MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Sidang Skripsi Charlotte



Hai, hai! Bagaimana kabar kalian? Bulan ini MOY akan segera tamat. Tetap setia ya. Terima kasih telah menunggu kisah MOY. Jangan sedih dan jangan baper ya menunggu tamatnya kisah MOY. Akan ada yang tidak akan terduga dari kisah ini. Penasaran? Jangan lupa kasi vote dan like yaa.


*****


Kediaman Bastian.


 


 


   Siang sudah berganti malam. Sejak siang pula Bastian masih tertidur pulas. Aku tetap di samping Bastian untuk menjaganya. Aku menyentuh pipinya dengan lembut. Bastian pasti sangat lelah mencarinya semalaman. Aku merasa sangat berdosa karena membuat Bastian seperti ini.


 


 


  “Moy, Moy, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku,” Bastian mengigau.


 


 


  Mendengar ucapannya, aku langsung kaget. Mataku sayu memandang Bastian. Apa aku sangat melukai hatinya? Apa dia sangat mencintaiku?


 


 


  “MOY!” teriak Bastian, lalu dia terbangun.


 


 


  “Bas? Ada apa?” tanya aku panik.


 


 


  Bastian bangun dari tidurnya. Dia melihatku kemudian memeluk tubuhku. Aku diam tidak melepaskan pelukan Bastian.


 


 


  “Berjanjilah padaku, Vo. Jangan tinggalkan aku seperti kemarin. Seandainya kamu mau pergi, tolong pamit denganku,” pinta Bastian.


 


 


  “Iya, Bas. Maaf, maafkan aku.”


 


 


  Bastian melepaskan pelukannya dariku. Dia tidak ingin Evo meninggalkannya. Bastian mau Evo selalu disampingnya, tapi ia sangat tahu kalau cinta tidak boleh egois.


 


 


  Pelayan masuk ke kamar Bastian, kemudian berkata, “Permisi, Tuan, dan Nona makan malam sudah siap. Apakah mau dibawa ke sini?”


 


 


  “Nanti kami akan ke ruang makan. Kamu boleh pergi,” perintah Bastian. Pelayan tersebut pun pergi setelah mendengarkan perintah.


 


 


  Bastian mencoba bangkit berdiri, tapi badannya masih belum kuat untuk berdiri. Bastian sempoyongan.


 


 


  “Bastian!” teriakku lalu menangkap Bastian yang hampir jatuh. Aku membantu Bastian kembali ke tempat tidur.


 


 


  “Sebaiknya kamu makan di sini. Badanmu masih lemah. Aku akan menyuruh pelayan untuk mengambil makanannya untukmu.”


 


 


  Bastian mengangguk setuju. Kondisinya saat ini memang tidak begitu baik. Kemarin malam dia ingat sekali mencari aku sampai pagi. Padahal kemarin malam hujan sedang turun.


 


 


  “Vo,” panggil Bastian. Pria itu sepertinya tidak rela kalau aku pergi.


 


 


  “Aku akan kembali, tenang saja,” kataku.


 


 


  Pelayan datang membawa makanan untuk kami. Akupun menempati janjiku untuk kembali pada Bastian. Kamipun makan malam di kamar Bastian.


 


 


*****


Seminggu kemudian, kampus Charlotte.


 


 


  Hari ini adalah hari sidang untuk Charlotte. Charlotte dan Evan tiba di kampus pukul 08.00 padahal ujian sidang akan di mulai pukul 09.00.


 


 


  “Sayang, aku benar – benar gugup,” kata Charlotte. Tangan Charlotte mulai dingin. Hari ini Charlotte sangat gugup.


 


 


  Evan menggenggam tangan Charlotte. Dia mencoba menenangkan hati kekasihnya itu. Dulu Evan pernah merasakan apa yang dirasakan Charlotte saat ini. Kegugupan menghantui dirinya, tapi dulu karena ada Charlotte semua dilalui dengan mudah.


 


 


  “Tenang saja. Kalau kamu berhasil, aku akan memberikan sebuah hadiah untukmu,” janji Evan untuk membuat Charlotte bersemangat.


 


 


  Setengah jam berlalu, Charlotte masih berusaha untuk mempelajari buku skripsinya. Dia harap segera lulus dan pergi dari kampus ini.


 


 


  “Charlotte!!” panggil seseorang. Seseorang itu adalah Evo.


 


 


  “Mbak Evo? Kenapa ke sini?” ucap Charlotte terkejut. Charlotte tidak menyangka kalau diriku akan datang ke kampusnya. Semalam Evan menghubungiku, dia memberitahu kalau Charlotte hari ini akan sidang. Walau aku dan Bagas tidak bersama, aku sudah menganggap Charlotte sebagai adikku.


 


 


  “Hai, sayang. Bagaimana perasaanmu?” tanyaku kemudian memeluknya.


 


 


  Charlotte menghela napas yang panjang. Ternyata begini rasanya sidang skripsi. Sudah beberapa kali dia menghela napas karena gugupnya menghadapi sidang ini. Apalagi dosen pembimbingnya Pak Dirly pernah berbuat hal yang buruk padanya.


 


 


  Walau begitu gugup, Charlotte senang dengan kehadiran Evo. Evo seperti kakak kandungnya sendiri. Orang tuanya saja lupa kalau hari ini adalah hari sidang Charlotte, begitu juga Mas Bagas. Ketika Charlotte pergi, Bagas masih tertidur pulas.


 


 


  “Aku sangat gugup, Mbak. Seperti dilamar seorang pria saja,” ucap Charlotte.


 


 


 


 


  “Itu hanya perumpaman sayang. Aku sudah bilang tadi!” Charlotte mencoba mengklarifikasi.


 


 


  “Sudah, sudah. Jangan bertengkar,” aku mencoba melerai pertengkaran kecil mereka. Aku memberikan sebuah plastik berisi makanan untuk mereka. Aku yakin mereka berdua belum sarapan.


 


 


  “Terima kasih, Mbak Evo. Kamu baik sekali padaku,” ujar Charlotte terharu.


 


 


  Beberapa menit setelah itu Bastian masuk. Charlotte dan Evan melihat kedatangan Bastian di kampus ini.


 


 


  “Kenapa lama?” tanyaku.


 


 


  “Aku sempat tersesat. Apa kamu sudah bertemu dengan yang kamu cari?” tanya Bastian.


 


 


  “Sudah. Charlotte, Evan kenalkan ini Bastian. Bastian mereka Charlotte dan Evan,” kataku memperkenalkan mereka.


 


 


  Bastian menjabat tangan Charlotte dan Evan bergantian. Dia memberikan senyum terbaiknya untuk mereka. Bastian tahu kalau yang dikunjungi aku dan dia adalah adik Bagas.


 


 


  “Semoga kamu berhasil, Char,” ucap Bastian.


 


 


  “Terima kasih, Mas Bastian. Aku tidak menyangka kamu akan datang ke sini bersama Mbak Evo,” ungkap Charlotte jujur.


 


 


  “Tidak usah sungkan. Aku melakukan ini karena Evo.”


 


 


  15 menit lagi Charlotte akan segera masuk ke ruang sidang. Para penguji sidang baru masuk ke dalam ruangan. Charlottepun mengikuti  masuk ruangan untuk mempersiapkan alat tempurnya untuk mengalahkan para dosennya.


 


 


  “Good luck, sayang,” ucap Evan lalu memberikan kecupan ringan di pipinya.


 


 


  “Semangat!” kataku memberikan semangat pada Charlotte. Perempuan itu tersenyum, sepertinya semangat yang aku berikan sudah tersalur ke Charlotte.


 


 


  “Charlotte!” panggil seseorang sambil berlari. Bagas datang tepat waktu. Charlotte belum masuk ke ruangan.


 


 


  Charlotte berhenti melangkah, Bagas menghampiri adikknya itu lalu memeluknya.


 


 


  “Maaf, Mas Bagas terlambat. Alarm Mas tadi mati. Semoga berhasil,” ucap Bagas kepada adik satu – satunya itu.


 


 


  Charlotte semakin bersemangat untuk mengikuti ujian sidang ini. Bagas adalah kakak kesayangan Charlotte. Dia selalu berharap Bagas datang dan memberikan semangat padanya saat sidang. Untung saja harapannya dia dikabulkan.


 


 


  Charlotte melepaskan pelukan Bagas. Dia masuk dengan penuh percaya diri. Charlotte ya,kin bisa mengalah para dosen pengujinya kali ini.


 


 


  “Terima kasih, Mas, kamu datang tepat waktu. Tadi Charlotte sempat sedih kamu tidak ada,” jujur Evan.


 


 


  “Sepertinya dia tidak terlalu sedih, karena ada kalian,” ucap Bagas melirik ke arah diriku.


 


 


  Pasti Bagas kaget melihat kedatanganku di sini untuk memberi Charlotte semangat. Bagas menghampiriku yang sedang duduk bersama Bastian.


 


 


  “Terima kasih sudah datang ke sini memberikan semangat pada Charlotte,” kata Bagas,”tapi sepertinya kamu harus pulang, aku takut calon istriku akan marah melihat kehadiranmu di sini.”


 


 


  Perkataan Bagas membuat hatiku terluka. Dari tatapan matanya Bagas tidak menginginkan kehadiranku di sini.


 


 


  Evan yang mendengar ucapan Bagas merasa kalau suasana yang tadinya kondusif menjadi tidak baik. Sepertinya akan terjadi peperangan diantara Bagas dan Evo.


 


 


  “Tenang saja. Calon istrimu tidak akan marah padaku, karena aku membawa calon suamiku ke sini.”


 


 


*****


Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya. Minta tolong banget dilike ya.


 


 


❤❤❤