MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Bukti Cinta Bagas



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


*****


" Moy, Moy!" Panggil Karel, "Selamat ulang tahun, MOY."


Karel memberikan setangkai bunga untukku sebagai kado ulang tahun dari dia. Aku tersenyum mendapatkan bunga tersebut.


"Kenapa kamu kasih bunga warna kuning? Kalau di film - filmkan biasanya dikasih warna merah," tanyaku polos.


Karel duduk di sebelahku. Dia memandang diriku sambil tersenyum. Ya, ampun betapa tampannya lelaki ini. Tidak heran banyak sekali penggemarnya.


"Bunga kuning artinya kebahagiaan dan persahabatan. Doaku seperti bunga kuning ini. Aku ingin kamu selalu bahagia, dan selamanya kita menjadi sahabat,Moy," jelas Karel.


Aku tersenyum, lalu berkata, "Terima kasih, Karel untuk doa kamu untukku."


******************************


Aku membuka mata. Karel masuk ke dalam mimpiku lagi. Mengapa setiap aku mendapatkan masalah, dia selalu datang ke dalam mimpiku? Aku hanya ingat wajah kecilnya, aku sama sekali tidak tahu seperti apa wajah dewasa Karel. Aku menghela napas panjang.


Aku menengok ke samping. Bagas sudah tidak ada di sebelahku. Sepertinya Bagas masih marah padaku. Aku merapikan tempat tidur, kemudian bergegas mandi. Hari ini aku harus menjenguk Maureen. Setelah itu bertemu dengan Rafael di kantornya untuk menandatangi kontrak yang sempat tertunda.


Setelah mandi dan menggunakan baju, aku keluar dari kamar. Ketika aku hendak mengambil bahan makanan di kulkas ada sepucuk surat yang tertempel di sana.


My Dear Evo,


Aku sudah membuat sarapan untukmu. Maafkan aku yang terpancing emosi kemarin. Aku sudah berangkat ke kantor, nanti aku akan menjemputmu pukul 12 untuk menjenguk Papa. Sampai ketemu nanti.


Salam sayang,


Calon suamimu Bagas.


Aku tersenyum bahagia membaca pesan singkatnya. Jam 12 Bagas akan menjemputku, sebaiknya aku menelepon dia dan mengabari aku akan langsung ke rumah. Aku tidak perlu dijemput olehnya.


"Halo, sayang," sapa Bagas dari sebrang.


"Hai, Bagas. Apa kamu sudah sampai kantor?" tanya aku.


"Iya, sayang. Baru saja aku sampai. Apa kamu sudah sarapan? Bagaimana sandwich yang aku buat? Enak bukan?" tanya Bagas sambil tertawa.


"Terima kasih sayang untuk makanannya. Enak sekali."


"Sama - sama ratu aku," ucap Bagas.


"Julukan apa lagi yang kamu berikan itu?" tanyaku tertawa. Selalu saja Bagas bisa membuatku tertawa dengan kekonyolannya.


"Kamu adalah ratu di hatiku," gombalnya lagi.


"Sudah cukup. Aku akan ke rumah Om Freddy sendirian. Kamu tidak perlu menjemputku."


"Kenapa?" tanya lelaki itu.


"Kemarin aku tidak jadi tanda tangan kontrak dengan Rafael. Hari ini aku pergi ke kantornya, setelah itu aku akan ke rumahmu. Boleh begitu?"


"Setuju. Aku akan menunggu di rumah Papa. Hati - hati di jalan sayang. Sampai ketemu di rumah."


********


Rumah sakit.


"Selamat siang, Tante," sapa aku.


"Hai, Evo. Senang melihat kamu," ujar Mama Maureen. "Dari tadi Maureen tidak mau makan. Dia hanya diam saja. Tante bingung harus bagaimana?"


Aku menghampiri Maureen, lalu menyapa dirinya, "Hai, sayang. Bagaimana kabarmu?"


Maureen menatapku, air mataku mengalir lagi. "Hey, hey! Jangan menangis sayang," ucapku.


"Aku rindu dengan Indra. Aku rindu, Vo," ucap Maureen memelukku.


"Maureen sayang, ayo bangkitlah! Jangan seperti ini! Ini bukan Maureen yang aku kenal," kataku menyemangati dirinya. Aku melepaskan pelukan Maureen.


"Aku mau mati."


Mama Maureen yang mendengar anaknya berkata seperti itu marah, dia katakan pada anaknya, "Apa kamu sudah gila? Apa Mama dan Papa tidak berarti lagi buatmu sehingga kamu memutuskan untuk mati?"


Air mata Mama Maureen jatuh, emosinya terluap sudah. Dia sedih melihat anak perempuannya terpuruk karena cinta. Titik terendah bagi kehidupan Maureen.


"Kalau Maureen tidak nikah dengan Indra, hidup Maureen tidak ada artinya," teriak Maureen.


PAK!


"Mati saja kamu! Kamu terlalu egois. Kamu pikir hanya kamu yang menderita di sini? Mama dan Papa juga menderita melihat kamu seperti ini! Sadar, Maureen! Sadaaar!" pekik Mama Maureen.


"AGHHHHH?!" teriak Maureen meluapkan emosinya. Tangis yang dia tahan, dia keluarkan. Melihat penderitaan Maureen, aku ikut menangis.


************************


"Bagaimana? Apa calon istrimu bisa dihubungi?" tanya Bu Lina.


Bagas menggeleng kepala, dia berkata, "Tidak diangkat, Ma."


Bu Lina tersenyum kecut, kemudian dia memprovokatori Bagas, "Seandainya Papa kamu meninggal, Mama rasa dia tidak peduli juga. Evo hanya mau uangmu. Kenapa kamu tidak bisa sadar dengan hal itu?"


"Tidak, Ma. Evo bukan wanita seperti itu. Bagas kenal Evo," bela Bagas. Ya, Bagas tahu sifat Evo. Bukan Evo yang menjual dirinya tetapi Bagas yang menjebak Evo.


"Kamu benar - benar sudah dibodohkan wanita itu. Kamu tidak lihat ada wanita yang selalu ada buat keluarga kita sejak dahulu. Dia adalah Alexandrea."


Bagas terdiam mendengar ucapan Bu Lina. Hatinya mulai bergejolak. Apa benar perkataan Mama?


Tok, tok, tok.


Seseorang mengetuk pintu kamar Pak Freddy. Bagas membuka pintu. Dia tersenyum yang datang adalah kekasih hatinya.


"Bagas, kenapa malah memelukku? Malu ada Tante," ucapku lalu mendorong tubuh Bagas.


"Biar. Aku sayang Evolet Rebecca," ujar Bagas. Bu Lina yang melihat kemesraan mereka menjadi kesal. Aku menghampiri Bu Lina yang disebelah Pak Freddy, dan memberikan buah itu kepadanya.


"Taruh saja di sana," judes Bu Lina.


"Om Freddy apa kabar?" tanya aku. Pak Freddy yang masih sulit bicara hanya tersenyum menjawab pertanyaan Evo.


"Syukurnya Pak Freddy tidak mati mendengar berita tentang kamu," sindir Bu Lina.


"Sudahlah, Ma. Kenapa Mama selalu menyudutkan Evo? Mama harusnya sadar, Evo selalu berusaha sebaik mungkin menjadi calon istri Bagas," Bagas membelaku.


Aku yang didekat Bagas langsung memegang tangan Bagas, "Bagas sudah ya, aku tahu Tante tidak bermaksud seperti itu. Kamu jangan marah lagi. Oke?"


Bagas menghela napas panjang, dia kesal dengan Mamanya yang selalu menindas Evo. Padahal Evo selalu berusaha baik pada mereka. "Mulai hari ini Bagas tidak mau mendengar Mama menyindir Evo lagi."


Brengsek! Wanita brengsek! Anak kesayanganku jadi melawan diriku! Lihat saja, pasti akan aku balas. Ujar Bu Lina dalam hati.


**************************


Di dalam mobil.


"Kita makan malam di luar yuk," ajak Bagas. Hari ini Bagas bahagia, karena ucapan Mamanya tidak terbukti sama sekali.


"Serius? Mau makan di mana kita?" tanya aku antusias. Sudah lama kami berdua tidak pergi makan malam.


"Pasti kamu akan suka, tapi kamu harus menutup matamu," ucap Bagas sambil tersenyum.


"Ih, kenapa harus ditutup mataku?" kataku.


"Ikuti aja ya," jawabnya.


************************


Sesampainya di tempat tujuan. Bagas menuntunku menuju ke tempat yang dimaksud pria itu. Mataku masih ditutup olehnya.


"Aduh," aku tersandung.


"Hati - hati sayang," ucap Bagas masih menuntun aku. "Kamu duduk disini, setelah aku bilang buka kamu baru boleh buka matamu."


"Bagas, Bagas kamu mau apa? Jangan tinggalkan aku," kataku panik.


"Kamu boleh buka matamu," ujar Bagas.


Bagas tersenyum memandang wanita yang dia cintai. Aku terkejut melihat tempat ini, tempat yang begitu indah. Restoran yang memberikan suasana yang romantis. Hiasan - hiasan cinta yang menghiasi setiap sudut. Aku melihat ke arah Bagas. Laki - laki itu memegang gitar dan di depannya sudah siap sebuah microphone. Seperti biasa Bagas menyewa satu tempat untuk aku dan dia.


"Apa yang kamu lakukan di sana?" tanyaku tidak percaya.


"Lagu ini aku persembahkan untuk dirimu, Evo. Aku mencintamu," ucap Bagas membuat aku tersenyum.


" Memenangkan hatiku bukanlah, satu hal yang mudah.


Kau berhasil membuat, aku tak bisa hidup tanpamu.


Menjaga cinta itu bukanlah, satu hal yang mudah.


Namun sedetik pun tak pernah kau berpaling dariku.


Beruntungnya aku.


Dimiliki kamu.


Kamu adalah bukti.


Dari cantiknya paras dan hati.


Kau jadi harmoni saat kubernyanyi tentang terang dan gelapnya hidup ini.


Kaulah bentuk terindah dari baiknya Tuhan padaku.


Waktu tak mengusaikan cantikmu.


Kau wanita terhebat bagiku.


Tolong kamu camkan itu.


Meruntuhkan egoku bukanlah, satu hal yang mudah.


Dengan kasih lembut kau pecahkan kerasnya hatiku.


Beruntungnya aku,dimiliki kamu.


Kamu adalah bukti dari cantiknya paras dan hati.


Kau jadi harmoni saat kubernyanyi tentang terang dan gelapnya hidup ini.


Kaulah bentuk terindah, dari baiknya Tuhan padaku.


Waktu tak mengusaikan cantikmu


Kau wanita terhebat bagiku, tolong kamu camkan itu."


Last Child - Bukti.


Aku menghampiri Bagas lalu memeluk lelaki itu. Air mataku menetes dengan derasnya. Air mata ini bukan air mata kesedihan tetapi kebahagian. Aku bahagia karena memilih Bagas menjadi orang yang aku cintai.


"Kenapa kamu malah menangis? Apa suaraku begitu jeleknya? Tidak sebagus penyanyi aslinya ya?"  tanya Bagas yang masih memelukku.


"Aku bahagia Bagas. Aku senang mendengar suaramu. Aku bahagia, terima kasih Bagas," ucapku.


"Walau kau berubah, Vo, aku akan tetap bertahan mencintaimu. Semua tidak akan mampu menghilangkan rasa cintaku padamu," ucap Bagas lalu mencium bibirku. Terima kasih Bagas. Terima kasih.