MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
MOY



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


 


 


 


 


*****


Salah satu Mall di Jakarta.


 


 


“Apa kamu yakin hanya ini yang kamu beli?” tanya Mbak Meli.


 


 


“Ini sudah lebih dari cukup, Mbak. Aku tidak mau beli lagi,” ucapku. Aku menolak ajakan Mbak Meli untuk membeli pakaian karena yang kami beli saja sudah banyak.


 


 


“Aku tidak mau kamu sungkan padaku ya. Aku sudah menganggap kamu saudaraku sendiri. Jadi belilah apa yang mau kamu beli.”


 


 


“Mbak Meli…,” aku takjub dengan kata – katanya. Setelah mama meninggal tidak ada yang pernah menganggapku sebagai saudara. Kehadiran Mbak Meli memberikan kehangatan di dalam hatiku.


 


 


“Halo.” Mbak Meli mengangkat telepon genggamnya. “Iya, kami baru selesai belanja. Di mana kamu sekarang? Oh, oke. Kami akan ke sana.”


 


 


“Siapa, Mbak?” tanyaku penasaran.


 


 


“Bastian. Dia sudah di restoran dalam Mall. Ayo kita susul dia ke sana,” ajak Mbak Meli. Dia menarik tanganku mengajak aku pergi ke restoran tersebut.


 


 


Tiba – tiba aku terkejut melihat sosok orang yang aku kenal. Itu Indra dan Dea. Mereka sedang menuju ke salah satu restoran yang akan kami lewati. Aku menghentikan langkahku. Tapi kenapa mereka bersama?


 


 


“Ada apa?” tanya Mbak Meli bingung.


 


 


“Kita jangan lewat jalan di depan itu, Mbak,” saranku. Aku tidak mau bertemu dengan kedua orang itu saat ini.


 


 


“Kenapa? Apa ada seseorang di sini?” Mbak Meli memperhatikan mukaku yang begitu panik.


 


 


Aku mengangguk menjawab pertanyaan Mbak Meli. Melihat jawabanku, Mbak Meli mengerti  bahwa yang aku lihat pasti ada hubungannya dengan Bagas.


 


 


“Kita lewat sana saja,” usul Mbak Meli.


 


 


Mbak Meli mengusulkan untuk balik arah. Aku menghela napas lega. Aku tidak mau bertemu dengan siapapun yang berhubungan dengan Bagas untuk saat ini.


 


 


*****


Restoran.


 


 


Bastian yang sudah menunggu di restoran senang melihat kedatangan aku dan Mbak Meli. Bastian berdiri lalu dengan sopan dia mempersilahkan aku duduk.


 


 


“Kenapa Cuma Evo saja ya yang dibukakan kursinya?” sindir Mbak Meli.


 


 


“Makanya cari pacar, biar ada yang bukakan kursi buat kamu!” ejek Bastian.


Tiba- tiba mukaku memerah. Apa maksud perkataan Bastian barusan?


 


“Bastian kamu bawel!” gerutu Mbak Meli.


 


“Hahaha,” aku tertawa.


 


 


“Eh, eh?” kaget Bastian.


 


 


“Wow,” ucap Mbak Meli.


 


 


Aku melihat mereka berdua dengan bingung. Kenapa mereka memandangku dengan takjub? Apa ada yang salah dengan wajahku? Aku memegang wajahku dengan seksama.


 


 


“A… ada apa dengan kalian?” tanyaku bimbang.


 


 


“Akhirnya aku melihat Evo tertawa. Kamu memang lebih cantik kalau tertawa, Vo!” puji Mbak Meli.


 


 


“Iya, benar ucapan Mbak Meli. Kami senang kamu bisa kembali ceria lagi.”


 


 


Aku tertegun mendengar ucapan mereka berdua. Sepertinya mereka benar, baru kali ini aku bisa tertawa lagi. Beban yang aku rasakan bersama Bagas membuat aku jarang tertawa.


 


 


“Kalian terlalu berlebihan. Aku sering tertawa,” ucapku tersipu malu.


 


 


Bastian memegang tanganku, dan dia memberikan senyumannya lagi padaku. Tampak deretan gigi yang rapi menambah ketampanan wajahnya.


 


 


“Mulai sekarang aku akan menjaga kamu, Moy. Siapapun yang menyakiti kamu berarti menyakiti aku.”


 


 


“Dan juga menyakiti aku juga,” ujar Mbak Meli tidak mau kalah.


 


 


“Terima kasih ya, Bas, Mbak. Aku bahagia mendengarnya. Aku merasa kalau kalian dikirimkan Tuhan untuk menolongku.”


 


 


“Sekarang saatnya kita makan. Kamu pesanlah apa yang kamu inginkan. Hari ini aku yang traktir kamu, Moy,” ujar Bastian.


 


 


“Aku juga harus ditraktir karena hari ini aku telah menemani Evo atas perintah kamu!” pinta Mbak Meli.


 


 


“Aduh, Mbak Meli. Kamu selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan ya. Harusnya kamu yang traktir aku,” kesal Bastian.


 


 


 


 


“Hahahaa, kalian ini benar – benar lucu,” kataku sambil tertawa.


 


 


“Bastian sangat pelit padaku, Vo!” tuduh Mbak Meli.


 


 


“Sembarangan saja! Baik, baik. Aku akan mentraktir kamu! Puas?” ujar Bastian memandang Mbak Meli dengan sengit.


"Sangat puas," ledek Mbak Meli lagi. Mbak Meli sangat senang menggoda Bastian.


 


Bastian mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan restoran. Pelayan tersebut langsung menghampiri meja kami. Satu per satu kami memesan makanan. Banyak makanan yang enak ketika aku melihat menunya.


 


 


“Apa hanya itu saja pesanannya?” tanya pelayan tersebut.


 


 


“Hanya ini saja pesanan kami. Nanti kalau ada tambahan akan kami pesan kembali,” ucap Bastian.


 


 


Pelayan tersebut mengambil menu, kemudian membawanya pergi. Setelah kepergian pelayan itu, Bastian memberikan sebuah foto untukku.


 


 


“Apa ini?” tanyaku. Bastian memberikan foto Indra padaku.


 


 


“Bukankah itu Indra?” Bastian balik bertanya.


 


 


“Betul itu Indra, maksud aku kenapa foto Indra ada di kamu? Lalu untuk apa kamu memberikannya padaku?”


 


 


“Tidak, aku hanya memastikan saja,” ucap Bastian sambil tersenyum.


 


 


Melihat senyuman Bastian membuat aku curiga. Buat apa Bastian memastikan itu Indra atau bukan?


 


 


“Apa yang kamu rencanakan, Bas?” tanyaku.


 


 


“Memulihkan nama baik kamu.”


 


 


Mbak Meli menatap Bastian kemudian meneguk minuman yang ada dihadapannya. Wanita itu paham sekali dengan sifat adiknya. Dia akan melakukan sesuai apa yang dikatakannya.


 


 


“Hanya itu?” tanya diriku.


 


 


“Ya.”


 


 


Ketika hendak aku membalas perkataan Bastian, pelayan datang membawakan pesanan kami. Makanan dan minuman diberikan kepada si pemesan. Ada steak sapi, nasi ayam rica – rica, dan beberapa makanan yang membuat kami menjadi lapar.


 


 


“Sudah siang. Ayo kita makan terlebih dahulu,” ucap Bastian. Kamipun mulai menyantap makanan kami.


 


 


*****


Kamar Bagas.


 


 


Charlotte menatap tubuh Bagas. Sudah dua hari Bagas tidak sadarkan diri. Dia menyentuh wajah kakaknya itu. Hati Charlotte sedih melihat kondisi Bagas yang seperti ini.


 


 


“Bagaimana keadaan Mas Bagas?” tanyaku pada pelayan.


 


 


Hari ini Charlotte tidak menemani Bagas diperiksa oleh Dokter. Charlotte pergi ke kampus untuk melihat jadwal ujian sidangnya.


 


 


“Dokter bilang keadaan Tuan baik – baik saja. Akibat shocknya masih membuat Tuan belum sadarkan diri,” jelas pelayan rumah tersebut.


 


 


“Mas Bagas, bangunlah. Mbak Evo membutuhkan pertolongan kamu. Mama melaporkan Mbak Evo ke polisi. Mbak Evo tidak dapat dihubungi sejak semalam. Aku takut Mbak Evo sudah dijebloskan Mama ke penjara. Mas Bagus harus segera bangun ya,” pinta Charlotte.


 


 


Bagas masih tetap tidak sadarkan diri. Hati Charlotte menjadi bimbang. Dia berharap Masnya segera bangun dan kembali kepada cinta sejatinya, Evo.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


*****


Hai semua! Terima kasih telah membaca cerita Evo. Tetap setia ya dengan MOY. Jangan lupa Senin, 20 April 2020 – 26 April 2020 akan diberikan hadiah 50 koin untuk 2 orang pemenang yang memberikan vote terbanyak diceritaku ini.


 


 


*****


NEWS!!


Ada cerita baruku judulnya : CINTAI AKU, MR. KANEBO!


Silahkan dibaca, like, komment, bintang 5 dan share sebanyak - banyaknya. Terima kasih.


 


 


 


 


 


❤❤❤