MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
MOY



Hai, hai! Bagaimana kabar kalian? Bulan ini MOY akan segera tamat. Tetap setia ya. Minta like dan votenya yak karena MOY mau tamat. Hehehehe. Selamat membaca.


*****


“Sangat, Bas. Dia adalah cinta pertamaku.”


   Ada angin segar masuk ke dalam hati Bastian. Ternyata dirinya adalah cinta pertama Evo. Bastian memegang tangan Evo. Dia tidak kuasa untuk mengatakan hal yang sejujurnya.


  “Evo….”


  Evo memandang ke arah Bastian dengan seksama. Wanita itu merasa ada keanehan dengan Bastian saat ini.


  “Kenapa?” tanya Evo.


  “Aku….”


Ceklek.


  “Evo!” panggil Maureen, “Ups, maaf! Aku tidak sengaja.”


  Maureen masuk ke ruangan Bastian tanpa mengetuk pintu. Buru – buru Bastian melepaskan genggamannya dari tangan Evo. Dia berjalan ke kursinya.


  “Eh, tidak, tidak seperti yang kamu pikirkan, Ren,” ucap Evo terbatah – batah.


  “Memang apa yang aku pikirkan?” goda Maureen.


“Eh, aku…, aku,” Evo semakin salah tingkah.


  “Ada apa?” tanya Bastian yang sudah bisa menguasai dirinya. Bastian tampak kesal dengan kehadiran Maureen yang tiba – tiba.


  “Hari ini kita ke rumah Dina ya. Ada acara di rumah Dina,” ajak Maureen.


  Evo melirik ke arah Bastian, “Bagaimana Bas? Apa kamu mau ikut?”


Bastian mengangguk setuju. Merekapun tidak ada acara malam ini. “Tidak masalah. Ayo kita pergi.”


  “Baiklah, hanya itu yang ingin aku kasih tahu. Silahkan kalian lanjutkan kemesraan kalian, Bye!” goda Maureen lagi, kemudian dia pergi.


  “Maureen!” teriak Evo dengan perasaan malu.


   Evo kembali melihat Bastian. Tadi sepertinya bastian ingin memberitahukan sesuatu padanya.


  “Apa yang mau kamu bicarakan tadi, Bas?” tanya Evo ingin tahu.


Bastian yang tadinya ingin mengungkapkan, jadi enggan bicara.


  “Mau makan siang di mana nanti?” tanya Bastian mengalihkan pembicaraan.


*****


Evo membaca tulisan yang ada di depan pintu toilet. Dia kesal kenapa saat seperti ini toilet sedang dalam perbaikan.


  “Aduh, kenapa malah sedang ada perbaikan di saat kebelet seperti ini?” keluh Evo.  Buru- buru Evo ke lantai 5 untuk mencari toilet seperti pemberitahuan di pengumuman tersebut. Setiap lantai hanya memiliki satu toilet saja.


  Sesampainya di toilet, Evo masuk ke salah satu bilik kamar toilet tersebut. Setelah lega, dia keluar dan terkejut ada Dea di sana.


  “Hai, Vo,” sapa Dea ramah.


  “Hai,” ucap Evo sambil memberikan senyuman sekedarnya.


  “Senang ya sudah mendapatkan lelaki kaya lagi. Aku salut denganmu,” sindir Dea.


  “Kenapa kamu berkata kasar seperti itu padaku? Apa pernah aku menyakiti kamu?” tanya Evo.


  Dea memandang Evo dengan tatapan merendah. Sejak awal bertemu Evo tahu kalau Dea tidak menyukai dirinya.


  “Tidak, kamu tidak pernah menyakiti aku, tapi kamu telah menyakiti hati keluarga Pratama. Jangan terlalu berbangga diri, Vo. Bagas tidak mencintaimu, dia mencintaiku. Buktinya sekarang dia mau menikah denganku bukan dengan kamu.”


  Hati Evo sakit mendengar ucapan Dea. Tadi malam Bagas hanya menyalurkan nafsunya saja padaku.


  Evo tercengang. Perkataan Dea menyadarkan dia bahwa Bastian memang tidak pantas mendapatkan dirinya. Evo sudah kotor. Kotor kareana perbuataan Bagas padanya. Bodohnya lagi Evo selalu mau menuruti kemauan Bagas.


Dea mendekati tubuhnya ke arah Evo, “Sebaiknya kamu menjauhi Bagas, atau Bastian akan mengetahui wanita macam apa kamu sebenarnya?”


  Setelah berkata seperti itu, Dea pergi meninggalkan Evo. Ucapan Dea sangat benar. Bastian harus mendapatkan wanita yang lebih baik dari dirinya.


  Evo keluar dengan perasaan sedih. Tidak terasa kakinya sudah tiba di ruangan Bagas. Entah kenapa kaki ini melangkah ke ruangan lelaki itu. Apakah benar Bagas yang dia cintai hanya menyukai tubuhnya? Apa dia tidak mencintai ia seutuhnya?


  Terdengar suara manja Dea dari ruangan Bagas. Sepertinya yang diucapkan Dea padanya benar. Buktinya Dea dan Bagas sedang bermesraan di sana.


*****


“Evo!!” panggil Maureen.


  Dengan cepat Evo menutup mulut Maureen. Evo takut ketahuan telah mencuri dengar di ruangan Bagas. Evo menarik Maureen menuju ke ruangan sahabatnya itu.


  “Kenapa kamu tampak gugup?” tanya Maureen ketika kami sudah di dalam ruangannya.


  Evo menghela napas lega setelah tiba di ruangan Maureen. Dia mengambil secangkir air putih untuk diminumnya.


  “Hey, Evo! Kenapa denganmu?” tanya Maureen.


  “Tidak. Aku hanya....”


“Katakanlah, ada sesuatu yang disembunyikan olehmu.”


“Tadi aku bertemu dengan Dea. Dia menyadarkan aku satu hal, aku tidak pantas untuk Bastian maupun Bagas,” kataku.


  Maureen memegang pundak Evo. Dia tahu persis pasti perkataan Dea membuat Evo tertekan. Maureen semakin tidak menyukai Dea.


  “Sudahlah, jangan kamu pikirkan hal itu. Saranku yang pasti adalah kamu harus menetapkan pilihanmu, Vo. Jangan bimbang, kalau kamu seperti ini terus, aku takut kamu akan kehilangan orang yang amat mencintai kamu,” Maureen memberikan saran.


“Aku mengerti,” kata Evo. Dia harus segera memberikan jawaban buat Bastian dan Bagas. Dia tidak ingin berlarut seperti ini.


  “Vo, sejak kemarin aku mau bicara padamu tentang ini,” ucap Maureen agak ragu. Sejak kemarin Maureen ingin mengungkapkannya tetapi kesempatan itu belum ada.


  “Apa, Ren?”


“Apa kamu tidak mencurigai tentang peran Dea dalam kasusmu?”


“Kasus? Kasus apa?” Evo bingung dengan arah ucapan Maureen. Seingat Evo selama ini dia tidak pernah mempunyai kasus apapun dengan Dea.


  “Apa kamu tidak merasa heran dengan kejadian di hotel tersebut? Maksudku, kenapa aku, Bagas, dan kedua orang tua Bagas ada di hotel tersebut saat itu?” Maureen mulai menduga – duga.


  Maureen baru menyadari kecurigaan tersebut ketika wanita itu hendak menjenguk Indra di penjara. Maureen melihat Dea keluar dari penjara. Dia menutupi mukanya ketika mereka berpapasan.


  “Sepertinya tidak mungkin Dea dalang semua ini. Aku rasa hanya Indra pelaku utamanya.”


  “Tidak, tidak. Kamu harus waspada dengan Dea juga. Dia termasuk wanita yang berbahaya. Beberapa minggu yang lalu aku mengunjungi Indra di penjara. Aku melihat wanita itu ada di sana,” cerita Maureen.


  “Apa kamu serius? Mungkin kamu salah lihat,” kata Evo.


Maureen menggeleng kepala, dia melanjutkan perkataannya,”Tadinya aku berpikir bahwa aku juga salah melihat, tapi ternyata tidak. Aku jamin aku tidak salah lihat. Kamu harus percaya padaku, Vo.”


  “Tapi untuk apa Dea melakukan hal itu?” tanya Evo penasaran.


“Itu yang harus kita cari tahu. Kenapa Dea merencanakan hal itu dan bekerja sama dengan Indra?”


  Evo memutar otaknya, dia sangat terkejut bahwa Indra bekerja sama dengan Dea untuk merusak nama baiknya. Evo harus segera mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi?


*****


Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya. Minta tolong banget dilike ya.


❤❤❤