MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Nasi Menjadi Bubur



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


*****


 


Rumah Keluarga Pratama.


Tok, tok, tok.


Hari sudah sore, Charlotte terus mengetuk pintu kamar Bagas. Sang kakak tidak kunjung membukakan pintu. Charlotte harus melakukan sesuatu, dia khawatir kakaknya melakukan hal nekat yang merugikan hidupnya.


“Pelayan! Pelayan!” teriak Charlotte.


“Iya, Nona Muda,” sahut pelayan rumah keluarga Pratama menghampiri nona mudanya.


“Cepat cari kunci cadangan kamar Mas Bagas! Kalian harus segera buka pintu kamar ini!” perintah


Charlotte.


"Baik, Nona!” jawab pelayan tersebut.


Beberapa menit kemudian pelayan tersebut datang membawa kunci cadangan. Charlotte segera membuka kamar


Bagas.


Mata Charlotte terbelalak, dia sangat terkejut melihat kamar Bagas yang hancur. Dia mencari


sosok kakaknya itu, “Ya, Tuhan, Mas Bagas! Apa yang kau lakukan?”


Bagas tergeletak jatuh ke lantai. Tangan Bagas berlumuran darah.


“Pelayan! Bantu aku mengangkat Mas Bagas!” teriak Charlotte yang sangat panik dengan keadaan Bagas.


Pelayan di rumah tersebut segera mengangkat Bagas ke tempat tidur. Charlotte segera memanggil


dokter agar memeriksa keadaan Bagas.  Setelah selesai Charlotte memandang Bagas dengan perasaan sedih. Tanpa dia sadari air mata Charlotte mengalir dipipinya.


Setengah jam kemudian, dokter sudah tiba di rumah keluarga Pratama. Dokter tersebut segera memeriksa


keadaan anak pertama dari keluarga Pramata tersebut.


“Bagaimana keadaan Mas Bagas, Dok?” tanya Charlotte yang sejak tadi cemas.


“Keadaan Bagas baik – baik saja. Saya harap Bagas tidak banyak pikiran. Sepertinya dia terpukul dengan suatu kejadian. Berikan kegiatan yang menyenangkan untuknya seperti makanan yang dia sukai,” saran Dokter.


“Mas Bagas tidak mau makan dari pagi, Dok,” cerita Charlotte.


“Oh, begitu. Saya akan berikan vitamin untuk menambah nafsu makan Bagas.”


Charlotte mengangguk setuju. Setelah selesai menulis resep obat, dokter memberikan resep tersebut kepada


Charlotte.


“Saya sudah selesai memeriksa, Bagas. Saya pamit dahulu. Semoga Bagas lekas sembuh,” pamit dokter.


“Terima kasih, Dokter,” ucap Charlotte.


“Evo…, Evo…,” panggil Bagas.


“Mas Bagas…, apa yang terjadi dengan kalian kemarin malam?” lirih Charlotte.


“Evo…”


*****


Rumah kontrakan.


Aku menyalakan telepon genggamku. Banyak telepon masuk dari tadi malam. Ada juga pesan masuk dalam telepon genggamku ini termasuk pesan dari Dina. Aku membuka pesan tersebut.


Evo, aku ingin memberitahu Maureen masuk rumah sakit.


Aku menghela napas panjang. Maureen ada di rumah sakit karena perbuataan Indra.


Drt... Drt…


Telepon genggamku berbunyi. Ada panggilan masuk. Indra yang menghubungi aku.


Aku mengabaikan panggilan tersebut. Aku tidak percaya apa yang dilakukan Indra kepadaku semalam. Dia sangat kejam pada aku dengan memfitnah aku di depan semua orang.


Drt… Drt…


Indra terus menerus meneleponku tanpa henti. Aku tetap tidak menghiraukan dirinya. Kamu telah


membuat semua orang membenci diriku. Aku tidak bisa memaafkan kamu, Indra.


Drt.


Pesan masuk dari telepon genggamku. Pesan dari Indra.


Jangan menyiksa aku dengan tidak mengangkat teleponku, Evo. Tolong angkat teleponku. Aku sangat merindukan


kamu. Aku ingin tahu bagaimana keadaan kamu?


Aku kesal dengan pesan Indra. Aku langsung menghapus pesan dari Indra. Lelaki itu memang sudah tidak


waras. Aku tidak akan memaafkan dia.


Drt… Drt…


“Apa kejadian tadi malam tidak membuat kamu puas untuk menghancurkan aku, Indra?” kesal aku.


Akhirnya aku mengangkat telepon dari Indra.


“Halo, Evo! Ini aku Rafael. Kenapa kamu marah – marah?” tanya Rafael dari seberang.


“Ra…, Rafa?”


“Iya, Evo. Ini aku Rafael,” ucap Rafael.


“Maafkan aku. Aku pikir tadi yang menelepon aku ….”


“Indra maksud kamu?” tanya Rafael.


“I …, iya.”


“Kemarin malam aku dijebak, Fa. Indra menjebak aku.”


Dari seberang sana, Rafael menarik nafas. Dia tahu pasti bahwa aku dijebak oleh Indra. Sebelumnya


aku telah menceritakan bahwa Indra mau berbuat jahat padaku. Masalah ini terlalu


rumit untuk diselesaikan.


Kemudian Rafael bertanya padaku,”Aku sudah mendengar semua ceritanya dari Maureen. Aku sangat


menyayangkan kejadian tadi malam. Bagaspun sampai tidak percaya padamu.”


“Bagaimana keadaan Maureen?” tanyaku menyadari bahwa Maureen juga tersakiti karena kejadian


tersebut.


“Dia baik – baik saja. Kamu tidak usah khawatir dengan Maureen. Ada aku dan Dina yang menjaganya. Aku


khawatir dengan dirimu, Vo,” jujur Rafael.


“Terima kasih, Fa. Kamu memang sahabat aku. Aku akan ke rumah sakit nanti. Aku akan bicarakan ini pada


Maureen. Aku tidak ingin dia salah paham padaku. Aku tidak mau kehilangan


sahabat seperti Maureen,” lirihku.


“Seandainya kamu bercerita sejak awal dengam Maureen dan Bagas, mungkin kejadian ini tidak akan


terjadi, Vo.”


“Nasi sudah menjadi bubur, Fa. Kita tidak bisa menyesali keadaan masa lalu. Aku harus memperbaiki semua masalah ini,” tegasku.


“Tapi saran aku pada kamu, jangan sekarang bertemu Maureen. Biarkan dia menenangkan diri,” saran Rafael.


“Aku harus bertemu dengan Maureen. Aku tidak mau ini berlarut – larut, Fa,” desakku.


“Terserah padamu. Aku hanya memberi saran. Kondisi perasaan Maureen belum stabil,” kata Rafael.


Aku menjadi diam. Aku semakin khawatir dengan kondisi Maureen. Indra harus membayar semua kejadian ini.


“Kamupun harus menenangkan diri. Aku rasa dalang semua ini bukan hanya Indra saja. Kamu harus hati – hati,


Vo.” Rafael memperingatkan diriku.


“Terima kasih untuk perhatian kamu, Fa. Aku akan berhati – hati. Aku harap kalian berdua tidak terlibat dengan kejadian ini. Aku tidak mau kehilangan kamu dan Dina,” pintaku pada Rafael.


“Aku pasti akan menjaga Dina. Jaga diri kamu. Bila membutuhkan bantuan, aku pasti akan membantumu.”


“Terima kasih, Rafael,” kataku lagi. Aku menutup telepon darinya, “Aku tidak bisa terus begini. Aku harus menyelesaikan masalah ini.”


Aku segera mencari tas aku, dan bersiap untuk pergi. Aku melangkah ke depan pintu rumahku, kemudian


membuka pintu tersebut.


“Hai, Evo,” ucap seseorang di depan pintu rumahnya.


Aku mengerutkan dahiku, “Kenapa kamu ke sini, Indra?”


“Wah, wah. Kenapa begitu seram dengan tamu?” tanya Indra.


“Tamu seperti kamu memang tidak seharusnya diberikan senyuman. Pergilah dari sini!” ucapku dengan tatapan


tajam.


“Apa kamu lupa kejadian tadi malam? Kamu begitu agresif padaku.”


“Kamu sudah gila! Pergi dari sini! Aku tidak ingin bertemu denganmu!” perintahku.


Indra mendekati aku, aku melangkah mundur. Indra sangat menyusahkan diriku sekali.


“Jangan mendekati diriku! Aku akan teriak,” ancamku.


“Baik, baik. Aku akan pergi. Aku hanya merindukan kamu,” ucap Indra.


“Jangan pernah kembali lagi ke sini, Indra. Aku sangat membenci dirimu!” geramku. Indra membalikkan


badan, lalu dia tersenyum.


“Itu tidak mungkin, sebelum aku mendapatkan dirimu, Vo!” ucap dirinya.


“Kamu tidak akan mendapatkan diriku, karena aku hanya mencintai Bagas!”


“Sayangnya, Bagas tidak percaya padamu. Cinta itu adalah saling percaya. Jadi pertanyaannya adalah


apakah Bagas benar mencintai kamu? Dia saja tidak percaya padamu.”


“Jangan sok tahu. Aku bukan Evo yang lemah. Aku yakin Bagas akan percaya padaku,” tangkisku padanya.


“Buktikan saja ucapan kamu,” ujar Indra tersenyum lalu pergi.


Aku akan buktikan padamu karena aku yakin bahwa Bagas ditakdirkan untuk diriku. Aku yakin Bagas akan percaya padaku. Aku harus menyelesaikan permasalahan ini. Evo dan Bagas pasti bersatu.


*****


Hai kamu, iya kamu! Terima kasih sudah membaca kisah Evo. Tetap setia ya membacanya. Evo tunggu kalian di episode selanjutnya. Jangan lupa gabung juga di group chat aku.


 


 


****


 


NEWS!!


Ada cerita baruku judulnya : CINTAI AKU, MR. KANEBO!


Silahkan dibaca, like, komment, bintang 5 dan share sebanyak - banyaknya. Terima kasih.


❤❤❤