MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Mencintai Bagas



Bagas pulang ke hotel dengan sejuta pertanyaan, apakah Evo tidak mencintainya sehingga dia harus meminum obat seperti ini? Apakah cuma dirinya saja yang mencintai?


Bagas masuk ke kamar, dia mendapati Evo sedang asyik menonton TV.


" Hai, Bagas, kamu sudah pulang?" sapaku bahagia melihat lelaki berjas hitam itu. Bagas menghampiriku lalu duduk di sebelahku. Dia terdiam, tak banyak komentar.


" Ada apa?" tanyaku heran. Bagas mengambil sesuatu dari tas hitamnya. Aku terkejut, kenapa obat itu bisa ada sama Bagas?


" Obat apa ini?" tanya Bagas dengan raut muka yang sedih.


" Ini obat vitamin, Bagas."


" Mau sampai kapan kamu berbohong padaku?" tanya lelaki itu.


"Apakah kamu ngga mencintaiku, Vo, sampai kamu minum obat seperti ini? Sampai kamu tidak mau melahirkan anak kita? Kenapa Vo?" Air mata Bagas menetes dipipinya. Aku semakin terkejut. Bagas yang tidak pernah menangis, hari ini menangis. Aku berlutut dihadapan Bagas, kemudian menghapus air matanya.


" Maaf, Bagas, maaf. Jangan salah paham padaku. Aku tidak mengira, aku bisa membuat kamu sedih seperti ini. Maaf," aku memeluk dia.


"Bukannya aku tidak mau,Gas. Kita belum menikah, aku tidak ingin nantinya aku hamil diluar nikah. AKu mohon mengertilah."


" Benarkah alasannya itu? Bukan yang lain?" tanya Bagas lagi.


" Ya, Bagas. Aku perempuan Bagas, norma di negara kita itu tegas hukumnya. Tidak ada yang menyukai wanita yang hamil diluar nikah."


" Apa kau mencintaiku, Vo?"


" Ya, Bagas, ya. Aku sayang kamu," aku berkata jujur. Sekarang dihatiku ada Bagas. Karel hanyalah ambisiku sesaat.


" Kalau begitu, aku ingin punya anak darimu, Vo. Jadi aku mohon jangan minum obat seperti ini lagi," ungkap Bagas.


" Aku janji," lagi-lagi aku berdusta. Aku tidak bisa Bagas. Aku harus minum obat ini.


" Berjanjilah padaku untuk tidak meninggalkanku," Bagas memegang tanganku.


" Ya, Bagas aku berjanji."


" Kalau kau berdusta, kau akan melihat aku akan menghilang dari permukaan bumi ini."


" Aku tidak ingin kau pergi jauh dariku, Vo," jujur Bagas.


" Kau wanita yang mampu mengubah aku menjadi pribadi yang baik. Kau yang mampu membuatku menjadi Bagas yang tenang. Jadi aku mohon jangan pergi ya, Vo."


Bagas memelukku erat, lalu menciumku. Semoga keinginan Bagas dikabulkan Tuhan.


Hari ketiga setelah perjanjian dengan Bu Lina.


"Pindahlah kerja di sini, Vo," ujar Bagas saat kami sedang makan siang. Ini hari ketigaku setelah perjanjian dengan Bu Lina. Aku sudah memutuskan.


"Tidak, Bagas. Aku tidak mau. Aku senang di Indonesia," ujarku lalu menyuapkan makanan ke mulutku.


"Baiklah, aku tidak memaksa. Jam berapa mau ke pesan tiketnya? Atau kau mau aku antarkan dengan pesawat perusahaan?"


"Tidak, tidak, aku tidak mau. Aku mau berangkat sendiri saja."


"Oke." Bagas memesan tiket untukku. Kami sudah selesai makan. "Hari ini kau mau ke mana?


"Aku mau beli oleh-oleh untuk Maureen dan Dina. Apa kamu bisa mengantarku?"


" Seperti aku tidak bisa, nanti supirku saja yang mengantarmu,"aku mengangguk setuju. Bagas pamit untuk pergi menyelesaikan pekerjaannya. Aku yang lagi-lagi berbohong pada Bagas, pergi untuk bertemu dengan Ibu Lina, Ibu dari Bagas.


Di tempat perjanjian.


" Jadi bagaimana? Apakah kamu sudah siap untuk pergi?" tanya Bu Lina saat kami bertemu.


" Maaf Bu.... Saya tidak bisa meninggalkan Bagas. Saya sangat mencintai Bagas. Bagas tidak bisa hidup tanpaku," ucapku jujur.


" Baiklah. Aku tidak memaksa kalau itu keputusanmu. Silahkan kamu minum, dan pulanglah."


Hanya begini? Bu Lina setuju dengan keputusanku. Akupun meneguk minuman yang diberikan oleh Bu Lina. Beberapa detik kemudian kepalaku sakit dan berat. Aku pingsan.


" Jangan melawan saya nona manis, itu salah besar," ujar Bu Lina. Ternyata minuman yang aku minum sudah dicampur obat tidur.