MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Bukan Cinta yang Salah



Sebelum membaca mohon ditekan jempolnya. Terima kasih.


❣❣❣


"Karel, Karel. Tunggu Karel!" aku berlari mengejar Karel. Aku menangkap tangannya. Karel kesal denganku karena tidak cerita padanya mengapa aku menangis.


Dia menatap aku dengan tajam. Wajahnya memerah menahan marah. "Jangan pegang aku!"


"Aku minta maaf padamu, Karel. Maaf. Jangan marah padaku ya," pintaku padanya.


"Kalau begitu cerita padaku, kenapa kamu menangis? Siapa yang membuat kamu menangis?" tanya dia masih memberikan muka yang sangat kesal.


"Tiara. Dia menyuruhku untuk tidak berteman denganmu. Katanya aku cewek jelek yang tidak boleh berteman denganmu," kataku akhirnya.


"Benarkah dia bicara seperti itu padamu?" tanya Karel tidak percaya. Aku mengangguk, kemudian pergi, tapi aku menahannya.


"Kamu mau ke mana?" tanyaku cemas. Aku takut kalau Karel akan memarahi Tiara.


"Aku mau samperin Tiara. Aku mau tanya kenapa dia begitu terhadap kamu!" tegas Karel


Aku memeluk Karel untuk mencegahnya, "Jangan Karel. Jangan. Nanti aku malah tambah dibenci sama dia. Aku mohon jangan ya."


Karel menghentikan niatnya. Benar kata Evo, nanti kalau aku memarahi Tiara, Evo akan lebih dibenci.


"Oke, tapi kalau dia sampai macam - macam sama kamu, aku tidak akan memaafkan Tiara. Mengerti kamu?" tanya Karel. Aku mengangguk tanda aku memahami perkataan Karel.


"Janji juga padaku, siapapun yang menyakiti kamu, kamu harus memberitahu aku biar nanti orang itu akan aku buat menghilang," kata Karel sambil menjulurkan jari kelingkingnya untuk dikaitkan dijari kelingkingku. Tanda kami telah berjanji. Akupun mengkaitkan jari kelingkingku padanya.


"Aku janji."


❣❣❣❣


KRIIIIIIIING! Bunyi jam wekerku. Hari ini aku bermimpi tentang Karel lagi. Kenapa sekarang aku lebih sering memimpikan Karel? Ada apa dengannya?


Aku memandang sisi tempat tidurku. Bagas belum pulang dari tadi malam.


Ting, tong, ting, tong.


Aku buru - buru membuka pintu. Mungkin itu Bagas.


"Bagas? Kenapa tidak masuk saja?" tanya aku ketika Bagas baru tiba.


"Aku lupa membawa kunci sayang," ujar dia kemudian masuk ke apartemen.


"Aku lapar, Vo. Apa ada makanan?" tanya Bagas sambil menaruh sepatunya.


"Maaf, aku baru bangun. Kamu mau sarapan apa?" tanya aku.


"Apa saja, Vo. Aku mandi dulu," Bagas pergi mandi.


Akupun membuat sarapan untuk aku dan Bagas. 15 menit kemudian, aku selesai membuat sarapan. Bagas juga selesai mandi. Aku menyiapkan makanan di atas meja. Kami berdua sudah di ruang makan. Bagas makan dengan lahap, sampai Bagas tersendak.


"Ya, ampun Bagas. Pelan - pelan," kataku. Aku memberikan Bagas minum.


"Maaf sayang. Dari semalam aku belum makan. Papa Dea kecelakaan. Beliau tabrak lari," cerita Bagas akhirnya.


"Lalu bagaimana keadaannya?" tanya aku.


Bagas meneguk air putih, lalu bercerita lagi padaku, " Dea itu anak satu - satunya, Vo. Kemarin gawat sekali, dia sampai ketakutan. Maaf karena ini aku jadi membuatmu sendirian." ujar Bagas.


"Jangan khawatirkan aku. Kamu sudah melakukan hal yang benar. Lalu Dea sama siapa sekarang?" tanyaku lagi.


"Mama yang menemani Dea," ucap Bagas. Kemudian dia menyelesaikan makannya.


"Aku mau istirahat dulu," kata Bagas lagi kemudian dia mencium dahiku.


"Istirahatlah."


Bagas menuju ke kamar. Dia membuka laci meja kamarnya. "Apa ini?"


Bagas memperhatikan dengan seksama. Obat ini sepertinya dia melihatnya. Obat untuk tidak hamil yang pernah digunakan Evo. Kenapa masih ada obat ini? Apa Evo masih menggunakan obat ini?


Bagas terlampau lelah untuk bertanya pada Evo. Kemudian dia merebahkan dirinya ke tempar tidur. Dia akan bertanya pada Evo nanti.


❣❣❣


Rumah Sakit


"Bagaimana keadaan Papa, Dea?" tanya Bu Lina.


"Tante Lina? Tante sama siapa? Kenapa bisa tahu Papa di sini?" tanya Dea kemudian mencium Bu Lina.


Bu Lina mencium pipi Dea balik, "Bagas menelepon Tante. Kamu tahu kalau Bagas selalu memperhatikanmu."


"Bagas memang tidak berubah dari dulu. Keadaan Papa sudah membaik, Tan. Papa masih shock saja. Selebihnya Papa tidak apa- apa," jelas Dea.


Bu Lina duduk di sofa. Dea mengikutinya. Hari ini tugas Dea untuk jaga Papa sendirian di rumah sakit. Mama Dea masih di luar negeri. Baru akan sampai besok hari.


"Tante senang kamu pulang ke sini. Banyak yang harus Tante ceritakan padamu."


Dea memandang Bu Lina dengan tatapan serius. "Ada apa, Tan?"


"Bagas sekarang berubah setelah bertemu dengan wanita itu, Evolet Rebecca," kesal Bu Lina.


"Apa maksud Tante?"


Bu Lina menghela napas panjang, lalu dia berkata lagi, "Evo itu wanita matre. Dia menguras uang Bagas dengan tubuhnya."


"Apa benar begitu? Tante tahu dari mana?"


Bu Lina mengeluarkan bukti berupa video. Bagas dan Evo bercinta di ruangan Bagas. Dea terkejut melihat itu semua. Dea menjual harga dirinya hanya untuk uang.


"Apa kamu mau membantu Tante?" tanya Bu Lina dengan memasang muka sedih.


Dea mengelus punggung Bu Lina. Kemudian Dea berkata pada wanita paruh baya itu, "Apa yang bisa aku bantu Tan?"


"Menikahlah dengan Bagas, Nak. Kamu satu - satunya yang pantas untuk Bagas," ucap Bu Lina lalu memegang erat salah satu tangan Dea.


"Apa? Aku menikah dengan Bagas? Tante yakin Bagas mau denganku ..., maksudku dia sepertinya begitu mencintai Evo," ucap Dea.


Dea berdiri, melepas tangan Bu Lina. Gadis muda itu berkata lagi, "Aku tidak bisa, Tan. Bagas mencintai Evo. Aku tahu itu."


"Tidak, Dea. Dengarkan saya, Alexandrea. Bagas mencintaimu dari dulu. Tante tahu itu. Evo hanya mainan Bagas selama kamu tidak ada." ucap Bu Lina. Dia berdiri lalu membalikkan tubuh Dea.


"Bagas Pratama hanya mencintai Alexandrea. Tante kenal anak itu. Jangan biarkan Bagas memilih cinta yang salah, Dea. Jangan sampai Bagas memilih wanita yang salah. Evo adalah sebuah kesalahan terbesar dalam hidup Bagas. Dia tidak sadar hal itu. Tolong dia, Dea."


❣❣❣


Drrt.


Pesan masuk ke telepon genggamku.


Mbak Meli : Apa kabar, Evo?


Tumben Mbak Meli menulis pesan untukku. Aku langsung menghubungi Mbak Meli.


"Hai, Mbak. Tumben menghubungiku. Ada apa?" tanyaku gembira karena Mbak Meli jarang meneleponku, malah jarang.


"Ada yang rindu," ucap Mbak Meli. Diapun memberikan telepon genggamnya pada seseorang.


"Hay, Moy," sapa Bastian riang.


"Hai, Bas. Bagaimana keadaanmu? Kalian sedang di mana?" sapaku balik.


"Kami lagi di Bandara." ujar Bastian.


"Bandara? Ke mana kamu mau pergi?" tanya aku heran. Tiba - tiba pergi, kemudian datang. Bastian aneh.


"Apa kamu tidak rela aku pergi?" goda Bastian sambil terkeleh.


Aku tersenyum, Bastian selalu saja menggodaku. Akupun berkata,"Aku rela tapi aku hanya sedih kamu pergi tanpa pamit padaku."


"Mungkin kita akan lama tidak bertemu, Moy, tapi percayalah dihatiku hanya ada namamu."


"Bastian...."


"Maafkan aku karena terlanjur mengungkapkan ini lagi padamu. Jangan salahkan dirimu karena aku pergi, ini keputusanku. Jangan membenciku juga, Moy, aku tahu diri maka aku yang mundur."


Tetesan air keluar dari mataku. Aku sangat sedih mendengar ucapan Bastian.


"Bas, apakah kamu harus pergi? Apakah kita tidak bisa menjadi sahabat?"


"Maaf, aku tidak bisa. Cintaku hanya untukmu. Salah satu pembuktian cintaku padamu adalah mengorbankan cinta ini dan pergi darimu."


Semakin deras air mataku keluar. "Maafkan aku Bas, maaf."


"Aku selalu bermimpi kita selalu bersama sampai tua nanti, tapi pengorbanan ini harus aku lakukan. Aku sudah siap, Vo untuk hidup tanpamu, tapi percayalah walau seluruh dunia akan membencimu, aku akan akan datang untukmu. Aku akan berikan cinta ini padamu, Vo." ucap Bastian setelah itu dia menutup teleponnya.


"Terima kasih, Mbak Meli," kata Bagas mengembalikan telepon genggamnya.


Mbak Meli menatap adiknya sedih. Untuk kedua kalinya dia harus melihat adiknya terpuruk karena cinta.


"Are you okay, Bas? Kenapa kamu harus berbohong? Kemudian kenapa kamu tidak bilang kalau...."


"Jangan, Mbak. Biarkan cinta ini hanya Tuhan yang tahu. Kalau memang Evo jodohku, dia akan kembali padaku." Bastian menggenggam erat sebuah buku.


Aku tidak mau membuat kamu bingung, Vo. Semoga keputusanku ini yang terbaik.


❣❣❣