
Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
*****
Restoran.
Baru saja kami tiba di restoran. Pintu dibukakan oleh pelayan tersebut sambil berkata,”Silahkan masuk.”
Kala itu restoran dipenuhi banyak orang, terang saja waktu menunjukkan pukul 12 siang. Sudah saatnya mengisi perut mereka dengan makanan.
Aku dan Maureen mencari tempat yang nyaman. Untung masih ada beberapa tempat yang kosong untuk kami pilih. Kamipun menentukan duduk di samping kaca yang dapat melihat ke arah luar resetoran.
“Ini menunya. Apakah mau pesan sekarang atau nanti?” tanya pelayan dengan ramah sambil memberikan menu kepada kami.
“Pesan sekarang saja,” ucap Maureen.
Kami ingin segera memesan makanan karena ada dua alasan. Pertama karena nanti takut susah untuk memanggil pelayan karena banyak orang yang datang ke restoran ini. Lalu alasan kedua karena perut kami meronta – ronta minta diisi.
“Apa ada lagi yang akan di pesan?”
Kami berdua menggeleng kepala. Setelah mendapatkan jawaban dari kami, pelayan tersebut pergi meninggalkan kami.
“Coba ceritakan padaku bagaimana kamu bisa pacaran dengan Bastian?” Maureen membuka topik pembicaraan.
“Berjanjilah dahulu padaku tentang satu hal,” pintaku.
“Katakanlah.”
“Kamu tidak boleh menceritakan ke siapa pun tentang hari ini, termasuk ke Mama,” kataku.
“Aku janji,” ucap Maureen sambil tersenyum.
Akupun menceritakan hal yang sebenarnya pada Maureen. Bastian yang beberapa hari yang lalu menolongku dari tiga pemerkosa, hingga dia membuat aku menjadi pemimpin di perusahaan Pratama. Walaupun itu hanya disecarik kertas. Bastianlah yang mengerjakan perusahaan tersebut.
“Bastian memang laki – laki yang baik. Kamu wanita beruntung, Vo,” komentar Maureen ketika aku telah selesai menceritakan semua.
“Benar ucapanmu. Aku tidak menyangka kalau dia baik banget padaku,” kataku membenarkan ucapan Maureen.
“Apa setelah kejadian itu kamu bertemu dengan Bagas?” tanya Maureen.
Aku menarik napas, lalu mengarahkan pandanganku bukan ke arah Maureen. Pikiranku melayang ketika Maureen menyebutkan nama Bagas lagi.
“Vo, Evo! Kamu masih di sinikan?” tanya Maureen sambil mengibaskan tangannya di depan mataku.
“Eh, eh…, iya aku masih di sini. Maaf tadi kamu tanya apa?” kataku yang tiba – tiba lupa dengan pertanyaan Maureen.
“Apa kamu pernah ketemu dengan Bagas setelah kejadian itu?” Maureen mengulang pertanyaannya.
Aku menggelengkan kepala. Aku berdusta pada Maureen. Aku merasa hal ini tidak boleh ada yang tahu walau Maureen sekalipun.
“Kenapa kamu tidak menemui dia? Bukankah kamu harus menjelaskan ini semua pada Bagas?” tanya Maureen lagi.
“Entahlah, aku bimbang. Biarkan waktu saja yang menjawab hubungan kamu,” lirihku.
Kali ini aku benar – benar akan menyerahkan semuanya kepada sang waktu. Waktu yang akan menjawab nasib hubunganku dengan Bagas.
“Tapi yang harus kamu tahu, Ren, aku sangat mencintai Bagas. Aku tidak mampu melupakannya.”
Maureen memegang tanganku erat. Dia melihat diriku dengan lekat. Tersirat di mataku kepedihan yang sangat mendalam.
“Kamu harus sabar. Aku berdoa agar Sang Pencipta mau menyatukan hubungan kamu dan Bagas. Bagas laki – laki yang baik untukmu,” ucap Maureen dengan lembut.
Dengan kekuataan keras aku mencoba menahan tangisku. Tidak ingin air mata ini ikut bicara dalam perbincangan kali ini. Lelah rasanya setiap mengingat Bagas, air mata ini selalu jatuh ke pipiku.
“Sudah, jangan membahas itu lagi. Kita bahas yang lain ya,” kata Maureen mencoba mengalihkan pembicaraan, “bagaimana dengan novelmu?”
“Novel keempatku sudah terbit di perusahaan Rafael. Semakin lama semakin banyak yang membeli. Aku senang,” ceritaku.
“Syukurlah. Aku juga senang mendengarnya. Lalu bagaimana dengan pencarian cinta pertamamu itu?” tanya Maureen iseng.
“Apa maksud kamu?” kataku sambil mengerutkan dahi. Maureen membuka tasnya, kemudian memberikan sebuah buku padaku.
Maureen tersenyum, kemudian berkata, “Kamu memang luar biasa. Cerita kamu sangat menarik, Vo. Bukankah karena Karel makanya novel ini terbit?”
Aku tertawa mengomentari ucapan Maureen. Aku jadi ingat beberapa bulan yang lalu usahaku untuk mencari Karel hingga menerbitkan novel untuk mewujudkan impianku.
“Seperti katamu dulu, aku tidak yakin dia masih mengingatku.”
*****
Kediaman Keluarga Bagas.
Pagi berganti siang, keluarga Pratama dikunjungi oleh keluarga Hermawan. Bu Lina menyambut dengan gembira kedatangan keluarga Hermawan dengan memasak hidangan yang mewah.
“Seharusnya kamu tidak perlu repot – repot masak buat kami, Lin. Kami ke sini mau menjenguk Bagas. Kami dengar dari Dea dia sudah sadarkan diri.”
“Tidak merepotkan, Hen. Kalian itu sudah kami anggap sebagai keluarga, apalagi sebentar lagi Dea akan menjadi menantu kami. Jadi keluarga sebenarnya,” ucap Bu Lina.
“Aduh, tante bisa saja.”
Mendengar kata menantu dari mulut Bu Lina, hati Dea bahagai bukan kepalang. Rasanya dia ingin terbang saja.
“Kamu lihat Bagas saja ke kamar. Hibur dia, biar semangat lagi,” pinta Pak Freddy. Dea menuruti keinginan calon mertuanya itu.
“Baik, Om. Dea akan segera ke sana.”
“Jangan panggil, Om. Panggil Papa. Kamu harus mulai latihan dari sekarang,” perintah Pak Freddy lagi.
Senang hati Dea diperlakukan seperti itu oleh kedua orang tua Bagas. Dari dulu memang cita- citanya untuk menjadi menantu keluarga ini. Dengan perasaan riang, Dea beranjak dari ruang tamu ke kamar Bagas. Ia meninggalkan kedua orang tuanya untuk mengobrol dengan kedua orang tua Bagas.
Tok, tok, tok.
Tidak ada respon dari dalam kamar Bagas, Dea langsung membuka pintu. Di sana ada Charlotte yang sedang memberikan makan pada Bagas.
“Hai,” sapa Dea pada mereka berdua.
Bagas dan Charlotte menatap ke arah Dea. Tidak ada balas sapaan dari Bagas maupun Charlotte. Dea menghampiri mereka berdua.
“Makanlah sedikit lagi. Biar Mas cepat pulih,” pinta Charlotte. Siang ini Bagas hanya makan dua sendok. Habis itu dia tidak mau makan lagi.
“Ada apa?” tanya Dea.
“Mas Bagas tidak mau makan. Padahal Mas Bagas baru sadarkan diri,” keluh Charlotte pada Dea.
Dea berinisiatif, dan berkata pada Charlotte, “Sini biar aku saja yang membujuk.”
Charlotte mengangguk setuju. Dia menyingkir dari samping kakaknya, dan Dea menggantikan posisi Charlotte.
“Bagaimana kabar kamu?” tanya Bagas.
“Sudah membaik,” jawab Bagas singkat.
“Makanlah sedikit lagi. Biar kamu cepat pulih. Aku sedih kamu seperti ini,” pinta Dea. Wanita itu mengamati Bagas, tatapan mata Bagas kosong.
Bagas tidak merespon perkataan Dea. Dia sudah tidak nafsu makan. Pikiran Bagas hanya ada Evo saja.
*****
NEWS!!
Ada cerita baruku judulnya : CINTAI AKU, MR. KANEBO!
Silahkan dibaca, like, komment, bintang 5 dan share sebanyak - banyaknya. Terima kasih.
❤❤❤