
Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
*****
Dunia nyata.
"Apa? Apa yang kamu katakan? Apa yang sedang kamu karang itu?" tanya Siska tidak percaya.
"Itu kenyataan yang harus kamu terima, Siska. Keluargamu mengancam aku untuk dipenjara. Mereka membuat cerita bohong tentang Charlote. Charlote tidak pernah merebut aku dari tanganmu. Dia yang selalu membantu aku untuk kembali padamu, tapi Mamamu selalu mencegah kami untuk bertemu denganmu!" cerita Evan.
Tidak, itu tidak mungkin. Kamu bohong, Evan! Bohong!" jerit Siska tidak percaya.
"Aku tidak bohong!! Jadi aku mohon jangan menyakiti Charlotte lagi, kalau kamu mau benci, bencilah keluargamu dan aku. Bukan benci dengan Charlote!" pinta Evan.
"Evan, udah. Cukup Evan. Aku mohon padamu. Ini masa lalu, tolong jangan diungkit lagi," mohon Charlote.
"Dengar? Apa kamu dengar ucapan Charlote? Dia malah tidak mau membongkar kebusukan kedua orang tuamu. Seharusnya kamu malu dengan semua itu. Harusnya kamu sadar bahwa Charlotte sangat menyayangi kamu!" marah Evan.
Tes, tes, tes.
Air mata Siska mengalir di pipinya. Dia tidak bisa membendung lagi air mata yang dia tahan sejak tadi.
"Evan, cukup! Kataku cukup!" pinta Chalote dengan tegas. Charlote sedih melihat Siska menangis. Jauh di lubuk hati Charlotte sebenarnya masih menganggap Siska sahabatnya.
"Maafkan Evan, Sis. Kamu jangan nangis ya," ujar Charlotte memberikan sapu tangannya.
Siska mengambil sapu tangan Charlotte kemudian dia menghapus air matanya. Setelah menghapus air mata, dia pergi meninggalkan sepasang kekasih itu.
"Eh, kenapa malah pergi? Bukannya minta maaf!" kesal Evan.
Charlote menenangkan pacarnya itu," Sudahlah sayang, dia sudah menerima hukuman atas apa yang dilakukannha padaku,"
"Apa maksud kamu?" tanya Evan.
"Kamu menghukum dia dengan memberitahu semua kebenaran itu. Dia pasti sangat terpukul saat ini karena orang tuanya dia harus kehilangan dua orang yang disayanginya. Aku dan kamu. Siska pasti sangat terluka saat ini," ucap Charlotte.
"Kamu benar sayang, maafkan aku ya. Seharusnya aku tidak usah menceritakan hal tersebut pada Siska, tapi aku sangat kesal tadi atas perbuatannya." ujar Evan.
Evan sependapat dengan pacarnya bahwa Evan telah menghukum Siska dengan memberitahu apa yang sebenarnya dulu terjadi.
"Sudahlah, sayang. Aku sudah lapar. Ayo kita makan," ajak Charlotte.
"Baiklah, kesayangan aku. Perintahmu selalu aku laksanakan. Mau makan di mana kita hari ini?" ucap Evan sambil tersenyum.
"Aku mau makan nasi goreng yang dekat kemang itu, tapi yang bayar kamu ya," ucap Charlotte.
"Loh kok aku? Kenapa jadi aku?" tanya Evan bercanda.
"Karena hari ini kamu udah nyakitin aku," ucap Charlote.
"Kapan aku menyakiti kamu?" tanya Evan bingung.
"Iya kamu menyakiti aku. Jadi kalau kamu sakiti wanita siapapun itu termasuk Siska berarti kamu juga menyakiti hati aku. Hukumannya adalah kamu harus traktir aku makan," kata Charlotte.
Evan tersenyum. Ada aja tinglah Charlotte yang membuat Evan selalu kagum padanya.
"Baiklah, aku minta maaf telah menyakiti Siska. Sebagai permintaan maaf aku, aku akan mentraktir kamu makan," ucap Evan.
*****
Sebuah kafe.
"Terima kasih semalam sudah mengantarku pulang dan mau menemaniku makan malam ini," ucap Maureen.
"Sama - sama. Kebetulan aku habis bertemu dengan rekan kerjaku di sini," ucap Indra.
Tadi pagi Maureen memberanikan diri untuk menelepon mantan kekasihnya itu. Tidak disangka kalau lelaki itu mau bertemu dengan dirinya.
"Ndra," panggil Maureen. Indra yang asyik dengan makanannya menoleh melihat Maureen.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?" tanya Maureen hati - hati.
"Apa?" jawab Indra. Dia menghentikan makannya sejenak.
"Kenapa kamu begitu baik padaku?" tanya Maureen.
"Karena kamu sahabatku," jawab Indra singkat, jelas dan padat.
"Apa belum ada jawaban atas permintanku waktu itu?" Maureen mencoba bertanya lagi.
"Pertanyaan? pertanyaan yang mana?" tanya Indra bingung.
"Aku mau kamu kembali padaku," pinta Maureen.
Indra memegang tangan Maureen, kemudian pria itu berkata,"Aku tahu ini berat untuk kita lalui bersama, tapi maaf kita jadi sahabat saja ya, Maureen. Aku tidak mencintai kamu lagi."
"Begitu cepatkah perasaan kamu berubah padaku?" tanya Maureen tidak percaya.
"Aku mencintai wanita lain, Ren. Aku harap kamu bisa pahami itu," ucap Indra.
"Apa tidak ada kesempatan lagi untukku?" tanya Maureen sekali lagi.
"Maaf, Maureen. Tidak. Aku janji padamu apabila kamu membutuhkan aku, aku akan datang membantu kamu," ucap Indra meyakinkan Maureen.
Hati Maureen patah lagi. Ini untuk kedua kalinya dia berusaha untuk baikkan kepada lelaki itu. Dia sangat mencintai Indra.
Tes, tes, tes.
Air mata Maureen menetes di pipinya. Indra yang melihatnya langsung menghapus air mata Maureen.
"Maureen, aku mohon jangan seperti ini ya, jangan membuat aku merasa bersalah. Kalah kita memaksakan perasaan kita, itu tidak baik jadinya. Aku mohon mengertilah," bujuk Indra.
"Boleh aku meminjam bahumu untuk aku sandar? Aku mohon sekali ini saja. Aku ingin menangis sepuasnya.
"Aku izinkan, tapi aku mohon juga agar kamu pelan - pelan melupakan aku. Aku tidak pantas untuk kamu. Kamu berhak mendapatkan lelaki yang baik," Indra memberikan saran.
Terdengar suara lagu dari pemain musik yang ada di kafe tersebut. Lagu dari Laluna dengan judul Selepas Kau Pergi.
Air mata Maureen semakin deras mendengar lagu tersebut. Lagu itu benar - benar pas dengan suasana hatinya sekarang. Indra sebenarnya sudah lama ingin pergi meninggalkan dia. Indra sudah tidak mencintai dia lagi. Maureen harus segera melupakan Indra untuk selamanya.
*****
Hai kamu, iya kamu! Terima kasih sudah membaca kisah Evo. Tetap setia ya membacanya. Evo tunggu kalian di episode selanjutnya. Jangan lupa gabung juga di group chat aku. ❤❤❤