MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Perjodohan



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


*****


Rumah keluarga Pratama


 


 


  Malam itu keluarga Hermawan datang ke kediaman Pratama untuk menengok Bagas. Dea memeluk Bu Lina saat tiba di rumah tersebut.


 


 


  “Bagaimana keadaan Bagas, Tan?” tanya Dea.


 


 


   “Masih seperti kemarin, belum ada perkembangan,” ucap Bu Lina lesu.


 


 


   Bu Lina dan keluarga Hermawan masih di ruang tamu. Dea beserta kedua orang tuanya belum masuk ke kamar Bagas untuk melihatnya.


 


 


   “Mengapa kalian tidak membawa Bagas ke rumah sakit?” tanya Pak Hermawan heran. Dia menatap Bu Lina dan Pak Freddy bergantian. Seharusnya mereka segera membawa Bagas karena kondisinya sudah semakin parah karena tidak sadarkan diri.


 


 


   Pak Freddy menghela napas panjang, dia ingin membawa anaknya ke rumah sakit, tapi apa daya keuangan mereka saat ini tidak stabil.


 


 


  “Benar kata Papa, Om. Nanti aku yang akan menjaga Bagas,” usul Dea.


 


 


  Tentu kedua orang tua Bagas tahu bahwa Dea tulus akan membantu menjaga Bagas karena wanita itu sangat mencintai Bagas.


 


 


“Akan aku pikirkan bila beberapa hari ke depan Bagas belum sadarkan diri,” janji Pak Freddy kepada keluarga Hermawan.


 


 


   Bu Lina berdiri lalu mengajak keluarga Hermawan untuk menjenguk Bagas ke kamarnya, “Ayo masuk ke kamar Bagas, pasti kalian inginkan melihat Bagas?”


 


 


    Dea dan kedua orang tuanya mengikuti Bu Lina. Ibu dari Bagas itu membuka pintu kamar anaknya. Bagas tampak seperti benda mati yang tidak bergerak. Bedanya Bagas masih bernafas.


 


 


   Bu Lina memegang tangan anaknya, lalu air matanya jatuh. Dia menangis sedih melihat anak laki – lakinya terkapar tak berdaya di tempat tidur. “Andai kamu mendengarkan Mama sayang, kamu tidak akan mengalami hal seperti ini.”


 


 


 


 


  Dea menggosok punggung Bu Lina, memberikan semangat pada ibu tua itu. Dea merasakan kepedihan yang ada di dalam hati Bu Lina. Mana ada ibu yang mau anaknya menderita seperti ini?


 


 


  “Tante sedih sekali, Dea. Perusahaan mengalami krisis, dan Bagas sedang dalam kondisi yang tidak baik,” cerita Bu Lina.


 


 


  “Apa maksud Tante perusahaan Pratama mengalami krisis?” tanya Dea bingung.


 


 


   “Kenapa kamu tidak cerita padaku Freddy?” Pak Hermawan bertanya pada Pak Freddy.


 


 


  “Iya. Beberapa hari ini kami mengalami omset yang kurang baik, tapi bisa kami atasi,” ucap Pak Freddy.


 


 


  Bu Lina menangis kembali, lalu dia melanjutkan ceritanya,”Seharusnya bisa diatasi, hiks, tetapi ada kejadian tadi pagi….”


 


 


Flash Back


 


 


“Saya ingin pacar saya menjadi pemimpin perusahaan Pratama,” pinta Bastian.


 


 


“Apa? Tidak! Mana mungkin itu!” tanya Pak Freddy tidak percaya.


 


 


“Terima kasih atas izinnya. Kebetulan pacar saya menunggu di depan. Saya akan menyuruh dia masuk.”


 


 


   Bastian melangkah keluar dari aula, lalu dia menuntun seorang wanita masuk.


  “Sepertinya akan menjadi seru,” ucap Mbak Meli seraya tersenyum. Bastian memang adik yang pintar untuk urusan menjatuhkan seseorang.


 


 


  Mata Pak Freddy dan Bu Lina terbelalak. Mereka tidak percaya degan apa yang dilihatnya. Wanita yang mereka lihat adalah sosok yang sangat dikenal kedua orang tersebut.


 


 


  Maureen yang duduk menjadi berdiri melihat sosok wanita yang dibawa oleh Bastian. Dia menggosok matanya secara perlahan, takut matanya sedang tidak awas.


 


 


  “Evo?” ucap Maureen, Pak Freddy, dan Bu Lina berbarengan.


 


 


“Perkenalkan pacar saya, Moy.” Bastian memperkenalkan diri pacarnya.


 


 


“Apa? Moy?” tanya Maureen tidak percaya. Bukankah dia Evo? Kenapa Evo berganti namanya menjadi Moy? Ada apa sebenarnya yang terjadi?


 


 


  Semua orang menatap ke arah Bastian dan wanita tersebut. Beberapa orang mengagumi kecantikan wanita yang bernama Moy itu. Moy menggunakan pakaian terusan berwarna merah, dengan sepatu hitam. Rambut panjang yang terurai panjang membuat kecantikan Moy sangat sempurna.


 


 


   “Apa – apaan ini? Sandiwara apa lagi yang mau kamu lakukan kepada kami Evolet?” Bu Lina terpancing emosinya. Dia tidak percaya bahwa yang di depan matanya bukan Evolet.


 


 


  “Bas, kamu lupa menyebutkan nama asli aku ke mereka,” kataku pada Bastian.


 


 


 


 


 


 


  Sontak perkataan Bastian membuat Pak Freddy, Bu Lina maupun Maureen tambah terkejut. Mereka bertiga tidak menyangka kalau sekarang Evolet pemilik perusahaan Pratama.


 


 


  “Halo Tante Lina dan Om Freddy. Apa kabar?” sapaku.


 


 


“Kau? Kau?” geram Bu Lina.


 


 


“Ya. Saya Evolet Rebecca. Pemilik saham terbesar di perusahaan Pratama,” kataku sambil tersenyum.


 


 


“Saya tidak setuju kalau wanita ****** ini menjadi pemimpin perusahaan ini!” kata Bu Lina tidak setuju.


 


 


Kembali ke dunia nyata.


  Selesai cerita Bu Lina menangis kembali.


“Apa? Apa aku tidak salah dengar? Evo jadi pemimpin perusahaan Pratama?” suara Dea melengking. Dia tidak percaya dengan cerita Bu Lina.


 


 


 


 


  “Wanita itu memang wanita berkepala dua! Bisa – bisanya dia mendapatkan lelaki dalam sehari. Luar biasa!” Bu Heni ikut emosi.


 


 


  Pak Hermawan berpikir dan mencerna setiap cerita yang disampaikan Bu Lina. Pak Hermawan tidak seperti istri dan anaknya yang terpancing emosi. Malah dia merasa ada hal yang janggal dari kejadian ini.


 


 


  “Sudahlah, Lin. Kita masih bisa mengatasi. Kita pakai saja dahulu uang 45 milyar yang diberikan oleh beberapa orang tadi pagi,” pinta Pak Freddy.


 


 


  “Berapa uang yang kurang?” tanya Pak Hermawan.


 


 


  Walau Pak Hermawan merasa ada yang aneh, tapi dia masih mengasihi Pak Freddy dan keluarganya. Pak Freddy sudah dianggapnya seperti saudara.


 


 


  “Sudahlah, Her. Kami bisa mengatasi masalah ini,” tolak Pak Freddy.


 


 


  Bu Lina yang mendengar penolakan dari Pak Freddy tidak tinggal diam. Betapa bodoh Pak Freddy menolak bantuan dari Pak Hermawan.


 


 


  “Jangan dengarkan, Freddy, Her! Kami sangat butuh bantuan kamu. Kami kurang 55 milyar untuk melaksanakan proyek baru kami,” ucap Bu Lina.


 


 


  Pak Freddy tidak dapat berkata apa – apa mendengar ucapan Bu Lina, istrinya. Dia sangat yakin kalau drama mereka barusan akan berhasil meluluhkan hati Pak Hermawan.


 


 


  “Kalian jangan khawatir, aku akan segera memberikan dana tersebut. Besok pagi akan aku suruh anak buahku memberikan cek kepada kalian,” kata Pak Hermawan membuat keduanya merasa senang.


 


 


  Pak Freddy menghampiri Pak Hermawan. Dia memeluk Pak Hermawan dengan erat. “Kamu memang sahabat yang paling baik. Terima kasih, Her!”


 


 


  “Jangan sungkan. Kalian sudah saya anggap lebih dari sahabat!” ucap Pak Hermawan.


 


 


  “Apalagi sebentar lagi Dead an Bagas akan menikah. Kita calon besan,” ujar Bu Heni sambil tersenyum.


 


 


  Bu Lina bangkit berdiri, lalu menghampiri Bu Heni. Dia memeluk Bu Heni dengan perasaan bahagia. Kedua keluarga itu sepakat untuk menikahi anak – anak mereka.


 


 


   “Tapi…,” ragu Pak Hermawan.


 


 


  Dea memandang Pak Hermawan dengan tatapan sedih. Dia tidak mau mendengar kata tidak dari mulut Papanya. Pak Freddy yang peka akan hal itu langsung berkata pada Pak Hermawan, “Tenang saja Bagas pasti akan setuju dengan pernikahan ini.”


 


 


  Pak Hermawan mengangguk, Dea tersenyum senang. Tanpa mereka sadari ada orang yang mendengarkan pembicaraan mereka dari luar, yaitu Charlotte. Dia sangat sedih karena Bagas belum sadar tapi mereka merencanakan perjodohan antar kedua keluarga.


 


 


 


 


 


 


 


 


*****


 


 


NEWS!!


 


 


Ada cerita baruku judulnya : CINTAI AKU, MR. KANEBO!


 


 


Silahkan dibaca, like, komment, bintang 5 dan share sebanyak - banyaknya. Terima kasih.


 


 


❤❤❤