
Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. Dukungan kalian sangat berharga buat saya. Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
*****
Perusahaan Pratama.
"Maafkan ucapan Mamaku ya, Bagas. Seharusnya Mama tidak menjodohkan kita seperti ini. Walau aku sebenarnya juga mencintaimu,"jujur Dea pada Bagas.
"Apa kamu sedang bercanda?" tanya Bagas tidak percaya.
Dea mendekatkan tubuhnya pada tubuh Bagas, lalu berkata,"Kenapa kamu selalu tidak percaya padaku? Aku serius."
"Sejak kapan?" tanya Bagas lagi terkejut.
"Sejak kamu meninggalkan aku," jelas Dea kemudian mencium bibir Bagas.
Bagas mendorong tubuh Dea agar menjauh darinya, kemudian dia berkata,"Bukan aku yang meninggalkan kamu, tapi kamu yang pergi meninggalkan aku!"
"Tidak Bagas, aku tidak pernah meninggalkan kamu! Aku selalu menunggumu saat itu. Saat itu aku menunggu kamu di sana, tapi kamu tidak datang Bagas!" marah Dea.
"Alexandrea, sudah cukup! Masa lalu jangan kita bahas lagi. Aku sudah mencintai orang lain. Aku harap kamu mengerti keputusanku," tegas Bagas.
Dea memegang tangan Bagas, dan berkata padanya," Aku tahu aku salah baru memberitahu pada kamu sekarang, tapi perasaan cinta aku padamu tidak akan pernah hilang. Aku pun juga merasa kamu mencintai aku, Bagas."
Bagas hanya diam, tapi tangan Dea dilepaskannya. Bagi Bagas hubungan mereka sekarang hanya sebatas teman. Bagas sudah merelakan Dea sejak kejadian waktu itu. Bagas tidak mau Dea merusak kebahagian antara dirinya dan Evo.
"Gas, aku tahu sekarang di hati kamu hanya ada Evo, tapi kamu juga harus tahu Evolet tidak sebaik apa yang kamu kira." ucap Dea mulai menghasyut.
"Apa maksud kamu?" tanya Bagas.
"Mungkin sekarang kamu tidak percaya dengan omonganku. Evo selingkuh dengan seorang pria. Dia akan pergi meninggalkanmu sebentar lagi. Dia itu cewek matre, ketika kamu menjadi miskin, saat itu juga kamu akan ditinggalkan olehnya," ujar Dea.
"Jangan sembarangan bicara Dea. Kamu tidak punya bukti jadi aku mohon jangan menjelekkan Evo di depanku," pinta Bagas.
"Kamu kenal diriku, Bagas. Aku tidak pernah sembarangan bicara."
Perkataan Dea benar. Dea tidak pernah menuduh seseorang kalau itu hal tidak benar. Apa benar Evolet selingkuh? Siapa yang selingkuh dengan Evo? ucap Bagas dalam hatinya.
"Aku juga memohon padamu, ambil pinjaman Papa. Nasib semua karyawan ada di tangan kamu! Dengarkan aku untuk kali ini saja," pinta Dea lalu memegang tangan Bagas.
"Pulanglah Dea, aku butuh waktu sendiri." Bagas meminta tolong pada Dea untuk pergi dari kantornya.
"Apapun yang terjadi padamu, percayalah aku akan menolong kamu. Walau nyawa aku taruhannya," ucap Dea kemudian pergi dari ruangan Bagas.
Bagas memukul mejanya. Dia kesal dengan nasibnya sekarang. Benar perkataan semua orang kalau nasib karyawan ini ada di tangan dia sekarang,
*****
Di kafe.
"Aku belum bertanya padamu, bagaimana bisa video kalian berdua bisa tersebar luas? Dasar kalian mesum," canda Maureen.
"Iya, Vo. Kenapa bisa tersebar seperti itu?" tanya Dina juga bingung.
"Aku tidak tahu. Kami tidak pernah membuat video seperti itu," jujur aku.
"Berarti kalian pernah berhubungan ya?" goda Maureen. Membuat kami jadi tertawa.
"Sudah, jangan membahas hal itu. Semalam aku senang sekali ada yang ,menyebarkan berita baik tentang aku dan Bagas. Itu membantu Bagas menjadi lebih semangat," ujarku.
"Aku dan Mbak Meli yang menyebarkan itu," jujur Maureen, "Hanya itu yang bisa aku bantu padamu."
Mendengar ucapan Maureen aku langsung memeluknya dan berkata pada dia," Terima kasih Maureen karena kamu telah bantu aku dan Bagas."
"Kami selalu ada untuk kamu, Evolet," peluk Maureen erat.
"Betul kata Maureen, karena kita sahabar." ucap Dina.
"Sahabat tidak pernah ingkar janji," ucap Maureen lagi.
*****
Rumah Sakit.
"Maaf, Ma. Bagas datang terlambat," ucap Bagas ketika baru tiba di rumah sakit. Hari ini Pak Freddy sudah dibolehkan pulang oleh dokter.
"Cuti, Mam. Apa ada yang perlu dibantu lagi?" tanya Bagas.
"Mama sudah selesaikan tadi. Kita sudah bisa langsung pulang," ucap Bu Lina.
"Ayo, Bagas kita pulang. Papa sudah bosen di sini," ucap Pak Freddy. Bagas memopong Pak Freddy ke kursi roda dengan perlahan.
"Iya, Pa, kita pulang. Bagas antar ke rumah ya," ucap Bagas lembut pada Pak Freddy.
*****
Kampus Charlotte.
Siang ini Charlotte akan bimbingan skripsi dengan dosennya. Seperti biasa Evan mengantar Charlotte untuk bimbingan skripsi. Charlotte masuk ke ruangan dosen. Dia memberikan hasil perbaikan skripsi yang kemarin dicoret - coret dosennya.
"Apa kamu ada kesulitan dalam memperbaiki skripsimu?" tanya Dosen tersebut. Nama dosen pembimbing Charlotte adalah Dirly. Dirly merupakan dosen tampan dan muda yang sudah memiliki gelar pasca sarjana.
"Tidak, Pak. Bimbingan Bapak memudahkan saya untuk mengerjakan skripsi," puji Charlotte pada dosennya.
"Kamu ini salah satu mahasiswa kesukaan saya, walau Mama dan Papamu penyumbang dana terbesar di kampus ini, tapi kamu tetap mengikuti prosedur yang ada. Saya salut padamu," puji Dirly balik pada mahasiswinya. Sudah kaya, cantik, rendah hati pula, ucap Dirly dalam hati.
"Pak Dirly terlalu memuji, saya hanya manusia biasa, Pak," kata Charlotte merendahkan hatinya.
Dirly memegang tangan mahasiswanya, Charlotte. Charlotte yang diperlakukan seperti itu oleh Dirly kaget setengah mati. Perempuan itu langsung melepaskan tangannya dari genggaman dosennya itu.
"Maaf, Pak. Jadi bagaimana skripsi saya?" tanya Charlotte mengingatkan dosennya itu. Mendengar ucapan siswinya itu, Dirly langsung memeriksa skripsi Charlotte.
*Ada apa dengan Pak Dirly? Kenapa dia memegang tanganku? Sesaat jantung aku berdetak kencang diperlakukan seperti itu oleh Pak Dirly, *ucap Charlotte dalam hatinya.
Satu jam kemudian, Dirly selesai memeriksa skripsi mahasiswinya. Dia memberikan hasil coretan indahnya pada Charlotte.
"Hanya sedikit kesalahan yang kamu bisa perbaiki. Minggu depan kamu sudah bisa mendaftarkan skripsimu untuk diuji," ucap Pak Dirly membuat Charlotte bahagia.
"Terima kasih, Pak Dirly. Saya senang mendengar ucapan Pak Dirly. Kabar baik ini pasti akan membuat Papa saya senang dan kembali sehat," cerita Charlotte.
"Loh, Pak Freddy sedang sakit, sakit apa?" tanya Dirly. Jangan - jangan karena perusahaan mereka mau bangkrut.
"Papa memiliki riwayat stroke, Pak. Hari ini kata dokter sudah boleh pulang dari rumah sakit. Terima kasih sekali lagi ya, Pak." ucap Charlotte kemudian pamit dengan dosennya itu.
Saat ke luar, Charlotte bertemu dengan musuh bebuyutannya, Siska.
"Wah, wah, wah. Ternyata kamu masih hidup ya." sinis Siska melihat musuhnya itu. Siska dan Charlotte menjadi musuh sejak Evan lebih memilih Charlotte dari pada Siska.
"Apa maksud kamu?" sinis Charlotte juga.
"Perusahaan keluarga kamu kan sedang bangkrut, aku pikir kamu sudah terlantar di luar sana menjadi orang miskin," sindir Siska senang.
"Sayang ya, doamu tidak didengar. Tuhan masih sayang sama keluargaku dan membuat aku masih berdiri di sini dan melihat omong kosong dari mulut kamu itu!" maki Charlotte.
"Apa kata kamu?" geram Siska.
"Lain kali hati - hati bicara dengan Charlotte Pratama. Aku masih unggul dari kamu, apalagi soal percintaan," sindir Charlotte lagi.
Siska yang mulai marah kemudian melayangkan tamparannya pada Charlotte. Tapi tamparan itu ditangkis oleh Evan, pacar Charlotte.
"Siska, Apa - apaan kamu ini?" bentak Evan. Evan melempar tangan Siska.
"Bukan aku yang memulai, tapi pacar kamu!" kesal Siska karena tidak jadi menampar Charlotte.
"Lempar batu sembunyi tangan," ucap Charlotte membuat Siska semakin naik pitam.
"Sudah, sudah. Sana kamu ke ruangan dosen. Sebelum dosen pembimbing kamu pergi," pinta Evan. Siska langsung masuk dan pergi dengan rasa kesalnya.
"Apa kamu baik - baik saja?" tanya Evan khawatir dengan Charlotte.
Charlotte tersenyum melihat Evan begitu khawatir, "Tenang saja sayang, aku baik - baik saja. Terima kasih telah menolong aku."
"Sama - sama. Aku tidak mau ada yang menyakiti kamu. Orang yang berani menyakiti kamu, pasti akan berhadapan denganku," ucap Evan lalu memeluk Charlotte.
*****
Hai, kamu, iya kamu! Terima kasih sudah membaca karyaku. Semoga kamu masih meneruskan membaca ya.