MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
MOY



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


 


 


 


 


*****


Kediaman Pratama.


 


 


  Charlotte berdiri menunggu dokter yang sedang memeriksa kakaknya. Sudah tiga hari Bagas tidak sadarkan diri. Masih saja Bagas mengigau menyebut nama Evo. Apa daya Charlotte tidak dapat menghubungi Evo dari kemarin pagi.


 


 


“Bagaimana keadaan Mas Bagas?” tanya Charlotte dengan raut muka sedihnya.


 


 


“Kejadian yang menimpa Bagas beberapa hari yang lalu membuat alam sadarnya berontak. Tubuhnya dalam keadaan baik, tetapi jiwa Bagas mengalami guncangan besar,” ungkap dokter.


 


 


Charlotte menatap Bagas dengan sedih untuk kesekian kalinya. Harapan satu – satunya adalah Evo, tapi Evo hilang tidak ada kabar.


 


 


“Apa yang harus saya lakukan Dok agar membuat Mas Bagas sadar?” Charlotte bertanya lagi. Mungkin saja Dokter mempunyai saran yang baik.


 


 


“Sebaiknya kalian harus mempertemukan Bagas dengan orang yang dia terus sebutkan namanya ketika tidak sadar. Apa orang itu ada hubungannya dengan kondisi Bagas seperti ini?”


 


 


“Itu mustahil, Dok,” kataku ragu.


 


 


“Mengapa mustahil?” tanya dokter dengan bingung.


 


 


“Wanita itu sudah menghilang sejak kemarin. Aku tidak dapat menghubungi dia,” jawab Charlotte.


 


 


  Tadi Charlotte merasa ada secercah harapan untuk membuat Bagas sembuh ketika ia berharap dokter mampu memberikan saran yang baik untuknya. Harapan itu musnah karena saran tersebut sama seperti dugaannya, Bagas harus dipertemukan dengan Evo. Sayangnya, Evo hilang tanpa jejak.


 


 


“Apa tidak ada cara lain, Dok?”


 


 


Dokter menggelengkan kepala. Dia menuliskan resep obat. Resep itu berisi vitamin saja. Tidak ada yang bisa mengobati Bagas. Tubuhnya sehat tapi hatinya tidak.


 


 


“Kita sama – sama berdoa saja agar Bagas segera sadarkan diri. Ini saya berikan resep untuk Bagas,” kata dokter sambil memberikan resep tersebut.


 


 


“Terima kasih Dokter,” ucap Charlotte.


 


 


Setelah selesai memeriksa, dan memberikan obat Dokter pergi meninggalkan kediaman Pratama. Charlotte kembali duduk di sebelah Bagas. Dia menyentuh wajah Bagas.


 


 


“Mama jahat sekali padamu, Mas. Dia telah membuat kamu seperti ini, tapi Mama tidak sadar kalau perbuataan dia salah. Kemarin Mama melaporkan Mbak Evo ke kantor polisi atas kasus pembunuhan.”


 


 


Charlotte menghela napas. Dia memegang tangan Bagas dengan penuh kasih.


 


 


“Untungnya Evan datang ke kantor polisi setelah Mama pergi. Mbak Evo tidak jadi di penjara. Masalah selanjutnya adalah Mbak Evo menghilang, Mas. Dia tidak bisa dihubungi oleh kami,” lanjut Charlotte bercerita.


 


 


Charlotte yang dari tadi bercerita berharap dapat respon yang baik dari Bagas.


 


 


Drt… Drt…


 


 


Bunyi telepon masuk punya Charlotte. “Halo.”


 


 


“Hai, sayang,” sapa Evan.


 


 


“Kamu lagi di mana sekarang?” tanya Charlotte.


 


 


“Aku ada di rumah. Setengah jam lagi aku akan berangkat ke rumah kamu. Bagaimana kondisi Mas Bagas?” tanya Evan.


 


 


“Baru saja dokter memeriksa Mas Bagas,” jawab Charlotte.


 


 


“Lalu apa yang dikatakan dokter?” tanya Evan lagi.


 


 


“Mas Bagas harus bertemu dengan Mbak Evo. Itu saran dokter,” ucap Charlotte lemas. Dia tahu itu mustahil.


 


 


“Kamu yang sabar ya sayang.”


 


 


“Apa kamu sudah menemukan Mbak Evo?” tanya Charlotte.


 


 


“Tidak. Aku tidak menemukan dia. Aku akan terus mencarinya.”


 


 


“Baiklah.” Seketika itu juga Charlotte semakin lemas.


 


 


*****


Rumah kediaman Indra.


 


 


“Saya tidak mau tahu, kalian harus mencari wanita tersebut atau kalian saya pecat!” bentak Indra diponselnya.


 


 


Setelah berkata seperti itu, dia melempar ponselnya. Indra marah karena dari kemarin dia tidak bisa menghubungi Evo. Ditelepon ponselnya mati. Mendatangi ke kontrakannya, orang lain yang sudah tinggal di kontrakan tersebut.


 


 


 


 


BUK!


 


 


Indra meninju tembok kamarnya. Dia luapkan kekesalannya itu. Tangan Indra memerah karena menghantam tembok tersebut.


 


 


“Aku harus menemukan kamu. Kalau aku tidak mendapatkan dirimu, orang lainpun juga tidak boleh mendapatkan kamu!” sumpah Indra.


 


 


*****


Kediaman Hermawan.


 


 


Pak Hermawan menuju ke ruang makan. Dia melihat Dea dan istrinya sedang sarapan. Pak Hermawan terlambat bangun karena kemarin mengurusi beberapa pekerjaannya.


 


 


“Pagi sayang,” sapa Pak Hermawan sambil mencium kening putri kesayangannya itu.


 


 


“Pagi, Papa,” sapa Dea balik.


Pak Hermawan menghampiri istrinya juga lalu menciumnya. Pak Hermawan menarik kursi untuk dia duduk bersama dengan keluarganya.


 


 


“Bagaimana keadaan Bagas?” Pak Hermawan membuka topik.


 


 


Bu Heni mengambil roti. Dia memberikan selai strawberry kesukaan suaminya itu. Lalu roti itu diberikan kepada suaminya untuk sarapan.


 


 


“Kemarin malam Lina mengabari kalau kondisi Bagas masih seperti waktu kita jenguk,” jawab Bu heni.


 


 


“Iya, Pa. Kasihan Bagas harus menanggung derita ini karena perbuataan wanita itu.” Dea menambahkan cerita.


 


 


Pak Hermawan menggigit roti tersebut dan mengunyahnya. Kemudian dia berkata lagi, “Siapa maksud kamu, Dea?”


 


 


“Aduh masa Papa lupa. Itu Pa, pacarnya Bagas, Evolet.”


 


 


Pak Hermawan mengangguk. Dia tidak mengerti dengan persoalan anak muda zaman sekarang. Kalau dulu ketika orang tuanya tidak setuju dengan pilihan Pak Hermawan, dia tetap nekat untuk mempersunting istrinya. Lama kelamaan orang tuanya setuju dengan keputusan Pak Hermawan.


 


 


“Rumit sekali.”


 


 


Bu Heni mengambil sebuah teko yang berisi jus lalu menuangkan ke minuman suaminya tersebut.


 


 


“Terima kasih, Mama.” Ucap Pak Hermawan.


 


 


“Seharusnya tidak rumit, Pa, kalau Evo setuju untuk pergi dari kehidupan Bagas. Bagas menikah denganku. Mudahkan?” ucap Dea simpel.


 


 


“Mama setuju dengan pendapat Dea, Pap,” kata Bu Heni.


 


 


Pak Hermawan diam tidak menjawab. Sebenarnya pak Hermawan tidak setuju dengan pendapat anak dan istrinya. Cinta tidak bisa dipaksakan.


 


 


“Apa kegiatan kamu hari ini, Dea?” tanya Pak Hermawan mengalihkan pembicaraan.


 


 


“Dea mau ikut Papa ke kantor. Dea mau membatalkan tiket rencana kerja ke Inggris, setelah itu Dea mau ke rumah Bagas menemui Bagas,” jawab Dea.


 


 


“Nanti Papa mau ikut menjenguk Bagas.”


 


 


“Pap…”


 


 


“Ya? Kenapa?” tanya Pak Hermawan.


 


 


“Dea mau menikah dengan Bagas. Bagaimana pun caranya Papa harus membantu Dea untuk menikah dengan Bagas?” pinta Dea.


 


 


“Benar, Pa. Calon suami yang pantas untuk Dea hanya Bagas. Tidak ada yang lain. Bagas kaya, dan mapan. Apa yang kurang?” bela Bu Heni.


 


 


“Apa tidak ada pilihan yang lain?” tanya Pak Hermawan.


 


 


“Papa ini kenapa sih? Kenapa Papa tidak membela Dea. Pokoknya Dea mau menikah dengan Bagas.”


 


 


“Papa juga setuju kamu menikah dengan Bagas.”


 


 


“Benarkah Papa?” tanya Dea dengan muka senang.


 


 


“Tapi Bagas harus datang ke sini dan meminta menikah dengan kamu. Bukan kamu yang datang ke Bagas dan meminta menikah dengannya.” Pak Hermawan memberikan syarat kepada anak perempuannya.


 


 


“Itu syarat yang sangat mudah, Papa. Bagas pasti akan datang ke sini dan melamarku. Pasti.”


 


 


 


 


 


 


*****


Hai semua! Terima kasih telah membaca cerita Evo. Tetap setia ya dengan MOY. Jangan lupa Senin, 20 April 2020 – 26 April 2020 akan diberikan hadiah 50 koin untuk 2 orang pemenang yang memberikan vote terbanyak diceritaku ini.