MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Beri Kesempatan



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


*****


Rumah kediaman Pratama.


 


 


   “Bagas…” panggil Dea untuk membuyarkan lamunan Bagas.


 


 


  Dea masih berusaha membujuk Bagas untuk makan. Dia menyendokkan makanan tersebut tapi ditepis oleh Bagas hingga piring terjatuh ke lantai.


 


 


  “Bagas?” teriak Dea tidak percaya dengan kelakuan Bagas.


 


 


  “Mas Bagas?” Charlotte ikut terkejut.


 


 


“Pergi! Pergi kalian! Aku tidak mau makan!” marah Bagas.


 


 


Charlotte sedih melihat ini semua, jiwa Bagas benar – benar terluka. Kalau seperti ini terus Bagas pasti akan jatuh sakit.


 


 


  Dea menghampiri Bagas, kemudian air matanya menetes di pipi. Dia memeluk Bagas dengan penuh erat.


 


 


  “Aku mohon, Bagas. Aku mohon kamu jangan seperti ini. Aku tidak kuat melihat kamu tak berdaya. Tolonglah jadi Bagas yang kuat. Tolong lupakan Evo. Aku sangat mencintai kamu, Gas.”


 


 


  Bagas mengepalkan tangannya. Dia menahan diri untuk tidak mengeluarkan marahnya. Dia mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Dea.


 


 


  “Benar kata Mbak Dea. Mas Bagas harus kuat. Aku tidak mau Mas Bagas sakit dan aku tidak mau kehilangan Mas Bagas,” lirih Charlotte. Walau pada kata – kata akhir Charlotte tidak setuju Bagas melupakan Evo.


 


 


  Bagas melepaskan pelukan Dea dengan kasar. Walau begitu Dea tetap bertahan dan mempererat pelukan terhadap Bagas.


 


 


  “Tolong lupakan Evo. Dia sudah mengkhianati kamu, Gas. Aku yang mencintai kamu dengan tulus bukan Evo. Aku yang sayang sama kamu. Aku berjanji tidak akan seperti dia.”


 


 


  “Apa bedanya kamu dengan Evo? Bukankah dulu kamu juga pergi meninggalkan aku?” tanya Bagas sengit.


 


 


  Dea melepaskan pelukan dari Bagas. Dia mengerti itu adalah kesalahan besar yang pernah dilakukannya.


 


 


   “Beri aku kesempatan sekali lagi, Gas. Aku mohon,” pinta Dea.


 


 


  “ Benar kata Dea, Bagas. Beri kesempatan pada Dea. Dia yang terbaik. Evo bukan anak yang baik, Nak! Dia telah menghancurkan keluarga kita. Tolong kamu pikirkan keluarga kita,” komentar Bu Lina yang baru datang dan mendengar kata – kata terakhir dari Dea memberikan.


 


 


  Bagas tidak cukup kuat untuk menolak permintaan Bu Lina dan Dea. Perkataan Bu Lina sangat tepat, Evo sudah berselingkuh. Dia merebut perusahaan keluarganya. Banyak kepahitan yang diberikan oleh Evo padanya, padahal dia telah memberikan seluruh cintanya pada Evo.


 


 


  “Bagas akan memikirkannya, Ma.”


 


 


 


 


 


 


 


 


*****


Restoran.


 


 


   “Oh iya, bagaimana kabar Dina? Kenapa aku tidak melihatnya di kantor?” tanyaku.


 


 


   “Sebentar lagi dia akan melahirkan. Dina mengambil cutinya sehingga kamu tidak melihatnya di kantor,” jelas Maureen.


 


 


  Semenjak kejadian malam itu, selain Bagas aku tidak bertemu dengan Dina. Entah kenapa saat di rumah sakit Dina menuduhku yang tidak – tidak.


 


 


  Pelayan restoran datang memberikan makanan yang kami pesan. Setelah selesai meletakkannya, dia pergi kembali bekerja.


 


 


  “Wah, sepertinya makanan ini enak. Mari kita makan!” ucap Maureen. Kamipun mulai makan untuk mengisi perut kami.


 


 


   “Mari makan!”


 


 


   Beberapa menit kemudian, Mbak Meli tiba di restoran. Dia segera masuk dan mencari kami. Dia memperluas sudut pandangnya untuk mencari kami. Lumayan sulit mencari keadaan kami karena restoran sedang banyak pengunjung.


 


 


  “Mbak Meli!” panggilku karena melihat keberadaannya. Mbak Meli yang mempunyai pendengaran kencang lalu merespon dengan melihat ke arahku.


 


 


   “Syukur sekali kamu tadi memanggil namaku, kalau tidak mungkin aku akan kesulitan menemukanmu,” terangnya setelah menghampiri kami. Setelah menerangkan seperti itu dia duduk dan mencari tempat yang enak.


 


 


   “Iya, Mbak. Tadi aku melihat kamu masuk,” ucap diriku.


 


 


  “Halo, Mbak Meli,” sapa Maureen.


 


 


  “Hai, Maureen. Bagaimana kabar kamu?”


 


 


  “Kabar aku baik, Mbak. Ayo pesan terlebih dahulu baru kita berbincang lagi,” kata Maureen.


 


 


   Mbak Meli setuju, lalu segera memanggil pelayan untuk memesan makanan. Pelayan tersebut datang, kemudian dia memesan makanannya.


 


 


  “Terima kasih,” ucap Mbak Meli seusai memesan, “di mana satu lagi teman kalian? Siapa itu namanya? Aku lupa!”


 


 


 


 


  “Ya, dia! Mana dia? Kangen juga dengar suara cemprengnya dia. Diantara kaliankan dia yang paling bawel.”


 


 


  Aku dan Maureen saling menatap, kemudian tertawa. Ternyata Mbak Meli punya pikiran yang sama dengan kami.


 


 


  “Dia sedang mempersiapkan kelahiran anaknya, Mbak. Diprediksi bulan ini,” Maureen yang menjawab pertanyaan Mbak Meli.


 


 


  “Oh, iya! Mbak baru ingat kalau dia sedang hamil.”


 


 


  Banyak cerita yang kami lakukan sepanjang makan siang kami. Canda dan tawa menghiasi pertemuan kami siang ini.


 


 


  Tiba – tiba tanganku di tarik oleh seseorang, dan dia berteriak pada kami,”akhirnya aku menemukan kamu di sini, Vo!”


 


 


“Indra?” kataku tidak percaya.


 


 


“Indra!” Maureen juga berteriak kaget.


 


 


  Indra menarik tanganku, dan menyuruhku untuk mengikutinya tapi aku menahannya. “Hey, lepaskan aku!”


 


 


  Maureen dan Mbak Meli yang menyaksikan aku ditarik oleh Indra langsung menghadang Indra. Mereka tidak membiarkan Indra membawa aku pergi.


 


 


  “Minggir!” perintah Indra dengan tatapan sengit.


 


 


  “Mau kamu bawa ke mana Evo?” tanya Maureen. Sungguh tidak percaya dengan apa yang dilakukan Indra sekarang.


 


 


  “Bukan urusanmu. Bukankah aku sudah bilang pada kamu, kalau kami adalah sepasang kekasih?” ketus Indra.


 


 


  “Pembohong! Lepaskan Evo!” pinta Maureen.


 


 


  “Apa kamu sudah gila, Dra?” tanya aku. Genggaman tangan Indra sangat menyakitkan tanganku.


 


 


  “Lepaskan Evo atau aku akan teriak di sini!” ancam Mbak meli.


 


 


  Semua pengunjung menatap ke arah kami. Mereka mulai berbisik – bisik hal yang tidak baik tentang kami.


 


 


  “Teriak saja, atau semua akan tahu kalau Evo wanita ****** yang sudah bermalam dengan pria.” Indra mengancam balik.


 


 


  “Lepasin tangan aku, Indra! Aku tidak mau ikut dengan kamu!” jeritku.


 


 


  “Tidak bisa! Aku sudah lama mencari kamu ke mana – mana! Kamu harus ikut aku!” ucap Indra. Lelaki itu sudah gila mencari Evo. Telepon Evo selalu tidak aktif. Dia selalu mendatangi ke kost atau apartemen berharap bertemu dengan Evo, tapi hasilnya sungguh nihil.


 


 


  Ketika siang ini dia melihat Evo di restoran, tanpa berpikir panjang Indra menarik tangan Evo untuk membawa perempuan itu bersamanya. Dia tidak ingin melepaskan Evo lagi dari genggamannya. Setiap detik dipikirannya hanya ada Evo.


 


 


  Mbak Meli dan Maureen berusaha mencegah tapi Indra mendorong mereka hingga jatuh.


 


 


  “Agh!” jerit Mbak Meli dan Maureen berbarengan.


 


 


“Indra kamu sudah gila!” maki Maureen.


 


 


  Maureen tidak menyangka Indra bisa segila ini. Mengapa Indra bisa nekat membawa kabur Evo?


 


 


  “Mbak Meli? Maureen?” panggil diriku. Pada akhirnya Indra berhasil membawaku kabur.


 


 


   Pelayan restoran tersebut membantu Maureen dan Mbak Meli berdiri.


 


 


    “Bagaimana ini Mbak Meli?” tanya Maureen panik.


 


 


  Mbak Meli segera ke meja mereka dan mengambil telepon genggamnya. Maureen mengikuti Mbak Meli kembali ke meja makan tanpa mengetahui apa rencana mantan bosnya itu.


 


 


   “Apa yang kamu lakukan Mbak?” tanya Maureen penasaran.


 


 


   “Aku harus menghubungi Bastian.”


 


 


 


 


*****


 


 


NEWS!!


 


 


Ada cerita baruku judulnya : CINTAI AKU, MR. KANEBO!


 


 


Silahkan dibaca, like, komment, bintang 5 dan share sebanyak - banyaknya. Terima kasih.


 


 


❤❤❤