
Sebelum kalian membaca, mohon ditekan ya jempol dibawah dan vote. Like dan vote kalian membuat saya semangat berkarya. Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
*****
Ruang Kantor Rafael.
Drrt, Drrt, Drrt.
Bunyi panggilan masuk di telepon genggam Rafael.
"Halo, maaf ini siapa?" tanya Rafael.
"Selamat siang, Pak. Apakah betul ini suami dari Bu Dina?" tanya seseorang dari seberang sana.
"Iya betul. Ada apa?" tanya Rafael lagi.
"Saya teman kantor Bu Dina. Saya mau memberitahu kalau Bu Dina masuk rumah sakit. Bu Dina pendarahan."
"APA? Bagaimana keadaannya dia sekarang? Di mana rumah sakitnya?" Rafael mulai panik.
"Rumah Sakit Akan Sehat, Pak. Bapak bisa segera ke mari."
Tanpa berpikir panjang, Rafael pergi ke rumah sakit.
🌹🌹🌹🌹
Rumah Keluarga Pratama.
"Mam, kamu serius dengan semua ini? Kenapa Mama melakukan ini sama Mas Bagas?" tanya Charlotte tidak percaya.
"Anak kecil tidak usah ikut campur urusan orang dewasa," tegas Bu Lina.
"Charlotte bukan anak kecil, Mam. Aku sudah umur dua puluh lima tahun. Jangan lakukan ini sama Mas Bagas. Mas Bagas benar - benar mencintai Evo," Charlotte mengingatkan Mamanya.
"Apa kamu bilang? Kamu bukan anak kecil? Mama masih membayar uang kuliah kamu. Mama juga yang memberikan fasiltas untukmu. Kalau kamu merasa diri kamu sudah dewasa, kamu tidak akan minta subsidi itu pada Mama," Bu Lina juga mengingatkan anak perempuannya.
Charlotte mendengus kesal mendengar ucapan Bu Lina. Bu Lina sama sekali tidak mendengar ucapan dirinya.
"Mama, sekali ini saja dengarkan aku," pinta Charlotte.
"Diam mulut kamu! Kamu tidak berhak memberikan nasehat pada saya. Saya tidak mau Bagas bersama dengan Evo. Evo wanita yang tidak pantas untuk Bagas. Kalau sampai mereka menikah, Bagas akan menderita. Dia bukan wanita yang baik, Charlotte! Kamu harus paham itu!" Bu Lina mulai terpancing emosi.
Charlotte menghela napas. Dia tidak bisa membantu Bagas lagi. Mama dan Papanya keras kepala.
"Apa yang kurang dari Mbak Evi, Ma? Apa dia kurang kaya? Apa karena dia sudah tidak punya orang tua sehingga Mama benar - benar tidak mau Mbak Evo menjadi menantu Mama? Kalau betul, Mama terlalu picik!"
PAK!
Bu Lina menampar Charlotte. Mata Chatlotte membelalak. Seumur hidup Charlotte, baru kali ini Mama berbuat kasar padanya.
"Jaga bicaramu! Kamu akan berterima kasih pada Mama suatu hari nanti karena hal ini," geram Bu Lina. Entah kenapa Chatlotte pun membela Evo. Apa bagusnya Evo hingga dibela kedua anaknya ini?
Charlotte mengelus pipinya, kemudian dia berkata lagi pada Bu Lina, "Semoga bukan penyesalan yang Mama dapatkan atas perbuatan kalian!"
Setelah berkata seperti itu, Charlotte pergi meninggalkan Bu Lina.
"Charlotte! Charlotte!" panggil Bu Lina, tetapi Charlotte tidak mau kembali.
"Evolet Rebecca, anak sialan. Kamu telah membuat kedua anakku membenciku. Namaku bukan Lina kalau tidak bisa memisahkan kalian," sumpah Bu Lina. Beliau sudah benar - benar geram.
🌹🌹🌹
Di Rumah Sakit Akan Sehat.
Rafael baru tiba di rumah sakit. Dia menuju ke ICU untuk melihat keadaan istrinya.
"Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Bagas pada salah satu rekan kerja Dina.
"Maaf, Apa bapak suami dari Bu Dina?" tanya wanita itu.
"Iya benar. Bagaimana keadaan istri saya?" Rafael mengulangi pertanyaan.
"Bu Dina sedang diperiksa oleh Dokter. Kami belum tahu bagaimana keadaannya sekarang," jelas wanita itu.
"Apa yang terjadi dengan istri saya? Mengapa dia bisa pendarahan?" tanya Rafael tidak percaya. Tadi pagi Dina baik dan sehat.
"Kami juga bingung apa yang terjadi dengan Bu Lina. Setelah dia menerima pesan dari telepon genggamnya, Bu Dina menjerit kesakitan. Keluar darah dari kakinya. Kemudian kami segera membawa Bu Dina ke sini," cerita mereka.
"Ya, Tuhan! Apa yang terjadi padamu, Dina? Semoga kamu dan anakku baik - baik saja," Rafael berdoa.
*****
Sorenya di apartemen.
Drt.... Drtt...
Telepon genggamku berdering. Aku menatap siapa gerangan yang menelepon. Maureen.
"Halo, Reen, " sapa aku.
"Halo, Vo. Aku ada kabar untukmu," ucap Maureen di seberang.
"Ada apa? Maaf aku langsung pulang tadi. Aoa kamu sakit?" tanya diriku.
"Bukan aku yang sakit, aku dapat kabar dari kantor kalau Dina masuk rumah sakit karena pendarahan," jelas Maureen.
"Apa?" tanyaku tidak percaya.
"Aku belum boleh pergi oleh orang tuaku. Tolong kamu yang lihat keadaan Dina dan kabari padaku," pinta Maureen.
"Baik, Maureen. Aku telepon Bagas dulu untuk bertanya apa benar Dina masuk rumah sakit? Kalau benar aku pasti akan segera ke rumah sakit untuk melihat keberadaan, Dina," ucapku.
"Oke. Aku tunggu kabar dari dirimu," kata Maureen.
"Di mana rumah sakit Dina?" tanyaku lagi.
"Rumah Sakit Akan Sehat."
Kemudian Maureen menutup teleponnya.
Segera aku menelepon Bagas.
"Halo, sayang. Baru beberapa jam tidak bertemu kamu udah kangen aja ya sama aku," sapa Bagas.
"Bagas, aku mau tanya sama kamu." kataku lagi. Aku panik mendengar Dina masuk rumah sakit. Apa lagi dia pendarahan.
"Aku mencintaimu. Sudah aku jawab pertanyaanmu," jawab Bagas.
"Bagas aku sedang tidak bercanda! Aku mau tanya tentang ...."
"Nanti aku akan menelepon kamu lagi sayang. Aku sedang sibuk hari ini. Sepertinya aku akan pulang larut." Bagas menutup teleponnya.
Arrgggh! Aku menjerit kesal. Bagas lagi menyebalkan. Aku lagi serius seperti ini malah bercanda.
Aku menghela napas panjang. Sepertinya aku langsung ke rumah sakit yang diberitahu oleh Maureen.
"Halo, Pak Udin. Tolong jemput saya di apartemen," kataku menelepon supir pribadi Bagas.
"Baik, Nona. Lima belas menit lagi saya akan sampai," jawab Pak Udin.
"Baik, saya tunggu."
Semoga Dina dan anak dalam kandungannya baik - baik saja.
*****
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Rafael begitu cemas.
"Kandungan istri bapak selamat. Istri bapak Bu Dina juga selamat. Saran saya tolong jaga emosi Bu Dina selama proses kehamilan, biar tidak terjadi hal seperti ini," jelas Dokter panjang lebar.
"Terima kasih, Dokter. Apa sudah boleh saya menjenguk istri saya?"
"Boleh, tapi sebentar ya, petugas sedang mengantarkan Bu Dina ke ruang inap," jelas Dokter.
Rafael bergegas ke ruang inap Dina. Dia membuka pintu.
"Hai, sayang! Bagaimana keadaanmu?" kata Rafael kemudian menghampiri Dina.
"Pergi! Aku tidak mau bertemu denganmu lagi, Fa." ucap Dina tiba - tiba.
"Ada apa dengan kamu? Kenapa tiba - tiba berkata seperti itu?" tanya Rafael tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.
"Waktu pertama kamu selingkuh, aku memaafkan kamu dan berpikir bahwa kamu tidak akan selingkuh lagi. Tapi ternyata aku salah, kamu selingkuh lagi! Selingkuh untuk kedua kalinya!" marah Dina.
"Aku? Apa kamu bilang? Aku selingkuh dengan siapa?" tanya Rafael bingung. Rafael memegang tangan Dina. Dina menepisnya.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu!" kecam Dina.
"Kenapa dengan kamu sayang? Aku tidak selingkuh dengan siapapun. Aku berani bersumpah!" ucap Rafael.
"Simpan sumpah kamu! Pergi dari sini!!!" jerit Dina. Perut Dina berkontraksi lagi.
"Aghhh!" teriak Dina kesakitan.
"Dina! Dina, kenapa denganmu? Dokter! Suster! Tolong istri saya!" teriak Rafael panik.
*****
Aku berlari ke adminstrasi, lalu berkata, "Permisi, Mbak. Saya mau tanya apa ada pasien bernama Bu Dina?"
Perawat penjaga melihat buku nama pasien yang baru datang. Setelah mengecek dia berkata, "Ada, Mbak."
"Dirawat di kamar mana Mbak?" tanyaku lagi.
"Ruang Edelweis lantai 2 nomor 345." ucap perawat tersebut memberi tahu.
"Terima kasih, Mbak."
Akupun menuju ruang yang di beritahu oleh perawat. Sesampainya di ruangan aku melihat Rafael di luar. Dia sedang menangis. Aku menghampiri Rafael.
"Bagaimana keadaan Dina? Apa begitu gawat?" tanyaku.
"Hai, Evo. Dina kontraksi lagi." jelas Rafael lemas.
"Apa yang terjadi? Kenapa dia bisa pendarahan?" tanya aku lagi tidak percaya.
Rafael menggeleng kepala. Dia tidak apa yang telah terjadi. Dina hanya marah padanya dan menuduh dia selingkuh.
"Ada apa, Fa? Kenapa dengan kamu?"
"Dina menuduh aku selingkuh. Aku tidak tahu kenapa dia menuduhku seperti itu. Ketika aku bertanya bersama siapa aku selingkuh. Perut Dina berkontraksi lagi. Dokter sedang memeriksa di dalam," cerita Rafael.
Dokter ke luar dari ruangan Dina.
"Bagaimana Dok keadaan Dina?" tanya Rafael lagi.
"Saya sudah bilang jangan membuat pasien stress. Kalau terus perutnya berkontraksi bayi yang ada dalam kandungannya bisa keguguran." Dokter memberi tahu.
"Maafkan saya, Dok. Saya akan selalu mengingat pesan, Dokter." janji Rafael. Dokter pergi bersama perawat.
"Boleh aku masuk, Fa?" tanyaku pada Rafael. Aku takut akan mengganggu Dina. Rafael mengangguk.
"Silahkan, Vo. Siapa tahu Dina mau cerita semuanya padamu," respon Rafael.
Setelah minta izin dengan Rafael, aku masuk ke ruangan Dina.
"Permisi," izinku. Dina yang melihatku hanya diam saja. Muka Dina masih pucat. Dia masih menahan rasa sakit setelah pendarahan.
"Bagaimana keadaanmu?" tanyaku merasa cemas.
"Ternyata kamu masih peduli denganku setelah kelakuanmu itu padaku," sengit Dina.
"Apa maksud kamu, Din? Aku tidak mengerti." tanya aku pada Dina. Dina benar - benar aneh. Aku datang menjenguknya, lalu dia berkata seperti itu padaku.
"Aku sahabat kamu, tentu saja aku peduli padamu." jelasku.
"Seorang sahabat tidak akan mengkhianati sahabatnya, Vo. Kamu bukan sahabat aku. Kamu pengkhianat!" tuduh Dina.
"Aku tidak mengkhianati dirimu, Din. Kenapa kamu tidak percaya padaku? Aku sangat tidak tahu kamu bicara apa padaku."
"Aku mohon pergilah dari sini, kalau kamu masih menganggapku diriku sahabat kamu!" kesal Dina.
Mendengar ucapan Dina aku ke luar dari ruangan tersebut. Aku mengingat kata - kata Dokter untuk tidak membuat emosi atau stress Dina.
"Bagaimana? Apa dia mau bicara padamu?" tanya Rafael.
Aku menggeleng kepala. Dia juga bingung apa yang terjadi dengan sahabatnya itu.
"Dina malah mengusirku," jelasku sedih.
"Pasti terjadi sesuatu pada Dina. Pasti ada yang menghasyut Dina sehingga membenci kita," ucap Rafael.
"Tapi siapa, Fa?" tanyaku.
"Itu yang harus kita cari tahu," ucap Rafael.
"Kamu benar, Fa. Kita harus cari tahu," kata aku sepakat dengan ucapan Rafael.
"Aku tidak mau berpisah dengan Dina. Hanya Dina yang aku cintai."
*****
Apartemen Bagas.
Sesampainya di apartemen aku langsung menghubungi Maureen.
"Halo," sapaku.
"Evo!! Senang sekali aku mendengar suaramu. Aku menunggu kabar kamu dari tadi," ucap Maureen.
"Iya, Maureen. Ini aku mau mengabari kamu," kataku.
"Bagaimana keadaan Dina?" tanya Maureen tidak sabar.
"Dina sudah membaik. Bayi dalam kandungannya selamat," ceritaku.
"Syukurlah, aku senang mendengarnya. Aku takut terjadi apa - apa pada Dina," girang Maureen.
Aku menggaruk kepalaku, bingung apa aku cerita saja ya pada Maureen tentang perbuatan Dina padaku.
"Kenapa kamu diam?" tanya Maureen di seberang.
"Tidak. Tidak apa.- apa. Bagaimana keadaanmu?" kataku mengubah topik pembicaraan. Sebaiknya aku tidak cerita pada Maureen.