
Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
*****
Keesokan paginya di Apartemen Bagas.
"Jadi mulai hari ini kita tidak bisa tinggal di sini lagi," ucap Bagas. Dia menghampiriku ke dapur.
Mendengar ucapan Bagas aku jadi berpikir kalau sarapan yang aku buat hari ini adalah sarapan terakhir yang aku buat di apartemen Bagas. Hari ini kami harus segera pindah.
"Sesuai dengan kesepakatan kita sebelumnya, apa kita jadi pindah ke rumah kontrakanku?" tanya aku.
"Tentu saja, aku sepakat dengan keputusanmu. Kita dapat menghemat uang sebelum aku mencari pekerjaan yang baru," ujar Bagas.
"Betul sekali. Kita harus menghemat," ucapku senang mendengar Bagas mau menggunakan rumah kontrakan yang aku sewa selama sepuluh tahun.
"Apa menu sarapan kita hari ini?" tanya Bagas padaku.
"Aku hanya membuat sandwich untuk kita, tuan muda Bagas mandi dulu ya," goda aku.
"Aku tidak mau mandi, aku mau cuci tangan saja," kata Bagas kemudian dia mencuci tangannya. Air yang masih ada di tangannya dia percikan ke muka aku.
"Bagas, jangan mulai iseng!" larangku.
Bagas tidak mendengar laranganku, dia ambil lagi air tersebut kemudian dia percikan lagi padaku.
"Bagas! Nanti aku tidak selesai membuat sarapan kita! Bukankah kamu akan ke kantor?" larang aku lagi pada Bagas. Lagi dan lagi Bagas tidak mendengarkan apa yang aku pinta. Dia terus percikan air itu ke mukaku. Dia terkekeh melihat aku yang marah - marah.
"Kamu sangat cantik kalau lagi marah," goda Bagas lagi.
"Mana ada orang kalau marah cantik?" kesalku pada Bagas.
"Ada," ucap Bagas menghentikan sejenak keisengannya.
"Siapa?" tanyaku.
"Kamu!" ujar Bagas sambil nyengir.
Muka aku menjadi merah padam karena malu. Perkataan Bagas membuat aku tersipu malu.
"Cie, cie yang lagi malu karena dipuji cantik sama aku," goda Bagas lagi. Bagaspun memercikan lagi air padaku.
"Bagas, kamu ya! Aku balas kamu!" ucapku kemudian mengambil air. Bagas lari pergi meninggalkan aku. Aku mengejarnya. Kemudian Bagas masuk ke kamar mandi.
"Bagas kamu curang!" rengekku.
"Aku tidak curang. Tadikan kamu yang menyuruh aku untuk mandi. Jadi aku mandi dulu ya sayang." ucap Bagas lalu tertawa. Aku cemberut karena tidak bisa membalas Bagas.
"Bagas kamu memang menyebalkan!" kataku kesal.
Akupun beranjak dari kamar mandi menuju ke dapur. Aku segera menyelesaikan tugasku membuat sarapan untuk kami berdua.
*****
Malaysia.
"Bagaimana perkembangan penyelidikan kantor kita?" tanya Mbak Meli pada salah satu staff dia via telepon.
"Polisi menduga kalau ada aliran pendek yang menjadi sebab kebakaran, Bu." ucap staffnya.
"Apa hanya itu?" tanya Mbak Meli masih penasaran.
"Ya, Bu. Sebentar lagi laporan akan diberikan oleh kepolisian." jawab staffnya.
Mbak Meli menghela napas panjang. Ada keraguan dalam hatinya mengenai kejadian ini. Tidak mungkin arus pendek yang menyebabkan perusahaannya terbakar. Mbak Meli menelepon seseorang. Orang tersebut mengangkatnya.
"Halo?" sapanya.
"Aku butuh bantuanmu lagi." ucap Mbak Meli.
*****
Perusahaan Pratama.
Pak Freddy dan Bu Lina sudah tiba di kantor pukul 9. Mereka berdua menyuruh para karyawan untuk berkumpul di aula jam 10 untuk diadakan rapat. Rapat diadakan untuk memecat Bagas sebagai pemimpin Perusahaan Pratama.
Dina yang mengetahui kabar tersebut langsung ke ruangan Maureen.
Tok, tok, tok.
Dina mengetuk pintu ruangan Maureen dengan sopan.
"Masuk," ucap Maureen dari dalam. Dina yang sudah mendapatkan izin masuk dari Maureen, langsung masuk ke ruangan tersebut.
"Reen, apa kamu sudah dengar tentang rapat hari ini membahas pemecatan Pak Bagas?" tanya Dina tidak percaya.
Maureen mengangguk kepala, kemudian dia berkata, " Iya, aku tahu. Sepertinya Bagas telah kalah dalam pertarungan ini. Apalagi dengan kondisi kantor di Malaysia terbakar habis. Pasti Pak Freddy marah pada Bagas."
"Jadi apa yang harus kita bantu untuk menolong Bagas?" tanya Dina.
"Tidak ada yang bisa kita tolong,Din. Hanya Tuhan yang bisa menolong Bagas," ucap Maureen.
*****
Di taman.
"Ada apa sih pagi - pagi menyuruh aku datang? Apa tidak bisa melalui telepon kamu bicara padaku?" kesal Indra pada Dea.
Dari jam 5 pagi, telepon genggam Indra berbunyi terus tanpa henti. Indra tidak menjawab panggilan tersebut. Tadi malam Indra pulang larut habis bertemu dengan Maureen.
"Ini hal yang gawat! Sangat gawat, Indra!" ujar Dea panik.
"Langit belum runtuh Dea, kiamat belum datang," sinis Indra. Indra paling malas berurusan sama orang yang suka memaksa. Kenapa sih di dunia ini wanita tidak seperti Evo saja. Kalem.
"Jangan bercanda! Aku tidak mau diajak bercanda. Akukan sudah menyuruhmu untuk mendekati Evo, tapi mana? Kenapa malah kamu kemarin pergi dengan Maureen? Jangan bilang kamu mau balikkan lagi dengannya!" kesal Dea.
"Bukan urusan kamu! Sudah katakan apa mau kamu? Aku harus segera ke kantor." ucap Indra lagi.
"Cepat kamu lakukan rencana kita. Jangan ditunda lagi. Aku tidak mau mereka bersatu."
*****
Kampus Charlotte.
Bruk!
"ADUH! MATA KAMU DI MANA SIH?" bentak seseorang.
Charlotte menengok, dia kenal suara orang tersebut, SIska dan teman-temannya. *Sial, kenapa pagi ini dia harus bertamu makhluk halus ini? *ujar Charlotte dalam hati.
Siska memandang orang yang menabraknya, "OH, KAMU!"
"Iya, aku. Kenapa tidak suka?" tanyaku menantang dirinya.
"Sorry, aku tidak suka bertengkar dengan calon orang miskin seperti kamu!" umpat Siska kesal.
"Apa? Siapa calon orang miskin?" tanya Vika salah satu dayang - dayangnya.
"Ups, aku keceplosan ya. Sekalian aja aku kasih pengumuman biar semua orang tahu kalau Perusahaan Pratama BANGKRUT karena kakaknya BAGAS PRATAMA menyebarkan video senonoh," umbar Siska dengan nada tinggi.
*Sabar, Charlotte, sabaar. Kamu pasti bisa mengendalikan dirimu, *ucap Charlotte dalam hati. Bagas, kakaknya selalu mengajarkan Charlotte untuk tidak bertengkar apa lagi melakukan kekerasan.
"Apa? Kamu serius, Sis?" tanya Irene tidak percaya. Irene juga salah satu dayang -datang Siska. Di mana pun Siska ada, pasti mereka selalu ada di belakang mereka.
"Bagas yang ganteng itu ternyata suka berbuat mesum ya?" kata Vika lagi memanas- manasi.
Charlotte menarik napas panjang, dia sudah ingin menampar ketiga orang yang ada di depannya.
"Kakaknya suka berbuat mesum, jangan - jangan adiknya juga lagi!" sindir Siska lagi.
"JAGA MULUT KAMU YA, SISKA!" ucap Charlotte mulai marah.
"Loh, kalau memang tidak benar kenapa kamu harus marah?" Santai saja," kata Siska lagi.
Charlotte yang sudah menahan diri dari tadi, kemudian menjambak Siska yang selalu mengejek keluarganya.
"WAHHH, TOLOOONG!! ADA YANG BERTENGKAAR!! TOLONNG!" teriak para dayang Siska.
Siska yang tidak terima di jambak oleh aku, membalas menjambak rambutku. Kami bertengkar hebat. Benteng pertahanan Charlotte runtuh karena mulut Siska yang jahat.
Semua orang melihat pertengkaran Siska dan Charlotte. Mereka tidak melerai, malah asyik menontonnya.
"Hajar terus, SISKA!" bela yang satu.
"CHARLOTTE kamu pasti menang!" bela yang lain.
"Enak saja, Siska yang pasti menang! Ayo, Siska!" ucap yang lain.
"HAJAR! HAJAR! TERUS!" teriak semuanya.
Pak Dirly yang sedang berjalan di sekitar itu melihat kerumunan. Dia mendekati kerumunan tersebut.
"SISKA! CHARLOTTE!!" teriak Pak Dirly melihat anak bimbingannya bertengkar. Mahasiswa yang melihat dosennya datang langsung bubar berlarian.
Siska dan Charlotte langsung berhenti berkelahi melihat dosen pembimbingnya memergoki mereka berdua.
"Memalukan kalian berdua ini! Kenapa kalian malah bertengkar? Padahal kalian sebentar lagi akan sidang skripsi! Apa kalian mau diskors karena hal ini?" tanya Pak Dirly kesal melihat ulah mereka berdua.
"Jangan, Pak, jangan. Saya mohon jangan. Charlotte yang mulai pertengkaran ini. Benarkan teman - teman?" ucap Siska.
"Benar, Pak! Charlotte yang mulai," bela para dayang.
"Perkataan mereka tidak benar, Pak! Mereka semua mengejek keluarga saya!" bela aku.
"Enak saja, kamu itu yang mulai jambak aku!" ucap Siska tidak mau kalah.
"Kamu yang mulai mengejek keluargaku!" kataku juga tidak mau kalah.
Pertengkaran mulut pun tidak terhindari lagi. Chatlotte bertengkar lagi dengan Siska dan para dayangnya.
"CUKUP!" perintah Pak Dirly, "Atau saya akan berikan hukuman *skorsing *untuk kalian?"
"Maafkan saya, Pak," kata Charlotte meminta maaf.
"Maaf, Pak. Saya tidak akan mengulangi lagi." ucap Siska juga.
"Siska, kamu boleh pergi!" ucap Pak Dirly menyuruh mahasiswinya pergi.
"Awas kamu, aku balas nanti!" ancam Siska sebelum pergi.
"SISKA! SAYA BILANG PERGI!" kata Pak Dirly dengan nada tinggi.
Charlotte tidak membalas ancaman Siska padanya.
"Kamu ikut saya ke ruangan saya!" perintah Pak Dirly. Charlotte mengikuti Pak Dirly.
*Apa yang akan dibicarakan Pak Dirly padaku? *tanya Charlotte dalam hatinya.
*****
Apartemen Bagas.
"Terima kasih sarapannya. Makanan kali ini sangat enak," puji Bagas.
"Oh, jadi selama ini makanan aku tidak enak ya?" rungutku.
*Aduh, salah ngomong! Niatnya mau muji malah disangka mengejek. Wanita oh wanita, *ujar Bagas dalam hati.
"Bukan, bukan itu maksudku," ucap Bagas kebingungan. Aku tertawa melihat Bagas seperti itu.
"Setelah aku selesai dengan urusan kantor, aku akan membantumu mengepakan barang. Kita akan pindah ke rumah kontrakanmu." ucap Bagas lagi.
"Jam berapa kamu akan rapat?" tanya aku pada Bagas.
"Tadi Maureen bilang padaku bahwa Papa mengumpulkan mereka pukul 10 untuk rapat," jelas Bagas.
"Aku sudah merapikan rumah kontrakanku. Jadi barang - barang kita sudah dapat dimasukkan," ujar
"Kapan kamu merapikan rumah itu?" tanya Bagas tidak percaya.
"Beberapa hari yang lalu. Aku harap kamu tidak malu tinggal disana," ucapku.
Bagas memelukku,dan mencium bibirku, lalu dia berkata, "Harusnya aku yang bicara seperti itu padamu, aku harap kamu tidak malu tinggal sama aku yang sudah miskin ini."
"Di mana pun aku tinggal, aku harap aku bisa tinggal bersamamu," kataku lagi, kemudian membalas ciumannya.
*****
Hai kamu, iya kamu! Terima kasih sudah membaca kisah Evo. Tetap setia ya membacanya. Evo tunggu kalian di episode selanjutnya. Jangan lupa gabung juga di group chat aku. ❤❤❤