
Hai, hai! Bagaimana kabar kalian? Jangan lupa ya berikan vote, koment dan likenya. Senang rasanya MOY sampai episode ini. Semua karena dukungan dari kalian. Semoga kalian bantu aku memberikan vote ya. Terima kasih.
*****
“Apa kamu suka ada yang bernyanyi untukmu seperti itu?” tanya Bastian.
“Mana ada wanita yang tidak suka dinyanyikan lagu di depan banyak orang? Itu sangat romantis,” ungkapku.
Bastian langsung berdiri. Aku mengerutkan dahiku, dan mengamati Bastian dengan penuh curiga.
“Kamu mau apa, Bas?” tanyaku curiga.
Bastian mengedipkan mata, lalu berkata, “Mau membahagiakan pacarku.”
What? Aku melongo tidak percaya.
Bastian melangkah ke depan. Aku menatap dia tidak percaya. Apa yang akan dia lakukan? Kenapa dia menuju ke panggung?
Aku mengusap keringatku, padahal tidak ada keringat di kepalaku. Aku gugup melihat Bastian di depan. Jangan bilang dia akan bernyanyi seperti lelaki itu lakukan pada pacarnya. Padahal aku dan dia bukan pacar sungguhan.
“Wah, wah! Ada satu lagi lelaki tampan yang maju ke depan! Luar biasa malam hari ini!” ujar MC penuh dengan semangat.
Bastian menghampiri MC tersebut. MC tersenyum bahagia ketika Bastian sudah tiba dipanggung dan berada di sebelahnya.
“Namanya siapa Mas?” tanyanya.
“Bastian.”
“Mau bernyanyi lagu apa dan untuk siapa?” MC bertanya lagi.
“Saya mau menyanyikan lagu untuk seseorang yang saya sangat cintai. Namanya Moy,” kata Bastian.
Pernyataan Bastian di panggung membuat aku terkejut. Kenapa Bastian berkata seperti itu? Bukankah kita hanya pacar pura – pura?
“Wah, nama yang cantik. Pasti pacar kamu cantik ya.”
“Betul. Dia sangat cantik hingga membuat aku jatuh cinta setiap hari,” jujur Bastian sambil menatap ke arahku. Tepukan meriah diberikan untuk Bastian. Para pengunjung kagum dengan keberanian Bastian mengungkapkan perasaanya.
Ungkapan Bastian membuat hatiku meleleh. Ada perasaan bahagia ketika ucapannya itu keluar dari mulutnya. Bastian selalu membuat aku bahagia dengan tiap perlakuannya yang tak terduga.
“Jadi lagu apa yang hendak kamu nyanyikan?”
Bastian membisikkan lagu yang akan dia nyanyikan. MC tersenyum lalu memberikan sebuah gitar pada Bastian. Pria itu duduk di sebuah kursi yang disiapkan oleh MC. Matanya memandang ke arahku.
“Untuk kamu yang selalu ada di hatiku dari dulu hingga saat ini. Lagu ini aku persembahkan kepada kamu….”
Mendengar nyanyiannya air mataku perlahan menetes dipipi. Kata demi kata yang ada di dalam lagu tersebut membuatku terkesima karena Bastian menyebutkan kalau lau itu adalah ungkapan hatinya. Aku tidak menyangka Bastian sangat mencintaiku dengan tulus, tapi hatiku belum bisa menerima karena rasa cintaku pada Bagas belum hilang.
Suara tepuk tangan diberikan kepada Bastian ketika dia menyelesaikan nyanyinya. Bastian membungkuk tanda mengucapkan terima kasih. Bastian turun dari atas panggung, ketika dia tiba di mejanya dia tidak melihat sosok Evo ada di sana.
“Di mana kamu, Vo?” tanya Bastian khawatir.
Bunyi suara petir menyambar, hujan pun turun malam itu.
*****
Aku berlari dengan kencang. Aku meninggalkan Bastian di restoran itu. Hatiku begitu sakit mengingat setiap bait lagu yang dinyanyikan oleh Bastian. Lelaki itu mencintai diriku, aku menangis sedih karena tidak dapat membalas cinta untuk Bastian.
Tadi aku berdoa agar tidak ada yang akan menyakiti perasaan Bastian, tapi tanpa aku sadari aku telah menyakiti hati Bastian. Banyak cinta yang diberikan pada Bastian padaku tapi aku malah memberikan kesedihan untuknya. Air mata ini terus mengalir.
Malam ini untung saja hujan turun. Orang – orang tidak akan menyadari kalau aku sedang menangis. Hujan menutupi kesedihanku. Aku menepi di sebuah halte. Aku menunggu taksi untuk pergi dari sini.
*****
Bastian mempertajam penglihatannya. Dia mencari di setiap tempat keberadaan Evo. Hatinya sangat cemas. Kenapa Evo tiba – tiba pergi tanpa izin? Apakah ada yang salah dengan ini semua?
Bastian mengingat kejadian tadi yang membuat Evo hilang. Apakah perbuatannya menyakiti hati Evo?
“Ke mana kamu, Vo?” tanya Bastian khawatir.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, Bastian khawatir takut kejadian dulu akan menimpa Evo kembali. Sejak tadi Bastian berusaha menelepon Evo, tapi tak satupun telepon Bastian diangkat oleh Evp.
“Ada apa dengan kamu, Vo?” ucap Bastian sambil fokus menyetir dan mengamati jalanan siapa tahu menemukan sosok Evo.
“Evo?” kata Bastian ketika melihat sosok wanita yang mirip dengan Evo. Dia menghentikan mobilnya.
Bastian mengejar sosok itu lalu membalikkan badan perempuan itu, “Evo?”
Ketika melihat sosok itu, Bastian terkejut karena wanita itu bukanlah Evo. “Maaf, maafkan saya.”
“Iya, Mas. Tidak apa – apa,” ucap wanita itu sedikit terkejut. Wanita itu pergi meninggalkan Bastian.
“Di mana kamu, Vo?”
*****
Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya. Minta tolong banget dilike ya
❤❤❤