
Hai, hai! Bagaimana kabar kalian? Bulan ini MOY akan segera tamat. Tetap setia ya. Minta like dan votenya ya karena MOY mau tamat. Hehehehe. Selamat membaca.
*****
Keesokan harinya.
Suara burung yang merdu membangunkan Evo di pagi hari. Evo membuka matanya dengan perlahan. Kepalanya terasa sakit karena dia menangis semalam. Dia melihat ke sebelah kanannya, ada sosok Bastian yang menemani tidurnya.
Evo memandangi wajah Bastian terus menerus. Dia memegang wajah Bastian yang sedang tidur. Wajah Bastian begitu polos dan lugu ketika sedang tidur.
Tadi malam Bastian mengungkapkan perasaannya pada Evo, begitu juga dengan Evo, dia menyadari bahwa rasa cintanya sama Bastian tetap ada.
Tiba – tiba Bastian membuka matanya. Evo terkejut, lalu menarik tangannya dari wajah Bastian. Bastian tersenyum melihat wajah malu dari Evo yang tertangkap basah tertangkap basah menyentuh dirinya.
Bastian mengecup dahi Evo, dan berkata, “Selamat pagi. Apa kamu sudah membaik?”
Evo mengangguk, dia masih tidak bicara karena malu. Bastian bangun dari tempat tidur.
“Aku akan menyuruh pelayan untuk mengantarkan sarapan untukmu. Hari ini kamu tidak usah ikut ke kantor, biar aku saja,” perintah Bastian.
Evo mengangguk lagi untuk menjawab pertanyaan Bastian. Setelah berkata seperti itu Bastian pergi dari kamar Evo.
Evo menghela napas lega setelah Bastian pergi dari kamarnya. Tadi malam adalah moment yang sangat bahagia buat Evo. Dia tidak menyangka Tuhan begitu baik padanya karena mempertemukan Evo dengan cinta pertamanya itu.
Evo bangkit dari tempat tidurnya. Dia menghampiri jendela kamarnya, lalu membuka jendela tersebut. Evo mendengar dan menikmati kicauan burung yang terdengar dari kamarnya. Kicauan burung yang menentramkan hati Evo.
*****
Siang harinya.
Drt, drt.
Bunyi nada dering dari telepon genggam Evo. Evo yang sedang sibuk menulis novel, mencari telepon genggamnya.
“Halo,” sapa Evo.
“Hai, Vo,” sapa orang itu.
Evo tertegun mendengar suaranya. Evo sangat hapal suara itu, suara itu adalah milik Bagas. Evo yang ketakutan buru – buru menutup teleponnya.
“Jangan di tutup. Aku mohon,” pinta Bagas.
Evo yang mendengar permintaan Bagas mengurungkan diri untuk menutup teleponnya.
“Maafkan aku, Vo. Maaf. Aku kehilangan akal sehat kemarin malam. Aku cemburu mengetahui kalau kamu mencintai Bastian,” kata Bagas.
Evo tetap bungkam tidak ingin bicara dengan Bagas. Dia tidak bisa melupakan kejadian tadi malam. Kejadian di mana Bagas mulai mengamuk tanpa jelas.
“Tolong jangan tinggalkan aku, Vo. Aku sangat mencintai kamu. Tolong,” pinta Bagas lagi.
Evo mendengar suara tangis dari sebrang telepon. Evo merasa kalau Bagas sedang menangis sekarang, tapi hati Evo tidak berubah, hati Evo sekarang bukan untuk Bagas melainkan untuk Bastian.
“Maaf, Gas, maafkan aku,” ucap Evo pada Bagas sambil berurai air mata.
“Aku tidak rela, aku tidak mau, Vo!”
“Lepaskan aku, Gas. Kamu harus ikhlas, kita ditakdirkan untuk tidak bersama. Aku dan kamu berbeda, Gas. Tolong belajar untuk lupakan aku!”
Setelah berkata seperti itu, Evo mematikan telepon genggamnya. Dia sudah mengatakan apa yang harus dia katakan
*****
Rumah Bagas.
Charlotte sedang makan siang di meja makannya. Bagas datang dengan wajah lesunya.
“Tumben, Mas tidak kerja,” ucap Charlotte melihat Bagas ada di rumah.
“Malas. Lagi pula perusahaan udah ada yang menangani,” ucap Bagas dengan ogah – ogahan. Bagas mengambil gelas, lalu menuangkan air putih ke gelas tersebut. Diminumnya dengan sekali teguk.
Bagas duduk di salah satu kursi ruang makannya. Bagas depresi karena perkataan Evo yang menyuruhnya mengikhlaskan hubungan mereka.
“Mas Bagas, ada apa?” Charlotte mengulang pertanyaannya.
“Aku lelah, Char. Mungkin karena persiapan pernikahanku,” dusta Bagas pada Charlotte.
Charlotte melihat Bagas dengan tatapan tajam, dia merasa Bagas menyembunyikan sesuatu darinya.
“Kenapa aku merasa kamu berbohong, Mas?”
Bagas melirik adiknya, lalu tersenyum. Charlotte sudah dewasa, sudah tidak bisa dibohongi olehnya lagi.
“Aku masuh mencintai Evo, Char,” ungkap Bagas pada akhirnya.
Charlotte tidak terkejut dengan ucapan yang keluar dari mulut Bagas. Charlotte sudah tahu sejak kejadian di hotel, hati Bagas masih tertancap nama Evo.
“Tapi sayangnya Evo tidak mencintaiku lagi, Char….”
“Kamu salah, Mas!” potong Charlotte. Perempuan itu ingat sekali kalau Evo rela mempertaruhkan dirinya untuk bertemu dengan Bagas pada malam itu. Evo mau membantu Charlotte untuk menyembuhkan Bagas.
“Apa maksud kamu? Kenapa aku salah?” tanya Charlotte.
Charlotte yang belum selesai makan, menghentikan makan sejenak. Dia harus menyelesaikan cerita ini pada Bagas.
“Sewaktu kamu tidak sadarkan diri, Mbak Evo datang untuk bicara kepada kamu. Dia datang dua kali untuk membuat kamu sadar. Pada akhirnya pertemuan kedua kalian, kamu sadarkan diri Mas,” cerita Charlotte.
Bagas yang mendengarkan itu kaget, dia tidak menyangka bahwa Evo datang melihatnya. Bagas memegang bibirnya, dia tidak salah ternyata ciuman yang dia rasakan waktu itu adalah benar. Evo benar- benar menciumnya.
“Kenapa dia mau datang untuk melihatku?” tanya Bagas penasaran.
“Karena waktu itu kamu menyebut nama Mbak Evo terus, Mas. Dokter juga mengusulkan kepadaku agar aku mempertemukan kalian berdua, tapi waktu itu rasanya sulit untuk mempertemukan kalian.”
“Kenapa? Apa Evo tidak mau? Apa kalian memaksanya untuk datang sehingga dia mau? Berarti dia tidak mencintaiku, Char. Dia datang karena rasa kasihannya padaku,”tuduh Bagas.
Charlotte menggeleng kepalanya, lalu dia lanjut bercerita,”Tidak, tidak! Aku sama sekali tidak memaksa Mbak Evo untuk bertemu denganmu. Hari itu, Mama mencoba menjebloskan Mbak Evo ke penjara. Mama menuduh Mbak Evo telah melakukan percobaan pembunuhan padamu.”
“Apa?”
“Ya, Mas. Mama melakukan itu pada Mbak Evo. Tidak puas dengan itu, Mama membeli rumah kontrakan yang Mbak Evo huni. Mbak Evo diusir dari rumah kontrakannya,” Charlotte lanjut menceritakannya.
Charlotte menghentikan sejenak ceritanya, dia mengambil gelas yang ada di depannya, lalu meminumnya. Akhirnya Charlotte bisa menceritakan hal yang sebenarnya pada Bagas.
“Lalu apa yang terjadi pada Evo? Di mana dia tinggal?” tanya Bagas. Dia tidak tahu kengerian yang terjadi pada Evo, pujaan hatinya. Bagas menyesal telah menuduh Evo sembarangan,
“Mbak Evo tinggal sama Bastian, Mas. Aku tahu ketika Mama yang cerita, kalau Bastian telah memberikan saham perusahaan kepada Mbak Evo. Ketika hari itu, Dokter memeriksamu, dia meminta padaku untuk mencari Mbak Evo untuk dipertemukan denganmu, karena itu satu – satunya cara untuk menyadarkan kamu.”
Bagas tertunduk malu. Harusnya dia tahu kalau Evo selalu mencintainya.
“Kenapa kamu baru cerita ini padaku?”
“Aku pikir Mas Bagas tidak perlu tahu karena Mas Bagas sebentar lagi akan menikah dengan Mbak Dea, tapi ketika aku melihatmu seperti ini, aku merasa harus cerita hal sebenarnya padamu. Mbak Evo bukan orang yang jahat, Mas. Papa dan Mama yang jahat pada Evo.”
Detik itu juga perasaan menyesal Bagas semakin mendalam.
*****
Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya. Minta tolong banget dilike ya.
❤❤❤