MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Bagas, si Playboy



Evo keluar menuju toilet. Brengsek! Brengsek! Ciuman pertama Evo sama pria brengsek itu! Di dalam toilet Evo mengunci pintu. Tiba-tiba air matanya jatuh. Kekesalan Evo memuncak hingga air mata tidak bisa dia bendung. Kenapa dia bisa sial seperti ini? Kenapa juga harus ketemu laki-laki playboy kaya dia?


.


.


.


.


Di rumah sakit.


"Mama, cepat bangun ya. Evo sendirian, Ma. Mama tega ya membuat Evo berjuang sendiri."


Sudah seminggu berlalu, mama belum juga bangun dari komanya. Kata dokter Evo harus sering berinteraksi sama mama. Seharusnya mama sudah bangun, tapi entah kenapa komanya berkelanjutan hingga seminggu.


Biaya rumah sakit semakin membengkak. Satu-satunya jalan keluar, Evo harus menjual rumah mereka. Beruntung rumah cepat laku. Semoga Mama bisa cepat bangun. Biar sisa penjualan rumah tidak terlampau menipis.


"Sus, kalau mama bangun tolong kabari saya ya."


"Ya, mbak Evo. Pasti akan kami segera kabari."


"Ma, Evo pulang dulu ya. Besok Evo kemari lagi," pamit Evo.


Hari ini Evo harus menyelesaikan akhir novel Evo. Lusa, dia akan bertemu dengan salah satu tim dari penerbit. Semoga saja novel Evo ke terima dan laku dipasaran.


.


.


.


.


Keesokan harinya, di kantin.


"Besok Big Bos ulang tahun, Vo. Kita semua diundang ke pesta ulang tahunnya."


Big bos julukan untuk pemimpin baru kami, Bagas. Setelah kejadian tragedi ciuman itu, aku selalu menghindari dia. Kalau pun bertemu, aku suka buang muka. Pura-pura ngga melihat.


"Oh!" jawabnya singkat.


"Apa kamu bisa ikut, Vo?"


"Lihat nanti ya, Ren. Aku masih sibuk mengurus Mama dan novelku. Besok aku mau ketemu sama orang penerbitnya."


"Serius? Akhirnya novelmu terbit juga! Aku senang mendengarnya."


"Belum, belum. Masih mau dibaca sama mereka, kalau mereka tertarik, ya diterbitkan."


"Oh, sukses ya, Vo. Pasti berhasil. Secara kamu kan editor terbaik di sini. Pasti langsung disetujui novelmu."


"Aku tidak bilang, Ren, kalau aku kerja di sini."


"Kenapa tidak bilang? Aku yakin sekali pasti karyamu diterima."


Ya, Maureen benar. Perusahaan mereka ini perusahaan terkenal. Cerpen yang ada di majalah selalu diangkat menjadi buku oleh penerbit. Tentu saja edit mengedit itu Evo yang lakukan. Tapi kalo Evo memakai nama perusahaan ini, kayanya akan kurang tepat. Evo mau ini hasil kerja keras dia tanpa nepotisme.


"Aku mau membuktikan aku mampu sendiri, Ren."


.


.


.


.


.


.


Sorenya, kami hendak pulang kerja.


"Kepada tim editor harap segera ke ruangan Pak Bagas. Sekali lagi, tim editor harap segera ke ruangan Pak Bagas. Terima kasih."


"Apa maksudnya kita ya?" tanya Evo tidak percaya. Maureen mengangguk. Tim editor itu cuma 3 orang yaitu Evo, Mbak Meli dan Maureen.


"Iya, ada apa ya?"


Mbak Meli keluar dari ruang kerjanya, kemudian berkata, "Ayo."


Diruangan Bagas.


"Saya memanggil kalian ke sini untuk meminta tolong," ucap Bagas penuh ramah.


Kalau sama aku dinginnya minta ampun.


"Ada apa, Pak? Apa ada yang bisa kami bantu?" jawab Mbak Meli penuh semangat.


"Besok saya ulang tahun, tapi EOnya tiba-tiba mengundurkan diri. Apakah bagian editor dapat membantu hal ini?" tanya Bagas penuh harapan.


"Bisa, Pak," jawab Mbak Meli lagi semangat.


"Menyusahkan orang aja." umpat Evo pelan berusaha sampai tidak terdengar.


"Kenapa, Evo?" tanya Bagas sambil tersenyum.


Mbak Meli melirik Evo dengan tajam. Tamat riwayat aku!


"Siap, Pak. Tidak saya tidak keberatan."


"Sebenarnya saya tidak suka pesta mewah seperti ini, tapi karena Papa meminta, ya harus dilaksanakan. Saya harap kerja kalian bagus untuk besok."


Ngga suka pesta mewah? Omong kosong!


"Baik, Pak," Mbak Meli yang menjawab. Aku dan Maureen hanya diam saja. Ketika hendak keluar, Bagas menyuruh Evo tetap tinggal.


"Sepertinya kamu tidak suka sekali dengan saya," ucapnya setelah Mbak Meli dan Maureen keluar.


"Maksud Bapak apa ya?" tanya wanita itu pura-pura.


Bagas berdiri. Mau apa lagi si playboy ini?


"Berdandanlah yang cantik besok, calon istriku."


Evo memandang wajahnya. Apa? Apa maksudnya? Kayanya cowok ini habis kena sengatan listrik makanya omongannya tidak benar. Siapa juga yang sudi jadi istri dia?