
Hai, hai! Bagaimana kabar kalian? Bulan ini MOY akan segera tamat. Tetap setia ya. Minta like dan votenya yak karena MOY mau tamat. Hehehehe. Selamat membaca ya dan tetap jaga kesehatan.
*****
“Hai, Vo! Hai, sayang!” sapa Dea dengan senyum palsunya.
Evo yang melihat kehadiran Dea, segera melepaskan pegangan tangan Bagas terhadap dirinya. Dia tidak mau ada kesalahpahaman.
“Apa aku sedang mengganggu kalian?” tanya Dea dengan kesal.
“Tidak. Kami hanya bicara yang tidak penting. Permisi, Pak Bagas dan Bu Dea,” pamit Evo pergi meninggalkan Bagas dan Dea.
“Apa – apaan kamu? Kenapa kamu bermesraan di depan banyak orang?” tanya Dea cemburu.
Bagas tidak menanggapi ucapan calon istrinya itu. Sebenarnya dia sudah ingin membatalkan pernikahannya tapi Bagas masih memikirkan keluarganya.
Bagas hendak pergi tapi dihalangi oleh Dea. Dia menarik tangan Bagas agar pria itu berhenti.
“Jelaskan padaku, Gas. Apa kamu masih mencintai Evo? Padahal kamu tahu kalau Evo sudah mengkhianati kamu!”
“Sudahlah, tidak usah membahas hal yang tidak penting,” ucap Bagas pada akhirnya.
“Ini penting, Gas! Sangat penting! Aku sangat mencintaimu, aku janji tidak akan seperti Evo yang telah mengkhianati kamu,” janji Dea.
“Dulu pun kamu berjanji seperti itu padaku. Apa bedanya kamu dengan dia? Kalian berdua sama – sama pernah meninggalkan aku.”
Dea terdiam mendengar ucapan dari Bagas. Dea ingat kalau dirinyalah yang meminta Bagas untuk pergi dari kehidupannya.
“Bagas..., maafkan aku waktu itu aku….”
Bagas pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dea mengepalkan tangannya. Dia bersumpah hari ini akan mempermalukan Evo di sini.
Dea mengejar Evo. Akhirnya dia menemukan sosok Evo. Dea menarik tangan Evo dengan keras.
“Apa mau kamu?” tanya Evo sengit karena Dea tiba – tiba menarik tangannya.
“Aku hanya ingin bicara dengan kamu, Vo,” kata Dea.
Sebenarnya Evo tidak ingin bicara dengan Dea karena menurut Evo tidak ada yang perlu dibicarakan antara dirinya dan Dea.
“Katakan.”
“Pergilah dari kehidupan Bagas. Jangan menggodanya! Dia sudah menjadi milikku, dia bukan milikmu lagi, Vo!” ujar Dea sedikit meninggikan suaranya.
Evo menarik napas panjang. Sedikitpun Evo tidak pernah berpikir untuk menggoda Bagas. Bagaslah yang menghampirinya tadi.
“Bisakah kamu memintanya pada Bagas? Aku sudah lelah di tuduh seperti itu olehmu!” jujur Evo dari dalam hatinya.
“Apa? Dasar wanita tidak tahu diri! Percuma aku memohon seperti ini padamu,” kesal Dea.
“Cukup, Dea! Jangan menghina aku sembarangan! Suruh calon suamimu untuk pergi dari kehidupanku! Aku sudah memiliki kehidupanku sendiri!” kata Evo membela diri.
Tiba – tiba Dea menjatuhkan dirinya ke air.
“Dea? Apa yang kamu lakukan?” tanya Evo tidak percaya. Dea jatuh ke kolam renang milik Bagas.
“Dea! Dea!” panggil Evo dengan panik. Semua para undangan langsung memandang ke arah mereka. Lalu mengerumuni aku. Bagas yang mendengar jeritan dari Dea, langsung menceburkan dirinya dan menyelamatkan Dea.
Bagas menarik Dea ke atas permukaan. Dea tampak lemas karena kehabisan tenaga menjerit meminta tolong.
“Uhuk, uhuk,” batuk Dea. Dea mengeluarkan banyak air dari dalam mulutnya.
“Ada apa ini? Ada apa dengan Deaku?” tanya Bu Heni yang panik melihat anaknya terjatuh dari kolam renang.
“Dea? Apa kamu baik – baik saja?” tanya Bagas khawatir. Dea memeluk erat badan Bagas. Dalam hati Dea tersenyum senang karena berhasil membuat Evo malu.
Bu Lina melihat ke arah Evo. Firasat Evo tidak enak dengan pandangan mata Bu Lina terhadapanya.
“Pasti kamu! Kamu yang melakukan ini pada Dea!” tunjuk Bu Lina pada Evo. Semua pandangan tertuju padaku karena perkataan Bu Lina.
“Tidak, tidak! Aku tidak melakukan itu! Tadi Dea jatuh sendiri ke sana!” ucap Evo.
“Tadi aku hanya menyuruh Evo untuk tidak mendekati kamu, tapi Evo marah dan emosi dan mendorongku jatuh ke kolam renang. Padahal aku tidak bisa berenang,” dusta Dea sambil menangis.
“Bohong! Itu tidak benar! Itu bohong, Gas! Dia membohongimu!” bela Evo. Evo mengerti sekarang maksud Dea menjatuhkan dirinya ke kolam. Dia ingin semua orang menuduh Evo mencelakai Dea.
Bu Heni menghampiri Evo, lalu dengan marah menampar Evo, tapi tangan tersebut di cegah oleh Bastian.
“Jangan sentuh Evo sembarangan!”
“Siapa kamu?” tanya Bu Heni geram.
“Saya calon suami, Evo!” tegas Bastian.
“Pergi kalian dari sini! Dasar perusak!” hina Bu Lina.
Bastian yang mendengar hinaan itu, ingin membalas, tapi Evo melarangnya.
“Percuma, Bas kamu membuang energi untuk menjelaskan pada mereka, mereka tidak percaya padamu. Ayo, kita pergi,” ucap Evo menarik tangan Bastian.
“Evo,” panggil Bagas.
Evo menghentikan langkahnya. Dia mendengar suara Bagas memanggil namanya.
“Aku kecewa padamu!” kata Bagas. Tidak pernah terpikir di benaknya Bagas bahwa Evo akan tega mencelakai Dea. Untuk kesekian kalinya Evo mengecewakan dirinya.
Evo membalikkan badannya, kemudian dia berkata pada Bagas,”Aku lebih kecewa padamu, Gas. Suatu hari nanti, kamu akan menyesal karena telah percaya dengan Dea daripada aku. Ingat itu, Gas!”
*****
Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya. Minta tolong banget dilike ya.
❤❤❤