MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Pernikahan Bagas dan Evo



Hari pernikahan pun tiba. Segala persiapan telah dibuat dengan penuh hati-hati dan terencana. Aku sedang memakai gaun pernikahan dibantu oleh Maureen, dan Dina. Kami menginap di salah satu hotel dekat dengan gedung pernikahan kami. Bagas menyewa hotel untuk para undangan.


"Aku tidak menyangka, akhirnya kalian happy ending juga," ujar Dina yang lagi mengkaitkan beberapa kancing di gaunku.


"Benar kata Dina. Aku malah ngga menyangka aku dilangkahi kalian berdua. Ditinggalin nikah," ucap Maureen membuat kami bertiga tertawa. Betul kata Maureen, dia yang paling lama berpacaran, tetapi bukan dia duluan yang menikah. Malah kami duluan. Gaun yang aku gunakan, sudah selesai dipasangkan ke tubuhku. Dandanan yang sejak pagi sudah menempel dimukaku, katanya sih makin mempercantik diriku.


"Selesai. Hari ini kamu cantik sekali Evo," puji Maureen dan Dina berbarengan. Kata orang kalau seorang wanita menikah, aura kecantikannya akan terlihat sekali.


"Terima kasih Maureen, Dina," kataku lalu memeluk mereka.


"Aku yakin Tante dan Om bahagia sekali melihat anak semata wayangnya menikah," ucap Dina membuat air mataku jatuh dipipi. Seandainya mereka masih hidup, pasti merekalah yang akan repot dengan segala persiapan ini.


"Dina! Jangan membuat Evo sedih! Nanti riasan mukamu luntur," Maureen protes melihat aku menangis.


"Maaf, maaf. Itu spontan dari aku," Dina meminta maaf.


"Sudah, aku sudah tidak apa-apa," ucapku menenangkan dua sahabatku.


"Apa Mbak Meli datang ke pestaku ya?" tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan.


"Beberapa hari yang lalu aku sudah kirim pesan buat dia. Semoga saja dia membaca," jelas Maureen.


"Kangen juga sama beliau. Dulu pernah kita menjuluki dia Mak Lampir."


"Hahaaha, iya benar. Bawaan dia tegang mulu. Sok memerintah, tapi akhirnya kita tahu dia sangat baik." Maureen setuju.


Tok, tok, tok.


Terdengar suara pintu di ketuk.


Dina membuka pintu kamar. "Halo, Pak Bagas!"


"Aku mau menengok calon istriku," ucap Bagas kemudian langsung masuk tanpa minta persetujuan dari Dina.


"Sudah aku duga, kamu benar-benar cantik Evolet Rebecca," ujar Bagas kagum melihat kecantikanku. Aku pun tersipu malu.


"Jangan gombal. Pergi dari sini, mana boleh calon pengantin laki-laki datang berkunjung ke sini. Pamali tahu!" usirku. Kami semua tertawa.


"Jangan. Tolong, jangan pisahkan aku dengan bidadaraku. Jangan."


"Bagas, kamu lebay!"makiku.


"Masalah Bagas selesai." ucap Dina. "Sekarang kita harus segera menyelesaikanmu juga. Acara akan segera dimulai 5 menit lagi."


Akhirnya dengan kecepatan maksimal, dibantu dengan para pakar make up semua selesai tepat waktu.


"Terima kasih dua sahabatku."


"Aku senang melihat kamu bahagia, Vo," ucap Maureen tulus.


"Semoga pernikahan ini langgeng sampai kakek dan nenek ya, Vo," Dina mendoakan.


"Amin., kataku.


"Ayo, kita segera ke ruangan. Acara sudah dimulai," EO yang sejak tadi menunggu kami, sudah tidak sabar untuk mengajak kami keluar.


"Para hadirin semua, inilah yang kita tunggu-tunggu pengantin pria dan wanita akan memasuki ruangan. Mari tepuk tangan yang meriah."


Bagas menggandeng tanganku. Kami berdua melangkah dengan pasti. Semoga pilihanku tepat. Semoga Bagaslah yang menjadi pelabuhan terakhirku. Dia yang akan menjadi teman hidupku. Teman bertukar pikiran, sahabat dikala suka maupun duka.


"Apa kamu bahagia, Vo?" tanya Bagas berbisik ditelingaku. Aku memandang lelaki itu. Masih saja ada kesempatan dia untuk bertanya.


"Karena aku sangat bahagia," ujar Bagas lagi. Kami pun berhenti di altar pernikahan.


"Sebelum kita memulai ritual pernikahan ini, ada baiknya kita lihat video perjuangan kisah cinta Bagas dan Evo."


"Video? Kamu bikin video apa, Gas?" tanyaku. Bagas menggeleng kepala tidak mengerti.


"Mungkin dari tim EOnya yang buat. Kita lihat saja."


Video pun di putar....