MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Hamil?



Malam harinya di rumah Bastian.


 


 


  Jam menunjukkan pukul 10 malam ketika mereka berdua sampai di rumah. Evo dan Bastian sangat bahagia hari ini. Hari yang mereka tunggu – tunggu tiba juga.


 


 


  “Selamat malam, Sayang. Mimpi yang indah,” ucap Bastian lalu mengecup dahi Evo.


 


 


“Kamu juga, Bas,” kata Evo.


 


 


  Ketika Evo ingin masuk kepalanya terasa sakit, dan mual. Rasanya Evo ingin muntah.


 


 


  “Evo? Kenapa kamu?” tanya Bastian yang masih di depan kamar Evo.


 


 


  Bastian membawa Evo masuk ke kamarnya. Dia membaringkan Evo ke dalam kamarnya. Bastian mengambil minyak angin lalu mengoleskan ke tubuh Evo.


 


 


  “Sepertinya aku masuk angin, terima kasih untuk minyak anginnya,” ucap Evo.


 


 


  “Apa sebaiknya kita ke rumah sakit?” tanya Bastian khawatir.


 


 


  Evo menggeleng kepala. Evo merasa kalau Bastian terlampau berlebihan. “Minum obat akan membuat diriku membaik.”


 


 


  “Baiklah kalau memang tidak apa – apa.”


 


 


  “Terima kasih, Bas.”


 


 


  Bastian menyelimuti Evo, kemudian mengecup dahinya lagi dan berkata,”Selamat malam, Sayang. Jangan lupa memimpikan aku.”


 


 


  Evo tersenyum membalas perkataan Bastian.


 


 


Beberapa hari kemudian, kantor Pratama.


 


 


  Evo dan Maureen sedang berbincang di kantin seperti biasa. Evo menceritakan semua kejadian yang dia alami saat akhir pekan kemarin. Maureen tercengang mendengar setiap kata yang dituturkan oleh Evo. Maureen merasa kalau dirinya yang di lamar oleh Bastian.


 


 


  “Bastian sangat romantis, aku iri padamu,”komentar Maureen ketika Evo telah selesai bercerita. Evo hanya tertawa bahagia.


 


 


  “Akhirnya kisah cintamu dengan Bastian berakhir bahagia ya, Vo. Aku sunggu merasa senang,” kata Maureen lagi.


 


 


  “Aku juga tidak percaya kalau Bastian melamarku secepat itu. Rasanya dunia ini sedang memihak padaku. Aku sungguh bahagia, Reen.”


 


 


  “Aku tahu, aku ikut bahagia, Evo sayang.”


 


 


  “Ini berkat doamu dan Dina,” ucap Evo.


 


 


  “Ngomong – ngomong soal Dina, kemarin aku ke rumah Rafael,” cerita Maureen.


 


 


  “Bagaimana keadaan Rafael?” tanya Evo sambil menikmati roti bakar yang mereka pesan. Roti bakar ini salah satu makanan kesukaan mereka ketika bersama.


 


 


  “Buruk, Vo. Dia masih mengurung diri di kamar. Aku tidak tega padanya,” jelas Maureen lagi. Dia mengambil roti bakar itu kemudian memasukkan ke dalam mulutnya. Rasa coklat yang ada di dalam roti tersebut lumer di dalam mulutnya.


 


 


   “Bagaimana kalau nanti malam kita ke sana? Sekalian kita lihat Mike dan Nay,” ajak Evo.


 


 


  “Aku setuju.”


 


 


  “Hai.”


 


 


  Evo dan Maureen menengok ke sebelah kanan, mencari suara yang menyapa mereka berdua. Tampak Bagas sedang berdiri di samping mereka.


 


 


  “Hai, Gas,” balas Evo.


 


 


  “Halo, Bagas!” sapa Maureen balik.


 


 


“Boleh aku meminjam Evo sebentar?” tanya Bagas.


 


 


  Maureen melirik ke arah Evo, Evo mengangguk. Maureen berdiri dari tempat duduknya, sebelum dia meninggalkan keduanya Maureen berkata, “Jangan sakiti, Evo lagi.”


 


 


  “Tenang saja, Reen.”


 


 


  “Maureen! Apa yang kau katakan?” ucap Evo. Dia merasa tidak enak dengan Bagas. Maureen mengangkat bahunya kemudian pergi meninggalkan keduanya.


 


 


  Bagas mengambil tempat duduk di depan Evo. Beberapa lama mereka diam, terjadi kekikukan diantara mereka berdua.


 


 


  “Bagaimana keadaanmu?” tanya Evo. Wanita itu mencoba membuka pembicaraan.


 


 


  “Apa menurutmu dua kali gagal menikah membuatku baik – baik saja?” ucap Bagas. Pria itu tersenyum kecut pada Evo.


 


 


  “Aku turut prihatin,” ujar Evo tulus.


 


 


  Bagas memandang Evo dengan lekat,”Apa kamu bahagia?”


 


 


  “Apa?” tanya Evo tidak percaya.


 


 


  “Apa kamu bahagia sekarang?” Bagas mengulang pertanyaannya.


 


 


  Sesaat Evo diam, dia mencerna maksud dari perkataan Bagas, mantan kekasihnya. Apakah pertanyaannya itu mengandung maksud yang terselubung?


 


 


  “Aku bahagia, Gas. Sangat bahagia.”


 


 


 


 


  “Aku sudah memaafkanmu, Gas,”ujar Evo.


 


 


  Dia memegang tangan Bagas, kemudian berkata padanya,”Carilah kebahagianmu, Gas. Kamu pantas mendapatkan kebahagian.”


 


 


  Seandainya aku percaya padamu hari itu, mungkin kita berdua tidak akan berpisah. Bagaimana bisa aku bahagia, Vo? Kebahagianku adalah bersama denganmu.


 


 


“Terima kasih, Vo.”


 


 


Drt, Drt.


 


 


  Telepon genggam Evo berbunyi. Evo mengambil telepon genggamnya, muncul nama Bastian di layar teleponnya.


 


 


  “Maaf, aku angkat telepon dulu,” pinta Evo.


 


 


  Bagas mengangguk, dia mempersilahkan Evo untuk menerima telepon tersebut.


 


 


  “Halo, Sayang.”


 


 


  Mendengar ucapan Evo ketika menerima telepon tersebut, Bagas sudah dapat menebak kalau yang menelepon Evo adalah Bastian. Perbincangan mesra antara mereka berdua membuat hati Bagas terasa tersayat.


 


 


  “Maaf membuat kamu menunggu. Tadi kita bicara apa?”


 


 


    Bagas menggeleng kepala, dia merasa sudah tidak ada yang perlu mereka bahas lagi. “Kembalilah, Bastian menunggumu.”


 


 


    Evopun pergi meninggalkan Bagas. Tak terasa air mata Bagas keluar, buru – buru dia menghapus air mata. Hilang sudah kebahagiannya.


 


 


*****


Ruangan Bastian.


 


 


  Evo masuk ke dalam ruangan Bastian. Bastian baru selesai dari rapat panjangnya. Dia menghampiri kekasihnya itu dengan membawa minuman jeruk dingin kesukaannya.


 


 


  “Hai, Sayang. Apa kamu begitu lelah?” tanya Evo.


 


 


  Bastian merenggangkan dasinya, hari ini dia begitu lelah. Pria itu menerima minuman dari Evo kemudian meminumnya dengan sekali teguk.


 


 


  “Terima kasih, Sayang atas minumannya. Hari ini aku sangat lelah menghadapai para pemegang saham. Mereka banyak menuntut,” gusar Bastian.


 


 


  Evo melangkah ke belakang tubuh Bastian, kemudian memijat bahu kekasihnya itu. Evo ingin merenggangkan tubuh Bastian yang sedikit tegang.


 


 


  “Aku tidak pernah tahu kalau kamu begitu jago memijat.”


 


 


  “Apa itu pujian? Aku sangat senang kalau memang itu pujian untukku, terima kasih,” kata Evo.


 


 


  Bastian menarik kedua tangan Evo, lalu mengecupnya. “Semua tentangmu selalu aku kagumi, Vo. Aku sangat mencintaimu.”


 


 


  “Kamu selalu membuatku terbang melayang, Bas. Apa pacarmu dulu kau perlakukan seperti ini?” tanya Evo.


 


 


  Bastian membalikkan badannya, dia mendudukkan Evo kepangkuannya. “Apa kamu benar – benar ingin tahu?”


 


 


  “Tidak, tidak. Aku tidak ingin mendengarnya.”


 


 


  “Tapi aku ingin memberitahumu, cara aku memperlakukan mereka,” goda Bastian.


 


 


  “Apa kamu ingin membuatku cemburu?” tanya Evo.


 


 


    Bastian tidak menjawab pertanyaan Evo, dia mendekatkan bibirnya ke bibir Evo.


 


 


Tok, tok, tok.


 


 


    Evo dengan cepat berdiri mendengar ketukan dari luar, takut para pegawai melihat kemesraan mereka.


 


 


  “Sial,” maki Bastian.


 


 


  Evo tersenyum geli, ketika Bastian tidak jadi menciumnya.


 


 


  Orang yang mengetuk pintu ruangan Bastian, masuk ke dalam. Evo dan Bastian tampak kaget melihat Bagas yang masuk ke dalam ruangannya.


 


 


  “Maaf, aku menganggu kalian,” ucap Bagas.


 


 


Bagas mengamati keduanya. Dia sadar kalau keduanya habis bercumbu. Rambut Evo yang berantakan, dasi Bastian yang kusut. Hal yang wajar dilakukan oleh sepasang kekasih yang sudah dewasa. Dulu waktu dirinya bersama Evo, Bagaspun pernah merasakannya.


 


 


  “Bagas?”


 


 


  Bagas melangkahkan kakinya untuk menghampiri mereka berdua. Bagas mengeluarkan sebuah amplop lalu diberikannya kepada Bastian.


 


 


  “Apa ini?” tanya Bastian.


 


 


  “Bukalah, kamu akan mengetahuinya,” kata Bagas.


 


 


  Bastian membuka amplop tersebut, lalu mengambil kertas yang ada di dalam amplop. Bastian membaca surat tersebut, jujur Bastian sedikit terkejut.


 


 


  “Surat pengunduran diri?”