MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Dia adalah Cinta Pertamaku



Keesokan harinya.


 


 


  Evo dan Bastian baru saja sampai di kantor. Kami menuju ke lift, untuk naik ke lantai atas. Tidak sengaja kami bertemu dengan Bagas dan Dea. Dea sedang merangkul Bagas dengan mesra. Melihat itu perasaan cemburu datang ke dalam hati Evo.


 


 


  “Selamat pagi,” ucap Dea dengan ramah. Sepertinya dia ingin menunjukkan bahwa mereka adalah pasangan mesra.


 


 


  Evo membalas sapaan Dea dengan tersenyum. Pintu lift terbuka, secara bergantian kami masuk ke dalam lift. Di ruangan tersebut sunyi. Tidak ada satupun diantara kami yang memulai percakapan.


 


 


“Bagaimana kabarmu, Vo?” tanya Dea membuka percakapan.


 


 


  “Seperti yang kamu lihat,” jawab Evo sederhana. Sebenarnya Evo tidak ingin menjawab pertanyaan basa basi yang dilontarkan Dea, tapi di sana ada Bastian dan Bagas, sehingga terpaksa Evo menjawab pertanyaan tersebut.


 


 


  “Aku senang kamu bahagia setelah kami memergokimu di kamar hotel,” sindir Dea. Bastian yang mulai tidak suka dengan arah pembicaraan itu ingin membalas, tapi Evo mencegah Bastian dengan memegang tangannya.


 


 


  “Ah, sudahlah lupakan masa lalu kelammu itu. Bagaimana kalau kita makan siang bareng? Aku ingin memberitahu kabar bahagia untuk kalian. Bukankah begitu Bagas sayang?” tanya Dea mesra.


 


 


  “Terserah kamu. Jangan memaksa Evo kalau memang Evo tidak mau,” ucap Bagas. Dalam hati Bagas berharap Evo tidak menerima undangan makan siang itu.


 


 


  “Apa aku harus minta izin kekasihmu dulu untuk mengajakmu makan siang? Kalau kamu mau, Bastian juga bisa kamu ajak,” ujar Dea dengan manis.


 


 


  “Terima kasih undangannya, tapi kami tidak bisa ikut. Benarkan, Bas?” tanya Evo pada Bastian.


 


 


  “Benar, hari ini kami sudah ada janji. Mungkin lain waktu kami bisa menerima undangan kalian.”


 


 


  “Wah, sungguh? Kalau begitu kalian persiapkan diri kalian untuk menghadiri pernikahan kami dua bulan lagi. Aku rasa ini bukan dadakan,” ucap Dea.


 


 


  Mendengar undangan dari Dea, hati Evo terasa sakit. Ternyata pernikahan mereka bukan bohongan. Mengapa kemarin malam Bagas memperlakukannya dengan mesra? Bodohnya Evo mau mengikutinya.


 


 


  “Akan aku pertimbangkan,” kataku dengan lemah.


 


 


  Pintu lift terbuka. Terlihat jelas di lift tersebut bahwa kami telah tiba di lantai 5. Bagas dan Dea keluar dari lift karena ruangan Bagas ada di lantai 5. Setelah mereka turun, pintu kembali tertutup.


 


 


  Bastian melirik ke arah Evo. Dia merasakan perubahan wajah dari wanita tersebut. Bastian paham dengan perasaan Evo sekarang, tapi sayangnya Bastian juga sedang patah hati melihat kejadian semalam. Sulit rasanya menghibur Evo saat ini.


 


 


*****


Ruangan Bastian.


 


 


   Setelah beberapa lama vakum tidak menulis, Evo mulai menulis kembali. Sudah ada empat buku yang telah Evo terbitkan. Sekarang buku kelima sedang coba Evo buat kembali. Buku kelimanya kembali bertemakan romantis. Kali ini tentang seorang wanita yang bekerja keras demi menarik hati seorang lelaki pujaan hatinya.


 


 


  Bastian yang lelah dengan berbagai dokumen, menutup dokumen itu. Sejenak dia ingin beristirahat. Dia menghampiri Evo lalu melirik ke arah laptopnya itu.


 


 


  “Wanita itu mencium lalu…,” Bastian membaca naskah novel Evo di laptopnya. Buru – buru Evo menutup laptop tersebut.


 


 


  “Bastian!” protes Evo.


 


 


  “Apa?” tanya Bastian.


 


 


  “Sejak kapan kamu berdiri di situ?” tanya Evo balik.


 


 


  “Sejak kamu menulis wanita itu mencium…,” kata Bastian menggoda Evo. Dengan segera Evo menutup mulut Bagas dengan tangannya. Bastian memegang tangan Evo. Beberapa saat waktu berhenti. Bastian dan Evo saling menatap, tidak ada suara sedikitpun di ruangan itu.


 


 


  Evo tersadar, lalu dia melepaskan tangannya dari mulut Bastian. Dia terkejut kenapa dia bisa menyentuh bibir Bastian.


 


 


  “Eh, anu, kamu mau teh? Biar aku buatkan,” tanya Evo mencoba memecahkan keheningan.


 


 


  “Boleh,” kata Bastian kembali ke tempat duduknya.


 


 


  Evo mengambil sebuah cangkir, dan sendok. Perempuan itu mengisi cangkir tersebut dengan satu sendok gula. Evo tahu Bastian tidak suka minum teh terlalu manis. Setelah menaruh gula, Evo menuangkan air panas untuk menyeduh teh tersebut. Evo mengaduk agar gula bercampur rata dengan air.


 


 


  “Silahkan,” ucap Evo ketika selesai membuat teh manis dan memberikan kepada Bastian.


 


 


  “Terima kasih, Vo,” kata Bastian.


 


 


   “Sama – sama.”


 


 


  “Apa yang sedang kamu buat?” tanya Bastian.


 


 


  “Aku sedang membuat novel, Bas. Dulu aku pernah cerita sama kamukan kalau aku adalah penulis,” kenang Evo.


 


 


  Bastian mengangguk, dia masih ingat sekali bahwa Evo menulis sejak SD. Dia menerbitkan ceritanya sebagai buku karena janji mereka berdua. Evo berhasil mewujudkan janjinya tapi sayang aku terlambat untuk menemukannya.


 


 


  “Tentu saja aku ingat. Sampai sekarang kamu belum memberikan novelmu kepadaku. Padahal aku sudah balik dari Indonesia,” Bastian menagih janjinya.


 


 


  “Astaga, Bastian! Aku sampai lupa!” ucap Evo sambil menepuk jidat, “novelku semua ada di rumah kontrakan, nanti aku akan minta Rafael untuk diberikan padamu.”


 


 


  “Aku tunggu janjimu.”


 


 


  “Aku tidak akan lupa lagi. Janji. Teman baik tidak akan ingkar janji,” kata Evo sambil tersenyum.


 


 


 


 


“Vo,” panggil Bastian.


 


 


“Ya?”


 


 


“Sejak kapan kamu mulai menulis?” tanya Bastian.


 


 


  “Aku suka menulis sejak kecil, Bas. Dulu ada seseorang yang suka membaca tulisanku,” cerita Evo dengan menggebu – gebu. Evo sangat ingat kalau bukan karena janji itu, pasti dia tidak akan menulis sampai sejauh ini.


 


 


  “Oh, ya? Pasti tulisan kamu bagus ya?” ucap Bastian.


 


 


  Bastian mengingat kejadian waktu SD dahulu.


 


 


Flash Back dulu ya.


 


 


“ Dua belas tahun mendatang, kira-kira kita akan menjadi apa ya, Rel?” tanyaku sambil menatap cerahnya langit dikala itu.


 


 


“Hmm, apa ya, Moy?” tanyanya balik. Dia bingung dengan pertanyaan sahabatnya itu.


 


 


“Kitakan baru kelas 6 SD,” ujar Karel lagi.


 


 


" Tolonglah Karel jangan manggil namaku dengan Moy. Namaku Evo. Evo lebih manis," protesku.


 


 


" Bagusan Moy."


 


 


"Ih, kesal sama kamu!"


 


 


Karel tertawa menanggapinya.


 


 


“Terserahlah. Baiklah kita kembali ke topik semula. Walaupun baru kelas 6 SD kan kita harus punya impian!” sahutku.


 


 


Karel sahabatku berpikir sejenak, kemudian dia berkata, “Aku mau keluar negeri aja.”


 


 


“Luar negeri?” aku terkejut. Ada perasaan yang mengganjal mendengar ucapannya itu, rasa tak rela kehilangannya.


 


 


“Iya, kuliah terus main sepak bola dan jadi pemain professional kaya kapten Tsubasa!”


 


 


Aku tertawa keras. Karel memukul kepalaku.


 


 


“Aduh! Sakit, Karel!" ringkisku.


 


 


“Kenapa tertawa?”


 


 


“Habis kamu lucu sekali. Kapten Tsubasakan hanya kartun. Tokoh kartun kenapa dijadikan impian?”


 


 


“Walau hanya kartun, Tsubasakan bisa memotivasi aku menjadi seorang pemain sepakbola professional!” belanya.


 


 


“Baiklah, baik! Jangan cemberut seperti itu!”


 


 


“Cemberut? Tidak.” bantah Karel. Aku tertawa lagi melihat tingkah temanku itu.


 


 


" Bagaimana dengan kamu? Di mana kamu akan kuliah?" tanya Karel lagi.


 


 


“Ya, aku di sini ajalah. Aku kan cinta Indonesia! Kamu di sini ajalah kuliahnya. Biar aku ada teman!”


 


 


Karel sedang berpikir, lalu dia berkata ”Aku punya ide. Bagaimana beberapa tahun mendatang kita bertemu? Kamukan suka menulis, lalu cobalah untuk menerbitkan bukumu."


 


 


“Terus?” Aku masih bingung dengan arah pemikirannya.


 


 


“Aku janji, kalau nanti novelmu terbit aku jemput kamu di sini. Kita ke luar negeri bersama. Bagaimana?”


 


 


“Apa? Apa kamu pikir menerbitkan novel itu mudah?” sewotku langsung berdiri. Bel selesai istirahat sudah berbunyi.


 


 


“Kalau kamu berusaha pasti bisalah! Pokoknya kita sepakat!” Karel menarik tanganku lalu menjabat tangannya.


.


Kembali ke dunia nyata.


 


 


  Janji itu masih terekam jelas dibenak Bastian. Ingin rasanya Bastian membongkar semua rahasia itu.


 


 


  “Sepertinya orang itu sangat berarti ya buat kamu?”


 


 


  Evo mengangguk setuju, ucapan Bastian tepat sekali. Kalau bukan karena orang itu, dia tidak akan membuat novel sebanyak ini.


 


 


  “Sangat, Bas. Dia itu cinta pertamaku….”


*****


Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya. Minta tolong banget dilike ya.


 


 


❤❤❤