
Besok adalah hari pertama pembukaan perusahaan Pratama di Malaysia. Semua orang begitu sibuk. Hari ini beberapa pejabat berdatangan ke sini. Mereka akan pergi ke Malaysia menggunakan pesawat milik perusahaan. Ada beberapa karyawan yang akan dimutasikan ke sana. Salah satunya adalah Mbak Meli. Wanita yang belun menikah ini merupakan salah satu karyawan terbaik di perusahaan ini. Banyak pekerjaan yang berhasil ditangan dia.
"Serius Mbak Meli?"tanya aku tidak percaya.
"Iya, sebenarnya saya sudah tahu akan dimutasi ke sana. Pak Freddy sudah kasih kode untuk menyelesaikan segala pekerjaanku di sini, dan memberikannya kepada Lisa," jelas Mbak Meli.
" Mbak Meli akan tinggal di mana?" tanya Maureen gantian.
" Pak Bagas bilang akan diberikan satu apartemen untuk aku tinggal di sana, tapi aku tinggal sama adikku saja," Mbak Meli menjelaskan. Kala itu kami sedang mengerjakan tugas pengeditan perusahaan Rafael.
" Aku akan sangat merindukanmu, Mbak Meli," ungkapku tulus.
" Benar, Mbak. Apalagi buat lawan nyonya bodoh kaya Lisa," umpat Maureen, membuat kami bertiga tertawa. Walaupun sekarang Lisa yang menjadi pemimpin, tetapi Lisa begitu takut dengan Mbak Meli. Lisa ngga bisa apa-apa. Semua pekerjaan dilimpahkan pada kami semua.
" Jam berapa Mbak besok berangkat?"
" Penerbangan subuh, Vo. Tadinya Pak Bagas minta aku ikut bersama para pejabat, tapi aku ngga mau. Nanti aku tidak bebas."
Aku menggangguk, lalu mengetik sesuatu. Kemudian aku berkata lagi, " Berarti nanti malam kita bisa pesta perpisahan ya?"
" Wah, ide yang bagus. Aku setuju. Nanti kita ajak Dina. Dia pasti tahu daerah yang bagus untuk acara kita ini," Maureen segera menelpon Dina. Mbak Meli hanya tersenyum melihat tingkah kami.
" Dina setuju. Dia akan segera pesan tempatnya," Ujar Maureen. Kamipun memutuskan mengadakan pesta perpisahan Mbak Meli.
Drrt.
Pesan masuk whatsapp.
Bagas : Datanglah besok untuk pembukaan.
Aku : Aku tidak mau.
Bagas : Tapi aku sudah pesan tiket untukmu.
Aku : Apa aku harus ikut?
Bagas : Ya, karena papa sudah setuju dengan hubungan kita. Mereka ingin meresmikan hubungan kita di sana. Saat pembukaan besok.
Pesan terakhir dari Bagas membuatku terheran. Pak Freddy bisa diluluhkan dengan laki-laki ini? Benarkah? Aku memutuskan untuk tidak membalas pesan Bagas.
Malampun tiba, aku, Maureen dan Dina merayakan pesta perpisahan dengan Mbak Meli. Kami mengangkat gelas, lalu aku berkata, "Untuk kesuksesan dan kelancaran karier Mbak Meli mari kita bersulang."
Drrtt.
Ada telepon masuk ke telepon genggamku. Bagas. Aku menerimanya.
" Aku rindu," ucapnya dari sebrang. "Seandainya aku di Jakarta, aku pasti akan menculikmu ke apartemen."
" Aku tidak rindu," ujarku memancing kemarahannya.
" Please, aku lagi tidak ingin bertengkar denganmu." ucapnya membuat aku tertawa. "Datanglah besok, aku ingin kita segera menikah."
" Apa kamu serius?" tanyaku memastikan.
" Jangan-jangan kamu tidak ingin menikah denganku," katanya lagi.
" Bukan, bukan itu maksudku. Aku ingin, tapi...," Jujur saja, perlahan aku sudah mulai mencintai Bagas. Aku mulai berpikir rasional, Karel yang tidak kunjung datang, membuatku harus membuat keputusan.
. "Tidak ada kata bantahan. Datanglah besok. Aku ingin kamu datang. Ini perintah." sikap Bagas mulai egois.ppp
" Ya, aku akan datang," ucapku akhirnya membuat Bagas bahagia.
" Besok subuh, supir akan menjemputmu. Aku akan menunggumu di sini. Aku mencintaimu," ucap Bagas bahagia.Kamipun menutup telpon.
" Siapa yang meneleponmu, Vo? Sepertinya serius," tanya Dina yang dari tadi memperhatikanku.
" Bagas, Din," jawabku. Mbak Meli dan Maureen yang mendengar nama Bagas langsung menatapku.
" Ada apa?" tanya Mbak Meli.
" Besok aku disuruh ke sana. Pak Freddy sudah setuju dengan hubungan kami. Besok beliau akan meresmikan hubungan kami di depan para pejabat dan pemegang saham," aku menjelaskan.
" Wow, itu keren. Lalu kenapa kamu kelihatan bingung?" Maureen bertanya lalu mengambil roti untuk dimakan oleh dia.
" Aku tidak percaya Pak Freddy begitu cepat menyetujui semua itu."
" Sudahlah, tidak perlu khawatir. Bagas pasti menemukan cara itu sehingga hubungan kalian direstui," Mbak Meli menasehati. Ya, mungkin benar juga perkataan Mbak Meli. Bagas merupakan satu-satunya pengganti Pak Freddy di perusahaan Pratama. Adiknya perempuan tidak mungkin menggantikan Pak Freddy.
"Dari pada pusing memikirkan itu, ayo kita nikamti pesta ini!!!"ucap Dina memulai pesta kita. Pesta begitu meriah, tetapi pikiranku tidak di sini. Pikiranku terbang ke Malaysia. Apa yang akan terjadi besok? Aku begitu takut menghadapinya.