MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Tawaran Pak Hermawan.



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


*****


Sore hari rumah keluarga Hermawan.


Seperti perjanjian Bagas pada Pak Hermawan, Bagas berkunjung ke rumah Pak Hermawan.


Ting, tong.


Bunyi bel pintu rumah keluarga Dea. Dea membuka pintu tersebut, dia yakin yang datang adalah Bagas.


"Hai, Dea," sapa Bagas. Benar dugaan Dea yang datang adalah Bagas.


"Silahkan masuk, Gas. Naik apa kamu ke sini?" tanya Dea. Mereka berdua masuk.


"Mobil pribadiku yang lama. Papa dan Mama tidak tahu aku punya mobil itu. Jadi mereka tidak menyitanya," cerita Bagas.


"Oh, Baguslah. Aku pikir kamu naik taksi. Papa ada di ruang kantornya. Kamu sudah ditunggu sejak tadi," ucap Dea mempersilahkan Bagas.


"Alexandrea," panggil Bagas mencegah kepergian Dea.


"Apa?" tanya Dea.


"Maafkan aku ya, aku tidak bermaksud menyakiti kamu hari itu," ujar Bagas.


"Tenang saja, Bagas. Dea selalu memaafkan Bagas, tapi Bagaslah yang tidak pernah memaafkan Dea karena kesalahan Dea dulu," ucap Dea.


"Kamu salah, Dea. Aku udah maafin kamu," tegas Bagas.


"Kalau Bagas memaafkan Dea, pasti kita masih menjadi sepasang kekasih sekarang," jelas Dea lagi. Mendengar kata - kata Dea Bagas menjadi diam.


"Sudahlah, Papa sudah menunggu Bagas," ujar lalu pergi. Bagaspun kemudian masuk ke ruangan Pak Hermawan.


Tok, tok, tok.


"Masuk," pinta dari dalam. Bagaspun masuk ke ruangan tersebut.


"Bagas! Senang sekali, Om melihat kamu di sini. Sini, sini duduk di sebelah Om," ujar Pak Hermawan yang sedang duduk di sofa mengecek beberapa surat yang belum diselesaikannya di kantor tadi.


"Halo, Om," sapa Bagas lalu duduk di sebelah Pak Hermawan. Oak Hermawan langsung menghentikan pekerjaannya.


"Bagaimana kabarmu? Om dengar kamu sudah tidak bekerja lagi di perusahan papamu?" tanya Om Hermawan.


"Iya, Om. Papa dan Mama marah dan memecat Bagas. Bagas juga diusir dari rumah, tapi memang Bagas pantas menerimanya karena Bagas telah menyakiti mereka. Bagas juga tidak becus dalam mengelola perusahaan," jelas Bagas.


"Sudahlah, sudah. Om mengerti sekali perasaan Bagas. Kalau boleh Om mau minta tolong sama Bagas," ucap Om Freddy pada Bagas.


"Apa itu Om? Apa yang bisa Bagas bantu?" tanya Bagas.


"Beberapa hari yang lalu Om baru memecat kepala divisi keuangan Om karena dia terbukti bersalah telah korupsi di kantor," cerita Pak Hermawan.


"Apa Om Hermawan sudah melaporkan ke polisi untuk kasus ini?" tanya Bagas.


"Tentu saja sudah. Om langsung melaporkan dia ke polisi, karena dia sudah merugikan perusahan," jelas Pak Hermawan pada Bagas.


"Lalu apa yang bisa Bagas bantu?" Bagas mengulang pertanyaannya.


"Maukah Bagas menolong Om Hermawan untuk menggantikan posisi tersebut?" tanya Om Hermawan.


"Saya? Apa Bagas tidak salah dengar, Om?" tanya Bagas yang tidak percaya diberikan posisi seberat itu.


"Tidak, Bagas tidak salah mendengar. Bagas itu sudah Om anggap anak Om sendiri. Om sangat bingung mencari orang yang tepat untuk jabatan ini. Om sangat yakin Bagas pantas mendapatkan jabatan ini," Pak Hermawan menjelaskan dengan panjang lebar.


"Tapi, Om Her, Bagas tidak pernah bekerja dalam bidang tersebut. Takutnya malah mengacaukan perusahan Om," jujur Bagas. Ya, biasanya Bagas hanya memerintah dan memutuskan.


"Om sangat yakin pasti Bagas bisa. Bagas bisa minta tolong Dea kalau memang ada yang tidak dipahami. Bagas mau ya bantu Om. Jabatan ini harus didapat orang yang benar, kalau tidak perusahan akan hancur." bujuk Pak Hermawan.


Bagas diam sejenak mencoba pikirkan keputusan yang baik.


"Apa Bagas sudah mendapatkan pekerjaan makanya menolak tawaran Om?" tanya Oak Hermawan pada Bagas.


Bagas menggelengkan kepala kemudian menjawab," Bagas belum mendapatkan pekerjaan, Om."


"Kalau begitu terima pekerjaan dari Om ya. Kali ini tidak ada persyaratan apa pun. Om sangat berharap kalau Bagas menyetujuinya," pinta Pak Hermawan


Bagas memikirkan sesaat. Bagas mengerti maksud Pak Hermawan. Memang sangat sulit untuk mencari orang yang kita percayai. Apalagi untuk jabatan yang menjadi tombak dalam perusahaan.


"Jadi bagaimana, Nak Bagas? Apa kamu bersedia menolong, Om?" tanya Pak Hermawan untuk kesekian kalinya. Pak Hermawan benar - benar membutuhkan jawab dari Bagas.


"Baik, Om. Bagas akan bantu, tapi Bagas mohon untuk dibimbing oleh Om mau oun Dea," pinta Om Hermawan.


Pak Hermawan menepuk bahu Bagas. Dia berkata pada Bagas," Om senang karena kamu mau bantu kesusahan, Om."


"Bagas yang terima kasih sama Om karena Bagas diberikan kesempatan untuk membantu Om Hermawan," sopan Bagas. Dari balik pintu luar, Dea mendengar percakapan tersebut dan Dea sangat senang. Semoga Bagas bisa diluluhkan lagi oleh Dea.


*****


Kampus Charlotte.


Charlotte sedang asyik merevisi skripsinya. Seharusnya dua hari yang lalu hasil revisian sudah boleh didaftarkan untuk diuji, tapi Charlotte belum sempat untuk merapikan.


"Oh, ternyata calon orang miskin baru ada di sini rupanya," sindir Siska yang melihat ada Charlotte di kantin.


"Tapi aku mau bertengkar, bagaimana donk?" tanya Siska nyolot. Setelah berkata seperti itu Siska mengambil air minum dari tasnya lalu dia menjatuhkan air minum tersebut ke laptop dan buku skripsi Charlotte.


"Siska! Apa yang kamu lakukan?" bentak Charlotte. Dia tidak mengerti dengan jalan pikiran Siska.


"Oh, maaf tangan aku kepleset tadi," ledek Siska.


Charlotte yang begitu marah langsung melayangkan tangannya ke pipi Siska.


"Jaga kelakuan kamu, Siska! Kamu merusak laptopku dan buku skripsiku!" bentak aku lagi.


Siska terkejut dengan perbuatan Charlotte. Dia mengelus pipinya," Dasar wanita gila! Berani kamu menampar aku?"


"Lebih dari tamparan akan aku berikan pada kamu, kalau kamu berani mengangguku lagi!" ancam Charlotte tidak takut dengan Siska.


"Kamu?!" geram Siska. Siska mencoba menjambak rambut Charlotte tetapi dihalangi oleh Evan.


"Evan?!" Siska terkejut.


"Ada apa dengan kamu Siska? Kenapa kamu selalu mencari masalah dengan Charlotte?" tanya Evan kesal.


"Kamu masih tanya padaku seperti itu. Karena dia yang merebut kamu dari sisi aku. Dia pelakor!" tuduh Siska.


"Jangan sembarangan bicara tentang Charlotte!," perintah Evan.


"Memang kenyataankan? Charlotte Pratama adalah wanita murahan yang bisanya merebut kekasih orang. Adiknya pelakor, kakaknya suka mainin perasan perempuan. Kakak sama adik sama saja. Sama - sama manusia tidak punya hati!" geram Siska. Siska tidak teroma kalau Evan menampar dirinya.


"Apa kamu bilang? Apa yang kamu katakan tentang Mas Bagas? Jangan sembarangan bicara dengan mulut kotormu! Dasar penyebar fitnah!" marah Charlotte.


"Ini bukan fitnah tapi kenyataan! Kakak kesayangan kamu itu dipecat dan diusir dari rumah oleh Papa dan Mamamu. Terima saja kenyataan itu!" ucap Siska lagi.


Terjadi perdebatan yamg sengit antara Siska dan Charlotte.


Dulu Siska dan Charlotte pernah dekat tapi karena kesalahpahaman mereka menjadi bertengkar seperti ini. Siska mengira bahwa yang merebut kekasihnya, Evan adalah dirinya. Padahal Evan sendiri yang sudah tidak nyaman dengan Siska. Keluarga Siska yang selalu menyepelekan Evan membuat Evan tidak betah dengan Siska.


"Cukup, Siska!"pinta Indra.


"Kenapa kamu selalu membela wanita ini? Kenapa?" tanya Siska kesal.


"Kamu salah, Siska. Selama ini kamu salah menganggap kalau Charlottelah yang merebut aku dari kamu. Sebaiknya aku ceritakan semua pada kamu biar kamu tahu kejadian sebenarnya," ujar Evan.


"Evan, jangan. Sudah cukup. Kita pulang ya, Van," pinta Charlotte.


"Apa maksud kamu?" tanya Siska.


FLASH BACK


Dua tahun yang lalu.


Siska dan Evan adalah pasangan kekasih. Charlotte merupakan sahabat Siska. Siska selalu menceritakan Evan sang kekasih kepada Charlotte. Siska sangat mencintai Evan, tapi suatu hari ada sebuah kejadian yang membuat Evan memutuskan meninggalkan Siska.


Saat itu Siska dan Evan mengalami kecelakaan. Siska koma dan Evan yang membawa mobil dituntut oleh keluarga Siska karena lalai menyetir mobil.


"Saya akan memasukkan kamu dalam penjara karena kamu telah membuat Siska koma!" marah Mama Siska.


"Maaf, Tante, Evan salah, tapi Evan mohon jangan laporkan Evan ke polisi. Evan takut nanti Papa yang punya pemyakit jantung akan kena serangan," mohon Evan.


"Tidak bisa! Kamu harus segara saya masukkan ke dalam penjara!" teriak Mama Siska.


Saat itu Charlotte juga ada di rumah sakit. Ma Siska terus menjerit dan meminta Evan untuk dipenjarakan. Padahal Evan yang juga terluka saat itu.


"Sabar, Mama. Kita punya cara lain. Begini saja Evan. Om minta kamu tidak usah datang menemui Siska lagi. Kamu tidak dan keluargamu tidak pantas dengan keluarga kami. Kamu tidak kaya dan hanya akan membuat Siska menderita saja," ucap Papa Siska dengan keras.


Mendengar ucapa Papa Siska, hati Evan terluka. Memang Evan tidak sekaya Siska dulu. Saat itu Evan baru merintis usahanya, usaha Papa Evan juga lagi merosot.


"Benar ucapan Papa Siska, pergi kamu dari sini! Kamu tidak pantas mendapatkan Siska. Dia terlalu berharga untuk lelaki seperti kamu!" usir Mama Siska.


Evan yang kakinya pincang pergi dari hadapan kedua orang tua Siska. Charlotte mengejar Evan. Charlotte membantu Evan dengan memapah dia.


"Terima kasih, Char. Aku seperti orang yang tidak berguna ya hari ini," ucap Evan yang masih di papah oleh Charlotte.


"Sudah, jangan banyak bicara. Aku antar kamu pulang ya? Di mana rumahmu?" tanya Charlotte.


"Aku tinggal di rumah kontrakan. Papa dan Mama tidak ada di jakarta. Mereka sedang di luar kota. Antarkan aku ke administrasi ya, aku mau bayar dulu." pinta Evan.


Charlotte memapah Evan ke tempat duduk. Lalu Charlotte berkata pada Evan,"Sudah, kamu diam dulu di sini. Aku yang akan bayar."


"Tapi, Char, aku punya uang kok buat bayar rumah sakit," ucap Evan.


"Aku sahabat Siska. Pacar Siska berarti sahabat aku. Jadi tolong tidak usah banyak bicara," kata Charlotte. Mendengar ucapan Charlotte hati Evan sedikit nyaman. Baru kedua kalinya Charlotte bertemu dengan Evan tapi Charlotte sudah menganggap Evan sahabatnya.


"Oke, selesai. Terima kasih sudah bekerja sama denganku untuk tidak membantah. Ayo kita segera pulang. Aku akan membersihkan lukamu dan memberi kamu obat," perintah Charlotte.


Evan kembali memapah Charlotte. Lalu dia berkata pada Charlotta," Terima kasih sahabat baruku."


"Tidak gratis ya, kamu harus menembus ini semua dengan segera sembuh," pinta Charlotte. Evan tersenyum menanggapi ucapan wanita itu. Charlotte benar -benar sahabat sejati Siska.


*****


Hai kamu, iya kamu! Terima kasih sudah membaca kisah Evo. Tetap setia ya membacanya. Evo tunggu kalian di episode selanjutnya. Jangan lupa gabung juga di group chat aku. ❤❤❤