MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Bahagia



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


*****


 


 


  Bastian menuntun aku keluar dari perusahaan Bagas. Hati Bastian puas melihat muka kedua orang tersebut yang menyakiti hati aku.


 


 


  “Evo!” panggil Maureen.


 


 


  Aku yang mendengar namaku disebut segera membalik badanku. Suara panggilan itu dari Maureen. Nampaknya Maureen berlari mengejarku, napasnya tidak beraturan.


 


 


  “Maureen?”


 


 


Bastian menghentikan langkahnya, kemudian berkata, “Aku menunggu di mobil ya, Vo.”


 


 


Aku mengangguk menjawab perkataan Bastian. Mbak Meli masih menunggu aku.


 


 


  Maureen memeluk diriku. Dia menangis di pelukanku. Aku memeluk tubuh Maureen dengan erat.


 


 


  “Maafkan aku, Vo. Aku tidak percaya padamu kemarin. Maafkan aku,” pinta Maureen.


 


 


  Aku melepaskan pelukanku pada Maureen, lalu menghapus air matanya. Aku tersenyum pada Maureen.


 


 


  “Tidak ada yang perlu dimaafkan sayang. Kita adalah sahabat. Salah paham pasti pernah terjadi.”


 


 


  Mbak Meli tersenyum melihat aku dan Maureen telah berbaikan. Dulu kami berdua adalah anak buah Mbak Meli. Dia cukup tahu keakraban kami berdua.


 


 


“Mbak senang kalian berbaikan seperti ini,” ucap Mbak Meli.


 


 


  Maureen menatap Mbak Meli, ia berkata pada wanita itu, “Bagaimana kalian bisa menemukan Evo? Kemarin malam aku menghubungi dia, tapi ponselnya mati.”


 


 


  “Bukan aku yang menemukan Evo, tapi Bastian,” terang Mbak Meli.


 


 


  Maureen menggenggam tangan Evo, dan berkata, “Apa yang terjadi?”


 


 


  “Ceritanya panjang sayang. Aku tidak ada waktu untuk bercerita sekarang padamu,” kataku sambil memberikan senyuman.


 


 


  “Tenang saja Maureen. Evo aman denganku. Kapan – kapan kita bertemu dan menceritakan semuanya padamu,” janji Mbak Meli.


 


 


  “Benar ucapan Mbak Meli. Kita pasti akan bertemu lagi. Kami harus segera pergi karena Bastian sudah menunggu lama.”


 


 


  Maureen mengangguk setuju, kemudian dia memeluk aku lagi. Setelah itu aku dan Mbak Meli pergi menyusul Bastian.


 


 


  “Hati – hati, Vo. Aku menunggu kabar darimu!” teriak Maureen.


 


 


*****


 


 


Malamnya di kediaman Pratama.


Pak Freddy dan Bu Lina masuk ke rumahnya. Setelah mandi mereka mengunjungi Bagas di kamarnya. Di sana ada Charlotte dan Evan yang menunggu Bagas.


 


 


“Bagaimana kondisi Bagas?” tanya Pak Freddy.


 


 


  “Kata Dokter kita menunggu keajaiban saja, Pap. Mereka tidak punya obat untuk Mas Bagas. Tubuhnya sehat tapi jiwanya terguncang.” Charlotte menjelaskan pada Papa dan Mamanya.


 


 


  “Ini semua karena wanita itu! Hari ini dia juga berbuat ulah!” kesal Bu Lina.


 


 


  “Apa maksud Mama? Mama ketemu dengan Mbak Evo?”


 


 


   “Ya, Mama ketemu dengan wanita tidak malu itu,” gemas Bu Lina.


 


 


  “Di mana Mama ketemu dengan Mbak Evo?” tanya Charlotte. Charlotte takut Mamanya akan menyerang dan menyakiti Evo lagi.


 


 


  “Di perusahaan Pratama. Dia selingkuh lagi, Charlotte!” cerita Bu Lina.


 


 


  Charlotte mengerutkan dahinya. Dia bingung dengan cerita Bu Lina. Evan yang berada di sana pun tidak paham penjelasan Bu Lina.


 


 


  “Tadi Evo datang ke Perusahaan bersama dengan laki – laki. Pria itu mengaku bahwa Evo adalah calon istrinya. Lebih mengherankan lagi orang itu memberikan seluruh sahamnya pada Evo. Itu benar – benar gila,” terang Pak Freddy lagi.


 


 


  “Charlotte masih tidak paham dengan maksud Papa dan Mama. Siapa yang punya saham perusahaan?” tanya Charlotte memastikan.


 


 


  “Ada seorang pemuda bernama Bastian Karel. Dia memiliki saham terbesar pertama di perusahaan kita. Kita kalah Charlotte. Otomatis perusahaan di tangan lelaki itu.”


 


 


  “Lalu kenapa Papa dan Mama bilang semua saham tersebut milik Mbak Evo?” tanya Charlotte lagi.


 


 


  “Karena lelaki tersebut memberikan semua saham itu untuk Evolet Rebecca! Jadi perusahaan Pratama milik dia sekarang.”


 


 


  “Apa?” Charlotte tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


 


 


  “Bagas harus segera sadar. Dia yang bisa melawan Evolet Rebecca! Bagaimana pun caranya anak ini harus sadar!” ucap Pak Freddy.


 


 


*****


 


 


  Bastian dan aku sedang duduk di ruang tamu. Mbak Meli sedang pergi entah ke mana. Kami berdua sedang menikmati minuman yang telah disiapkan pelayan keluarga Bastian.


 


 


  “Kamu gila, Bas! Aku tidak menyangka kamu pemilik saham terbesar di perusahaan Pratama,” kataku tidak percaya.


 


 


  Bastian tertawa kecil, dia memang sudah suka bermain saham. Saham mana saja yang menurut Bastian bagus, pasti dia beli.


 


 


  “Sejak kapan kamu membeli saham tersebut?” tanyaku.


 


 


  “Sejak kamu memberikan pesan padaku,” ucap Bastian.


 


 


  Aku mencoba mengingat, kapan aku terakhir memberikan pesan pada Bastian? Ah, tidak aku ingat sama sekali.


 


 


  “Aku lupa. Apa pesan yang aku tulis untukmu?"


 


 


  Bastian menggelengkan kepala. Bastian mengambil telepon genggamnya lalu memberikan pesan singkat dari diriku.


 


 


  “Ya, ampun Bas! Aku tidak percaya dengan ini semua! Aku saja lupa dengan pesan tersebut,” jujurku.


 


 


    Bastian kembali memberikan senyumannya. Tampak giginya yang rapi membuatnya semakin tampan. Dia menyimpan kembali ponselnya tersebut, kemudian Bastian mengambil cangkirnya, lalu meneguk tehnya. Wangi teh membuat perasaan menjadi lebih tenang.


 


 


  “Aku sangat berterima kasih pada Tuhan karena Dia mengirimkan kalian ke sini untuk membantuku. Terima kasih untukmu, Bas,” kataku.


 


 


  “Tapi kamu yakin akan membuat aku menjadi pemimpin di perusahaan tersebut?” tanya aku tidak yakin.


 


 


  “Iya. Kamukan pacar aku,” goda Bastian.


 


 


  “Bastian jangan menggoda aku! Aku kaget dengan pernyataan kamu tadi pagi. Untung saja aku mengingat kalau ini hanya sandiwara. Lalu satu hal lagi,  mana bisa aku mengelola perusahaan Pratama?”


 


 


  “Aku pasti membantu kamu. Aku sangat yakin Pak Freddy san Bu Lina akan membalas perbuatan kita tadi pagi,” duga Bastian.


 


 


  Perkataan Bastian tepat sekali. Pak Freddy dan Bu lina pasti akan membalasnya. Harga diri mereka tercabik – cabik hari ini.


 


 


  “Bas…”


 


 


  “Apa?” tanya Bastian.


 


 


  “Aku ingin bertemu Bagas. Aku…, aku….”


 


 


Bastian memegang tanganku, kemudian dia berkata, “Sabar ya, Vo. Akan sulit rasanya untuk bertemu dengan Bagas sekarang ini. Tadi pagi aku mencari info tentang keadaan Bagas. Bagas masih tidak sadarlan diri.”


 


 


  “Apa?” kataku tidak percaya.


 


 


Hati ini rasanya sangat sedih mendengar berita dari Bastian. Bagas belum sadarkan diri semenjak beberapa hari yang lalu. Usahanya untuk menemui Bagas waktu itu ternyata tidak memberikan hasil yang begitu baik.


 


 


Bastian menatap Evo dengan tatapan sedih. Dia tahu bahwa Evo pasti sangat sedih mendengar informasi tersebut. Seandainya Bastian bisa bertemu dengan Evo lebih awal, pasti dia tidak akan melihat gadis ini menderita.


 


 


  “Jangan bersedih. Aku akan mencoba untuk mempertemukan kalian lagi, tapi jangan sekarang ya,” janji Bastian.


 


 


“Kenapa tidak sekarang?” tanyaku.


 


 


  “Aku harus cari ide membawa kamu ke rumah Bagas. Lagi pula ada satu masalah lagi yang harus kita selesaikan.”


 


 


  “Apa itu?” sahut aku.


 


 


  “Memulihkan nama baik kamu,” kata Bastian.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


*****


 


 


 


 


NEWS!!


 


 


Ada cerita baruku judulnya : CINTAI AKU, MR. KANEBO!


 


 


Silahkan dibaca, like, komment, bintang 5 dan share sebanyak - banyaknya. Terima kasih.


 


 


❤❤❤