
Drt.
Panggilan masuk ditelepon genggamku.
"Halo," sapa diriku untuk yang diseberang sana. Aku tidak mengenal nomor telepon tersebut.
"Evo, ini tante, Mama Maureen. Maureen mencoba bunuh diri!"
"Apa?" pekikku. Bagas yang ada di sampingku, terbangun mendengar teriakanku.
"Ada apa sayang?" tanya Bagas. Dia bingung melihat diriku yang begitu cemas.
"Tolong, Tante. Segeralah kamu ke rumah sakit. Tante butuh kamu," ujar Mama Maureen.
"Baik, tante. Aku akan segera ke rumah sakit sekarang. Tante yang sabar dan jangan gegabah," kataku menasehati.
"Sayang, ada apa?" Bagas mengulang pertanyaannya.
"Maureen mencoba bunuh diri, Gas. Maukah kamu menemaniku ke rumah sakit?" ucapku meminta tolong. Aku melihat jam masih menunjukkan pukul tiga pagi. Aku yakin supir taksi belum ada yang mau ambil penumpang.
"Apa? Kenapa Maureen bisa senekat itu? Apa yang terjadi?" tanya Bagas tidak percaya. Aku menyiapkan diriku. Mengambil tas, memasukkan dompet serta keperluan yang menurutku penting.
"Di mobil akan aku ceritakan. Cepatlah ganti bajumu," ujarku pada Bagas. Lelaki itu menurut perintahku. Bagas mengganti pakaiannya. Dia mengambil kunci mobil dan bersiap untuk pergi.
********
Di Mobil Bagas.
"Ada apa sebenarnya dengan Maureen? Kenapa dia bisa melakukan hal gila itu?" tanya Bagas lagi. Pria itu penasaran, karena setahu Bagas, Maureen adalah wanita yang kuat.
"Maureen putus dengan Indra. Beberapa kali Maureen minta Indra untuk balik lagi, tapi Indra tidak mau," aku bercerita.
"Aku mengerti sekarang. Akupun akan melakukan hal itu kalau kamu pergi meninggalkan aku," ujar Bagas.
Perkataan Bagas membuat aku memandang dia dengan tajam, lalu aku berkata, "Jangan bicara sembarangan!"
Bagas tertawa menanggapi ucapanku. "Semoga Maureen lekas sembuh dan diberi kekuatan untuk menghadapi masalah ini," ucap Bagas lagi.
Aku mengangguk setuju. Maaf, Bagas aku tidak menceritakan seluruhnya padamu. Aku yakin kalau aku cerita hal sebenarnya kamu akan mencari Indra dan memukulnya. Aku tidak mau hal itu terjadi.
**************
Sesampainya di rumah sakit. Aku melihat Dina dan Rafael yang sudah tiba duluan.
"Hai, Dina, Rafa!" sapaku pada mereka.
"Akhirnya kamu datang juga, Vo," ucap Dina lega melihatku. Aku menghampiri Mama dan Papa Maureen. Aku memeluk Mamanya. Wanita itu begitu lemah dan sedih sekarang.
"Bagaimana keadaan Maureen, Tan?" tanya diriku.
"Masih di ICU, Nak. Maureen minum racun. Kami tidak tahu dari mana racun itu di dapatkan olehnya." cerita Mama Maureen.
"Kita berdoa yang terbaik buat Maureen ya, Tante dan Om." ucapku menenangkan mereka.
Maureen merupakan anak pertama. Dia punya satu adik perempuan yang masih SMA. Dari kami bertiga, keluarga Maureen yang paling berada.
Aku menghampiri Bagas. Dia memegang erat tanganku. Aku benar - benar gelisah. Aku tidak mau kehilangan sahabatku.
"Tenanglah, Maureen pasti akan selamat," kata Bagas. Aku mengangguk setuju. Aku tahu Maureen kuat. Aku tahu dia pasti akan mudah melewati ini semua.
Aku memandang Dina, kemudian berkata, "Seharusnya kamu tidak datang ke sini, Din. Jaga kesehatanmu, kamukan sedang hamil."
"Aku setuju dengan ucapan Evo," Rafael membelaku, "Dia benar - benar susah diberitahu."
Satu jam kemudian, dokter keluar dari ICU.
"Bagaimana keadaan anak saya, Dokter?" tanya Mama Maureen lemah.
"Mbak Maureen lepas dari kritisnya," kata Dokter memberikan kabar gembira. Kami semua yang mendengarnya bernapas lega.
"Puji Tuhan!" ujar Dina senang. Dia memeluk suaminya.
"Syukurlah," kataku juga.
"Semoga Mbak Maureen sadar akan perbuatannya, dan tidak melakukannya lagi," tegas Dokter.
Mama dan Papa Maureen mengangguk, mereka setuju perkataan Dokter. Maureen benar - benar lagi terpuruk. Setiap orang memberikan saran padanya, dia tidak mau mendengarkan.
"Bolehkah kami menjenguknya?" tanya Dina.
"Sebaiknya jangan sekarang, biarkan Mbak Maureen menenangkan dirinya," saran Dokter. Kemudian Dokter meninggalkan kami.
"Kita pulang ya, Din. Besok kita ke sini lagi. Kamu tidak boleh kecapean. Dokter juga bilang kita belum boleh bertemu dengan Maureen," ajak Rafael. Kali ini Dina setuju.
"Iya, Fa. Ayo kita pulang," ucap Dina.
"Kita juga pulang ya, sayang. Aku harus ke kantor hari ini. Sudah dua hari tidak ke kantor," Bagas juga mengajak, Kami berempat pun izin untuk pulang. Kami berjanji akan datang besok lagi.
*********
Apartemen Bagas.
"Terima kasih kamu telah mengantarku ke rumah sakit untuk melihat Maureen," ucap diriku ketika melihat Bagas yang baru selesai mandi dan menuju ke ruang makan.
"Sahabat Evo adalah sahabat Bagas. Jadi jangan berkata seperti itu ya ratu kesayangan aku," ujar Bagas gemes. Bagas mencubit hidung Evo. Aku tertawa.
"Hari ini aku akan pulang malam, kalau kamu butuh supir untuk mengantarmu pergi ke rumah sakit aku akan menyuruhnya ke sini," kata Bagas lagi.
"Boleh sekali," ucapku senang. Bagas langsung menelepon supir pribadinya untuk datang kemari. Supir itu setuju dan akan datang setengah jam lagi. Dasar orang kaya. Setelah selesai makan, Bagas pamitan untuk pergi.
"Sudah mau pergi?" tanya aku.
"Iya, kenapa?" tanya Bagas.
"Sepertinya kamu lupa sesuatu," ucapku.
Bagas mengecek semua barang yang diperlukan dia, tapi tidak satu barangpun yang tertinggal. "Tidak, semua sudah lengkap. Aku merasa tidak lupa sesuatu," ucap Bagas.
Aku masang muka manyun. Dasar Bagas suka tidak peka kalau aku pengen romantis. "Sudah sana pergi kalau memang tidak lupa!" dengusku.
Bagas tertawa, pria itu tahu maksud aku. Dia menghampiriku lalu mengecup dahiku, "Aku mencintaimu, Evo."
"Aku juga mencintaimu, Bagas."
Setelah Bagas pergi, aku menulis pesan singkat untuk seseorang. Ya, benar sekali pesan itu untuk Indra.
Ini aku Evo. Aku ingin bertemu denganmu di restoran yang waktu itu kita bertemu.
Selang beberapa menit, Indra membalas.
Tentu saja aku senang bertemu denganmu. Sampai nanti.
*****
Bagaimana kisah selanjutnya? Jangan lupa baca terus kisah Evo dan kawan - kawannya.