! Bagaimana kabar kalian? Bulan ini MOY akan segera tamat. Tetap setia ya. Minta like dan votenya ya karena MOY mau tamat. Hehehehe. Selamat membaca.


*****


Tiga jam kemudian.


 


 


  Evo kembali ke SD Harapan Mulia karena jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. Dia kembali meminta izin pada satpam untuk masuk ke sekolah tersebut. Para murid SD Harapan Mulia sudah pulang ke rumah masing – masing.


 


 


  “Apa saya boleh masuk?” tanya Evo dengan sopan kepada satpam sekolah tersebut.


 


 


  Satpam tersenyum melihat kehadiran Evo untuk kedua kalinya.


“Silahkan, Bu. Kalau boleh tahu, Ibu mau bertemu dengan siapa?” tanya Satpam dengan ramah.


 


 


  Evo membalas senyuman satpam tersebut. Tadi dia lupa menyebutkan nama orang yang ingin dia jumpai di sekolah itu.


 


 


  “Astaga, saya sampai lupa! Saya mau bertemu dengan Pak Petrus, Pak,” kata Evo.


 


 


  “Pak Petrus? Apakah maksud Ibu adalah Pak Petrus guru kelas 6?” tanya Satpam itu lagi.


 


 


Wanita itu menggaruk kepalanya. Dia lupa mencari info tentang Pak Petrus sekarang. Dulu Pak Petrus memang guru kelasnya waktu Evo di kelas 6.


 


 


  “Maaf, Pak, kalau dulu Pak Petrus memang mengajar di kelas 6. Sekarang saya kurang tahu beliau mengajar di kelas berapa?” jujurku.


 


 


  “Oh, ternyata Ibu mantan muridnya Pak Petrus ya?” kata Satpam itu lagi takjub.


 


 


  Dilihar dari wajahnya, satpam ini termasuk baru di sekolah. Mukanya kelihatan masih muda. Satpam yang lama pasti mengenal Evo, karena dulu Evo sering kali ke sini untuk bertemu Pak Petrus.


 


 


  “Pak Petrus memang guru yang baik, mantan muridnya saja masih mengunjungi beliau. Saya sungguh kagum pada beliau,” curhat Satpam.


 


 


  “Ya, Pak. Bapak benar mengenai Pak Petrus. Sewaktu saya mengajar Pak Petrus sangat baik pada saya, makanya saya suka ke sini untuk mengunjungi beliau.”


 


 


  Satpam itu menghela napas panjangnya, mukanya berubah menjadi suram. Firasat Evo menjadi tidak enak.


 


 


  “Kenapa, Pak?” tanyaku penasaran.


 


 


  “Seminggu yang lalu Pak Petrus mengalami kecelakan, Mbak. Beliau sudah meninggal dunia,” ceritanya.


 


 


  “Ya, Tuhan!” kata Evo tidak percaya. Mendengar ucapan satpam tersebut seperti petir di siang bolong. Evo sangat terkejut. Perlahan air matanya mengalir di pipi. Kenangan demi kenangan bersama Pak Petrus teringat olehnya.


 


 


  “Iya, Bu. Kami juga terkejut mendengar kabarnya seminggu yang lalu. Beliau memang guru yang luar biasa.


 


 


  “Kalau boleh tahu, di mana Pak Petrus di makamkan?” tanya Evo.


 


 


  “Di kampung halamannya, Bu. Di Jawa Timur,” kata Satpam memberi info.


 


 


  Tadinya Evo ingin ziarah ke makam mantan gurunya itu. Dia tidak menyangka kalau gurunya tersebut sudah pergi selamanya. Hari ini sedihnya Evo bertambah. Pertama, karena kepergian gurunya, dan yang kedua dia tidak bisa menemukan jejak Karel lagi.


 


 


  “Terima kasih atas informasinya, Pak!” ucap Evo kemudian dia beranjak dari sekolah tersebut. Diliriknya untuk terakhir kali sekolah tercintanya. Evo merasa akan susah untuk kembali ke sekolah ini karena sudah tidak ada alasan lagi baginya untuk ke sini.


 


 


  “Evo!” panggil seseorang.


 


 


  Evo membalikkan badan. Dia melihat seorang wanita paruh baya memanggil namanya. Evo mencoba mengingat orang tersebut.


 


 


“Bu Gincer?” tanya Evo mencoba memastikan.


 


 


  “Ah, benar, kamu benar Evolet Rebecca!” kata wanita tersebut, lalu memeluk Evo dengan erat. Evo tersenyum karena masih ada yang mengingatnya di sekolah ini setelah Pak Petrus.


 


 


“Apa kabarmu, Nak? Ibu tidak menyangka kamu bisa ke sini,” ucap Bu Ginger, “Ayo ke kelas Ibu, kita mengobrol.”


 


 


  Evo mengangguk setuju. Dia berjalan bersama Bu Ginger ke ruang kelas beliau. Setelah sampai mereka mencari posisi duduk yang nyaman.


 


 


  “Bagaimana kabarmu? Sekarang kamu kelihatan beda, tambah cantik. Beda sekali waktu SD dulu,” jujur Bu Ginger.


 


 


  “Ibu bisa saja memujiku. Kabarku baik, Bu. Saya ke sini ingin bertemu Pak Petrus, Bu,” jelas Evo.


 


 


  Muka Bu Ginger berubah menjadi sedih ketika Evo menyebut rekan kerjanya, Pak Petrus.


 


 


  “Pak Petrus sudah pergi untuk selamanya seminggu yang lalu,”cerita Bu Ginger.


 


 


 


 


  “Kami pun terkejut mendengar berita itu seminggu yang lalu,” kata Bu Ginger mengingat mereka mendapatkan kabar kalau Pak Petrus kecelakan dan nyawanya tidak tertolong lagi.


 


 


  “Saya turut prihatin, Bu.”


 


 


  “Kalau ibu boleh tahu , ada hal penting apa kamu mau bertemu dengan Pak Petrus?” tanya Bu Ginger ramah.


 


 


  “Saya hanya kangen dengan beliau, Bu,” kata Evo. Dia tidak berani mengungkapkan tujuan aslinya kepada Bu Ginger.


 


 


  “Dua minggu yang lalu juga ada yang datang berkunjung menemui Pak Petrus. Mantan murid saya dulu di kelas 5.”


 


 


  “Oh, ya? Siapa namanya Bu?” tanya Evo penasaran. Semoga orang tersebut adalah orang yang sama yang ingin dia tanyakan pada Pak Petrus.


 


 


  “Kalau tidak salah namanya Karel.”


 


 


  “Si…, siapa, Bu?” Evo mencoba bertanya lagi. Takutnya Evo salah mendengar nama itu.


 


 


  “Karel, Vo. Apa kamu masih ingat dengannya?” tanya Bu Ginger.


 


 


  Tentu saja Evo mengingat Karel. Dialah cowok yang selama dua belas tahun ditunggu olehnya. Cinta pertama Evo yang selalu dinanti- nantikan. Evo merasa mendapat angin segar karena ucapan Bu Ginger. Ternyata Karel pernah datang ke sini dan bertemu dengan Pak Petrus.


 


 


“Bagaimana wajahnya sekarang, Bu? Maksud saya apakah mukanya sudah berubah? Apa Ibu bertanya alamatnya dia? Apa dia meninggalkan nomor teleponnya, Bu?” Evo memberikan banyak pertanyaan pada Bu Ginger.


 


 


  “Wah, wah! Aku tidak menyangka kamu akan begitu semangat tentang Karel, tapi maafkan Ibu mengecewakan kamu. Ibu hanya menyapanya saja waktu itu, Karel banyak bicara dengan Pak Petrus bukan Ibu,” jelas Bu Ginger.


 


 


  Permyataan Bu Ginger membuat Evo kembali kecewa. Evo mengira kalau akan bisa menemukan jejak tentang Karel dari Bu Ginger. Ternyata Pak Petrus adalah satu – satunya yang dia andalkan untuk bertemu dengan Karel. Sekarang lelaki itu telah tiada. Sudah dipastikan Evo menyerah untuk mencari Karel.


 


 


 


 


 


 


*****


Restoran


 


 


  “Jadi apa yang Bos mau tanyakan kepadaku tentang Evo?” tanya Maureen setelah dia kenyang.


 


 


  Tidak terlintas dibenaknya Bastian untuk mencuri informasi pada Maureen, tapi karena Maureen memberi celah Bastian pun mencoba mencari tahu.


 


 


  “Sejak kapan Bagas dan Evo berpacaran?” tanya Bastian.


 


 


  “Aku sudah menduga pertanyaan kamu itu!” kata Maureen. Dia meneguk minumannya, dia butuh energi untuk banyak cerita pada Bastian. Cowok itu menunggu jawaban dari Maureen.


 


 


  “Belum terlalu lama. Mungkin Bagas pacar pertama, Evo.”


 


 


  “Apa kamu yakin? Orang secantik Evo baru pertama kali pacaran?” tanya bastian tidak percaya.


 


 


Maureen menggangguk mantap. Dia sangat tahu kisah cinta Evo selama lima tahun ini. Bagaimana Evo mencari cinta pertamanya? Bagaimana dia menolak semua cowok demi cinta pertamanya itu?


 


 


  “Sangat yakin. Aku sahabatnya dia selama lima tahun. Dulu aku merasa Evo itu sangat bodoh karena tidak menerima Bagas sebagai kekasihnya, tapi aku malah menyesal menganggap dia bodoh,” ucap Maureen sedih.


 


 


  “Kenapa kamu berkata seperti itu?” Bastian semakin penasaran. Bagaimana wanita secantik Evo baru mempunyai pacar setelah sekian lama? Apa dia tidak menyukai laki – laki?


 


 


“Dulu dia mengikat hatinya, dia tidak mau membuka hati kepada siapapun. Dia menyimpan rasa senang, sedih, dan kecewa di dalam hatinya. Dia merasa tidak perlu membagi kisahnya kepada seorang pria kecuali terhadap dia.”


 


 


  “Dia? Apa maksudmu Bagas?”


 


 


  Maureen menggeleng kepala. Wanita itu sangat mengingat perjuangan Evo mencari cinta pertamanya, Karel. Dua belas tahun penantian Evo mencari karel, hingga dia menulis novel demi janji Evo kepada Karel. Setiap hari dia mengecek aplikasi media sosial untuk mencari sosok Karel, pujaan hatinya.


 


 


  “Bukan. Bukan Bagas, Bas. Sebelum bertemu dengan Bagas, Evo memendam cintanya pada seseorang.”


 


 


  “Oh, ya? Lalu siapa orang itu?”


*****


Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya. Minta tolong banget dilike ya.


 


 


❤❤❤