MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Hanya Bagas



Beberapa hari ke depan Bagas pergi ke Malaysia untuk menyelesaikan pekerjaannya. Tadi pagi Bagas berangkat, tinggallah aku sendirian di apartemen. Aku membersihkan rumah kemudian melanjutkan menulis novelku yang baru.


Drtt.


Bunyi pesan masuk ditelepon genggamku.


Bastian : Hari ini aku sudah boleh pulang.


Aku tersenyum bahagia. Akhirnya Bastian sudah boleh pulang oleh dokter setelah beberapa hari harus dirawat karena menolongku.


Aku : Bolehkah aku datang menjengukmu di rumah?


Bastian : Sangat menyenangkan kamu datang dengan membawa pizza untukku.


Aku : Pizza? Itu hal yang mudah untukku. Aku akan datang ketika matahari berganti bulan.


Bastian : Aku menunggumu, Moy.


Aku : Namaku Evo bukan Moy, Bas.


Bastian : Tapi aku lebih menyukai nama Moy lebih bagus dari pada Evo.


Aku terkejut membaca pesan terakhir dari Bagas. Kata-katanya mengingatkanku dengan perkataan Karel. Karelpun pernah berkata seperti itu padaku. Apa ini hanya kebetulan? Aku menutup telepon genggamku. Kemudian aku meneruskan untuk menulis.


Ting, tong, ting, tong.


Bel apartemen Bagas berbunyi. Siapa geranga yang datang berkunjung siang ini? Aku berjalan menuju pintu apartemen, lalu melihat di kamera kecil depan pintu. Ibu Lina, Mama Bagas datang berkunjung.


Aku membuka pintu, "Hai, Ma."


Bu Lina masuk tanpa mempedulikan sapaanku.


"Di mana Bagas?" tanya Bu Lina.


"Bagas pergi ke Malaysia, Ma. Ada beberapa dokumen yang harus dia periksa."


"Baguslah, ada beberapa hal yang mau saya sampaikan padamu. Hal yang pertama adalah sebaiknya kamu segera putus dengan Bagas. Kamu tidak cocok dengan Bagas. Apa kamu tidak sadar? Tuhan saja tidak merestui pernikahan kalian."


Aku terdiam, aku tidak ingin membalas perkataan Bu Lina. Aku tidak ingin hal yang dulu terjadi lagi.


"Hal yang kedua adalah kalau kamu tetap mempertahankan Bagas, banyak orang yang akan terluka Evo. Dulu kamu, kemarin orang lain, bisa jadi Bagaspun akan terluka," jelas Bu Lina lagi.


"Apa maksud mama?"


"Hal yang ketiga adalah saya dan Freddy tidak akan pernah setuju kalian bersatu. Jangan pernah berpikir orang sepertimu menjadi ratu di keluarga Pratama. Kamu sama sekali tidak pantas. Sadarlah, kalau kamu memang mencintai Bagas, tinggalkan dia. Bagas akan lebih bahagia tanpa kamu."


"Salahmu adalah kamu mencintai Bagas yang tidak sederajat denganmu. Selamanya kamu tidak pantas dengan Bagas. Kamu hanya boneka pemuas Bagas saja. Seandainya Bagas sudah bosen denganmu, percaya padaku kau akan segera ditinggalkan olehnya."


Setelah berkata seperti itu, Bu Lina pergi meninggalkanku. Perkataannya menyahat hatiku. Mengapa semua ini terjadi padaku? Mengapa Bagas mencintaiku bukan orang lain saja? Kalau saja kita tidak bertemu, aku pasti akan tetap mencari Karel. Tuhan berikan aku petunjuk. Aku mencintai Bagas, seandainya cinta ini tidak dapat bersatu, biarkanlah aku kuat menerima ini kenyataan ini.


πŸŒΊπŸŒΉπŸŒΉπŸ€


"Permisi, pengantar pizza datang," ucapku saat masuk ke kamar Bastian.


"Evo, ayo masuk!" ajak Bastian yang masih berbaring di kasur.


Aku menghampiri Bastian, lalu berkata padanya," Ayo kita makan pizza."


"Terima kasih pengantar pizza yang cantik," kata Bastian.


Aku membuka bungkusan pizza yang kubawa. Lalu memberikan kepada Bastian. Lelaki itu dengan lahap memakan pizza tersebut.


"Beberapa hari di rumah sakit sangat membosankan. Makanan tidak ada yang enak. Mereka benar - benar menyiksaku."


"Maafkan aku telah membuatmu tersiksa," kataku sedih mendengar perkataan Bastian. Seandainya pesta itu tidak terjadi, dia tidak akan berbaring di tempat ini.


"Hai, Evo, Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu. Maksudku adalah aku hanya bosan saja. Hanya itu."


Aku tersenyum memandang Bastian. Akupun berkata padanya," Tidak, Bas. Kamu tidak menyinggung perasaanku sama sekali."


"Aku bahagia, Vo bisa menolongmu. Seandainya kemarin nyawaku tidak tertolong, aku bahagia karena berguna untukmu."


Aku menutup mulut Bastian dengan menempelkan telunjukku dibibirnya, kemudian aku berkata padanya,"Jangan berkata seperti itu, Bas. Jangan. Seandainya kamu tidak selamat saat itu, aku akan merasa berdosa. Aku tidak mau kehilangan dirimu, Bas."


Air mataku jatuh ke pipi. Bastian menghapus air mataku. Lalu dia memegang tanganku.


"Jangan menangis, Vo. Aku tidak sanggup melihatmu menangis. Rasanya seluruh hidupku hancur melihatmu menangis," ucap Bastian sambil menatapku penuh kasih. Aku merasakan kehangatan hatinya untukku. Rasa ini mirip sekali dengan rasa yang dulu aku rasakan dengan Karel. Bastian apakah kamu Karel? Mengapa aku merasa kamu adalah Karel?


"Jangan bicara seperti itu, Bas. Aku sudah punya Bagas."


"Aku tidak pernah mengharapkanmu membalas rasa ini. Aku hanya berpikir bahwa aku tak ingin melihatmu bersedih. Jangan suruh aku pergi dari kehidupanmu, Vo. Aku tidak bisa. Biarkan aku buktikan cintaku ini padamu dengan caraku sendiri."


Ucapan Bastian mengores hatiku. Air mataku semakin menangis deras. Aku tidak ingin menyakiti hati Bastian. Saat ini hatiku untuk Bagas. Hanya untuk Bagas.


"Bas, aku berdoa untukmu agar suatu hari nanti kamu akan bertemu dengan wanita yang lebih baik dari aku."


"Terima kasih untuk doamu, Vo," kata Bastian lalu melepas genggaman tangannya. Maafkan aku Vo, tapi aku berdoa wanita baik itu adalah kamu.