
Hai, hai! Bagaimana kabar kalian? Bulan ini MOY akan segera tamat. Tetap setia ya. Minta like dan votenya ya karena MOY mau tamat. Hehehehe. Selamat membaca.
*****
“Apa?”
“Maaf! Maafkan aku, Vo! Aku beneran tidak tahu kalau Bastian adalah Karel,” ucap Maureen meminta maaf. Dia menundukkan kepalanya.
Evo mulai berpikir, kemudian melanjutkan lagi kata – katanya, “Kenapa Bastian bisa tahu?”
Maureen menceritakan makan siang mereka waktu itu. Bastian menanyakan segala sesuatu kepada Maureen.
Evo menggeleng kepala, tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Maureen sahabatnya malah membongkar rahasianya pada Bastian.
“Sudahlah, tidak masalah. Sudah terlanjur. Lagi pula kita tidak tahu kalau Bastian adalah Karel, tapi tunggu dulu. Kenapa Bastian ingin tahu tentang aku?” kataku penasaran.
Maureen meminum orange juice yang sudah tersedia di meja mereka. Dia merasa keringatan karena takut Evo akan marah padanya. Untungnya Evo punya hati mulia sehingga tidak marah pada Maureen.
“Aku rasa karena dia tahu dia Karel, jadi dia ingin menggali informasi masa lalu kamu kepadaku.”
“Dan kamu menceritakan semuanya pada Karel eh maksudku Bagas?”
Maureen nyengir sambil mengangguk kepala.
“Maureen, kamu sungguh luar biasa. Untung saja aku tahu ini sekarang, kalau aku tahu saat Bastian membongkar identitasnya, aku akan merasa sangat malu.”
“Kenapa kamu harus malu? Bukankah itu kenyataannya? Bukankah kamu menunggunya selama dua belas tahun? dan bukankah sekarang dia mencintaimu juga?” tanya Maureen bertubi – tibu.
“Bukan itu masalahnya, Reen!” Evo mulai menyandarkan dirinya di kursi. Tidak segampang itu permasalahaan saat ini. Bastian memang baik sama Evo, tapi bukan berarti cinta ini mudah untuk dijalani.
“Apa yang kamu pikirkan dibenakmu itu, Vo?” Maureen mulai keki dengan sahabatnya. Dua belas tahun bukan waktu yang lama untuk menunggu Karel. Pria itu sudah di deoan mata, harusnya Evo segera menyambutnya dengan suka cita.
“Aku….”
“Jangan bilang kamu masih mencintai Bagas! Itu konyol sekali, Vo!” keluh Maureen.
Bagi Maureen, Evo manusia bodoh kalau menerima Bagas untuk saat ini. Ada pria yang sangat mencintai dia, apalagi Evo menungguk dua belas tahun lamanya.
Evo menggigit jarinya. Dia tidak bisa mengatakan ini semua pada Maureen. Rasa cinta pada Bagas suda perlahan memudar dalam hati Evo, sekarang cinta Evo mulai berkembang pada seseorang. Ya, dia adalah Bastian.
“Apa menurut kamu Bastian akan menerima cintaku?” tanya Evo pada akhinya setelah beberapa kali dia berpikir.
“Kenapa kamu meragukannya? Bukankah kamu bilang kalau Bastian pernah mengutarakan perasaannya padamu?” kata Maureen mencoba mengingatkan Evo.
Evo tidak lupa akan hal itu, tapi saat Bastian mengungkapkan semalam kalau dia hanya menganggap Evo sebagai sahabat rasanya itu sangat menyakitkan.
“Reen, aku rasa aku tidak bisa bersama Bastian.”
Maureen mendekatkan dirinya pada Evo. Dia memegang pundak Evo sambil menatap Evo dengan tajam.
“Jawab pertanyaanku dengan jujur! Bukankah dia pria yang sangat kamu cintai? Bahkan dua belas tahun penantianmu pada lelaki itu!”
Evo terdiam, sejak tadi ucapan Maureen sangat tepat, tapi perasaan Evo mengatakan kalau Evo tidak pantas untuk Bastian. Evo mengingat bagaimana tubuhnya sudah disentuh oleh Bagas, walau dulu nama Bagas pernah ada di dalam hatinya. Sekarang Bagas lebih memilih bersama Dea, dan Evo tidak mau berjuang lagi untuk Bagas. Bagas akan segera menikah dengan Dea.
“Vo, pikirkanlah baik – baik tentang Bastian. Aku merasa kalau Bastian sangat mencintai kamu. Berikan kesempatan buat Bastian untuk membuktikannya lagi.”
Evo kembali diam. Dia tidak bisa berkata apa – apa lagi.
“Aku takut cintaku pada Bastian hanya sesaat saja. Aku tidak mau malah membuat dia semakin menderita, Reen. Rasanya aku akan menjadi wanita yang sangat jahat pada Bastian. Berpisah dengan Bagas, lalu kembali dengan Bastian. Bukankah itu sangat kejam?”
Sekarang giliran Maureen yang terdiam. Maureen sudah menyerah dengan perdebatan ini. Kisah cinta Evo selalu rumit baginya.
“Terserah padamu, Vo. Aku akan selalu mendukungmu,” kata Maureen sambil tersenyum.
Drt… Drtt…
“Siapa?” tanya Maureen penasaran.
“Bastian,” jawab Evo.
“Panjang umur sekali dia. Sudah cepat terima telepon darinya.”
Evo pun menerima telepon genggam dari Bastian. Entah kenapa semenjak Bastian memberitahu dia adalah Karel, perasaan Evo pada Bastian semakin bertumbuh, tapi Evo selalu menyangkal perasaan ini. Dia merasa kalau cinta ini hanya cinta sesaat.
“Ada di mana kamu?” tanya Bastian.
“Aku makan siang dengan Maureen. Ada apa?”
“Aku sudah selesai rapat. Tadinya ingin mengajak kamu makan siang, tapi sepertinya sudah ada yang menemani kamu. Aku merasa lega,” kata Bastian disebrang sana.
“Kami belum selesai makan. Datanglah ke sini dan bergabung bersama kami.”
“Di mana?”
Evo menyebutkan lokasi mereka berdua berada. Bastian segera menyusul Evo dan Maureen ke lokasi tersebut.
“Ada apa?” tanya Maureen penasaran.
“Bastian mau ke sini. Dia mau makan bareng kita.”
“Bukan kita, tapi makan bareng dengan kamu saja,”ledek Maureen.
Evo dan Maureen tertawa mendengar ledekan Maureen.
Beberapa saat kemudian Bastian datang. Dia duduk di samping Evo,. Mengendorkan dasinya karena Bastian merasa lelah hari ini.
“Ada apa? Kenapa kamu terlihat begitu lelah?” tanya Evo khawatir.
“Benar kata Evo, tumben bosku terlihat lelah.”
Bastian tidak menjawab pertanyaan kedua gadis itu. Dia memanggil pelayan, lalu memesan makanan untuk dia. Setelah selesai barulah Bastian menjawab,”Aku tidak mengira kalau rapat tadi kliennya sungguh menyusahkan diriku. Harusnya aku menolaknya lebih awal.”
“Apa begitu rumit ya jadi bos?” tanya Evo.
“Aku rasa begitu. Aku jadi manager saja udah pusing, apalagi Bastian yang memiliki setengah lebih perusahaan Pratama. Dia harus berjuang untuk para karyawannya.”
“Kamu semakin cerdas, Maureen!” puji Evo.
Maureen hanya memberikan senyumannya, ketika mendengar pujian dari mulut sahabatnya itu.
“Bagaimana kegiataanmu hari ini?” tanya Bastian.
“Aku tadi menyelesaikan naskah novelku, Bas. Lumayan BAB 2 selesai hari ini.”
Bastian mengelus kepala Evo dengan penuh kasih sayang. Dia rindu pada Evo, karena seharian ini dia meninggalkan Evo di kantor.
“Apakah hari ini ada yang mengganggumu?” tanya Bastian lagi.
“Aku aman, kamu jangan khawatirkan aku ya,” jawab Evo dengan tatapan mata berbinar – binar. Diperhatikan seperti itu aja membuat Evo bahagia.
Maureen yang berada di situ, hanya bisa tersenyum kecut melihat kemesraan yang mereka perlihatkan berdua di depannya. Maureen merasa dikacangin oleh sepasang calon kekasih ini.
Maureen menggaruk kepalanya. Evo, Evo jelas sekali kamu mencintai Bastian! Pakai menyangkal lagi! Bagaimana caranya aku membantu mereka bersatu ya? Gemes banget lihat mereka seperti ini.
Kira - kira para pembaca gemes juga tidak sama Evo dan Bastian?
*****
Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya. Minta tolong banget dilike ya.
❤❤❤