
Hai, semua! Terima kasih telah membaca karyaku. Minta tolong jadika cerita ini favorit kamu, berikan like, vote dan bintang lima. Terima kasih telah mencintai MOY.
Apartemen Bagas
"Jadi aku dulu mainnya sama Dea aja, Vo. Dia teman SD dan teman samping rumahku. Papa Dea suka membantu Papa dalam perusahaan, hingga perusahaan kami berkembang pesat," Bagas bercerita. Di Apartemenpun Bagas cerita tentang Dea. Semenjak Dea pulang, topik pembicaraan dia hanya Dea dan Dea.
"Oh, jadi Papanya Dea itu orang kaya ya?" ujarku mengerti. Pantas sekali kalau Bu Lina dan Pak Freddy sangat menyukai Dea. Apalagi kedua orang tua Dea sering membantu keluarga Bagas.
Aku memberikan sepotong kue kepada Bagas.
"Terima kasih," katanya saat menerima kue tersebut.
"Lalu kenapa kalian tidak menikah?" tanyaku penasaran. Bagas seketika menatap diriku dengan tajam, kemudian dia tersenyum.
"Pertanyaan wanita yang sedang cemburu," ledek Bagas. Aku langsung cemberut. Dia bukannya menjawab pertanyaanku malah meledek aku.
Bagas meletakkan kuenya. Kemudian dia menggenggam tanganku. "Apa kita harus segera ke catatan sipil untuk meresmikan hubungan kita?"
"Kenapa malah kamu berpikir seperti itu? Aku hanya bertanya," ucapku.
"Aku tidak percaya kamu tidak cemburu. Lihat mukamu, orang akan mudah menebak kalau kamu sekarang cemburu dengan Dea," jelas Bagas. Bagas memegang wajahku.
"Percayalah, Evo, cinta Bagas hanya untuk Evolet Rebecca. Aku hanya mau menikah dengan Evolet Rebecca. Kalau kamu aku siap menikah denganmu besok."
"Tidak, tidak. Aku hanya...."
Bagas melepas tangannya dari wajahku, kemudian berkata padaku, "Lihatkan siapa yang tidak mau menikah? Bukan aku tapi kamu."
"Bagas, jangan marah. Maksudku..., aku...."
"Aku tidak bisa marah padamu, Evo. Cukup ya, percaya padaku. Cinta Bagas hanya untuk Evo," ucap cowok itu lembut. Kemudian Bagas merangkul diriku.
❣❣❣
"Untuk apa lagi kita bertemu?" tanya Indra pada Maureen.
"Kita harus bicara. Kita tidak bisa terus begini, Dra," ucap Maureen. Hari ini Indra dan Maureen bertemu di salah satu kafe di jakarta. Maureen benar - benar tidak ingin putus dengan Indra. Tujuh tahun mereka menjalin cinta. Tujuh tahun bukan waktu yang cepat. Banyak suka dan duka yang mereka rasakan.
"Kamu yang minta putus, tapi kamu yang minta balik. Kamu itu aneh," kata Indra marah.
Maureen menarik nafas, lalu berkata, "Maaf, maafkan aku kalau aku salah. Aku cemburu melihat kamu menyimpan foto Evo di rumah kamu. Aku bingung kenapa foto itu bisa ada di tempatmu."
"Aku sudah menjelaskan padamu, kalau Evo dan aku tidak ada hubungan apapun. Foto itu ada di rumahku akupun tidak tahu kenapa bisa ada di sana. Bukankah kamu sahabatnya? Kamu kan sering ke rumahku, bisa sajakan foto itu jatuh dari tas kamu atau jangan - jangan kamu menaruh itu untuk putus denganku." Indra berkomentar.
Sebenarnya Indra sudah malas bertemu dengan Maureen. Wanita ini sangat menyusahkan dirinya. Untung saja aku diputuskan olehnya.
Maureen menggeleng kepala tanda tidak setuju dengan perkataan mantan kekasihnya itu. Wanita itu tidak bermaksud memutuskan cinta mereka. Dia tersulut emosi. Hatinya panas melihat foto tersebut. Itu kebodohan yang salah.
"Tidak, aku tidak seperti itu. Aku minta maaf padamu, Indra. Tolong maafkan aku. Aku hanya mencintaimu, Indra. Aku mohon kembalilah padaku." pinta Maureen dengan memelas. Semua sudah dia lakukan untuk dapat membuat Indra balik padanya.
"Aku belum berpikir untuk kembali padamu, Ren. Hatiku sakit dituduh seperti ini olehmu." Indra berkata dengan suara lirih.
"Jangan tinggalkan aku, Dra. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Sudah tujuh tahun kita bersama, Indra. Apa kamu tidak ingat suka dan duka yang kita jalani? Dulu kita bersama - sama berjuanh dari nol." Maureen mengingatkan Indra.
Indra melepas tangan Maureen, lalu menjawab perkataan Maureen, "Aku pernah tulus mencintaimu, Ren. Bukan aku yang memulai masalah ini, tapi kamu. Seandainya Evo tau kita putus karena kamh cemburu tanpa alasan itu, dia pasti akan kecewa padamu."
Selepas berkata seperti itu Indra pergi meninggalkan Maureen. Hati Maureen hancur. Benar - benar hancur. Kenapa dia begitu bodoh? Kenapa dia harus marah saat menemukan foto Evo di kamar Indra? Apa semuanya berakhir? Apa benar - benar berakhir?
"Indra..., Indra...., jangan pergi." Maureen menangis. Dia tidak mau kehilangan Indra. Indra salah satu harta yang paling berharga buat Maureen. Wanita itu selalu mengira kalau Indra adalah cinta terakhir yang diberikan Tuhan padanya.
❣❣❣
Siang hari di cafe.
"Ide, ide. Ayolah datang untuk novelku selanjutnya."
Hari ini aku keluar rumah untuk mencari ide. Aku benar - benar lagi tidak punya ide untuk membuat cerita.
"Evo? Evolet ya?" tanya seseorang. Aku menengok ke belakang. Ada yang memanggil namaku.
"Indra? Apa kabar?" tanya aku lalu menjabat tangan lelaki itu. Indra menyambut tanganku.
"Baik, Vo. Boleh duduk?" tanya Indra.
"Silahkan. Bagaimana kabarmu? Terakhir kita ketemu saat ulang tahunku."
Indra belum menjawab pertanyaanku. Dia sedang memesan makanan dan minuman untuk makan siangnya. Tadi saat bertemu Maureen, dia tidak nafsu makan.
"Maaf, tadi kamu bertanya apa?" tanya Indra setelah selesai memesan makanan.
"Bagaimana kabarmu?" aku mengulang pertanyaanku.
"Aku putus dengan Maureen. Kamu pasti sudah tahu itu."
"Ya, aku tahu. Aku sedih mendengarnya. Aku mengira kalian akan menikah."
"Akupun mengira seperti itu. Apa kamu tahu alasan aku putus dengannya?" ucap Indra.
"Aku tidak ingin tahu, Ndra. Itu masalah kalian. Aku harap apapun masalah kalian, kalian bisa bersatu kembali," kataku tulus. Jujur saja aku tidak mau kepo dengan urusan teman - temanku.
Indra memegang tanganku. Dia menatapku dengan tatapan seperti melihat kekasihnya. Aku terkejut dengan kelakuannya padaku.
"Aku bisa kembali padanya, tapi aku punya syarat untukmu. Aku yakin kamu bisa memenuhi syarat tersebut," ucap Indra penuh tatapan mesra. Dia mencium tanganku.
Aku segera melepas tangan Indra. Indra kelihatan begitu aneh. Ini seperti Indra yang tidak aku kenal. Satu lagi kenapa dia memegang tanganku dan menciumnya? Aku rasa otaknya Indra mengalami gangguan.
"Syarat? Kenapa harus aku yang mendengarkan syarat itu? Apa hubungannya denganku?" tanyaku semakin bingung dengan Indra. Sepertinya laki - laki ini dirasuki sesuatu, makanya otaknya sedikit geser. Aku sangat tidak percaya dengan apa yang terjadi sekarang.
"Ada, Vo. Ada hubungannya, karena aku mencintaimu. Semenjak aku bertemu dengan kamu, aku sangat mencintaimu, Vo." ucap Indra dengan penuh perasaan.
Hah? Apa? Aku tidak salah dengar? Apa aku sedang berhalusinasi? Indra pacar Maureen sahabatku mencintai diriku?