MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Provokasi



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


*****


Pak Dirly berdiri dari tempat dudukya, lalu dia menghampiri Charlotte. Sudah lama aku menunggu untuk berduaan dengan kamu, Char, ujar Pak Dirly dalam hati.


Pak Dirly menarik kursi Charlotte, lalu dia berlutut di hadapan wanita itu.


"Bapak? Bapak mau apa?" tanya Charlotte mulai takut.


"Sudah lama aku ingin mengatakan ini semua padamu. Aku sudah lama memendam perasaan ini padamu, aku sangat mencintai kamu."


"A...apa maksud Pak Dirly?" tanya Charlotte mulai pucat. Sepertinya Pak Dirly sudah mulai gila.


"Aku sangat mencintai kamu, Char. Sekali saja, aku ingin merasakan dirimu. Aku ingin mencium bibir merahmu. Menyentuh lembut kulit tubuhmu," ucap Pak Dirly sambil menyentuh dengan perlahan tubuh Charlotte.


"Tolong, Pak. Jangan begini!" pinta Charlotte tambah takut.


Pak Dirlypun tidak mendengarkan perkataan Charlotte. Dia mencium Charlotte dengan paksa. Charlotte menggigit bibir bawah Pak Dirly.


"AGH!" teriak Pak Dirly. Lalu Charlotte dengan segera pergi ke luar dari ruangan tersebut.


Charlotte menangis diperlakukan seperti itu oleh Pak Dirly. Dia tidak pernah menyangka bahwa dosennya melakukan hal yang memalukan seperti itu.


BRUK!


"Maaf," ujar Charlotte.


"Aku yang minta ..., Charlotte? Kenapa kamu menangis?" tanya Siska.


Charlotte memeluk Siska, diapun menumpahkan kekesalannya pada Siska.


*****


Kantor keluarga Hermawan.


"Kenapa kamu putuskan aku saat itu?" tanya Dea.


"Kita sedang bekerja Dea. Tolong jangan mencampurkan masalah pribadi dengan masalah kantor. Itu tidak etis."


Dea diam mendengar ucapan Bagas. Dia tahu Bagas pasti tidak mau menjawab.


"Aku hanya kasihan padamu, Gas," ucap Dea.


"Kenapa kasihan padaku?" tanya Bagas bingung.


"Jangan terlalu mencintai seseorang, suatu hari kalau dia menyakitimu, rasanya akan sangat menyakitkan."


"Apa maksud kamu?" Bagas mengerutkan dahinya.


"Aku tidak bisa bicara banyak sekarang, tapi yang harus kamu tahu aku selalu ada disini dan menunggumu," ucap Dea lagi.


"Jangan bertele- tele, Dea!" pinta Bagas.


"Evolet. Dia bermain di belakangmu."


"Apa buktinya?" tanya Bagas.


"Apa kamu lupa? Aku pernah melihatmu memegang sebuah obat dan kamu meletakkannya di mejamu. Aku memeriksa obat tersebut di apotik. Obat itu adalah obat pencegah kehamilan. Aku yakin bukan kamu yang meminumnya, tapi Evolet. Akupun menduga Evo tidak mau punya anak dengan kamu!" jelas Dea.


"Ya, dia telah menjelaskan padaku bahwa dia takut punya anak karena kami belum menikah."


"Itu hanya sebuah alasan, Bagas. Wanita yang mencintai seorang pria dengan tulus akan mengorbankan apapun untuk lelaki yang dia cintai. Evo tidak menginginkan kamu menjadi ayah bagi anaknya itu terbukti kalau dia tidak mencintaimu."


Bagas mulai diam mendengar ucapan Dea. Kali ini ucapan Dea ada benarnya juga.


"Satu hal lagi," ucap Dea. Dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Dia memberikan sebuah buku pada Bagas.


"Buku apa ini?" tanya Bagas.


"Itu buku novel yang dibuat oleh Evolet. Dia mencintai orang lain, tapi bukan kamu. Evolet Rebecca menulis novel tersebut untuk cinta pertamanya. Dia masih mencari cinta pertama dia, Bagas! Kamu harus sadar itu."


"Sudahlah, Dea. Sudah saatnya kita bekerja. Buku novel ini hanya sebuah imajinasi penulisnya. Jangan kamu sangkut pautkan ini dengan pekerjaan kita. Ayo bantu aku," pinta Bagas.


Sial sekali. Kenapa Bagas susah sekali diprovokasi? ucap Dea dalam hati.


*****


Rumah kontrakan


"EVOLET REBECCA!!"


"Tante Lina?" ujar Evo tidak percaya. Bu Lina dan Pak Freddy masuk ke rumah mereka.


PAK!


Bu Lina menampar pipi aku dengan keras. Aku sangat kaget, begitu juga dengan Indra.


"Wanita kurang ajar!  Bagas anakku di pecat dari perusahaannya karena membela kamu. Dia sekarang harus bekerja keras untuk kamu, tetapi kamu malah berbuat tidak baik di rumah ini dengan lelaki. Gila! Ini namanya sudah gila!" amuk Bu Lina.


"Tante Lina, aku bisa jelaskan ini semua."


"Seharusnya Bagas bisa melihat ini semua! Kamu tidak pantas untuk dipertahankan. Dari awal kami sudah menduga bahwa kamu seorang wanita yang tidak baik untuk Bagas," ucap Pak Freddy.


"Maaf Om, Tante. Ini semua salah paham saya dan Evo tidak berbuat seperti apa yang kalian pikirkan," bela Indra.


"Mana ada maling yang mau mengaku!" kesal Pak Freddy.


Bu Lina menghampiri Evo lebih dekat lalu menjambak rambutnya, "Sampai kapan kamu menahan anak saya Bagas? Dasar wanita tidak tahu diri!"


"Agh!" jeritku.


Indra mencoba melepaskan tangan Bu Lina dari rambutku, "Maaf, Tante. Perbuataan Tante sudah kriminal. Saya mohon dengan kerendahan hati, Tante segera keluar fari rumah ini."


"Wah, wah, anak bau kencur sudah berani melawan saya," kesal Bu Lina, "Apa kamu tidak tahu kami siapa? Kami adalah keluarga terpandang di sini. Perusahaanmu kapan saja bisa kami hancurkan."


"Silahkan kalau tante mau menghancurkan perusahaan saya, tapi saya akan tetap bela Evolet. Kami tidak berbuat apa -apa, dan kami tidak bersalah," tegas Indra.


"Indra udah cukup. Jangan hiraukan mereka," ucap aku.


"Anak kurang ajar kamu. Lihat saja apa yang akan aku lakukan pada kamu nanti!" ancam Pak Freddy.


*Indra? Sepertinya aku pernah mendengar nama anak ini. Apa jangan - jangan dia yang dimaksud Dea? *ujar Bu Lina dalam hati.


Mendengar ucapan aku, Indra diam tidak menanggapi perkataan Pak Freddy.


"Sudahlah, Pa. Kamu Evolet Rebecca! Saya peringatkan padamu pergi dari kehidupan Bagas. Alam semestapun tidak setuju dengan hubungan kalian. Jangan kamu hancurkan Bagas untuk sekian kalinya," kata Bu Lina memperingati diriku.


"Maaf, Tante. Saya mencintai Bagas. Saya tidak bisa meninggalkan Bagas," ujarku.


"Dasar wanita keras kepala! Ingat waktumu tidak akan lama untuk memikirkan ini semua. Percaya padaku bahwa aku akan segera menghancurkan kamu kalau kamu tidak mau mendengarkan kata- kata saya," ancam Bu Lina.


"Percuma kita mendengarkan wanita yang hanya ingin harta Bagas saja. Ayo kita pergi dari sini," ucap Pak Freddy.


"Kamu akan menyesal Evolet Rebecca. Saya berani menghancurkan anak saya, apalagi kamu," kata Bu Lina. Kedua orang tua itu pergi dari rumahku.


Kata - kata Bu Lina membuat bulu kudukku berdiri. Aku tersadar kalau akan satu hal. Apa selama ini sumber dari segala masalah yang menimpa Bagas adalah dari kedua orang tuanya? Kalau benar, mereka sungguh sangat tega dengan Bagas.


"Apa kamu baik - baik saja, Vo?" tanya Indra menyentuh pipiku, "Apakah masih sakit?"


Aku menepis tangan Indra, kemudian berkata, "Aku tidak apa - apa, Dra. Maafkan aku, kamu tidak seharusnya melihat kejadian ini."


"Tidak masalah, Vo. Apa mereka selalu berbuat seperti ini padamu?" tanya Indra.


"Tidak. Tidak pernah, sepertinya mereka sedang buruk perasaannya," dustaku.


Kamu berbohong, Vo. Raut mukamu berbanding terbalik dengan apa yang kamu katakan, ujar Indra dalam hati.


"Indra," kataku.


"Ya?"


"Aku mohon jangan ceritakan kejadian hari ini pada siapa pun," pintaku pada Indra.


"Kenapa?" tanya Indra penasaran.


"Jangan tanya alasannya ya, Ndra. Itu saja pintaku padamu. Maaf juga hari ini aku tidak bisa ikut bekerja dengan kamu," ucapku lagi.


Tiba - tiba Indra memelukku, kemudian dia berkata, "Menangislah, Vo. Jangan kamu tahan. Aku tahu kamu pasti sangat sedih. Aku ada di sini untukmu."


*****


Hai kamu, iya kamu! Terima kasih sudah membaca kisah Evo. Tetap setia ya membacanya. Evo tunggu kalian di episode selanjutnya. Jangan lupa gabung juga di group chat aku.


NEWS!!


Ada cerita baruku judulnya : CINTAI AKU, MR. KANEBO.


Silahkan dibaca, like, komment, bintang 5 dan share sebanyak - banyaknya. Terima kasih.


❤❤❤